Laman

Sabtu, 29 Juni 2019


Pelukis pun mencampur warna pokok kemudian hasilnya dicampur dengan warna berbeda,
Sebagai pencetus Sakkarepmu, nulis puisi itu gak perlu ribet , tulis semaumu apa saja ! gak perlu aturan !
Jangan terpaku aturan majas, genre,dll nasehat pujangga tua, itu membelenggu imajenasimu !
Beri kebebasan hasrat hatimu menulis, Biarkan naluri yang ada pada dirimu menemukan sesuatu !
Baca dan pelajari karakter tulisan pujangga siapa saja, tetapi kau akan menemukan karaktermu sendiri dengan khas tersendiri.
Tak perlu Paus Sastra sepeningggal HB Jassin, sebab jika ada, dia akan menjadi hakim penentu yg menggembalakan sastrawan negeri !

Rotadenawa Jatuh Cinta, Rg Bagus Warsono



Rotadenawa berkata :

"Ho ho ho.....

bocah ayu, denok demplon...

aja wedhi karo kakang.....

njauk apa? tak turuti bli wurung. "

" ho ho ho ....

Kwayang temen sedepe....Nok

putih, mulus, gembleng mayeng

bening temen nok sira Bocah Ayu ....

sira Nok calon premasuri

Aku Wiragora , Raja diraja segala jin mrekayangan

Rotadenawa sing sakti mandraguna,

aduh ....Bocah ayu

aja watir Nok karo kakang ......

Kamis, 27 Juni 2019

MAMPUSNYA ROTADENAWA DIMALAM JUMAT oleh Rg Bagus Warsono



Rotadenawa pengganggu negeri pesisir itu berjalan sambil menari mengikuti gamelan obrog yang dibunyikan masyarakat dasa Pasekan dan Pabean Ilir.

Semakin ramamai berbagai alat dibunyikan semakin riang Rotadenawa menari. Gamelan itu dibunyikan sambil berjalan menuju suatu arah. para rotadenawa gembira menari mengikuti gamelan obrog yang berjalan semakin menjauhi desa Pasekan.

Sementara di desa Pasekan di malam Jumat yang agung itu suara surau dan masjid semua perempuan mengalunkan Yassin tiada henti, agar tak satu pun Rotadenawa masih berada di desa itu.

Iring-iringan obrok dengan diiringi ratusan rotadenawa meninggalkan desa Pasekan. Hari itu malam Jumat semua Rotadenawa pergi meninggalkan desa Pasekan mengikuti musik gamelan obrok menuju pantai Tiris.

Semakin malam semakin jauh iring-iringan musik obrog yang dibunyikan masyarakat yang diikuti ratusan bala rotadenawa dibelakangnya.

Rotadenawa yang tampak tinggi besar, gemuk dan menakutkan berda didepan sambil menari. Dia lah yang disebut Wiragora , raja butho rotadenawa pesisir Indramayu. Musik semakin keras , sementara tampak hitam rimbunan hutan bakau Pantai Tiris pertanda tempat pembuangan Rotadenawa itu. Wiragora dan para pengikutnya rotadenawa tak sadar dirinya hendak dibuang ke hutan Pantai Tiris.

Ternyata tak hanya para rotadenawa yang mengikuti musik gamelan obrog itu, diantaranya terdapat bangsa gendruwo, wewe gombel, kuntilanak, tuyul dedemit, tengkorak, jajanggitan, hantu patromak, sampai jaelangkung.

Memang butho ratadenawa Wira Gora raja segala raja syaitan penghuni pesisir Indramayu. Kini mereka mulai memasuki Pantai tiris. Pantai yang lebat tanaman mangruf. dengan segala macam hewan rawa yang buas.

Ketika telah sampai Pantai Tiris , gamelan obrog terus dibunyikan . Mereka membawa Rotadenawa ke dalam hutan mangruf itu. Begitu juga bangsa gendruwo, wewe gombel, kuntilanak, tuyul dedemit, tengkorak, jajanggitan, hantu patromak, sampai jaelangkung pengikutnya bersama masuk dalam hutan itu.

Terlihat pimpinan musik obrog mulai memberikan aba-aba agar alat musik sebagian tidak dibunyikan, musik semakin dikurangi perlahan dan akhirnya musik berganti suara bising serangga hutan Pantai tiris. Kiyai Sidum diam-diam membawa semua rakyat penabuh gamelan obrok itu meninggalkan Pantai Tiris melewati menuju desa Cantigu untuk menghilangkan jejak.

Malam makin pekat, bangsa rotadenawa itu berada di hutan Tiris. Musik obrog mulai menghilang. Rotadenawa bingung hendak kemana. Mereka terkurung di hutan Tiris.

Kiyai Sidum dan rombongannya telah menjauh dari Hutan Tiris. Mereka sengaja membuang bangsa rotadenawa ke hutan mangruf yang luas dan lebat itu.

bangsa Rotadenawa dam pimpinannya akhirnya tak dapat berbuat apa-apa kecuali menunggu fajar dimana matahari terbit dari timur. Dibalik desa nelayan Pasekan dan Pabean Ilir.
(bersambung)

Jumat, 21 Juni 2019

jangan menganggap orang lain sepele.

Dia bertanya, "berapa buku yg ditulis?" didepan forum sidang yg terhormat. Sebuah pertanyaan menohok. Pertanyaan yg berakibat memalukan sebagaimana kapasitasnya yang ditanya itu dalam posisi ahli. Prof. UGM itu tidak menjawab, lalu katanya lihat CV yg sy lampirkan. Rupanya Dia pengacara yg tdk teliti membaca. Di CV itu Prof itu telah menulis lebih dari 200 buku ! Sebuah pelajaran jangan menganggap orang lain sepele.

Selasa, 18 Juni 2019

Barbara Ann Mandrell

Barbara Ann Mandrell (born December 25, 1948) is an American country music singer, musician, and actress. She is known for a long series of country hits in the 1970s and 1980s as well as her own prime-time variety TV show on NBC that helped her become one of country's most successful female vocalists of that period. She gave her last concert at the Grand Ole Opry House on October 23, 1997. She then retired from performing music. Mandrell was inducted into the Country Music Hall of Fame in 2009. Although retired, Mandrell is still a member of the Grand Ole Opry; an honor she has held since 1972.

Mandrell was the first performer to win the Country Music Association's "Entertainer of the Year" award twice (1980, 1981). She also won the Country Music Association's "Female Vocalist of the Year" in 1979 and 1981.

Mandrell's first Billboard number-one hit was 1978's "Sleeping Single in a Double Bed", immediately followed by "(If Loving You Is Wrong) I Don't Want to Be Right" in early 1979. In 1980, "Years" also reached number one. She added one more chart topper in each of the next three years. "I Was Country When Country Wasn't Cool" (her signature song),then "'Till You're Gone" and "One of a Kind Pair of Fools"—all hit number one between 1981 and 1983, a period during which Mandrell also received numerous industry awards and accolades.

Dalam Tadarus Puisimu Kutemukan Hati

Dalam Tadarus Puisimu Kutemukan Hati

Keindahan bulan Suci Ramadhan begitu memiliki perbedaan dengan hari-hari di bulan lain. Terutama di masyarakat Indonesia. Bukan karena alam pada bulan itu berubah, namun suasanalah yang membuat indahnya Ramadhan.

Keindahan itu direkam oleh para penyair Indonesia demikian beraneka keindahan. Bahkan di satu tempat terdapat berbagai keindahan yang tiada ditemukan di bulan selain Ramadhan. Sebuah bukti nyata betapa Allah memberi kenikmatan di bulan ini.

Keindahan semakin bertambah indah manakala hati tersentuh manakala ada bagian di sisi lain Ramadhan . Ketika ada saudara - saudara kita ikut menikmati keindahan itu dikala sakit, dikala ditimpa kemiskinan, kemalangan dan ditimpa kehilangan orang tua atau suami mereka. Sebuah bingkisan rekaman sahabat penyair dalam catatan berupa Tadarus Puisi Ramadan 1440 yang istimewa ini.

Kenapa ditolak cinta?

Kenapa ditolak cinta? (1) Si Penolak itu tidak menyadari bahwa manusia itu tidak sempurna. (2) Karena kita meminta cinta kalau tidak meminta tidak akan ditolak. (3) Terdapat sebab-sebab penolakan spt : Homoseksual, sudah terikat yang lain, atau sumpah tidak akan kawin, Sudah punya pilihan, termasuk materialistis dll. (4) ia merasa diri paling (cantik/kaya/terhormat) 5. Kurang menghargai penghargaan cinta dari orang lain.

Hamangkubowono IX dan Aku

Ir Soekarno Lahir 6 Juni 1901
Jarang sekali orang memperingatinya. Mumpung Masih dalam bulan Juni, aku persembahkan puisi imajener antara Ir Sokarno dan Sri Sultan Hamangkubuwono IX karya ku yang ditulis dalam buku Si Bung dan di terbitkan di Leotikaprio Jogyakarta. Seakan menyimpan roh buku ini melekat denganku. Sudilah membaca dan sampaikan padaku melalui inbox : Berikut satu imajener itu :

Hamangkubowono IX dan Aku

Hamangkubuwono IX dan Aku bertemu dalam waskita alam masa depan.
Menjadi sahabat dalam cita-cita pribumi
nusantara
raja yang tersisa
menyembunyikan waris tahta
berpakaian gerilya, tentara kita
atau ala perintis merdeka

Hamangkubuwono IX dan aku bertemu dalam bilik kamar markas gerilnya
Pistol kecil dipinggangnya
Tanpa keris nagarunting
Tampa tobak gagak rimang
Yang menggerigisi
Aku mendepa memberi salam
Waris Sutawijaya
Majapahit, Demak , Pajang lalu Mataram
Kau senopati perangku

Hamangkubuwono IX dan aku bertemu di meja tuan-tuan
Jangan memberi hormat padaku tuan
Anak desa putra awam jelata
Dan aku berebut salam
Katanya, Sejak zaman Demak, waris tak pernah sampai
Aku waris bukan pewaris.

Rg Bagus Warsono 1995

Problem sastra

Problem sastra adalah bahan kajian, jika ditemukan merupakan perkembangan sastra apalagi pada pelakunya. Dulu saja sampai dilihat siapa-sipa teman Chairil. sampai begitu detailnya padahal orang awam tak memahami apa hubungannya. Barulah setelah para peneliti sastra dan kritikus membuka tabir itu kita sadar bahwa peristiwa sepanjang hidup adalah juga rekam perjalanan sastra seseorang. 

Dalam menulis puisi batasan umur itu tdk ada sama sekali

Sangat luar biasa bila ada anak anak sudah bisa menulis. sedang batasan umur itu tdk ada sama sekali dlm kreativitas. Doeloe John Lenon dng grupnya dan juga Koes Bersaudara itu malah berusia di bawah 18 th tetapi terkenal di dunia. Jd kreativitas tak boleh dibatasi

Hormati mereka yg menemui 'hambatan penyaluran karya puisi.

Yang puisinya masuk tak elok pula menepuk dada, tolong hormati mereka yg menemui 'hambatan penyaluran karya puisi. Sebab jika mendalami puisi banyak unsur, ragam, tata bahasa, dan sebagainya juga selera penilai suka dan tidak suka bahkan ada penilai yang justru menilai personalnya bukan karyanya. Begitu juga pada sisi penyeleksi mungkin (entahlah) ada problem di sana. Tetapi kita positif saja dulu bahwa 'saluran itu perlu diperbaiki.bisa saja suatu saat dialami diri kita

Singgih Hadi Mintardja (SH Mintardja)

Hampir tidak ada pengarang seperi Singgih Hadi Mintardja (SH Mintardja) begitu piawai merangkai sebuah episod satu peristiwa menjadi satu jilid buku dengan tebal 120 halaman. Dan lenih heran lagi penulis ini ia tidak tahu setebal apa dan sebanyak berapa jilid buku Api di Bukit Menoreh karena penerbitannya mipil ketika menulis satu jilid kemudian diterbitkan begitu seterusnya. sehingga ia sendiri tak tahu kapan berakhir buku yang dikarangnya itu.



Singgih Hadi Mintardha (SH Mintardja) hidup murni dari mengarang buku. Zaman sekarang jarang orang mencukupi hidupnya dari menulis. SH Mintardja menjadikan menulis sebagai mata pencahariannya. Karena itu ia menulis setiap hari tanpa mengenal waktu. Namun tulisannya slalu bermutu dan tidak asal-asalan. Bait baitnya berisi pikiran pokok yang runtut dan terkandung berbagai pesan seperti, sejarah, filosofi , bahkan gaya bahasa yang enak dibaca. Bukan hal yang aneh apabila setiap orang yang membaca buku ini hanyut dalam pikiran alan alur cerita yang dibacanya. Api di Bukit Menoreh begitu kaya akan pesan yang bermanfaat.

Membaca itu

Membaca itu spt ahli hukum membaca UU, mengganti apa, UU apa, kapan keluar, dari mana, berapa pasal dan ayat, apa isinya, apa ancamannya, siapa yg mengeluarkannya, apa jenisnya (pidana/perdata) dan berapa lembar halaman isinya.

filosofi "ditergen"

Ternyata makna filosofi "ditergen" itu luas. Yg berbusa belum tentu bersih, yg kotor dicuci jg dng ditergen, dan ditergennya saja perlu air (penyejuk/penawar) unt membersihkan.

The End of the World

Ibuku dulu menyanyikan lagu ini waktu aku kecil :
The End of the World
Why does the sun go on shining
Why does the sea rush to shore
Don't they know it's the end of the world
'Cause you don't love me anymore
Why do the birds go on singing
Why do the stars glow above
Don't they know it's the end of the world
It ended when I lost your love
I wake up in the morning and I wonder
Why everything's the same as it was
I can't understand, no, I can't understand
How life goes on the way it does
Why does my heart go on beating
Why do these eyes of mine cry
Don't they know it's the end of the world
It ended when you said goodbye
Why does my heart go on beating
Why do these eyes of mine cry
Don't they know it's the end of the world
It ended when you said goodbye
Akhir dunia
Mengapa matahari terus bersinar
Mengapa laut terburu-buru ke pantai
Apakah mereka tidak tahu itu adalah akhir dari dunia
Karena kamu tidak mencintaiku lagi
Mengapa burung terus bernyanyi
Mengapa bintang-bintang bersinar di atas
Apakah mereka tidak tahu itu adalah akhir dari dunia
Itu berakhir ketika aku kehilangan cintamu
Saya bangun di pagi hari dan saya bertanya-tanya
Kenapa semuanya sama seperti dulu
Saya tidak bisa mengerti, tidak, saya tidak bisa mengerti
Bagaimana kehidupan berjalan seperti itu
Mengapa hatiku terus berdetak
Mengapa mata saya ini menangis
Apakah mereka tidak tahu itu adalah akhir dari dunia
Itu berakhir ketika Anda mengucapkan selamat tinggal
Mengapa hatiku terus berdetak
Mengapa mata saya ini menangis
Apakah mereka tidak tahu itu adalah akhir dari dunia
Itu berakhir ketika Anda mengucapkan selamat tinggal
Penulis lagu: ARTHUR KENT / SYLVIA DEEhttps:
//www.youtube.com/watch?v=KLkLs6SvyDM

Dan datanglah ke sanggarku sambil membawa Surya16, Kau menjadi kuat, sabar, rendah hati dan optimis jd orang kaya.


Le Release Me

Ibuku duloe juga pandai menyanyikan lagu Brenda Le Release Me , namun Elvis Presley juga menyanyikannya. Th 1980 seorang penyanyi country Barbara Mandrell menyanyikan lagu ini versi contry musik yang aku suka.://www.youtube.com/watch?v=MstXl-AaWp4.

Gareng

Gareng adalah punakawan yang berkaki pincang. Hal ini merupakan sebuah sanepa dari sifat Gareng sebagai kawula yang selalu hati-hati dalam bertindak. Selain itu, cacat fisik Gareng yang lain adalah tangan yang ciker atau patah. Ini adalah sanepa bahwa Gareng memiliki sifat tidak suka mengambil hak milik orang lain. Diceritakan bahwa tumit kanannya terkena semacam penyakit bubul.

Dalam suatu carangan Gareng pernah menjadi raja di Paranggumiwayang dengan gelar Prabu Pandupragola. Saat itu dia berhasil mengalahkan Prabu Welgeduwelbeh raja dari Borneo yang tidak lain adalah penjelmaan dari saudaranya sendiri yaitu Petruk.

Dulunya, Gareng berwujud satria tampan bernama Bambang Sukodadi dari padepokan Bluluktiba. Gareng sangat sakti namun sombong, sehingga selalu menantang duel setiap satria yang ditemuinya. Suatu hari, saat baru saja menyelesaikan tapanya, ia berjumpa dengan satria lain bernama Bambang Panyukilan. Karena suatu kesalahpahaman, mereka malah berkelahi. Dari hasil perkelahian itu, tidak ada yang menang dan kalah, bahkan wajah mereka berdua rusak. Kemudian datanglah Batara Ismaya (Semar) yang kemudian melerai mereka. Karena Batara Ismaya ini adalah pamong para satria Pandawa yang berjalan di atas kebenaran, maka dalam bentuk Jangganan Samara Anta, dia (Ismaya) memberi nasihat kepada kedua satria yang baru saja berkelahi itu.

Karena kagum oleh nasihat Batara Ismaya, kedua satria itu minta mengabdi dan minta diaku anak oleh Lurah Karang Kadempel, titisan dewa (Batara Ismaya) itu. Akhirnya Jangganan Samara Anta bersedia menerima mereka, asal kedua satria itu mau menemani dia menjadi pamong para kesatria berbudi luhur (Pandawa), dan akhirnya mereka berdua setuju. Gareng kemudian diangkat menjadi anak tertua (sulung) dari Semar.

Bagong

Bagong adalah nama salah satu tokoh punakawan dalam kisah pewayangan yang berkembang di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tokoh ini dikisahkan sebagai anak bungsu Semar. Dalam pewayangan Sunda juga terdapat tokoh panakawan yang identik dengan Bagong, yaitu Cepot atau Astrajingga. Namun bedanya, menurut versi ini, Cepot adalah anak tertua Semar. Dalam wayang banyumasan Bagong lebih dikenal dengan sebutan Bawor.

Beberapa versi menyebutkan bahwa, sesungguhnya Bagong bukan anak kandung Semar. Dikisahkan Semar merupakan penjelmaan seorang dewa bernama Batara Ismaya yang diturunkan ke dunia bersama kakaknya, yaitu Togog atau Batara Antaga untuk mengasuh keturunan adik mereka, yaitu Batara Guru.

Togog dan Semar sama-sama mengajukan permohonan kepada ayah mereka, yaitu Sanghyang Tunggal, supaya masing-masing diberi teman. Sanghyang Tunggal ganti mengajukan pertanyaan berbunyi, siapa kawan sejati manusia. Togog menjawab "hasrat", sedangkan Semar menjawab "bayangan". Dari jawaban tersebut, Sanghyang Tunggal pun mencipta hasrat Togog menjadi manusia kerdil bernama Bilung, sedangkan bayangan Semar dicipta menjadi manusia bertubuh bulat, bernama Bagong.

Versi lain menyebutkan, Semar adalah cucu Batara Ismaya. Semar mengabdi kepada seorang pertapa bernama Resi Manumanasa yang kelak menjadi leluhur para Pandawa. Ketika Manumanasa hendak mencapai moksha, Semar merasa kesepian dan meminta diberi teman. Manumanasa menjawab bahwa temannya yang paling setia adalah bayangannya sendiri. Seketika itu pula, bayangan Semar pun berubah menjadi manusia, dan diberi nama Bagong

Sebagai seorang panakawan yang sifatnya menghibur penonton wayang, tokoh Bagong pun dilukiskan dengan ciri-ciri fisik yang mengundang kelucuan. Tubuhnya bulat, matanya lebar, bibirnya tebal dan terkesan memble. Dalam figur wayang kulit, Bagong membawa senjata kudi.

Gaya bicara Bagong terkesan semaunya sendiri. Dibandingkan dengan ketiga panakawan lainnya, yaitu Semar, Gareng, dan Petruk, maka Bagong adalah sosok yang paling lugu dan kurang mengerti tata krama. Meskipun demikian majikannya tetap bisa memaklumi.

Untuk Mengenang Ir Soekarno, yang lahir di bulan ini kami persembahkan puisi karyanya berjudul :


Aku Melihat Indonesia

Jikalau aku berdiri di pantai Ngliyep
Aku mendengar Lautan Hindia bergelora
membanting di pantai Ngliyep itu
Aku mendengar lagu, sajak Indonesia

Jikalau aku melihat
sawah-sawah yang menguning-menghijau
Aku tidak melihat lagi
batang-batang padi yang menguning menghijau
Aku melihat Indonesia

Jikalau aku melihat gunung-gunung
Gunung Merapi, Gunung Semeru, Gunung Merbabu
Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Kelebet
dan gunung-gunung yang lain
Aku melihat Indonesia

Jikalau aku mendengarkan
Lagu-lagu yang merdu dari Batak
bukan lagi lagu Batak yang kudengarkan
Aku mendengarkan Indonesia

Jikalau aku mendengarkan Pangkur Palaran
bukan lagi Pangkur Palaran yang kudengarkan
Aku mendengar Indonesia

Jikalau aku mendengarkan lagu Olesio dari Maluku
bukan lagi aku mendengarkan lagu Olesio
Aku mendengar Indonesia

Jikalau aku menghirup udara ini
Aku tidak lagi menghirup udara
Aku menghirup Indonesia

Jikalau aku melihat wajah anak-anak
di desa-desa dengan mata yang bersinar-sinar