Laman

Kamis, 10 Juni 2021

Terang Benderang di Bandanaira


Terang Benderang di Bandanaira


Pagi di balik bukit

Tanpa awan di langit

Semorot surya timur terang benderang

Memanggil penduduk desa

Siaga bekerja

Karena hari ini tamumu datang

Lihat siapa gerangan

Berkopiah tampan

Berjalan tegap dalam pengawalan

Terang benderang di Bandaneira

Tak ada yang bangun kesiangan

Memberi gairah

Semangat bekerja bercocok tanam

Membangun rumah untuk Si Bung

Bilik bambu pilihan

Beras, sagu, dan ayam

Berkumpul di halaman

Tak ada lapar

Semua senang

Bersama untuk belajar.

Rg. Bagus Warsono, 1996




http://si-bung.blogspot.com/.../terang-benderang-di...

Rabu, 09 Juni 2021

Jangan Menoleh Kebelakang

 Jangan Menoleh Kebelakang,

Tanpa menoleh kita sudah yakin bahwa teman seberangkatan tengah berpacu bersama. Sedikit saja menoleh berarti kita mengendurkan kecepatan. Demikian sprinter (pelari cepat) Indonesia legendari Purnomo Muhammad Yudhi (Purnomo) tampa menoleh sedikit pun pada teman seberangkatan untuk mencapai tercepat di finish dalam Olimpiade Los Angeles 1984 hingga ia merupakan satu-satunya pelari Asia yang masuk babak final.

Ini artinya sebuah filosofi bahwa sebetulnya dalam berbagai frofesi selalu ada persaingan. Dan itu pasti. Pastikan bahwa tak perlu kita menengok siapa yang mengejar kita, sebab pasti jika sesama penyair semua menginginkan terbaik. Maksudnya dalam artikel ini tak perlu kita sengaja bersaing sengan seseorang, sebab tanpa bersaing pun kita sudah bersaing sebab bersama-sama di garis start yaitu menulis/penyair. (rg bagus warsono)

Senin, 07 Juni 2021

Kita belum tersesat


 Kita belum tersesat

Jika membaca karya satra indah tentang kehidupan membuat kita merenungkan keindahan kemanusiaan, tentang alam membuat kita merenungkan betapa keagungan Allah maha pencipta, jika membaca tentang ketidak-adilan betapa masih banyak yang perlu dibenahi di negeri ini. Hal-hal sederhana seperti puisi itu dapat menghubungkan jutaan orang dengan etnis, bahasa, budaya yang berbeda, dan menciptakan hal-hal yang indah ini hanya karena kecintaannya. Kita dipenuhi dengan air mata kebahagiaan karena hal-hal seperti itu membuat kita percaya bahwa kita belum tersesat.

Masih berjalan dalam rel peninggalan masa lalu.


 Ada suatu yang menjadikan puisi biasa-biasa saja, monoton dan tampak hanyut dalam euforia terhadap karya yang telah lalu. Kenapa publik dijejali hal yang basi? Apa memang masyarakat menyukai yang 'bekas atau 'tilasan-tilasan. Itulah yang menjadikan publik dan pecinta sastra enggan mencatat karya-karya tersebut. 

Untuk mengulas bagaimana sebuah karya dapat menjadi karya sastra yang menjadi catatan perjalanan yang ditulis dalam sejarah sastra memerlukan kajian dan bedah karya dengan menyoroti karya-karya pilihan. 

Karya-karya bertema cinta, misalnya, sejak pujangga lama hingga kini tema cita slalu ada. Begitu juga tentang hak asasi manusia sampai kapan pun slalu ada, juga tema korupsi, tema ketimpangan sosial akan slalu ada mengiringi kehidupan manusia. Karya -karya itu adalah hal lama yang baru dibuat. Terhadap karya ini publik pembaca terlihat hanya senyum-senyum biasa dan bahkan tak dianggap sama sekali. 

Jika memang tema 'kehidupan semacam itu hendak diangkat kembali tentu memerlukan modifikasi dan inovasi terhadap tema kehidupan ini. Misalnya tema cinta judul-judul berisikan sub tema cinta terlarang, patah hati ,  sex atau cinta terpaksa itu biasa. Kenapa Anda tidak mengangkat perihal cinta manusia dan binatang, atau dengan mahluk halus, misalnya. Begitu juga terhadap tema-tema kehidupan lain seperti tema sosial, hak asasi, korupsi atau tema alam karya-karya penyair kita seperti tak mau berontak. 

Demikian banyak perbincangan tentang puisi dewasa ini yang tampak masih berjalan dalam rel peninggalan masa lalu. Oleh karena itu Lumbung Puisi slalu mengetengahkan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya.

"Jadilah dirimu sendiri artinya jangan membebek."


 "Jadilah dirimu sendiri artinya jangan membebek." 

Pelajaran ini tentu tidak diajarkan di 'sekolah-sekolah atau kursus-kursus yang diberikan pada calon sastrawan. Ini bukan berarti tidak boleh berguru, tetapi bergurulah pada banyak orang sehingga dapat berbagai ilmu yang akan dapat memperkuat talenta diri yang  dapat memunculkan berbagai kreativitas baru yang akan dapat memberikan dukungan kemapanan seorang sastrawan/penyair. 

Begitu juga terhadap membaca karya sastra, bacalah berbagai karya sastravdari berbagai sastrawan, sehingga kita memiliki evaluasi diri yang arif dan bijak. Sebab karya itu berlapis dan terpencar bergunung-gunung. Jika kita mengatakan karya seseorang luar biasa hebatnya, pasti ada karya lebih hebat dari karya itu , dan di suatu tempat lain ada karyua yang mengunggulinya di tempat lainnya lagi ada karya yang tak dapat di kalahkan, begitu seterusnya. 

Demikian keberadaan karya sastra di dunia ini, semakin kita banyak membaca semakin banyakj kekaguman pada beberapa orang sehingga kita memiliki evaluasi diri agar kita memiliki ciri dan jati diri yang diharapkan.

Karya puisi adalah pencarian


Karya puisi adalah pencarian,

Sesuatu yang menjadi wacana dunia kepenyairan dewasa ini adalah: Lebih terkenal penyairnya ketimbang karyanya. Keadaan ini terbalik dibandingkan masa kesusastraan pujangga lama dan baru dimana sastrawan mengemuka itu setelah karyanya populair. 

Jika Anda tak percaya tulisan ini, kita dapat membuktikannya bahwa sastrawan2 populair sekarang ini hanya bebetrapa saja yang diimbangi dengan kepopulairannya. 

Berexperimen dalam berproses atau juga penjelajahan dalam pencarian karya adalah proses didi penyair. Proses itu tak akan henti karena proses adalah kata kerja penyair. Orang yang populair yang tak diimbangi dengan karyanya maka kepopulairannya tak akan abadi bahkan menghilang ditelan masa.