“Pariyem, nama saya
Lahir di Wonosari Gunung Kidul pulau Jawa
Tapi kerja di kota pedalaman Ngayogyakarta
Umur saya 25 tahun sekarang
--tapi nuwun sewu
tanggal lahir saya lupa
Tapi saya ingat betul weton saya:
Wukunya Kuningan
di bawah lindungan bathara Indra
Jumat Wage waktunya
ketika hari bangun fajar.”
Demikian Pariyem membuka kisahnya. Ia adalah seorang babu yang mengabdi di rumah bangsawan Cokrosentono. Dengan keluguannya ia berkisah tentang laku hidupnya sebagai babu dengan segala keluguan dan kepasrahannya sebagai kawula. Sikap yang sering dipahami sebagai khas Jawa.
Kisah si babu dapat kita baca dalam prosa lirik berjudul Pengakuan Pariyem yang diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Sinar Harapan pada 1981. Sebelumnya naskah Pengakuan Pariyem ini dipublikasikan secara terbatas di kalangan seniman Yogya oleh Sanggar Bambu dalam bentuk stensilan.
Linus Suryadi Agustinus, si penulis, butuh tiga tahun menyelesaikan Pengakuan Pariyem, sejak 1978 sampai 1980. Naskah pertamanya pertama kali dibacakan di Cemara Tujuh, halaman gedung induk UGM, pada 21 Oktober 1978. Saat itu Linus baru menyelesaikannya sebanyak 20 halaman.
Ketika akhirnya diterbitkan secara komersil, Pengakuan Pariyem mendapat sambutan beragam. Yang positif misalnya datang dari kritikus sastra Subagio Sastrowardoyo. Dalam bukunya Pengarang Modern Sebagai Manusia Perbatasan: Seberkas Catatan Sastra (1989:199), Subagio menyebut prosa Linus itu sebagai karya sastra terbaik yang diterbitkan dalam lima tahun belakangan (sejak 1975).