Laman

Selasa, 31 Oktober 2017

Doa Doa Di Jakarta – WS Rendra

Doa Doa Di Jakarta – WS Rendra


Tuhan yang Maha Esa,
alangkah tegangnya
melihat hidup yang tergadai,
fikiran yang dipabrikkan,
dan masyarakat yang diternakkan.
Malam rebah dalam udara yang kotor.
Di manakah harapan akan dikaitkan
bila tipu daya telah menjadi seni kehidupan?
Dendam diasah di kolong yang basah
siap untuk terseret dalam gelombang edan.
Perkelahian dalam hidup sehari-hari
telah menjadi kewajaran.
Pepatah dan petitih
tak akan menyelesaikan masalah
bagi hidup yang bosan,
terpenjara, tanpa jendela.
Tuhan yang Maha Faham,
alangkah tak masuk akal
jarak selangkah
yang bererti empat puluh tahun gaji seorang buruh,
yang memisahkan
sebuah halaman bertaman tanaman hias
dengan rumah-rumah tanpa sumur dan W.C.
Hati manusia telah menjadi acuh,
panser yang angkuh,
traktor yang dendam.
Tuhan yang Maha Rahman,
ketika air mata menjadi gombal,
dan kata-kata menjadi lumpur becek,
aku menoleh ke utara dan ke selatan –
di manakah Kamu?
Di manakah tabungan keramik untuk wang logam?
Di manakah catatan belanja harian?
Di manakah peradaban?
Ya, Tuhan yang Maha Hakim,
harapan kosong, optimisme hampa.
Hanya akal sihat dan daya hidup
menjadi peganganku yang nyata.
Ibumu mempunyai hak yang sekiranya kamu mengetahui tentu itu besar sekali
Kebaikanmu yang banyak ini
Sungguh di sisi-Nya masih sedikit
Berapa banyak malam yang ia gunakan mengaduh karena menanggung bebanmu
Dalam pelayanannya ia menanggung rintih dan nafas panjang
Ketika melahirkan andai kamu mengetahui keletihan yang ditanggungnya
Dari balik sumbatan kerongkongannya hatinya terbang
Berapa banyak ia membasuh sakitmu dengan tangannya
Pangkuannya bagimu adalah sebuah ranjang
Sesuatu yang kamu keluhkan selalu ditebusnya dengan dirinya
Dari susunya keluarlah minuman yang sangat enak buatmu
Berapa kali ia lapar dan ia memberikan makanannya kepadamu
Dengan belas kasih dan kasih sayang saat kamu masih kecil
Aneh orang yang berakal tapi masih mengikuti hawa nafsunya
Aneh orang yang buta mata hatinya sementara matanya melihat
Wujudkan cintaimu dengan memberikan doamu yang setulusnya pada ibumu
Karena kamu sangat membutuhkan doanya padamu
WS Rendra

Dan kami hanya sekadar urun memelihara sastra Indonesia sesuai kemampuan

Kekeliruan itu manakala personal didahulukan untuk terkenal ketimbang karyanya
Lumbung Puisi lebih mengutamakan publisitas karya ketimbang nama penyairnya
Lumbung Puisi slalu menghargai untuk kebebasan berkreativitas.
Penyair itu ukurannya bukan terkenal tetapi dikenal karyanya

Sekecil Apapun Kreavitas Sastra Harus Dihargai

Sahabat Lumbung, Anda tidak perlu heran dalam dunia sastra akan judul-judul kegiatan, judul-judul buku, judul-judul acara dan judul-judul lomba sastra yang bersifat nasional atau internasional yang dilakukan oleh berbagai komunitas dengan nama-nama nasional pula. Sebab Anda juga bisa membuatnya kapan saja. Bahkan kegiatan resmi yang dilakukan oleh badan pemerintah semacam Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud, Perpustakaan Nasional atau Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan belum dapat dikatakan memiliki kekuatan pengakuan atas kegiatan yang diselenggarakannya itu oleh pandangan publik sastra.

Oleh karena semua kegiatan sastra sebesar apa pun belum dapat memiliki kekuatan pengakuan atas kegiatan yang diselenggarakannya itu oleh pandangan publik sastra, maka sekecil apa pun, dimana pun, dan sia pa pun pelakunya kegiatan sastra harus dihargai oleh semua pecinta sastra.

Lumbung Puisi , Wahana Belajar dan Pembelajaran Sastra Indonesia

Lumbung Puisi sebagai wahana belajar dan pembelajaran sehingga menghasilkan mutu.
Tidak pelu wah atau dibesar-besarkan. Yang penting terus aktif dan terpelihara keasliannya. Lebih baik kecil dan mungil tapi terus bersinar dapi pada besar dan bersinar kemudian padam.


Kamis, 05 Oktober 2017

Berkarya Puisi bagus

Langkah awal adalah berkarya puisi bagus. Di antologi bersama yg diselenggarakan berbagai komunitas juga tidak apa2, sebagai sarana pengenalan diri. Usahakan jangan mencipta asal-asalan itu merugikan diri (terutama pandangan intelektualitas sastra Anda). Suguhkan puisi terbaik meski hanya sebuah. Kenalkan / sosialisasikan antologi itu semampunya agar merambah untuk dikenal. Satu, dua. tiga orang akhirnya menetahui dan kemudian berikutnya akan mengakui Anda sebagai penyair berbobot.
Mungkin Anda sering mendengar penampilan baca puisi / cerpen di event nasional dengan puisi yang sangat tidak dikatakan nasional karena rendahnya mutu puisi? mungkin Anda heran atau tidak peduli akan kejadian itu. Tetapi mungkin Anda berfikir sama dengan penulis ( RgBagus Warsono). Apa maksudnya panitia menampilkan puisi / cerpen demikian dibacakan dan juga penampilan khusus pembaca puisi itu. Dan penulis yakin dugaan kita tak berbeda .


Bagi pekerja seni (juga penyair murni) dana sangat penting diperlukan disamping kemampuan dan kemauan berkerja. Sudah menjadi maklum apabila pekerja seni itu 'berterima kasih dengan caranya.
Masalahnya sederhana adalah sejauhmana penyelenggara event 'nasional itu jauh atau dekatnya dengan idealisme pandangan terhadap sastra yang dimiliki serta tujuan diselenggarakan even sastra nasional itu.

Di sisi lain kita harus maklum. Sastra apalagi puisi juga penyair serta berbagai kelompok/komunitas, kegiatan sastra hidupnya dari simpatisan, donatur, kepedulian pribadi seseorang dan proposal yang diajukan pada lembaga pemerintah/ swasta atau kepada perorangan tokoh.



Niscaya publik pembaca akan menghormatimu

Sahabat mudaku semua diharapkan kuat dan mandiri, terus menulis dan posisikan sejajar dengan penyair-penyair besar negeri ini. Kesejajaran itu didapat bukan dari penampilan dan pengakuan lembaga tertentu atau seringnya berkumpul ria, tetapi dengan membuahkan karya yang bagus dan bermutu sastra tinggi .Niscaya publik pembaca akan menghormatimu.