Laman

Selasa, 14 Februari 2017

karena rumahnya tak berpintu tetapi terbuka apabila tokonya dibuka. Tak terkontrol berapa punya anak.

Teorinya untuk mencapai swasembada pangan adalah menekan jumlah penduduk disamping meningkatkan produk pangan. Rakyat diharuskan masuk program KB pada saat itu. Disinilah letak kegembiraan bagi tuan-tuan dan nyonya-nyonya itu karena jarang tersentuh program KB , karena rumahnya tak berpintu tetapi terbuka apabila tokonya dibuka. Tak terkontrol berapa punya anak.

POTONG JARI MANISKU SAJA

POTONG JARI MANISKU SAJA
 karya Rg. Bagus Warsono

Potong Jari Manisku Saja
Boleh di dua tanganku
dan sayur sup beraroma khas nusantara
kupersembahkan untuk tuan mulia
dengan pernyataan bermaterai sejuta
karna yang enamribu masih bisa ditipu
dan aku hadirkan seratus saksi biksu
karna saksi berni kalau seratusjuta
Tuan tak ada algojo muntilasi
tembak mati berarti menunggu
hukum mati berarti menunggu taubat
dikurung berari bersembunyi
banding berari menambah rezeki
boleh di dua tanganku
dengan mangkuk kuah kaldu
Potong jari manisku saja
tanpa publikasi
karena semua yakin untuk tulang sup negeri
dan ada cctv sebagai saksi tadi malam
yang tiada gambar karena petang
gelap warna meski baterai baru
yang terlihat hanya darah
menghitam menutupi semua layar
menimbulkan keyakinan hakim
tak pengaruh bila tiada jari manis
kalian bebas tanpa syarat..............................
Potong jari manisku saja katanya.


Indramayu, 23 Oktober 2013

Rumusnya adalah mereka suka melihat bangsa Indonesia bodoh dan miskin.

Rumusnya adalah mereka suka melihat bangsa Indonesia bodoh dan miskin. Dan terus mengupayakan agar bodoh dan miskin bangsa ini. Sebab kalau miskin slalu membutuhkan bantuan atau menjual apa saja barang miliknya. Mereka akhirnya bisa membeli apa saja termasuk membeli kewarganegaraan Indonesia dengan mudahnya.

Mereka senang apabila bangsa ini menjadi pelayan tokonya

Mereka senang apabila bangsa ini menjadi pelayan tokonya, buruh pabriknya, jongos dirumahnya, buruh tani di perkebunannya dengan memanggil mereka tuan-tuan dan nyonya. Lalu Si Bung menghapus semua perusahaan asing di Indonesia agar bangsa ini tidak menghamba setelah merdeka. Sayang tak diteruskan oleh pemerintahan RI selanjutnya.

Tuan-tuan itu kecewa sehinga uang blendong itu menjadi poci, sendok, bokor dan alat dapur lainnya.

Mereka mengharap pemerintahan Hindia Belanda tetap memerintah, karena terlanjur menimbun uang blendong, tetapi Mentri Keuangan Kita Safrudin Prawiranegara bukan orang bodoh ia tak mau uang blendong ditukar ORI , sebab kalau mau berarti kita dijajah lagi oleh Belanda secara ekonomi, karena itu uang blendong Wihelmina menjadi tak berguna. Tuan-tuan itu kecewa sehinga uang blendong itu menjadi poci, sendok, bokor dan alat dapur lainnya.

Minggu, 12 Februari 2017

Bangsa Indonesia adalah bangsa pribumi

Bangsa Indonesia adalah bangsa pribumi yang terdiri dari suku-suku bangsa di nusantara ini, dan Bung Karno berpesan menitipkannya pada bangsa Indonesia !

yang berjuang memerdekakan Indonesia ini adalah bangsa Indonesia

Setahu saya yang berjuang memerdekakan Indonesia ini adalah bangsa Indonesia, maaf bukan cina dan arab yang cuma ndompleng membela penguasa di setiap kota jaman penjajahan.

Bangsa Indonesia adalah yang merasai Indonesia sampai pada sudut kecil budaya nusantara.

Waktu aku masih kecil (1970-an) ibuku bernyanyi untuk aku kakak dan adik menjelang tidur, masih ingat dan sampai hafal sampai sekarang, ibuku menyanyi apose, cik-cik periuk, ayam den lapeh, kole-kole , injit-injit semut , potong bebek angsa, yamko rambe yamko dsb padahal ibuku suku Jawa. Betapa Bangsa Indonesia telah disatukan budaya bangsa. Bangsa Indonesia adalah yang merasai Indonesia sampai pada sudut kecil budaya nusantara.

Si Bung yang sudah meningalkan kita meralatnya lagi naskah Proklamasi itu.

Akhir perjuangan melawan penjajahan adalah memproklamirkan kemerdekaan. Berkali-kali Proklamator kita mengoreksi dan meralat naskah proklamasi itu, bahkan setelah sebelum dibacakan pun dipersilahkan yang hadir pada saat itu untuk mengoreksi naskah itu. Demikian Si Bung memproklamasikan atas nama Bangsa Indonesia, dengan teks proklamasi bahwa yang merdeka adalah bangsa Indonesia. Bukan 'Kami bangsa Amerika, Jepang atau lainnya, tetapi bangsa Indonesia yang memperjuangkannya. Dan tak mungkin Si Bung yang sudah meningalkan kita meralatnya lagi naskah Proklamasi itu.