Tak perlu kita menepuk dada sebagai pendekar dengan tingkat mumpuni dalam olahkanuragan, di tempat lain di kampung-kampung Nusantara terdapat Jawara dengan ilmu kanuragan yang luarbiasa hebatnya sehingga pada saat itu di zaman penjajahan ditakuti kolonial. Ketika meledak pemberontakan di sebuah daerah lalu ditumpas, tumbuh pemberontakan lain di ribuan kampung lain. Dengan bintang pahlawan daerah yang begitu banyaknya.
Sebuah catatan harian untuk lebih mengenal, sebagai sebuah tali persahabatan agar lebih rekat lagi.
Kamis, 28 Januari 2021
Di Tempat lain ada yang lebih nikmat
Lalu sebuah kota memamerkan makanan khas yang lezat, jajanan atau masakan kuliner yang tiada tara nikmatnya. Kekaguman begitu ketika kita meninggalkan kota itu. Seakan ingin kembali menikmati sajian ibu-ibu di sana. Belum lagi sampai jauh di sebrang pulau lapar dan dahaga tiba. Ternyata ditemukan kuliner lain yang tak kalah nikmatnya. Suguhan penyairt-penyair Nusantara yang meracik rempah dan bumbu serta palawija yang tak terdapat di daerah lain.
Semakin luas kita menjelajah semakin banyak ditemukan yang bersinar.
Dari bukit Barisan hingga Jaya Wijaya berserakan batu-batu dari endapan, patahan, diantara batu-batu itu terdapat pualam manikam yang gemerlap. Betapa menyadari Nusantara itu luas dengan penghuninya terpilih yakni penyair-penyair Indonesia, dan diantara penyair-penyair itu terdapat batu pualam manikam yang gemerlap. Semakin luas kita menjelajah semakin banyak ditemukan yang bersinar.
Jangan iri dengan teman
sengaja aku pidah di tempat lain
Ketika aku mancing bareng di sungai , kawan kawan yang berdekatan memperoleh ikan besar bahkan terus menerus. Sedang kailku tak disentuh ikan kecil. Setan membisikkan agar melempar batu ke sungai agar ikannya bubar dan kita semua pulang. Tetapi aku melawan nafsu jahat, memuji kawan yang memperoleh ikan kakap dan aku pidah di tempat lain. Perlahan kailku disentuh ikan. Setelah umpan dimakan , kutarik ikan dan , ..dapat!
Meskti bukan tergolong besar tetapi cukup membuat aku dan teman2 tersenyum. Akupun pulang ke rumah dimana istriku sudah membuat bumbu ikan sungai Cimanuk goreng yang lezat.
Supaya Pembeli Tidak Bosan
Seorang ibu di Indramayu, sebutlah namanya Ibu Mas (Masrinih), memiliki 5 orang anak. Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya membatu pendapatan suami dengan berjualan makanan jajanan yang berganti-ganti setiap hari. Warungnya di depan rumahnya dengan disediakan tempat duduk bagi pembeli. Berkat menu yang berganti ganti ini rumah Bu Mas setiap hari slalu ramai. Yang datang banyak juga ibu-ibu dari kampung lain yang sengaja datang untuk belajar langsung membuat kueh. Kadang adonan kueh yng akan dimasak itu dibantu diracik oleh para pembelinya. Tentu saja aku slalu menanyakan ke istriku, Ibu Mas buat apa sekarang, Bu? Kemarin ia membuat comro, dan urab daun genjer. Kemarin lusa membuat krupuk sambel dan pecel jantung pisang, begitu seterusnya beraneka jajanan berganti-ganti. Hari ini saja ia membuat mirong ikan sepat dan krawu yaitu ubi (bodin) diiris-iris diberi kelapa dan gula merah yang dicairkan. Nah
Seandainya HB Jassin masih hidup
Seandainya HB Jassin masih hidup ia akan kewalahan dengan laju teknologi informasi dan teks elektronik yang kian canggih. Koran dan majalah saja masih banyak yang tak terbaca, apalagi kini setiap orang bisa membuat media publik sendiri. Karya-karya sastra modern semakin berhamburan di dunia internet. Kini tak bisa lagi orang secara otoriter menentukan siapa karya yang hebat atau paling agung karena anak usia 5 tahun saja bisa membacanya dan memilahnya mana yang bagus bagi pilihannya. Dan dewasa yang terpelajar bias menentukan mana yang terbaik. Jadi tak boleh kita menentukan sendiri mana yang hebat di zaman ini tanpa dasar dan permbuktian ilmiah sebab orang lain pun bisa melihat.
Apa itu Setyasastra Nagari
Setyasastra Nagari adalah Anugerah Sebutan unt memberi penghargaan kepada sastrawan Indonesia dalam 30 th pengabdian yg tertuang dalam buku Setyasastra Nagari yg tengah disusun oleh Lumbung Puisi.
Tidak ada hadiah atau cinderamata lainnya kecuali mendapat buku itu yg dikirim kepada mereka yg disebut dalam buku itu (apabila ybs yg tersebut di buku itu mengirimkan alamat rumah setelah buku itu terbit dan dipublikasikan).
Pendataan terus berkembang bertambah karena banyak ditemukan sastrawan yg memang memiliki bukti otentik aktifitasnya berupa klipping sampai dengan th 1994. Jadi Setyasastra Nagari adalah leksikon sastrawan pasca angkatan 66 yg hingga saat ini masih aktif. Klipping koran/majalah/buku sebelum th 1994 adalah portofolio yg dapat dipertanggungjawabkan pada publik.
Setyasastra Nagari tidak baku karena temuan baru terus bertambah sehingga buku yg terbit pertama disebut buku pertama dan akan bertambah pada buku kedua dst.
Selasa, 19 Januari 2021
Penyair Antologi Gembok
A. Zainuddin Kr, Alifah NH, Ade Irman Saepul, Aditya Mahdi Farsya/ Aditya
Majong, Agus Mursalin, Agus Sighro Budiono, Aisyah Rauf, Alfiah S Putra,
Amal Bin Mustofa, Anisah, Anis Muchtarom, Ardhi Ridwansyah, Arnita, Arya
Setra, Asro Al Murthawy, Aloeth Pathi, Asih Minanti Rahayu, Abidi Al-Ba'arifi
Al-Farlaqi, Alfiah S Putra, Aloysius Slamet Widodo, Aku Polma Chaniago,
Arya Arizona, Ayu Siti, Atek Muslik hati, Apri Medianingsih, Ary Toekan, Asep
Khairul Akbar, Ahmad Zainuddin Ujung, Barlean Aji, Buana KS, Budi Riyoko,
Buya Al Banjari, Beti Novianti, Bijuri, Brigita Neni Anggraeni, Chanchan
Parase, Che Aldo Kelana, Dedari Rsia, Dyah Nkusuma, Dedi Wahyudi, Dalle
Dalminto, Dwi Anggraini Mujiman, Dwi wahyu Candra Dewi, Edison P. Malau,
Eko Windarto, Ence Sumirat, Evita Erasari, Funky Zubair Affandy, Gambuh R.
Basedo, Gampang Prawoto, Gilang Teguh Pambudi, Hapsah Sengaji,
Hasani Hamzah, Hendri Amin Raja Cinta, Hendra Sukmawan, Hendro
Suryosastro, Herman Suryadi, Heru Patria, Herry Trunajaya, Ignas N. Hayon,
I Made Suantha, Irawati, Irwansyah, Istikomah, Indri Yuswandari, Isnaeni HS,
Is Mugiarti, Indra Anwar, Iwan Bonick, Jenika Widiya, Julianti Julianti, Kasdi
Kelanis, Khalidah Ali Z, Khalid Alrasyid, Khoirul Mujib, Krislam Yusuf, Lebe
Penyair /Agus Tarjono, Lis Erviana Ramlan, M Tauhed Supratman, M
Johansyah, Marshelina, Marthen Luther Reasoa, Meri Anggraini Abdul
Manan, Moh Shadam Taqiyyuddin Azka, Mohammad Saroni, Muhammad
Abdul latif, Muhammad Lefand, Muhammad Malindo, Muhammad Jayadi,
Mani Selesue, Dinamikanto, Moehammad Abdoe, Mohammad Saroni,
Muhammad Syaeful Anam, Mimi Marvill, Mustiar Ar, Masyono Bunergis
Muryono, Muhammad Lutfi, Nabilah Nur Nasyirah, Naning Scheid, Nia
Rohania, Nok Ir, Nurhayati, Nur Khofifah, Odi Shalahuddin, Oka Miharza S,
Osratus, Pensil Kajoe, Petrus Nandi, Putri Bungsu, Prayit. Sp, Pri Gurit, Q
Alsungkawa, R. Budiman, Raden Rita Maimunah, Rakai Lukman, Rasuna,
Rissa Churria, Ria Mi, Rina Yuliana, Raden Mas Soedarmono, Rai Sri Artini,
Rita Orbaningrim, Rosmita,S.Pd, Rohani Athala, Rasif Arisa, S Suratman
Suras, Shah Kalana Alhaji, Sami'an Adib, Sarwo Darmono, Silivester Kiik, Siti
Ratna Sari, Siti Subaida, Siti Rukayah, Selly Gunawi Ayu, Sugeng Joko
Utomo, Soekardi Wahyudi, Said Sanib, Sumrahadi/ Munadi Oke, Sri Asih, Sri
Gumilang, Sukma Putra Permana, Sulistyo, Suneni, Supianoor, Surasono
Rashar, Syahrianur Khaidir, Syahryan Khamary, Tri Wahyuni, Tono, Uyan
Andud, Wanto Tirta, Wardjito Soeharso, Wyaz Ibn Sinentang, Wayan
Budiartawan, Winar Ramelan,Wiwin Herna Ningsih, Yoe Irawan, Yublina Fay,
Yus Harris, Zaeni Bol
Kamis, 14 Januari 2021
Jadi jangan menyepelekan orang lain sebelum tahu betul.
Suatu ketika Ir Soekarno menjadi presiden, ada seorang pejuang berpangkat perwira tinggi yang membenci Si Bung. Ia memang pintar dan cerdas. Si Bung tahu itu. Tetapi Si Bung orang baik, dipanggilah ia tetapi tidak sendiri dengan perwira lainnya untuk suatu kepentingan negara. Ketika orang itu menghadap Si Bung, duduk dihadapan sang Proklamator. Si Bung berkata "Mari agak mendekat, Mas". Ketika orang itu menggeser kursinya, tampak kaki orang itu gemetar , ngopyok. Persiden pun tersenyum.
Jadi jangan menyepelekan orang lain sebelum tahu betul.
Selasa, 12 Januari 2021
Menyoroti Puisi Asu karya Joko Punirbo
Pada puisi ke dua Joko Punirbo di tahun 2012 menulis lagi dengan cerita yang menarik yang membuat penulis terkesan, Di sini Joko Punirbo membuktikan dirinya sebagai Penyair terbaik di Angkatan yang oleh penulis disebut angkatan Pasca 66. Cerita yang disuguhkan dalam Mengenang Asu sungguh suatu puisi yang menggambarkan diri bahwa tidak semua orangh berangkat dari yang baik, justru dari yang tidak baik kadang menjadi baik. Dalam puisi ini juga menggambarkan bagaimana laku keras hidup dalam kehidupan di zaman ini, pola asu kadang dipakai tetapi pada akhirnya orang memilih bagian yang terhormat yaitu kebaikan dari sifat-sifat asu. Asu digambarkan dalam puisi itu sebagai perumpamaan bahwa kita jangan mengaku benar padahal kita juga pernah menjadi asu.
Karya Joko Pinurbo (2012)
Mengenang Asu,
Pulang dari sekolah, saya main ke sungai.
Saya torehkan kata asu dan tanda seru
pada punggung batu besar dan hitam
dengan pisau pemberian ayah.
Itu sajak pertama saya. Saya menulisnya
untuk menggenapkan pesan terakhir ayah:
“Hidup ini memang asu, anakku.
Kau harus sekeras dan sedingin batu.”
Sekian tahun kemudian saya mengunjungi
batu hitam besar itu dan saya bertemu
dengan seekor anjing yang manis dan ramah.
Saya terperangah, kata asu yang gagah itu
sudah malih menjadi aku tanpa tanda seru.
Tanda serunya mungkin diambil ayah.
2012
Joko Pinurbo
Buku: Selamat Menunaikan Ibadah Puisi
