Laman

Jumat, 20 Maret 2015

Tak ada halang perintang untuk siapa saja berkiprah di dunia sastra

Di dunia sastra diskriminasi telah lama tak dibicarakan karena dari dulu juga banyak sekali perempuan penyair. Laki-laki dan perempuan di dunia sastra tak ada bedanya. Tak pernah sedikitpun kritikus mengkritisi jenis kelamin kecuali karyanya
 Tak ada halang perintang untuk siapa saja berkiprah di dunia sastra, dan sudah pernah aku katakan bahwa 1000 penyair itu sedikit sekali dari 248jt jiwa rakyat Indonesia.
  Yang menjadi sempit adalah kadang pemikiran kita, Indonesia itu luas sehingga meluaskan imajenasi dan karya, silahkan berkreatif di dunia sastra

Karya seseorang itu jelek adalah orang yang mengukur karya orang lain dengan karya sendiri dan dengan diri sendiri

Rasa bangga dan harga diri juga perlu dimiliki, namun tidaklah kebanggaan itu menjadi sombong dan ego. Sebab aku pun membanggakan Anda sebagai manusia yang turut berkarya nyata walau sebait puisi.
 Semua orang tahu Anda penyair terkenal, bahkan aku kagumi, namun tatkala kutahu kau melecehkan sebait puisi seseorang, maka entah kenapa aku menjadi lupa namamu
 Yang memvonis seseorang sebagai tak bermutu adalah hakim sastra yang tak pernah membaca kitab-kitab sastra
 Yang mengatakan karya seseorang itu jelek adalah orang yang mengukur karya orang lain dengan karya sendiri dan dengan diri sendiri

live menahan beban berat.

Sekarang jarang orang pakai tangga menuju puncak, pakai live biar cepat, namun betapa kagetnya live berhenti di tingkat satu teman lain mencet live dan bareng-bareng menuju puncak sehingga live menahan beban berat.

Tentang ciri khas cipta dan perilaku penyair/sastrawan:

Tentang ciri khas cipta dan perilaku penyair/sastrawan:
Apa yang dilihat dan dirasakan dalam komunitasnya dalam lingkungannya yang tersendiri sebetulnya bisa menjadi ciri khas cipta serta ciri khas perilaku sastrawan itu. Namun terkadang justru dipaksa untuk mebuahkan karya diluar lingkungan kesehariannya. Sebagai contoh misalnya, seorang penyair yang berada di lingkungan pesantren dia mengangkat tema penulisan di kota besar yang jauh dari kehidupan kesehariannya , boleh saja namun membutuhkan wawasan luas di luar keberadaannya.

Sebagaimana Aruna dan Lidahnya, Laksmi Pamuncak, , Novel yang menggetarkan dunia ,..., Sicantik Novelis Kita, Laksmi Pamuntjak, tentu tak sembarangan juri Festival sastar di Frankrut Jerman menilainya. Aku melihat Laksmi memiliki ciri khas dalam novelnya yakni kejeliannya mengangkat tema sosial cinta di era terkini dengan piawai dan bahasa gaul yang membudaya.


Laksmi Pamuntjak (lahir di Jakarta, 24 Desember 1971; umur 43 tahun) merupakan seorang koki dan penulis berkebangsaan Indonesia.
Laksmi yang berdarah Minangkabau, adalah putri Mustafa Pamuntjak, seorang arsitek. Bakat menulisnya berasal dari kakeknya Kasuma Sutan Pamuntjak seorang redaktur Balai pustaka,dan pendiri perusahaan penerbitan CV. Djambatan.
Laksmi mengemas buku panduan memasak secara unik. Dia berburu makanan dari restoran kelas atas, sampai warung kaki lima di seputar Jakarta. Semuanya dilakukan secara independen, komprehensif dan deskriptif. Dia tak ingin dikenali si pemilik, dan mencatat temuannya diam-diam agar tak diketahui para pelayan.
Pengetahuannya luas. Laksmi menulis artikel seputar politik, biografi, film, musik klasik, hingga sastra Dia juga menerjemahkan kumpulan puisi Goenawan Mohamad, tokoh penyair dan pendiri majalah Tempo itu, ke bahasa Inggris.
Karya antara lain:

The Jakarta Good Food Guide 2008-2009
The Anagram
On God and Other Unfinished Things
Perang, Langit dan Dua Perempuan
The Diary of R.S.: Musings on Art
Ellipsis: Poems and Prose-Poems by Laksmi Pamuntjak
Goenawan Mohamad: Selected Poems
The Jakarta Good Food Guide 2002-2003
The Jakarta Good Food Guide 2001