Laman

Senin, 30 Mei 2016

Jangan Malu Memulai Pekerjaan Mandiri

Langkah strategis pertama kali untuk berkerja adalah pemetaan wilayah, potensi, kemampuan diri, keselarasan dan perkembangan situasi juga mental
 Salah satu penyakit mental untuk mandiri bekerja adalah sulitnya untuk memulai.
 Sebetulnya bukan gengsi karena bergelar sarjana, hanya karena mereka tidak tahu bahwa di luar negeri yang S3 saja mau menjadi tukang binatu cuci pakaian. Menurut Writers Authors Di Amerika pekerjaan mengantar Pizza juga dilakukan Direktur perusahaan sekelas Warren Buffet bukan karena miskin tapi karena gemar kerja dan menabung. Saya aja petani di Amerika dan kerja lapangan untuk menghasilkan lahan. Di Jakarta / Indonesia rumah saya di Pondok Indah. Tidak ada yg salah dengan gemar bekerja halal dan menabung every sinle penny. Sedang menurut
Setyo Widodo Di kota Roma Italia hati-hati ngobrol "bak Filsuf Yunani" kalo naik trem atau bis turis kota, salah-salah kita diluruskan oleh sopir /masinis karena mereka rata2 lulusan Fakultas Sastra/ filsafat, ada juga yg S2 dan S3, bukan gelar mahal/bergengsi.
 Hambatan kegagalan bekerja mandiri salah satunya adalah kekhawatiran akan ketidakjujuran orang lain dan diri sendiri. Sedang di negara maju ketidakjujuran tak disinggung sama sekali karena baginya yang tidak jujur itu sudah kuno.Contoh contoh kekhawatiran bekerja mandiri adalah takut ditipu, takut dibohongi, takut rugi, takut tidak laku, takut hilang dsb. Itu sebetulnya kekhawatiran akan ketidakjujuran orang lain dan diri sendiri.
 Sebab pada hakekatnya bekerja itu adalah layanan jasa dan produk bagi yang membutuhkan.
 Dan lebih dasyat lagi bila kini orang cina mengangap tantangan adalah modal yang dibutuhkan .Keselarasan adalah relefansi potensi diri dan kebutuhan orang lain. Jadi bukan harus modal besar.

Minggu, 29 Mei 2016

bekerja itu adalah layanan jasa dan produk

Langkah strategis pertama kali untuk bekerja itu adalah layanan jasa dan produk adalah pemetaan wilayah, potensi, kemampuan diri, keselarasan dan perkembangan situasi juga mental.
 Salah satu penyakit mental untuk mandiri bekerja adalah sulitnya untuk memulai.
 Sebetulnya bukan gengsi karena bergelar sarjana, hanya karena mereka tidak tahu bahwa di luar negeri yang S3 saja mau menjadi tukang binatu cuci pakaian.
 Hambatan kegagalan bekerja mandiri salah satunya adalah kekhawatiran akan ketidakjujuran orang lain dan diri sendiri. Sedang di negara maju ketidakjujuran tak disinggung sama sekali karena baginya yang tidak jujur itu sudah kuno.
 Contoh contoh kekhawatiran bekerja mandiri adalah takut ditipu, takut dibohongi, takut rugi, takut tidak laku, takut hilang dsb. Itu sebetulnya kekhawatiran akan ketidakjujuran orang lain dan diri sendiri
 Keselarasan adalah relefansi potensi diri dan kebutuhan orang lain. Jadi bukan harus modal besar.
 Sebab pada hakekatnya bekerja itu adalah layanan jasa dan produk bagi yang membutuhkan

Dan lebih dasyat lagi bila kini orang cina mengangap tantangan adalah modal yang dibutuhkan .

Sabtu, 28 Mei 2016

Seperti Sebuah Gurau

Soroti Antologi Memo Anti Terorisme:
Kata Acep Zamzam Noor II Seperti Sebuah Gurau
Kita lihat lagi puisi penyair Gol A Gong berjudul 'Ode Negeri
....
Mari belajar menghitung nasib
nasib disimpan dalam aib
aib di televisi jadi ajaib
ajaib semua serupa tabib/...

Tentu masih guraan, tapi dari karya-karya Acep Zamzam Noor  dan Gol A gong menyimpan makna yang pancen nyata di zaman ini.
Gaya dua penyair b'eken kita tampaknya perlu dipelajari agar menjadi tahu bagi pecinta sastra.


Kita lihat lagi puisi karya Akhmad Nurhadi Moekri yang berjudul Siapa Bilang Surga untuk Teroris. Tampaknya Nurhadi juga membuat leluconmenarik,
...
enak saja mati
ketemu bidadari
tapi istrimu janda
dibelenggu cadar dan sepi...
Sampai disini Nurhadi mampu memberi gurau intelek yang menawan sebelum baitnya dilanjutkan.

...
didera lapar
lapar anak yatimmu
telanjang anak yatimmu
sakit anak yatimmu
sementara kau kenyang di surga
cekikikan dengan bidadari
berbusana raja
dipenuhi permata.
Jandamu kering ...

Jumat, 27 Mei 2016

Dikenal kalangan penyair atau dikenal masyarakat

Jika Anda duduk bersama penyair populair, kesan pertama adalah mungkin seorang penyair. Karena duduk bersama. Dan Anda yang melihat akan kecewa ketika orang yang duduk bersama penyair itu diperkenalkan. Ternyata ia seorang pengusaha.

 Penyair adalah karya, karya adalah kepuasan diri. Boleh jadi kalian membuat seribu puisi tetapi orang itu tak merasa sebagai penyair. Kepuasan adalah ujung rasa diri. Penyair yang baik tidak pernah puas atas prestasi diri. Slalu mencari dan mencari.

 Jangan katakan penyair kalau belum membaca, mengapresiasi dan memberi kritik atas sebuah karya. Sebuah pelajaran agar tidak ,sembrono membuat keputusan. Kini zaman ilmiah. Zaman dimana harus terdapat pembuktian ilmiah. Jika membuat satu puisi kemudian memberi penilaian bahwa seseorang adalah penyair setidaknya puisi itu dibaca, diapresiasi dan dikritik. Kritik diberikan atas telaah bedah karya yang dapat dipertangungjawabkan, Namun seringkali tidak demikian. Kekeliruan itu adalah ketika orang disebut penyair karena menulis. Padahal syair memiliki guna yang sangat beraneka.

 Sebuah pilihan bebas tentunya, keduanya memang diperlukan, tetapi tidak untuk hanya satu pilihan dikenal kalangan penyair saja. Jika tak keduanya lebih utama dikenal di masyarakat. Demikian kekeliruan terjadi seseorang dalam eksistensinya sebagai penyair dalam meniti dunia tak beraturan ini. Mari kita selesaikan perkara ini agar lebih mapan dalam duniamu sastra Indonesia.
Penyair dan penyair adalah human relation yang diperlukan sebagaimana manusia yang membutuhkan komunikasi sesama komunitas sangat perlu agar memiliki 'salurannya tersendiri. Namun penyair adalah juga anggota masyarakat terpilih. Dan tak lepas dari masyarakat yang didalamnya termasuk bebagai profesi termasuk penyair itu. Jadi jika tak keduanya dikenal masyarakat lebih besar keuntungannya.

 Siapa dapat merekomendasi seseorang itu penyair. Sebuah pertanyaan menggelitik yang tak pantas diutarakan. Mari kita selesaikan agar tidak menjadi tabu. Yang dapat merekomendasi seseorang itu penyair adalah diri sendiri, penulis itu sendiri. Titik.

 Segala profesi boleh mengaku peyair. Tak ada yang melarang dan tak ada yang menuntut ganti. Karena kini penyair menjadi milik semua suku, ras, agama atau golongan. Penyair itu merdeka dimiliki siapa saja.

 Bagaimana dengan penobatan Sebagai Penyair Titik-titik ?
Sah sah saja itu metoda gelar. Pendekatan pada masyarakat diperlukan suatu alat agar akrab. Kalian boleh menyebut diri Presiden Penyair, Raja Penyair, Jendral Penyair, atau apa saja.

 Penulis , meskipun sewaktu-waktu, banyak membaca karya penyair dari sabang sampai meroke. Hal utama adalah bacaan itu sendiri. Jika terdapat yang menggelitik hati baru dicari profilnya. Artinya ini adalah bahwa ada yang terlewat dan ada yang diutamakan karena karya itu. Hal ini mungkin juga dialami pembaca lain. Penulis sebagai masyarakat/publik telah melakukan apresiasi atas sebuah karya. Karena itulah tak baik memfonis seseorang bukan penyair atau berkarya tulis jelek.

 Sebuah kajian bahwa publik (masyarakat) pembaca penentu seseorang itu penyair. JIka demikian bagaima masyarakat membaca sebuah karya jika cara-cara lama sulit menyentuh pembaca? Contoh agar buku itu terbaca adalah menggairahkan minat baca itu dengan aneka peristiwa acara.

 Seseorang merasa unggul sebagai penyair silahkan. toh yang memberi penilaian adalah publik. Seseorang dibayar mahal untuk satu kali penampilan penyair baik karya tulis atau eksen tak berarti bagi orang yang tidak membutuhkan . Sebab harga penyair itu adalah apresiasi masyarakat. Penghargaan itu bersifat subjektif. Boleh jadi seseorang yang tak dikenal mendapat bayaran mahal. Sebaliknya ada di tempat lain , satu puisi dihargai seratus ribu adalah penghargaan yang luar biasa .

Jumat, 20 Mei 2016

tema universal

Adalah tema-tema universal yang kapan saja diacarakan akan tetap menarik. Perumpamaan itu adalah bagi penjual rokok, kapan saja waktunya tetap laris terjual. Tema-tema seperti korupsi, kemiskinan, penghijauan, dagelan, dan cinta adalah contoh tema-tema universal itu.

memanfaatkan momentum

Judul memanfaatkan momentum sebuah teknik publikasi cepat kontemporer. Tapi jangan terlambat bisa dianggap basi.Bentuknya bisa buku bisa sebuah acara atau yang lainnya. Mementum dimanfaatkan bersama oleh media yang berlomba menyuguhkan aktualitas. Perlu diingat hanya pada karya buku atau acara yang memiliki saat untuk muncul. Jika belum saatnya tunda dahulu dan kelak pada gilirannya akan tiba saatnya. Contoh adalah karya bertema tsunami disaat tenang akan ditertawakan, namun bila pada saat peringatan korban tsunami diperingati ada sisi menguntungkan bagi publikasi itu. Juga pada tema-tema lain.

Rabu, 18 Mei 2016

Puisi panjang dan puisi pendek.

RgBagus Warsono
 a. Hal yang kurang baik adalah hal yang dipaksakan. Tak usah cemburu dengan membuat puisi panjang bila dipaksakan. Baris yang memiliki kesamaan arti berarti mengulang. Mengulang bukan ketegasan. Pilihan kata / frase terkadang memiliki kesamaan arti. Apalagi dengan kata yang sama namun barisnya juga dalam kandungan kesamaan maksud dari baris diatasnya. Sah sah saja memang, akan tetapi pengertian perlu disampaikan bahwa mengulang bukan ketegasan bila sama maknanya, akan tetapi mengulang dapat dilakukan bila baris selanjutnya justru memberi tekanan maksud apa yang disampaikan si penyair. Tetapi semua ini silahkan bukankah sah-sah saja dalam puisi, namun kembali bukankah puisi itu perlu keindahan.
 b. Rangkaian puisi panjang kaya tafsir dan reka cerita. Runtut baris dan bait puisi panjang dalam kesatuan justru yang utuh. Boleh jadi menyatukan beberapa judul dalam satu tema yang digabung dalam satu kepala (judul) yang menarik. Tetapi jika tampak bait satu dan bait lain tak menyambung lebih baik dibedakan judulnya. Namun bila tak seperti ini juga sah-sah saja dalam puisi. Tetapi ketika dibaca oleh orang tampak tak seperti rangkaian. Ya itulah puisi juga perlu keindahan ketika dibaca.
 c. Banyak yang terlupakan dalam membuat puisi panjang. Yakni penggugah minat baca. Pernah mungkin membaca puisi panjang tampak enak bibaca sampai tuntas walau pun sampai dua halaman. Karena apa? Penyair itu pandai menggugah minat baca pembacanya. Ketika habis baris atau bait terbaca, tibul keinginan membaca baris atau bait selanjutnya begitu seterusnya hingga baris penutup. Memang puisi terkadang sengaja diambang-kan arti oleh penyairnya, bahkan kadang semu. Tetapi dia memang pandai mengolah kata sehingga semua baris enak dibaca.
Bersambung

Pejabat negara kok ditarget setoran, kaya supir angkot saja. ya

Hidup di Indonesia begini :
Kalau banyak pelanggaran (tilang) sampai menumpuk banyak berarti kinerjanya bagus, sebaliknya kalau pelanggaran (tilang) sedikit berarti kinerjanya jelek. Apa ga keliru ? pantesan ga ada salah apa-apa dikarang-karang pelanggaran (tilang). Wah !

 Tahun 45 sampai 60-an sistem upeti juga ada memang, Yang namanya 'bekel ngirim ke Lurah, lurah ngirim ke wedana, wedana ngirim ke bupati, dan bupati kirim ke residen . Popoknya numpuk itu beras/gabah di rumah wedana. Tetapi doeloe ga dimakan sendiri tapi ada buat masyarakat berupa pembiayaan mengadakan pertunjukan dsb.

 Tempat 'basah dan tempat 'kering itu beda harga. Kalau mau di tempat basah ukurannya harga mobil baru, kalau di tempat kering juga ada harganya, ukurannya masih 'saudara sendiri . Tapi yang di tempat sejuk lain lagi bisa lebih mahal . Ya ya ya memang perumahan tipe sama tapi beda harga .

 Aku membayangkan andai serdadu-serdadu dari batalion ditempatkan ada di setiap kota sehingga ada keseimbangan dengan aparat lain dan lebih hati-hati melayani masyarakat.

 "Kamu kok bicara prestasi, pengabdian, dan kesungguhan kerja ?!
Ini bukan zaman pemuda manggul bambu runcing, " kata seorang pimpinan, kemudian " Emangnya kursi ini murah?!" sambil menepuk sandaran kursi.
"Ya , Pak, saya ngerti," kata bawahannya itu, "Masalahnya kursi juga beda-beda , ada yang empuk ada yang ukir, ada juga besi atai stailes ."
Kalau memang gak terbeli jadi tukang parkir sepeda motor aja seharian berdiri terus.

raja penyair juga tidak pernah ngatur-ngatur penyair lain.

Mangkanya milih jadi penyair sajraja penyair juga tidak pernah ngatur-ngatur penyair lain.a seperti aku ini, ga ada pimpinan, ga ada bawahan , Punya presiden penyair , jendral penyair, atau raja penyair juga tidak pernah ngatur-ngatur penyair lain.

buku-buku bermutu hendaknya dirawat agar terus bermanfaat dan memiliki nilai investasi tinggi.

Buku bekas itu tidak seperti barang bekas yang hitungannya per kilo. Jika buku itu dibutuhkan maka bukan tidak mungkin harganya sama dengan 1 truk kertas putih. Jadi buku-buku bermutu hendaknya dirawat agar terus bermanfaat dan memiliki nilai investasi tinggi.

Penyair Terasing

Penyair Terasing
Iri juga kepada penyair terasing yang menyembunyikan diri. Betapa kerendahan budi mereka luar biasa. Karya mereka dimunculkan seadanya. Tak ada keinginan memamerkan karya atau pun jatidirinya. Dia membuahkan karya bagus tetapi tiada publikasi aa pun. Baginya bagaimana karya itu diserahkan nasibnya pada Yang Maha Kuasa. Kerendahan diri ini terkadang membuahkan simpati dan membangkitkan rasa orang lain untuk mengangkat karyanya. Semoga ia diberikan berkah ketenangan.

Jumat, 13 Mei 2016

Bila sana-sama rindu

Kini profil wajahmu berhuruf kata
diterjemahkan sambil menetes air mata
Jangan kau terjemahkan itu
bila tak mau luka.
Bila sana-sama rindu

kita hanya teman di fb

Jangan kau buka sejarah
Itu penyesalan
Hari ini dan besok adalah hari-harimu
kau bahagia aku merasakan
kau sedih aku dendam
kau sengsara aku aku tak terima
kau menyesal itu percuma
tak ada selembar benang mengait
kali ini
kita hanya teman di fb

biarkan malam menjemput fajar

Kau tak lagi muda
tapi kau mewarisi dayang sumbi
atau kendedes
anugerah kecantikan diusiamu setengah abad
itu karunianNya.
Jika kau merasa
biarkan malam menjemput fajar

hanya simfoni malam

Kau terjaga dalam tidur
bukan lagu keroncong rindu malam
bukan pula penasaran
jangan , jangan kau nekat bergelanyut
kita tlah terlambat lama
itu hanya simfoni malam

salah siapa dipertemukan

Kuketahui kau undur diri
bukan kantuk malau atau butuh tidur
tetapi seakan kau mengikuti
bidadariku menjelma hayal
aku mengusir malah membesar aku terpejam kau dalam bayang
ingin kuutarakan berterus terang
hati takut bertepuk sebelah tangan
salah siapa dipertemukan

tlah menjadi selaput mataku

Jika melihat profil wajahmu
lama dan sepintas sama saja
karena sudah bersemayam
kutinggalkan fb tapi wajahmu menyala di latop yang kumatikan
kini kau bukan lagi layang-layang lagi
tlah menjadi selaput mataku

kau adalah layang-layang

Kehadiranmu dibatas jumlah pertemanan fb
agak terlambat memang
kuutamakan karena kau istimewa
meski kuberhasrat, tak berani aku terus terang
Bagiku kau adalah layang-layang

aku yakin sebetulnya kau sayang padaku

Aku tahu kau berhasrat mengutarakan maksud, tapi
Kau hanya mengklik suka tanpa berkomentar
kau pun tak juga membuat status atau kau inbox diberandaku
padahal kunanti isi hatimu
hantaran penerjemah jari-jarimu di atas kayboard
Dan aku tahu kau slalu memataiku
Dan aku yakin sebetulnya kau sayang padaku

Patungan Kenang-kenangan

Patungan Kenang-kenangan
Di negeri Dishanalah murid-murid sekolah dasar diajari menabung. Pak dan Bu Guru mengajari hidup hemat pada Si Kecil. Paribahasanya pun diajarkan: "Berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian", " Sedikit-demi sedikit , lama-lama jadi bukit", dan "Hemat pangkal kaya". Paribahasa biasanya menjadi kenyataan setelah dilaksanakan (terjadi) karena itulah Si Kecil rela mengurangi uang jajannya untuk menabung di Bapak Ibu Guru.
Di negeri Dishanalah guru banyak kebutuhan, gajinya dipotong pijaman rumah, mobil, dan pakaian. Lembur tak ada, tunjangan profesi akan keluar setelah menunggu hutang guru bertumpuk. Kebutuhan mendadak pun segera ditangulangi.
Ada pinjaman "lunak" , selunak "bandeng tanpa duri" yakni tabungan murid-muridnya. Aman tidak pakai persyaratan juga tak berbunga . Karena yang mengepul tabungan juga Bapakdan Ibu Guru.
Akhir tahun Si Kecil menghitung banyak tabungan. Katanya betul Pak dan Bu Guru mengatakan peribahasa itu, Aku dapat banyak katanya.
Namun Pak dan Bu Guru bingung!, Program tabungan berhasil tapi uang tabungan siswa berkurang , Hah. Tadi yang dipinjam Pak dan Bu Guru itu jumlahnya banyak dan kebanyakan. Dikembalikan pun dari mana uangnya? karena sudah tak lagi miliki kesempatan untuk dapat peroleh pinjaman.
Dasar guru pinter.Gimana caranya mengembalilan tabungan murid. Akhirnya ngarang patungan. Karena patungan harus ada barangnya untuk membeli apa dan itu juga harus dibeli, maka patungan kali ini dikarang lagi yakni patungan "kenang-kenangan buat Pak dan Bu Guru ". Murid bayarnya dari tabungannya itu.
Ternyata enak juga Bandeng tampa duri itu. Si Kecil pun bertanya pada Ibunya di rumah, "Kok pribahasa itu menjadi "...barsakit-sakit kemudian."
(RgBagus warsono, 13-05-16)

Puisi Batik

Merak Mabur

Motif Yogya Merak Mabur lukisan seniman
Yang mencinta hati seni
Kain werna warni
Seperti ekormu indah
Merak Mabur batik seni
Desain putra putri pertiwi
Untuk yang menyukai seni.


Kluweng Banyu
Bebatik negeri itu misteri
Merupa batik seperi kawat jeruji
Mengait satu sama lain menyatu kuat
Seakan memberi tanda
Bahwa penting kesatuan negeri

Ombak Banyu Pleret
Nayaga Panggung
Godong Jati

Godong jati bungkus nasi
Teman ibu rumah tangga
Teman nasi jamblang
Sega ponggol tegal
Sampai nasi kucing Jogya.
Kembang Campur

Kembang campur juadah pasar
Nyekar di kakek nenek kita
Pelaku sejarah bangsa
Penuh jasa bela Negara
Kini berbaring bertabur kembang campur
Juadah pasar pertanda
Anak cucunya makmur tak kurang suatu apa.
Ombak Banyu Kanoman

Batikke wong Cerbonan
Khas putra nelayan
Laut dan pantai lebih dekat
Selendang Gadis

Seledang gadis tempo doeloe
Di Kampung ibu
Seledang batik khas gadis desa
Tanda masih perawan
Liris Campur

Liris menghias selendang mayang
Kondangann ala perempuan desa
Bibir merah dan kebaya
Ibu muda jelita
Kenanga

Kembang wangi batik perawan
Kembang saru godong batikke janda jembang
Rg Bagus Warsono

Minggu, 08 Mei 2016

Yang baru itu sesuatu yang berharga bagi pembaca.

Perkembangan sastra kini makin semarak, banyak produk sastra yang terlewat. Kadang sesuatu yang baru yang sayang untuk tak terbaca, potret kehidupan masa kini dalam puisi memang jutaan problema. Penyair kita memang pandai merekam peristiwa. Yang baru itu sesuatu yang berharga bagi pembaca.

Penyair tak menyadari sudah ada sebelumnya.

Namun terkadang rekam merekam peristiwa yang sama. Penyair tak menyadari sudah ada sebelumnya. Bacaan puisi menjadi kurang disuka. Ini bagi yang terbiasa baca. Karena penyair terlena akan membaca peristiwa yang dicatat penyair sebelumnya, atau memang egois membaca. Tak mengapa, namun pasti akan ditemui jika lambat diapresiasi pembaca . Namun patut juga mendapat apresiasi kita semua sebab dalam rangka membaca juga.

Ada cerita disana.

Dalam jutaan manusia ada lebih sejuta cerita. Rekam kata dirangkai menjadi puisi , sejuta puisi. Tapi tak begitu . Sejuta manusia sejuta menulis tak mungkin, tetapi seorang mungkin. Ada cerita disana. Unik menarik dan enak dibaca. Mndapat banyak suka. Aku juga suka.

Dan kaulah orangnya

Karena ia (penyair) istimewa yang pandai merekam peristiwa. Inspirasi tiada henti. Perenungan mumpuni paduan kaya membaca. Untaian kata pilihan , kata baru , kata bermakna sribu, dipadu gaya khas tersendiri, karya puisi penuh inklusif arti. Intrinsik tersembunyi. Dan kaulah orangnya , duhai pujaanku penyair.

Pokoknya terus berpuisi.

Seseorang tampil malu-malu. Seseorang lagi cum iseng, dan seseorang lain tampil percaya diri. Malu atau berani bukan menentukan siapa penyair, tetapi karya ketiga tipe orang membuat menjadikan ketiganya penyair yang memberi keindahan ketentraman kedamaian semangat , kesadaran , hiburan dan kadang informasi dan ilmu baru. Pokoknya terus berpuisi.

memang puisi membuat hasrat menyala.

Lalu aku trenyuh, ikutan nelangsa, tersenyum pahit, teriris kepedihan, dan menerawang , membayang. Kemudian aku terbakar , nafsu , gelora membara, semangat mengepal tangan , siap siaga. Lalu aku baca puisimu , aku kasemsem, tertarik, rindu, cinta, jatuh tresna, menghayal . Seandainya, umpamanya, apabila , ah memang puisi membuat hasrat menyala. Apalagi si dia (rahasia) yang menulisnya.

Jumat, 06 Mei 2016

Nilai kepuasan Penyair



           
Rg Bagus Warsono

   Nilai kepuasan sebuah profesi oleh diri sendiri. Kalau Anda mengaku novelis tetapi baru menulis satu judul novel dan diterbitkan itu bukan novelis, Karena tambahan dibelakang kata 'is' pada kata itu berarti profesi yang berarti tidak menulis satu novel tetapi juga lebih dari satu novel.

  Disamping nilai kepuasan sebuah profesi juga ada nilai kesempurnaan sebuah profesi. Ibarat seorang tentara tetapi tak pernah bertempur baku tembak, maka tentara itu belum sempurna.Contoh kesempurnaan seorang aktris film adalah ketika mendapat Piala Citra.

   Jika nilai kepuasan dan nilai kesempurnaan seorang penyair akan dicapai manakala peran 'daya pancar karya mereka tersalurkan. Adalah media-media promosi diperlukan menuju arah itu. Jadi tidak salah apabila ada pameran buku di berbagai tempat/status. Dan kepuasan seorang penulis itu misalnya ketika buku-bukunya 'dijajar di rak toko buku.

    Kita tidak ingin membicarakan keberuntungan, yang ilmiah-ilmiah saja. Keberhasilan penyair adalah kerja keras penyair itu sendiri dalam olah pikir. Penulis sendiri memang kurung beruntung, tetapi sebagai penulis berusaha menyuguhkan bahan tulisan yang terbaik untuk khalayak. Kepuasan itu terletak pada pemberian apresiasi khalayak pada penulis, apakah puas atau tidak puas, tulisan sampah atau bermutu, memberi wawasan ilimu atau hanya hiburan, dan dan enak dibaca atau menyebalkan itulah sebabnya kritik sangat diperlukan.

    Sedangkan nilai kepuasan diri seorang penyair itu apabila karyanya diapresiasi orang.Untuk mencapai kesempurnaannya yakni apabila karyanya sudah menjadi satu dengan namanya. Sebagai contoh misalnya seperti di musik, ketika orang menyebut lagu Bengawan Solo, orang langsung ingat Gesang , begitu juga sebaliknya. Ketika orang menyebut WR Supratman orang akan ingat lagu Indonesia Raya.Sedangkan di puisi ketika ada orang menyebut Krawang Bekasi maka langsung melekat nama Chairil Anwar. Itulah nilai sebuah kesempurnaan

    Nilai kepuasan dan nilai kesempurnaan seorang penyair akhirnya terletak pada sejauhmana apresiasi dan kekuatan baca oleh publik pada karya mereka.