Sarapan Pagi,
Peta Penyair bukan Ujug-ujug
Meniru HB Jassin, Korrie Layun Rampan dan Linus Suryadi AG saya akan menerbitkan daftar sastrawan/Penyair Indonesia menurut asal daerah dimana mereka tinggal. Adalah kewajiban bagi saya untuk mencatat sejarah agar sastrawan/penyair punya masanya.
Data yang telah saya kumpulkan sejak tahun 2010 cukup untuk memberikan terang kepada generasi mendatang agar mereka tahu bahwa Sastrawan/penyair tidak ujug-ujug. Sebab dunia sudah berkata lain, sastrawan miskin dan kurang promosi akan terlibas dengan kekuatan ekonomi si kaya. Bukan tidak mungkin yang ujug-ujug bakal menguasai kita-kita semua pelaku sastra yang terus menerus menggelorakan minat baca dan memupuk generasi muda dengan karya bakal terlibas dan hilang tak berarti.
Dewasa ini banyak orang berlebih harta berbuat berbagai cara untuk dapat mempengaruhi publik dan popularitas hanya dengan menggelar sedikit hartanya. Lalu ia tampil menutup perjuangan rekan-rekan penyair yang telah lama bergelut dalam dunia sastra Indonesia.
Kasus-kasus buku daftar sastrawan dan juga kasus tentang '33 Tokoh Sastra Berpengaruh' adalalah contoh bagaimana si kaya mempermainkan sastra begitu mudahnya. Kita harus kuat dan harus dapat menangkal semua itu.
Salah satu cara adalah mari membuat sejarah yang benar dan baik serta jujur menulis bahwa sastrawan itu memiliki proses jati diri dan krestifitas serta proses berkarya nyata.
Penyair indonesia harus memiliki kesaksian siapa pun penulisnya dan aku akan mencoba membukukan sebagai kesaksian hidup bahwa di Tanah Air ini telah terdapat sastrawan-sastrawan yang memenuhi proses dan berkarya nasional. (rg bagus warsono)
Peta Penyair bukan Ujug-ujug
Meniru HB Jassin, Korrie Layun Rampan dan Linus Suryadi AG saya akan menerbitkan daftar sastrawan/Penyair Indonesia menurut asal daerah dimana mereka tinggal. Adalah kewajiban bagi saya untuk mencatat sejarah agar sastrawan/penyair punya masanya.
Data yang telah saya kumpulkan sejak tahun 2010 cukup untuk memberikan terang kepada generasi mendatang agar mereka tahu bahwa Sastrawan/penyair tidak ujug-ujug. Sebab dunia sudah berkata lain, sastrawan miskin dan kurang promosi akan terlibas dengan kekuatan ekonomi si kaya. Bukan tidak mungkin yang ujug-ujug bakal menguasai kita-kita semua pelaku sastra yang terus menerus menggelorakan minat baca dan memupuk generasi muda dengan karya bakal terlibas dan hilang tak berarti.
Dewasa ini banyak orang berlebih harta berbuat berbagai cara untuk dapat mempengaruhi publik dan popularitas hanya dengan menggelar sedikit hartanya. Lalu ia tampil menutup perjuangan rekan-rekan penyair yang telah lama bergelut dalam dunia sastra Indonesia.
Kasus-kasus buku daftar sastrawan dan juga kasus tentang '33 Tokoh Sastra Berpengaruh' adalalah contoh bagaimana si kaya mempermainkan sastra begitu mudahnya. Kita harus kuat dan harus dapat menangkal semua itu.
Salah satu cara adalah mari membuat sejarah yang benar dan baik serta jujur menulis bahwa sastrawan itu memiliki proses jati diri dan krestifitas serta proses berkarya nyata.
Penyair indonesia harus memiliki kesaksian siapa pun penulisnya dan aku akan mencoba membukukan sebagai kesaksian hidup bahwa di Tanah Air ini telah terdapat sastrawan-sastrawan yang memenuhi proses dan berkarya nasional. (rg bagus warsono)