Sebuah catatan harian untuk lebih mengenal, sebagai sebuah tali persahabatan agar lebih rekat lagi.
Minggu, 22 Desember 2013
Selasa, 17 Desember 2013
POTONG JARI MANISKU SAJA karya Rg. Bagus Warsono
Potong Jari Manisku Saja
Boleh di dua tanganku
dan sayur sup beraroma khas nusantara
kupersembahkan untuk tuan mulia
dengan pernyataan bermaterai sejuta
karna yang enamribu masih bisa ditipu
dan aku hadirkan seratus saksi biksu
karna saksi berni kalau seratusjuta
Tuan tak ada algojo muntilasi
tembak mati berarti menunggu
hukum mati berarti menunggu taubat
dikurung berari bersembunyi
banding berari menambah rezeki
boleh di dua tanganku
dengan mangkuk kuah kaldu
Potong jari manisku saja
tanpa publikasi
karena semua yakin untuk tulang sup negeri
dan ada cctv sebagai saksi tadi malam
yang tiada gambar karena petang
gelap warna meski baterai baru
yang terlihat hanya darah
menghitam menutupi semua layar
menimbulkan keyakinan hakim
tak pengaruh bila tiada jari manis
kalian bebas tanpa syarat…………………………
Potong jari manisku saja katanya.
Indramayu, 23 Oktober 2013
Boleh di dua tanganku
dan sayur sup beraroma khas nusantara
kupersembahkan untuk tuan mulia
dengan pernyataan bermaterai sejuta
karna yang enamribu masih bisa ditipu
dan aku hadirkan seratus saksi biksu
karna saksi berni kalau seratusjuta
Tuan tak ada algojo muntilasi
tembak mati berarti menunggu
hukum mati berarti menunggu taubat
dikurung berari bersembunyi
banding berari menambah rezeki
boleh di dua tanganku
dengan mangkuk kuah kaldu
Potong jari manisku saja
tanpa publikasi
karena semua yakin untuk tulang sup negeri
dan ada cctv sebagai saksi tadi malam
yang tiada gambar karena petang
gelap warna meski baterai baru
yang terlihat hanya darah
menghitam menutupi semua layar
menimbulkan keyakinan hakim
tak pengaruh bila tiada jari manis
kalian bebas tanpa syarat…………………………
Potong jari manisku saja katanya.
Indramayu, 23 Oktober 2013
Selasa, 26 November 2013
Jumat, 08 November 2013
Kompasiana Tempat Pembuang Akhir Unek-unek
Beruntung Indonesia punya Kompasiana, kalau tidak maka banyak orang stres karena tidak tersalurkan unek-uneknya. Doeloe adamusim Kotak Pengaduan , disamping susah payah menulis surat juga belum tentu surat itu dibaca dan ditanggapi. Setidaknya bagi mereka yang bisa menulis, Kompasiana dapat menjadi sasaran untuk menghilangkan stres itu.
Sebetulnya Kompasiana bukan barang baru di Indonesia, Surat Pembaca di Kompas juga termasuk dalam penyaluran karya tulis seseorang dengan berbagai maksud tujuan serta gagasan penulisnya, namun Surat Pembaca, oleh redakturnya tak dapat menampung sekian surat dalam sehari media itu cetak. Bayangkan jika Kompasiana dicetak makan boleh jadi jumlah halaman menjadi ratusan lembar dan koran penuh dengan sampah unek-unek.
Berbagai tanggapan terhadap Kompasiana bermunculan, katanya ada pro dan kontra akan keterbukaan, yang memandang blo’on dan intelektual, yang tempat kumpulan belajar nulis sampai yang profesional, dan yang narsis sampai lempar batu sembunyi tangan. Ini juga menjadi sebuah opini Kompasiana di masyarakat. dari banyaknya orang membicarakan Kompasiana, Kompasiana menjadi populair sepanjang masa di Indonesia.
Isi Kompasiana tidak dapat dijadikan referensi atau rujukan, berkualitas atau kacangan, namun dari hal-hal semacam ini kompasiana laris dikunjungi masyarakat. Tidak saja mereka yang mengisi Kompasiana yang merupakan kompasianer-kompasianer dari seluruh nusantara bahkan ada yang dari luar negeri, tetapi juga mereka yang merasa perlu untuk melihat langsung Kompasiana.
Bagi mereka pemirsa dan juga kompasianer, boleh jadi Kompasiana adalah Tempat Pembuang Akhir (TPA) Unek-unek. Jawabnya memang, ya! Lalu bagaimana dengan yang menganggap tulisan di Kompasiana itu bermutu? maka jawabnya yang bermutu harus pembacanya. Publiklah yang mesti kualitas pilihan bacaan. Dan nyata jumlah pengunjung setiap tulisan di Kompasina berbeda-beda. Ada yang laris hinga ribuan pengunjung dan ada yang sama sekali kurang dibaca publik pemirsa Kompasiana. Betapa konyolnya jika diketahui justru tulisan yang konyol malah banyak pengunjungnya. Hah kenaspa begitu? Ternyata Kompasianernya orang pinter juga membuat judul yang menarik untuk dibuka/klik (bukan dibaca) .
Kompasianer merasa senang menulis di Kompasiana, karena ada rasa kepuasan tersendiri. Sesuatu yang dapat tersalurkan sebagai TPA Unek-unek. Tulisannya juga kadang menyebalkan, menunjukan kwalitas penulisnya, rendahnya gagasan, namun tak sedikit kompasianer yang tulisannya bisa menjadi bahan ajar, bermutu tinggi, menyuguhkan informasi aktual, seperti pilihan nya “menarik”, “aktual”, “inspiratif”, atau “bermanfaat” . Publik juga yang menilai.
Dari semua itu Kompasiana memiliki kekuatan tersendiri sebagai web yang tetap laris. Karena pembaca yang memberikan penilaian. Wah kalau begitu, kita menilai sampah unek-unek. Boleh jadi ya dan tidak.
Rg.(Ronggo) Bagus Warsono lebih dikenal dengan Agus Warsono, SPd.MSi,dikenal sebagai sastrawan dan pelukis Indonesia. Lahir Tegal 29 Agustus 1965.Tinggal di Indramayu.Mengunjungi SDN Sindang II, SMP III Indramayu, SPGN Indramayu, (S1) STIA Jakarta , (S2) STIA Jakata. Tulisannya tersebar di berbagai media regional dan nasional. Redaktur Ayokesekolah.com.Pengalaman penulisan pernah menjadi wartawan Mingguan Pelajar, Gentra Pramuka, Rakyat Post, dan koresponden di beberapa media pendidikan nasional. Anggota PWI Cabang Jawa barat. Menikah dengan Rafiah Ross hingga sekarang,
Kamis, 07 November 2013
TANGKAP AKU WALAU DI SANGKARMU
Karya : Rg Bagus Warsono
rupanya diklat belut putih berhasil menyentuh
pejabat-pejabat eselon
kemudian dikirim untuk menjadi sastrawan
agar pandai mengarang cerita
mimpi, hayal, rekacerita, sampai ngarang cerpen dan novel
humaniora dan hukum konvensional
maka kuatlah ia
sekarang
tangkap aku walau di sangkarmu
jangan pakai surat undangan
jemput paksa atau cekal luar kota
aku akan datang sendiri ke KPK
menghampiri pendekar-pendekar pembela Tanah Air
tangkap aku walau di sarangmu
maka
aku tak meminta kau menyuruhku pulang
aku tak memohon kau mengabulkan
tangkap aku walau di sangkarmu
aku tak akan terbang
silahkan tangkap aku walau di sangkarmu.
Sabtu, 02 November 2013
Senin, 28 Oktober 2013
MANGUNHUDOYO, 8 ANAK MENANTU MENJADI PRAJURIT
Sugeng Mangunhudoyo (Kuningan) adalah pejuang sejati, pimpinan perlawanan Rakyat daerahTegal,Brebes, Slawi, Purwokerto. Ia tak haus jabatan di TNI. Pangkat Kopral pun tidak, tapi ribuan veteran minta tandatangan kesaksian dibawah kepimpinannya ketika perang kemerdekaan. (bingkisan buat kel Sugeng Mangunhudoyo di Kuningan Jawa Barat)
Yoesoef Soegiono , pemuda muhammadiah yang menjadi Tentara Pelajar di Tegal, lebih memilih menjadi guru Sekolah Rendah (ongko loro) setelah merdeka, ketimbang menerima diberi pangkat tinggi di TNI tapi perang sudah selesai. (suri tauladan dan contoh kel Yoesoef Soegiono)
Siddik Mangunhudoyo (Purwokerto) adik Sugeng Mangunhudoyo, menerima pangkat penghargaan, pejuang Kemerdekaan di Daerah Tegal, brebes Slawi Banyumasdi , sebagai Letnan Satu CPM dan memilih pensiun muda ketimbang diatur oleh pahlawan Kesiangan (Bingkisan kel Mangunhudoyo Cilacap)
Basuki Amanat Mangunhudoyo, adik Sugeng Mangunhudoyo, pejuang Kemerdekaan daerah Tegal, Brebes, Slawi, Puwokerto, menerima beasiswa belajar di Luar Negeri dan pulang terkatung-katung hingga ditarik di perusahaan sepatu Henna sebagai ahli pembuat sepatu.
Lettu Kasim, menantu Mangunhudoyo, tim kesehatan Jendral Soedirman, belum ada dokter kala gerilya, dipundaknya sekesalamtan Jendral Soedirman menjadi tanggungjawabnya. Memilih pensiun dan membantu masyarakat daerah Majenang Cilacap dengan ilmu pengobatannya. Beliau hidup dengan penuh kesengsaraan. (bingkisan kel. Kasim Cilacap)
Kapt. Muhammad Noor, menantu Mangunhudoyo, menerima pangkat penghargaan perwira (Kapten) atas perjuangan kemerdekaan di daerah Tegal, Brebes Slawi Banyumas, dibuang di korp seni (musik) tanpa naik pangkat hingga pensiun di Indramayu (Bingkisan kel. Muhammad Noor)
Sutoro, menantu Mangunhudoyo tim Palangmerah perjuangan rakyat daerah Tegal, Brebes Slawi Banyumas pada perang kemerdekaan memilih pensiun ketimbang menarima jabatan sebagai matri pemberantas penyakit malaria. (Bingkisan Kel. Sutoro Purwokerto)
MANGUNHUDOYO (BANJARNEGARA), 8 ANAK MENANTU MENJADI PEJUANG , TANPA PENGHARGAAN DARI PEMERINTAH , MESKI RUMAH KEL. dI BANJARNEGARA DIBUMIHANGUSKAN TENTARA BELANDA
Sugeng Mangunhudoyo, anak pertama Mangunhudoyo, pimpinan pejuang kemerdekaan daerah Tegal. Brebes, Slawi , purwokerto dan Banyumas. Sejarahperjuangan kemerdekaan didaerah Tegal sekitarnya tak lepas dari Nama Sugeng Mangunhudoyo. (lihat perpustakaan Angkatan Darat kodam Diponegoro)
PEMDA KAB/KOTA TEGAL.BREBES, SLAWI, PURWOKERTO SELAYAKNYA HARUS MENGHARGAI PAHLAWAN PEJUANG KEMERDEKAAN DIDAERAHNYA TERUTAMA KEPADA SUGENG MANGUNHUDOYO, PIMPINAN PEJUANG KEMERDEKAAN DI DAERAH ITU, SERTA KEL MANGUNHUDOYO DENGAN 8 ANAK MENANTU MENJADI PEJUANG TANPA PAMRIH.
JIKA DI SULSEL ADA ROBERT WOLTER MONGINSIDI, DI INDRAMAYU ADA SENTOT, DI BLITAR ADA SUPRIYADI, DI SOLO ADA KOMARUDIN. MAKA DI KARESIDENAN TEGAL DAN BANYUMAS ADA SUGENG MANGUNHUDOYO.
PARA SEPUH DAN RAKYAT KAB/KOTA TEGAL.BREBES, SLAWI, PURWOKERTO MENGETAUI BAHWA SUGENG MANGUNHUDOYO ADALAH PIMPINAN PEJUANG KEMERDEKAAN YANG SANGAT TERKENAL KEBERANIAN DAN KHARISMATIK SEHINGGA MAMPU MENGGELORAKAN SEMANGAT RAKYAT UNTUK BERSATU PADU MENMELAWAN PENJAJAH .
MANGUNHUDOYO, 8 ANAK MENANTU MENJADI PEJUANG, DIMAKAMKAN DI KLAMPOK PURWOKERTO 1966 DENGAN TANPA DIUNDANG DIHADIRI RIBUAN TENTARA SERTA BARET COKLAT DAN SEJUMLAH JENDERAL YANG TENGAH KEGIATAN DI PURWOKERTO
SEMOGA JASA PARA PAHLAWAN PERANG KEMERDEKAAN KHUSUS DI KARESIDENAN TEGAL, BANYUMAS KHUSUS SUGENG MANGUNHUDOYO, DKK DIBERIKAN TEMPAT YANG LAYAK DI SISI ALLAH SWT.
Yoesoef Soegiono , pemuda muhammadiah yang menjadi Tentara Pelajar di Tegal, lebih memilih menjadi guru Sekolah Rendah (ongko loro) setelah merdeka, ketimbang menerima diberi pangkat tinggi di TNI tapi perang sudah selesai. (suri tauladan dan contoh kel Yoesoef Soegiono)
Siddik Mangunhudoyo (Purwokerto) adik Sugeng Mangunhudoyo, menerima pangkat penghargaan, pejuang Kemerdekaan di Daerah Tegal, brebes Slawi Banyumasdi , sebagai Letnan Satu CPM dan memilih pensiun muda ketimbang diatur oleh pahlawan Kesiangan (Bingkisan kel Mangunhudoyo Cilacap)
Basuki Amanat Mangunhudoyo, adik Sugeng Mangunhudoyo, pejuang Kemerdekaan daerah Tegal, Brebes, Slawi, Puwokerto, menerima beasiswa belajar di Luar Negeri dan pulang terkatung-katung hingga ditarik di perusahaan sepatu Henna sebagai ahli pembuat sepatu.
Lettu Kasim, menantu Mangunhudoyo, tim kesehatan Jendral Soedirman, belum ada dokter kala gerilya, dipundaknya sekesalamtan Jendral Soedirman menjadi tanggungjawabnya. Memilih pensiun dan membantu masyarakat daerah Majenang Cilacap dengan ilmu pengobatannya. Beliau hidup dengan penuh kesengsaraan. (bingkisan kel. Kasim Cilacap)
Kapt. Muhammad Noor, menantu Mangunhudoyo, menerima pangkat penghargaan perwira (Kapten) atas perjuangan kemerdekaan di daerah Tegal, Brebes Slawi Banyumas, dibuang di korp seni (musik) tanpa naik pangkat hingga pensiun di Indramayu (Bingkisan kel. Muhammad Noor)
Sutoro, menantu Mangunhudoyo tim Palangmerah perjuangan rakyat daerah Tegal, Brebes Slawi Banyumas pada perang kemerdekaan memilih pensiun ketimbang menarima jabatan sebagai matri pemberantas penyakit malaria. (Bingkisan Kel. Sutoro Purwokerto)
MANGUNHUDOYO (BANJARNEGARA), 8 ANAK MENANTU MENJADI PEJUANG , TANPA PENGHARGAAN DARI PEMERINTAH , MESKI RUMAH KEL. dI BANJARNEGARA DIBUMIHANGUSKAN TENTARA BELANDA
Sugeng Mangunhudoyo, anak pertama Mangunhudoyo, pimpinan pejuang kemerdekaan daerah Tegal. Brebes, Slawi , purwokerto dan Banyumas. Sejarahperjuangan kemerdekaan didaerah Tegal sekitarnya tak lepas dari Nama Sugeng Mangunhudoyo. (lihat perpustakaan Angkatan Darat kodam Diponegoro)
PEMDA KAB/KOTA TEGAL.BREBES, SLAWI, PURWOKERTO SELAYAKNYA HARUS MENGHARGAI PAHLAWAN PEJUANG KEMERDEKAAN DIDAERAHNYA TERUTAMA KEPADA SUGENG MANGUNHUDOYO, PIMPINAN PEJUANG KEMERDEKAAN DI DAERAH ITU, SERTA KEL MANGUNHUDOYO DENGAN 8 ANAK MENANTU MENJADI PEJUANG TANPA PAMRIH.
JIKA DI SULSEL ADA ROBERT WOLTER MONGINSIDI, DI INDRAMAYU ADA SENTOT, DI BLITAR ADA SUPRIYADI, DI SOLO ADA KOMARUDIN. MAKA DI KARESIDENAN TEGAL DAN BANYUMAS ADA SUGENG MANGUNHUDOYO.
PARA SEPUH DAN RAKYAT KAB/KOTA TEGAL.BREBES, SLAWI, PURWOKERTO MENGETAUI BAHWA SUGENG MANGUNHUDOYO ADALAH PIMPINAN PEJUANG KEMERDEKAAN YANG SANGAT TERKENAL KEBERANIAN DAN KHARISMATIK SEHINGGA MAMPU MENGGELORAKAN SEMANGAT RAKYAT UNTUK BERSATU PADU MENMELAWAN PENJAJAH .
MANGUNHUDOYO, 8 ANAK MENANTU MENJADI PEJUANG, DIMAKAMKAN DI KLAMPOK PURWOKERTO 1966 DENGAN TANPA DIUNDANG DIHADIRI RIBUAN TENTARA SERTA BARET COKLAT DAN SEJUMLAH JENDERAL YANG TENGAH KEGIATAN DI PURWOKERTO
SEMOGA JASA PARA PAHLAWAN PERANG KEMERDEKAAN KHUSUS DI KARESIDENAN TEGAL, BANYUMAS KHUSUS SUGENG MANGUNHUDOYO, DKK DIBERIKAN TEMPAT YANG LAYAK DI SISI ALLAH SWT.
Rabu, 23 Oktober 2013
KENANGAN DIWAKTU MUDA, AKU MENULIS
Tahun 1992-th 2002 adalah masa-masa produktifitas di jalur jurnalisku. Telah ratusan artikel dimuat dikoran, ratusan cerpen anak, betapa secara ekonomis saya pada waktu itu cukup 'kaya' dibandingkan teman-teman guru pada waktu itu, aku menghabiskan 8 buah mesin tik, yang sedikit rusak saja langsung ganti, 4 camera canon, dan 6 vespa yang rusak langsung masuk gudang dan beli lagi, maklum senangnya cuma vespa.
.jpg)






























































