Laman

Kamis, 30 Juni 2016

Kisah sejati : Buku Tabanasku digunting karyawan BRI !

1985 di Ramadhan menjelang Lebaran. Tak ada bayangan
persiapan lebaran keluargaku, tak ada barang berharga yang dapat dijual. Ibu sendiri ayah tak ada. Hidup serba kesusahan. Aku harus mencari nafkah keluarga dengan 4 orang adik. Apa saja aku lakukan utuk makan keluarga. Hingga lebaran mendekat mata-mata adikku berkaca kaca. Pada waktu itu moment Lebaran sungguh istimewa apalagi buat mereka yang masih kecil-kecil. Ibuku yang berjualan pecel sangat tak mencukupi kebutuhan. Aku pun demikian susah cari kerja. Hamir setiap saat terdengar tangis adik-adik.
Ketika itu ingat aku masih punya buku Tabanas BRI, kubuka buku berwana kuning itu masih tersisa belasan ribu. Sebagai seorang tamatan SPG aku mengerti bahwa jika tabungan tak aktif setiap bulan dipotong biaya administrasi bank. Tak besar kala itu biaya administrasi hanya sekitar Rp 20,- sebulan. Memang sudah lama tabungan tak aktif. Bismillahhirrochmannirrohim ...Aku permisi pada Ibu untuk pergi ke bank. Yakin aku masih bisa mengambil saldo tabungan barang 10 atau atau 15rb. Sampai dibank aku mendatangi kasir dan menyodorkan buku tabanas itu. Ya Allah apa salahku dan apa cobaan keluargaku ini. Orang itu (karyawan BRI laki-laki yang aku ketahui namanya dan wajahnya hingga sekarang ) mengatakan bahwa tabanas ini sudah tidak berlaku. Ia menggunting buku tabanas yang aku slalu simpan itu, dan aku disuruh pulang. Tak tahan menahan air mata , masih di gerbang gedung BRI Indramayu yang kini megah itu mataku basah menangis perih. Sampai dirumah aku tak bercerita pada ibu aku menangis. Dan ibu tahu apa yang terjadi pasti. ( sudahlah basah juga air mataku mengenang saat itu, aku sudah memaafkan semua itu., Jumat 1 Juli 2016).

Selasa, 28 Juni 2016

Itulah makna lumbung puisimu.

Aku banyak membaca syair/puisi karya penyair senusantara ini. Dari yang renta sampai yang bau kencur, dari yang terpopulair sampai yang terasing, dari pesisir sampai pucuknya gunung, dari terpencil sampai ramainya kota. Lalu aku pilih karya yang pas (menurutku) sebagai puisi dan disimpan bersama biodatanya. Kutelusuri nama, kutelusururi judul. Kemudian dilengkapi dan diarsipkan. Untuk kemudian nama puisi dan penyair itu hilang dari peredaran , tak mengapa. Namun aku yakin suatu saat arsip akan dibutuhkan. Dan namaku , tentu mengiringi arsip itu. Itulah kenapa aku menggagas Lumbung Puisi. Itulah makna lumbung puisimu.

Hasilnya adalah bersyukur.

Rumus bersyukur itu adalah dengan perbandingan dengan mereka di bawah kita jangan yang di atas kita. Hasilnya adalah bersyukur.

kesucian itu berpakaian bersih dan tidak harus baru

Fitri itu bersih, mengiringi kesucian itu berpakaian bersih dan tidak harus baru. Fitri itu bersih, mengiringi kesucian itu berpakaian bersih dan tidak harus baru. Jika masih banyak pakaian bersih kenapa harus membeli pakaian baru.

Sebab orang tuamu sudah tak sanggup lagi mengganti pakaian dengan yang baru.

Jika kau menghadiahi orangtuamu 1 stel pakaian baru itu mulia, bukan berarti untuk digunakan hari lebaran saja, tetapi untuk hari-hari selanjutnya. Sebab orang tuamu sudah tak sanggup lagi mengganti pakaian dengan yang baru.

tidak harus berpakaian baru karena tidak dianjurkan.

Mempersiapkan Idul Fitri dengan pakaian baru boleh saja maksudnya agar bersih mengiringi kesucian di hari Fitri itu, dan tidak harus berpakaian baru karena tidak dianjurkan.

Dasar mudik lebaran itu

Dasar mudik lebaran itu bukan pamer di kampung, tetapi dianjurkan halalbil halal , silaturahmi saling meminta maaf dan memaafkan (menyempurnakan kefitrian). Karena penting dengan saling meminta maaf dan memaafkan sanak saudara termasuk orang tua, jadilah kita ke tempat mereka (mudik).
Apalagi kamu membawa parcel/bingkisan lebaran untuk orang tuamu itu sangat mulia. Karena di hari raya itu, di rumah orang tuamu, banyak berdatangan sanak saudara bersilaturahmi, sebagai meringankan beban tuan rumah.

Membeda-bedakan perlakuan menghormat, ini jelas bukan anjuran Islam.

Hal yang paling sering terjadi di hari lebaran itu adalah ketika orang melakukan diskriminatif si kaya dan si miskin, pejabat dan yang bukan. Membeda-bedakan perlakuan menghormat, ini jelas bukan anjuran Islam.

Lucunya lagi kau memberi hadiah lebaran kepada atasanmu

Lucunya lagi kau memberi hadiah lebaran kepada atasanmu, sedang sanak saudaramu yang miskin terlupakan. Meskipun sodaqoh pada siapa saja, tetapi keliru , sebab itu menyakitkan saudaramu bila mengetahui di depan mata.

Senin, 13 Juni 2016

kembali selera masing-masing.

Pesatnya perkembangan sastra Indonesia khusus puisi menandakan betapa rakyat Indonesia memiliki semangat leluhur sebagai bangsa yang memiliki budi baik dan kejujuran sebagaimana terkandung dalam syair-syair puisi. Antologi terus bertambah membuat banyak pilihan untuk pembaca, pilihan itu tentunya kembali selera masing-masing.

apakah penciptaan puisi oleh penyair sudah tepat sasaran pembaca

Diakui memang puisi melalui buku antologi tepat sasaran sampai pembaca, namun betapa kurang sreg ketika ternyata pembaca puisi terbanyak justru dikalagan penyair itu sendiri. Jadi apakah penciptaan puisi oleh penyair sudah tepat sasaran pembaca? Jawabnya sudah, tetapi belum pada sasaran yang sesuai tujuan itu.

Membaca juga sebagai pembentukan karakteristik seseorang

Membaca juga sebagai pembentukan karakteristik seseorang. Bahkan sudah melekat jika dimulai dari masa anak-anak. Andai bacaan puisi ini dikenalkan pada anak-anak bukan tidak mungkin remaja atau dewasa kelak mereka suka pada puisi. Kenyataan justru puisi malah dikenalkan setelah mereka dewasa dan menyukai kegiatan kepenyairan membaca menulis dan mencipta.

tidak sampai pada pembaca atau tidak tepat sasaran.

Kalau demikian bukan tidak mungkin ada ada sedikit atau banyak buku antologi yang dicipta namun tidak sampai pada pembaca atau tidak tepat sasaran.
Banyak terjadi antologi diluncurkan namun sudah itu hanya seremonial belaka dan judulnya menghias berita dan sejarah sastra namun khalayak tak membacanya.

Dari semua itu dapat dipilah tentang penerbitan sebuah buku

Dari semua itu dapat dipilah tentang penerbitan sebuah buku
agar dapat dimaklumi sebagai bacaan sastra yang memenuhi sasarannya.
a. Buku sastra komersial
b. Buku sastra dokumenter
c. Buku sastra kepentingan
d. Buku sastra lomba
e. Buku sastra arsip pribadi

hanya nama saja, atau antologi bersampul bagus hanya lapuk di rak lemari sendiri.

Yang mana kita bisa membedakan buku antalogi itu dari tujuan penerbitan itu. Maka tidak heran apabila antologi berlauching hebat kemudian hanya nama saja, atau antologi bersampul bagus hanya lapuk di rak lemari sendiri.

Demikian buku diterbitkan tergantung tujuannya

Demikian buku diterbitkan tergantung tujuannya, tergantung manfaat guna buku itu. Banyak antologi sebetulnya adalah kebanggan bangsa ini bahwa rakyat kita dipastikan menyukai keindahan kejujuran karena sastra itu bersih dan jujur. Disayangkan apabila terjadi sebaliknya ,banyak antologi tetapi rakyat tak mengenalnya alias asing karena tak membaca bukunya.

kecuali antologi cetakan tahun 70an ke bawah.

Ternyata dari segi sasarannya antologi dicipta, diterbitkan itu sedikit sekali yang bersifat sastra komersial. Penerbit kurang tertarik karena pangsa pasar yang kuran menjanjikan. Jangankan penyair pemula , penyair yang telah menekuni lama pun belum tentu diminati, kecuali antologi cetakan tahun 70an ke bawah.

Nah disinilah kunggulan penyair itu

Sebuah pertanyaan muncul kenapa antologi yang bersifat komersial kurang menjanjikan pangsa pasar tetapi profesi penyair kok sedemikian banyak diminati? Nah disinilah kunggulan penyair itu. Ia punya daya tarik yang dapat dijabarkan lebih luas dari waduk malahayu.

Satu daya tarik yang dapat dipertanggung-jawabkan

Satu daya tarik yang dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah kenapa banyak orang minat akan profesi penyair adalah bahwa kelak dengan bukti bukti portofolio (prasasti, buku, atau alat baca lain yang abadi) akan merekam jejak nama penyair walau puluhan atau ratusan tahun.yang artinya Anda (penyair) akan dikenang bak Nabi Sulaiman.