Laman

Sabtu, 24 Februari 2018

Lumbung Puisi dan Sejarah Mataram

Lumbung Puisi dan Sejarah Mataram

Kenapa Lumbung Puisi di Indramayu? Seperti juga prajurit-prajurit Mataram yang tak berani pulang ke Metaram. Indramayu juga milik Mataram. Karena itu dari pada pulang dengan ketakutan hukuman karena kalah perang, atau karena Sultan tidak tahu medan perang. Lebih baik di Indramayu memelihara lumbung-lumbung padi dan bercocok tanam di Indramayu.
Rd. Aria Wiralodra putra Kepala Perdikan daerah Kedu Bagelen adalah utusan dan mandat langsung Sultan Agung Mataram untuk membabad alas muara Cimanuk dan sekitarnya sebagai daerah bawahan Mataram sekaligus pada saat Penyerangan Batavia daerah ini dijadikan Lumbung Padi.
Jadi Lumbung Puisi layak dan memiliki nilai sajarah berkaitan dengan sejarah Mataram. Kenapa? Karena Lumbung Puisi juga sebaian ikut menjadi nafas sejarah sastra Mataram (Indonesia pada saat itu) dimana kebudayaan Mataram dibawa ke daerah indramayu yang sampai saat ini masih digunakan. Seperti acara-acara adat Sedekah Bumi, Nadran, Mapag Sri dll.
Kok Lumbung Puisi dengan penyerbuan Mataram ke Batavia terkait. Ya jelas karena Lumbung puisi diinspirasi oleh Lumbung di daerah ini. (rg bagus warsono)

Inilah Penyair Jawa Barat Angkatan 2000

Inilah Penyair Jawa Barat Angkatan 2000
Kis WS, Olla S Sumarnaputra, Tini Kartini, Hasan wahyu Atmakusumah, Sayudi, Yus Rusamsi, Surachman RM, Ajip Rosidi, Kusnaedi (Edi) Prawirasumantri, Wahyu Wibisana, Eddy Tarmidi, Apip Mustopa, Ayatrohaedi, Karna Yudibrata, Habibum Wangsaatmaja, Odji Setiadji AR, Tiarsa R, Rachmat M, sas. Karana, Sayudin Natadisastra, Agus Sur, ESon Sumardi Abdullah Mustafa, Kartadibrata, Yous Hamdan, Beni Setia, Yoseph Iskandar, Iyas Heriyana, Hadi AKS, Dadan Bahtera, Dedy Widyagiri, Etti RS, Usep Romli HM, Nita Widiati Efsa, Us Tiarsa R, Acep Zamzam Noor, Godi Suwarna, Abddullah Mustofa, Eddy D Iskandar, Juniarso Ridwan , Gody Suwarna, Rosyid E Abby, Ade Kosmaya, Tatang Sumarsono, Taufik Fathurachman, Soni Farid Maulana,

Duit Receh

Duit Receh

Wis ora payu
aluk dilebur dadi panci
Percuma negara nggawe duit receh
gedhe ongkose laka regane
duit receh akeh dibuang kali
wong ngemis wis orang nglirik
tukang parkir isin nrimane
susukan tuku nganggo pura-pura susuk
duit receh mung nggago kerokan wong lara masuk angin
nyai-nyai mumet
esih apik blendong
negara wis ora diregani
duite wis ora dianggep
kaya zaman londo bubaran
blendong bolong tengahe
digawe dangdang.
Saiki duit receh sing digawe alumunium
larang bahane karo rega duite.
(rg bagus warsono 18-02-2018)

Karya tulis itu semakin berani seperti Revolusi Celana Dalam

Tahun 60-an Taufiq Ismail sudah mulai membuka lutut. Cukup berani juga bagian yang slalu 'tekak-tekuk pada tubuh manusia itu mulai dubuka. Taufiq Ismail ada rasa takutnya sehingga celana yang ditampilkan hanya untuk dirumah dan pada bagian atas lutut itu ada kolor pengikat sehingga pahanya yang mulus tak tampak. Namun cukup berarti bagi revolusi 'celana dalam.

Tahun 70-an WS Rendra sudah mulai membuka paha. Bagian rang merangsang itu bisa membuat orang bergejolak. Rendra berani sampai memperlihatkan paha putih mulus itu. Semakin membuat publik memahami bagian dalam, ternyata paha mulus itu membuat orang semakin penasaran !

Nah itu yang tahun 1980-2010 itu angkatan penyair-penyair terkini. Soal 'paha gak jadi masalah, bahkan sampai pada bagian-bagian penting pun perlu ditulis.

Tentang klik 'suka

Tentang klik 'suka

Klik "suka" atas status sastra (puisi) itu macam-macam arti. Dan Anda faham akan hal ini. Bersahabat itu diantaranya saling menghormati dan menghargai. Bersusah payah sahabat membuat puisi dan ditampilkan. Tentu membutuhkan apresiasi teman. Harapannya adalah dibaca sahabatnya.
Apresiasi sahabat ternyata juga berhubungan dengan jari, bagaimana telunjuk yang sudah latah memencet lambang jempol itu terus mengklik semua status. Akhirnya apresiasi hanya sekilas. Siapa penulisnya, sahabat ataukah belum dikenal. Tulisan yang bagus atau asal-asalan. Yang penting terus beri 'jempol !
Demikian pengguna facebook (fb) itu. Seperti ulat, makanan segar atau busuk sama saja. Mengapa karena orang Indonesia itu sebetulnya lega hatinya. Banyak maklum dan penuh toleransi. Mungkin ini tinggalan budaya timur kita doeloe yang masih melekat.
Ternyata kebiasaan klik 'suka digunakan pada semua pengguna fb dari semua pecinta sastra Indonesia. Sebuah gambaran bahwa di sastra tempat keindahan terjadi. Namun terkadang kita hanyut dalam tujuan masing-masing. Klik 'suka menjadi penuh arti. Manakala statusnya ditag menyapa sahabat atau teman. Mesin fb akan mengunjungi teman yang disapa itu. Jadilah apa terjadi merasa dihargai atau sebaliknya merasa membosankan.
Klik 'suka akhirnya hanya senyum artinya.

Bincang-Bincang Syair dan Penyair

Dunia sastrawan sangat menarik untuk disimak sebagai bagian dari masyarakat kita dengan kekhususannya tersendiri yang juga beraneka warna kesan dan keadaan. Sebuah heteronomia diblantika sastra Indonesia. Yang menarik untuk dipelajari.
Buku ini sedikit memberikan gambaran aktifitas sastra di masa setelah apa yang disebut Angkatan 66 sebagai bahan kajian kita semua terlebih bagi generasi muda yang menginginkan melihat perkembangan sastra dewasa ini.
Berisi seluk beluk sastra dan kegiatannya masa kini untuk dapat dipelajari bersama.
Bincang-Bincang Syair dan Penyair
Penulis : Rg Bagus Warsono Editor : Isa Desain : Edi
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini ke dalam bentuk apa pun, secara elektronis maupun mekanis, tanpa izin tertulis dari penerbit atau penulis. All Rights Reserved
Diterbitkan oleh: Penebar Media Pustaka Alamat : Jl. Samas km 1, Palbapang, Bantul, Bantul, Yogyakarta, 55713. Hp. : 082327654950 E-mail : penebarcom@gmail.com
Katalog Dalam Terbitan (KDT) Rg Bagus Warsono, Bincang-Bincang Syair dan Penyair; Editor: Isa—Cetakan 1—Yogyakarta: Penebar Media Pustaka, 2018 144 hlm; 14 x 20 cm
ISBN: 978-602-5414-66-4

Selasa, 13 Februari 2018

Jejak Langkah Rg Bagus Warsono Terkini

Ratusan nama penyair disinggung dalam buku karyaku berjudul "Diantara Ribuan Batu Akik Berserakan di Pengunungan Indonesia Terdapat Pualam Manikam Gemerlap" Buku setebal 250 halaman ini akan menjadi cacatan abadi kapanpun selama Indonesia ada. Mereka telah menggoreskan penanya dengan cantik untuk negrinya di masa depan. Pastikan namamu disinggung dalam buku ini. Ia akan menjadi rujukan sepanjang sastra khusus puisi itu dicintai masyarakat Indonesia. Sebuah perjalanan kepenulisan dalam kurun sepuluh tahun terakhir sahabatmu Rg Bagus Warsono. Aku tidak mengkritik tetapi memberi sorotan terhadap puisi-puisi Indonesia. Sebab tidak dibayar oleh siapapun dalam hal kritik sastra atau meminta dibayar, atau mengharapkan sesuatu pengakuan, dan atau untuk supaya terus ditemani. Karena menulis itu kemerdekaan, ya kemerdekaan seperti dalam buku 'Sorotan Puisi Indonesia' yang mencatat puisi-puisi spetakuler, puisi hetrick, tendangan yang memukau, atau menyebabkan orang bergerak urat-uratnya. Buku ini sebelum ditawarkan penerbit terus dibenahi dalam editing pribadi. Kelah buku dengan 100 sorotan hebat ini akan menjadi teman Anda. Dari sahabatmu Rg Bagus warsono, Anda diajak berwisata membaca dengan ekspresi rupa-rupa : Geram, Gereget, Panik, Trenyuh, Tresna , Rindu, Membenci dan juga Gelak Tawa Terbahak-bahak. ! Jika Anda mau puisimu hadir dalam buku ini hadirkan yang terbaik . Di buku yang lain yang tengah dipersiapkan 'Geliat Penyair Indonesia' membuktikan berbagai aktifitas sastra di berbagai tempat dengan suguhan berbagai tema artikel yang hangat-hangat kuku. Individu dan komunitas penyair dengan gayanya serta corak dan ragamnya memperkaya khasanah sastra Indonesia. Mereka bukan siapa-siapa tetapi para sahabat penyair yang diaharapkan menjadi sastrawan Indonesia abadi dengan kreatifitas nyata. Geliat Penyair Indonesia dengan 160 halaman menyinggung seluruh komunitas sastra di Indonesia dalam kaca mata penulis sahabatmu Rg Bagus Warsono

Ada Ac Pendingin dalam dada

Ada yang berkecamuk dalam dada setiap insan dan ada AC pendingin untuk meredam. Keduanya bermanfaat. Namun tidak slalu keduanya bermanfaat bagi diri yang punya dada itu. Beda sekali dengan Jend. Soedirman dia menyimpan rasa berkecamuknya dengan AC pendingin tadi. Kesabarannyalah yang ia gunakan utuk berkecamuknya perasaan untuk menuju cita-citanya. Lain hanya dengan Chaerul Saleh pemuda yang bergelora untuk segera memerdekakan Indonesia sehingga ia menculik pemimpin besar Soekarno-Hatta. Apa yang berkecamuk dalam dadanya segera ia implementasikan, apa pun resikonya. Agaknya keduanya itu (rasa berkecamuk dan kesabaran) sama-sama memiliki nilai plus dan minus. Jadi perlu saringan utuk keduanya itu. AC pendingin dalam dada kita bisa menjadi alat kontrol rasa berkecamuk itu, dan Rasa berkecamuk dapat menjadi pemacu untuk berani mencoba, berbuat. dan nyata.

Kamis, 01 Februari 2018

Tentang Mencipta Puisi,

Sarapan Pagi

Tentang Mencipta Puisi,

Kini mencipta puisi diantara jutaan manusia mencipta puisi. Anda jangan berfikir terlalu banyak orang mencipta puisi. Bisa-bisa puisi yang dicipta seperti daun daun-daun jati kering yang terbang di bawah pohon jati lain, di lahan lain, di hutan lain, dan terbakar hangus atau menjadi humus penyubur tanaman.

Sebetulnya apa pun bentuknya slalu ada manfaat. Hanya kita tidak atau belum menemukan cara, bagaimana agar apa yang kita buat itu bermanfaat.

Kadang berfikir bagaimana menjadi puisi pilihan yang dipilih dan dapat dibaca masyarakat? diantara jutaan-puisi itu. Agaknya disini membutuhkan kreatifitas untuk membidik sasaran pembaca.

Namun juga itu semua tergantung bagaimana si pencipta bertujuan dalam mencipta puisi itu. Hal yang lumrah apabila ada sebab akibat. Tentu yang diharapkan adalah karya itu dapat menuai apresiasi dari pembaca. Namun banyak orang mencipta puisi itu keliru dengan mengharap popularitas dan balasan jasa atau benda dari apa yang diperbuat itu. Kekeliruan ini patut dikikis sebab puisi kini menjadi bagian dari kehidupan yang tak lepas dari rasa seni. Sebab bukan penyair saja yang mencipta puisi, bahkan sejak doeloe, orang yang bukan berstatus peyair pun kini telah banyak mencipta puisi. Untuk apa? ya , untuk menoreh sedikit kalimat dalam kehidupannya.
(rg bagus warsono, 31-01-18)

Kau akan disegani bila terus menulis.

(Mari Belajar Idealis)
Tentang Kekuatan Penyair:
Kekuatan penyair itu pada tulisan (karyanya) jadi tetaplah terus menulis, sebab kau akan disegani bila terus menulis. Tulisan yang berbeda dengan hari kemarin dan tulisan yang lebih bermutu dari hari kemarin.

Pemberitaan sastra menggunakan azas pemberitaan

(Mari Belajar Idealis)
Apa salahnya pemberitaan sastra menggunakan azas pemberitaan yang baik , yakni :
Asas 5 W + 1 H yang bertujuan untuk memenuhi kelengkapan berita. Asas ini terdiri dari WHAT (apa yang terjadi), WHO (siapa yang terlibat dalam kejadian tersebut), WHY (mengapa terjadi), WHEN (kapan terjadinya), WHERE (di mana terjadinya), dan HOW (bagaimana cara terjadinya).

Bagaimana kearifan sejarahwan kita.

(Mari Belajar Idealis)
Tentang Sebutan Angkatan dll.
Ini sebetulnya bagaimana kearifan sejarahwan kita.
Keberpihakan sejarahwan terhadap golongan atau miring/condong kemana keberpihakan itu akan membuat sejarah menjadi tidak lurus lagi.

bukan ngelink sana ngelink sini atau atau ada di sana ada di sini.

(Mari Belajar Idealis)
Tentang pembenaran Siapa Penyair:
Prasasti = ada lembar karyanya
Diiyakan = ada lebih dari seorang ahli yang menyaksikan mengiyakan
Jaminan = ada yang bertanggung-jawab lembaga penerbitan diakui negara
Kesaksian = ada kritikus, kurator, pengantar buku, wartawan dan penulis bukti ilmiah lain yang dipublikasikan.

Jadi bukan ngelink sana ngelink sini atau atau ada di sana ada di sini.

Penyair terlahir dari pengakuan pembaca bahwa karyanya

(Mari Belajar Idealis)
Ada penyair tanpa karya buku , dia bilang penyair yang dikutuk Tuhan.
Ada penyair berkarya buku, dia bilang penyair yang dilahirkan sebagai penyair.
Anggapan itu semua keliru, sebab penyair terlahir dari pengakuan pembaca bahwa karyanya bersastra.

Pembaca yg membelamu sbg Sastrawan.

(Mari Belajar Idealis)

Ketika karyamu bagus terbaca publik
Pembaca yg membelamu sbg Sastrawan.
Jd jng takut tdk diakui !