Laman

Minggu, 13 Oktober 2019

Filosofi Paviliun, Dari luar saja sudah terbaca betapa jeleknya !

Paviliun,

Paviliun adalah bangunan tambahan di samping rumah utama. Paviliun ini sering dijumpai pada bangunan-bangunan rumah lama (zaman Belanda) . Paviliun justru lebih banyak digunakan ketimbang bangunan utama, terutama di ruang tamu. Ini dikarenakan sang pemilik biasanya kalangan ningrat atau orang kaya menerima tamu dari semua kalangan melalui pavuliun.

Paviliun setelah merdeka justru dijadikan tempat istimewa, biasanya untuk tamu atau kala ibu-bapak mertua berkunjung. Paviliun pun semakin istimewa karena tidak lagi bentuknya disesuaikan dengan bangunan utama.

Yang menjadi tanda tanya adalah ketika orang berumah di perumahan membangun paviliun. Kalau rumah kecil di bangun disampingnya bukan paviliun , itu namanya nambah kamar. Karena sama-sama kecilnya.

Demikian Paviliun menjadi serambi sarana silaturahmi. Nah jika memang paviliun adalah sarana silaturahmi kenapa kita tidak membuat paviliun-paviliun supaya lebih dekat dengan tetangga dan siapa saja.

Masalahnya satu bukan gedungnya atau rumahnya yang dipemasalahkan tetapi adalah majikannya. Sejauhmana ia mau membuka pintu paviliun. Apalagi paviliunnya tampak mewah.

Demikian filosofi paviliun ini kita jadikan untuk berkaca diri. Baru merasa besar saja sudah tidak mau membuka pintu. Kalau pintu nya tertutup bagaimana menyapa tetangga. Apalagi paviliun itu kau hiasi bunga dan aneka taman, seakan tak boleh diinjak. Dengan kata lain kita dapat menarik kesimpulan : Kalau begitu untuk apa dibaca bukunya, dari luar saja sudah terbaca betapa jeleknya !

(rg bagus warsono, 14-10-19)

Cinta Tak Harus Memiliki,

Cinta Tak Harus Memiliki,

Bicara cinta aku bukan masanya lagi, usiaku sudah 55 th, gigiku sudah ompong, rambut sudah putih, dan tenagaku sudah semakin menurun. Sebuah tanda-tanda 'undangan dari Allah.

Tetapi aku percaya Allah juga yang memberikan rasa cinta pada setiap manusia. Sehinga banyak orang mengatakan cinta itu tak dibatasi umur. Tapi kenapa aku sejak pertama jatuh cinta tak pernah jatuh cinta lagi. Bener lho.

Pada hal lain , Allah memberikan slalu memberikan yang terbaik dan itu juga aku percaya. Misalnya kegagalan, dan aku percaya kegagalan itu sesuatu yang terbaik bagi diri kita. Berarti kegagalan itu "jalan" terbaik untuk kita.

Ternyata Apa yang kita lakoni itu sudah ada rute dari sononya. Nah kembali masalah "cinta" mungkin juga Ia memberikan yang terbaik. Buktinya ada kopi tiap pagi, sarapan pagi, dan sebagainya.

Lalu seseorang mengatakan kenapa cinta slalu menghantui diri? Mungkin juga cinta itu juga diganggu setan. Sebab Allah juga menciptakan setan untuk mengganggu manusia termasuk mengganggu cinta manusia. Nah kalau begitu cinta=setan , mungkin juga.

Dalam kehidupan ternyata benar cinta tak harus memiliki, maksudnya tidak harus yang dicintai itu menjadi miliknya. Yuk kita cek, ternyata tidak jeh. Cinta itu harus dimiliki dan diperjuangkan seumur hidup agar kita penuh gairah. Mungkin artikel ini salah kaprah, ya sudah sarapan pagi dulu. (rg bagus warsono)

Rabu, 09 Oktober 2019

Mengenal Puisi Modern Sastrawan Indonesia karya Rg Bagus Warsono

 Mengenal Puisi Modern Sastrawan Indonesia, Bahan Pengayaan untuk sekolah menengah dan Perguruan Tinggi. karya Rg Bagus Warsono// Buku bagusBuku untuk peganganpelajar / mahasiswa atau guru/dosen .memperkaya wawasan dan pemahaman apresiasi sastra Indonesia.
Sebuah buku Pengayaan bagi siswa sekolah menengah dan mahasiswa atau buku pegangan guru sekolah menengah dan dosen sastra Indonesia sebagai acuan yg memperluas pemahaman . Bahwa sastra Indonesia saat ini ternyata tak sekedar diam dan tak sekedar teriak. Mengenal Puisi Modern Sastrawan Indonesia karya Rg Bagus Warsono. yang mencatat bahwa ada sesuatu karya penyair Indonesia yg perlu diketengahkan karena karya itu memiliki bobotnya tersendiri dalam sastra Indonesia.
Menanggapi kesan "penyairnya lebih dikenal ketimbang puisinya. Atau dalam kata lain Penyairnya 'lebih dahulu berlari ketimbang antologinya, Mengenal Puisi Modern Sastrawan Indonesia, jawabnya. Memotret puisi indah itu selera pemotret, Tetapi Rg Bagus Warsono berusaha agar potret itu diterima sebagai kenang2an di zaman modern spt sekarang ini. Ternyata banyak penyair bagus dengan karya yg layak di catat sebagai penyair sesungguhnya di zaman modern.

                                                         Rg Bagus Warsono

Menjadi Penyair

Kita mulai dng mengasah kecerdasan. Di Lumbung Puisi Anda harus cerdas agar menjd kuat. Kecerdasan itu didapat dari membaca, pengalaman, dan logika berfikir yang juga dari membaca dan pengalaman.
Unt menjd penyair, yg pertama hiraukan dahulu masalah baca puisi, sbb pembaca puisi dan penyair memiliki perbedaan yg sangat jauh.
Ada penyair baca puisi, ada pembaca puisi membaca puisi, dan ada diluar yd disebutkan itu jg membaca puisi.
Jika memang 3 golongan pembaca puisi (pembaca puisi membaca puisi, penyair  membaca puisi, dan yg diluar yang disebutkan  membaca puisi) dalam event pertemuan sastrawan maka Anda harus paham dalam perumpamaan lain  bahwa " tidak semua juri lomba baca puisi itu pandai membaca puisi."
Jika seseorang piawai mencipta syair puisi dan sekaligus piawai membaca puisi maka ia memiliki multi talenta.
Unt membuktikan seseorang memiliki multi talenta maka kedua produk dr predikat dr subjek ke2nya diuji oleh dua ahli bidang masing2.
Sedangkan Untuk menguji sendiri sejauhmana baca puisi Anda bernas atau tdk, rekam tanpa gambar dan apresiasikan pd orang lain.
Kesimpulannya penyair tak harus piawai membaca puisi dan sebaliknya pembaca puisi tak harus seorang penyair. (rg bagus warsono) 

Interprestrasi = Tafsiran,

Interprestrasi = Tafsiran,

Tempe.

Jangan dahulu mengambil kesimpulan akan status orang lain itu buruk sebab bahasa tulis dan lisan berbeda maksud. Kalau orang Surabaya bilang "Asem Kowe!" yang diajak bicara malah tertawa senang. Sedang bahasa tulis beda interprestasi, tergantung dari pada siapa lawan dialog. Begitu juga orang Jawa tengah yang sudah terbiasa ngomong "asu kowe" , tampak seperti latah, padahal kalau ketemu orangnya Anda akan kaget ternyata yang suka ngomong "Asu!" itu orang baik-baik.

Agaknya positifthinking diperlukan dalam pergaulan face boox.

namun demikian ada bahasa halus padahal tujuannya menghina, sedangkita yang baca tidak merasa dihina atau dimarahi. Misalnya, kata "tempe" . Oleh karena itu berpikir dan berprasangka positih lebih bahagia, kita potitif thinking saja. (rg bagus warsono, 10-10-19)

Lomba dan Hadiah

Lomba-lomba baca dan cipta puisi di Indonesia tidak berjenjang seperti Pemilihan Bintang radio dan Televisi yang dimulai dari setiap kota , propinsi dan nasional, atau Ajang pemilihan biduan dangdut (KDI) dengan diawali seleksi, atau seperti Asia Bagus atau Stand Up Comedy yang diawali dengan seleksi dan dibanjiri peserta. Hal demikian dikarenakan belum diterapkannya keadilan pada tiap unsur seni di Indonesia baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

Lomba-lomba baca dan Cipta Puisi akhirnya tidak menghasilkan "bintang" yang dilihat masyarakat demikian benderang. Seusai pembagian hadiah dan unjuk kebolehan sudah itu sang pemanang biasa lagi dan hanya meratapi piagam penghargaan.

Agaknya Baca Puisi dan Cipta Puisi sebagai seni di tanah Air difonis oleh masyarakatnya sendiri. Apakah dikarenakan penggemarnya sedikit? Oh tidak sekarang justru penggemar sastra semakin berkembang banyak. Lalu apakah tak ada sponsor? Nah ini berkaitan dengan pangsa pasar produk sponsor itu. Dan apakah pemerintah kurang memperhatikan bidang sastra? Mungkin juga demikian tetapi apakah pemerintah juga memberi porsi berlebih pada seni stand up comedy. Kiranya ini perlu mendapat perhatian serius para pemikir dan pecinta sastra Indonesia agar kita memiliki sesuatu yang dibanggakan.

Di sisi lain akhirnya penggemar sastra (pencinta dan pelaku) mencari jalan pintas seperti yang dilakukan Denny JA (membaca) , atau berupaya menampilkan tayangan 'pura-pura yang divideokan, atau peluncuran antologi mewah yang berbiaya besar. jalan pintas itu pun akhirnya tak berujung 'bintang karena rekayasa tak pula menyentuh penggemar (pecinta dan pelaku) dan pemerhati sastra indonesia.

Keadaan lomba-lomba baca dan cipta puisi yang monoton dan tak menghasilkan apa-apa bagi pemenangnya membuat kejenuhan penggemar sastra. Padahal pencinta (pembaca puisi dan penyair) sastra memerlukan sebuah 'predikat atau sebutan yang merupakan puncak karier dalam lomba sastra itu. Jangankan bintang diraih skala nasional, predikat yang wajar saja tidak ada kecuali selebar penghargaan yang hanya portofolio kegiatan dan tak melekat dengan yang memilikinya. (rg bagus warsono)