Laman

Sabtu, 28 November 2015

Dongeng Butho Ijo dan Pangeran Puisi, Rotadenawa Joget

Dongeng Butho Ijo dan Pangeran Puisi,
Rotadenawa Joget
..........................
lalu pangeran muda itu menulis puisi
syair memuja raja kaksasa Rotadenawa
Syairnya diberikan pada Sinden Mimi Ayu
untuk dilagu-tarikan grup seni Putra Sangkala.
...........................
Tak lama kemudian terdengar sayup-sayup tembang
klasik tapi dangdut
membuat Raksasa Rotadenawa manggut-manggut
yang lagi tiduran sampil megang perut
dan tertawa terbahak senang ."Hua ha ha, hua ha ha...."
.............................
Lihat jari kaki Raksasa Rotadenawa itu bergerak-gerak...
mengikuti irama klasik dangdut
Raksasa itu bangun kemudian menari
mengikuti grup musik-tari klasik dangdut pergi
................................
................................
Rakyat di barisan belakang ikut menari
gembira karena Rotadenawa pergi
Hutan pinggir desa itu kini ditinggal Butho Ijo Rotadenawa
Pergi karena syair Pangeran Puisi.
Hua ha ha hua ha ha ha ..................
(rg bagus warsono 2014)

Tetaplah pada pendirian kita masing-masing

Kalau memang ia pelaku sastra, ada buktinya, ada daftarnya, ada karyanya kenapa dihilangkan, bersikap jujurlah menjadi penulis sejarah. Toh tidak rugi tidak apa.
Pokoknya sipapun dan dari mana asal-usul keturunannya yang jelas Warga Negara Indonesia ia berkarya sastra dan karyanya dinikmati masyarakat, ia adalah sastrawan Indonesia. Bagiku Kho Ping Hoo adalah angkatan 45.
Bedanya hanya ke-Istimewanya karya yang diciptakan itu, keistimewaan adalah bentuk pengakuan yang diberikan dengan rasa tanggung jawab secara ilmiah pada keilmuan kesusastraan dan perkembangannya. (tidak asal bunyi)
Ibarat sinden (sebutan biduan di grup musik tradisional) ada yang populair ada yang hanya dikenal di daerah asal grup musik itu. Kepopulairan sinden itu beberapa faktor misalnya keturunan, memiliki suara emas, dibawa grup musik terkenal, pernah rekaman, pormonya gencar, dan bisa juga cantik dll.
Oleh karena itu tetaplah pada pendirian kita masing-masing, jika menulis terus menulis jangan terputus sebab 'diantara anak-anak (karya) yang dilahirkan akan terdapat putra terbaik, gemilang, cemerlang, dan penuh bintang, kaya sejahtera dan senantiasa sentosa selamanya.
(pinjam katamu Mas Ninoy Karundeng)

Kamis, 26 November 2015

Pertumbuhan pelaku sastra di kalangan remaja

Pertumbuhan pelaku sastra di kalangan remaja bersumber terhadap banyaknya media baca yang dimafaatkan bagi remaja itu. Fungsi-fungsi majalah dinding, perpustakaan, dan pemanfaatan langganan media cetak sastra seperti tabloid, buletin atau majalah sastra yang mudah dibaca di dekat remaja itu seperti di sekolah atau di tempat organisasi remaja lainnya akan mampu melahirkan pelaku sastra di kalangan remaja.

Tidak boleh dipungkiri pertumbuhan pelaku sastra di kalangan remaja lahir dari peran peran pelaku sastra, dan porsi terbesar memegang proses ini adalah pelaku sastra dari kalangan guru. Hal demikian disebabkan guru memiliki kedekatan yang lebih banyak dengan para remaja itu.

Akhirnya pertumbuhan pelaku sastra di kalangan remaja lahir dimulai dari kegemaran membaca yang dimulai sejak dini. Dan kegemaran membaca ini adalah tanggung jawab bersama dari mulai keluarga, masyarakat, guru, dan pemerintah serta dukungan staikeholder mereka yang peduli terhadap pendidikan masyarakat.

Rabu, 25 November 2015

Tidak hari itu disukai saja tetapi hingga saat ini puisi ini di like suka.

Kebebasan berkreativitas dalam menulis jangan terbelenggu oleh waktu, keadaan, aturan, hukum, atau pengekang diri. Ikatan itu harus dilepas sebebas-bebasnya, namun sebagai layaknya sebuah karya penting mengutamakan konsumenya yakni pembaca. Karenanya karya Anda yang menarik itu memberikan suguhan yang tak mati karena waktu dan sasaran sementara , jika mungkin karya abadi sehingga tak hanya hari ini like suka tetapi seterusnya.
Perhatikan puisi Paman Doblang ini, Rendra hendak menangkap sasaran, namun kemasannya apik sehingga tidak hari itu disukai saja tetapi hingga saat ini puisi ini di like suka.
Paman Doblang ~ W.S. Rendra.
Paman Doblang! Paman Doblang!
Mereka masukkan kamu ke dalam sel yang gelap.
Tanpa lampu. Tanpa lubang cahaya. Pengap.
Ada hawa. Tak ada angkasa.
Terkucil. Temanmu beratus-ratus nyamuk semata.
Terkunci. Tak tahu di mana berada.
Paman Doblang! Paman Doblang!
Apa katamu?
Ketika haus aku minum dari kaleng karatan.
Sambil bersila aku mengharungi waktu
lepas dari jam, hari dan bulan
Aku dipeluk oleh wibawa tidak berbentuk
tidak berupa, tidak bernama.
Aku istirah di sini.
Tenaga ghaib memupuk jiwaku.
Paman Doblang! Paman Doblang!
Di setiap jalan mengadang mastodon dan serigala.
Kamu terkurung dalam lingkaran.
Para pengeran meludahi kamu dari kereta kencana.
Kaki kamu dirantai ke batang karang.
Kamu dikutuk dan disalahkan.
Tanpa pengadilan.
Paman Doblang! Paman Doblang!
Bubur di piring timah
didorong dengan kaki ke depanmu
Paman Doblang, apa katamu?
Kesedaran adalah matahari.
Kesabaran adalah bumi.
Keberanian menjadi cakerawala.
Dan perjuangan
adalah perlaksanaan kata-kata.
(Depok, 22 April 1984)
Puisi Oleh: W.S. Rendra

Pertumbuhan pelaku sastra

Sejak 2011 menginventarisir tokoh sastrawan daerah, telah lebih dari 1200 sastrawan nusantara berikut catatan karya2nya, ingin sekali dibukukan namun masih banyak yang terlewat, sebab setiap kabupaten slalu bertambah. Karena perkembangan semakin pesat.

Salah satu yang sulit dilacak adalah saudara2 kita sastrawan daerah yang dulu mengisi media daerah sebelum ada online, baik media berbahasa indonesia maupun berbahasa daerah.

Kolom sastra atau pojok budaya, atau mirip catatan pinggir media cetak nasional merupakan bukti keterlibatan sebagai penyair.


Belum lagi mereka yang aktif sebagai pengasuh acara malam hari di RRI atau radio swasta FM pengasuh dan pengirim untaian kata , seperti pengajian puisi, swara hati, syair malam, dll

Media cetak lain adalah buletin sastra, tahun 70-an 80-an tumbuh subur di berbagai kota besar. Banyak redaktur dan pengasuhnya terlewatkan, apa pun alasannya mereka telah menoreh kesusastraan Indonesia.

Kini semenjak ada internet peta sastra Indonesia hampir menyeluruh wilayah . Meski ada beberapa yang tampak redup hal demikian boleh jadi dikarenakan stasiun relay di beberapa daerah yang belum ada. Sehingga penggunaan internet belum memasyarakat yang otomatis informasi sastra melalui facebook atau akun internet lainnya belum tampak dari daerah itu.

Jawa Tengah, Jogya, dan Jawa Timur tampak mendomiasi jumlah terbanyak pelaku sastra dan tumbuh setiap hari tunas tunasnya sedang di Sumatra,Lampung, Riau, Sumatra Barat, Sumatra Utara dan Aceh telah semakin bersaing jumlah pelaku sastra. Di Kalimantan adalah Kalimantan selatan.

Pertumbuhan pelaku sastra di suatu tempat adalah peran para penggeraknya yakni tokoh2 sastra di daerah itu yang mau peduli untuk memberikan sentuhan kepribadian bagi generasi muda melalui berbagai jenis dan bentuk kegiatan sastra. Di samping itu adalah pemilik rasa 'tanggung jawab untuk mau menghidupi sastra : menghidupi puisi, cerpen, novel atau jenis lainnya.

Menurut hemat saya, zaman dulu penerbitan boleh dijadikan skala mutu sastra sebab proses menuju penerbitan yang memerlukan tahapan alot, kini telah banyak perusahaan penerbitan begitu banyak memberikan keleluasaan penulis. Oleh karena itu saya berpendapat skala mutu adalah bagaimana terdapat proses evaluasi melalui kegiatan sastra seperti lomba baca/cipta , terlepas siapa juri dalam kegiatan itu. (rg Bagus Warsono, 25-11-2015)

Selasa, 24 November 2015

Rg Bagus Warsono dalam Sekarepmu Kemeja Putih Lengan Panjang Mas Joko

Rg Bagus Warsono dalam Sekarepmu

Kemeja Putih Lengan Panjang Mas Joko

Dipakai lagi setelah Bi Kuni mencuci sendiri
Lalu kotor lagi oleh keringat musim kemarau panas
Karena marah mengotori kemeja Mas Joko
Menyerap emosi menahan ejekan merk kemeja
Jadul dan bahan bekas kantong terigu
Kemeja Putih Lengan Panjang Mas Joko
Dipakai lagi setelah Bi Kuni mencuci sendiri
Tak perlu dikancing pergelangan tangan
Cukup digulung ala preman terminal
Tak usah dimasukan pinggang
Seperti anak SMA 80-an
Agar tak tahu siapa yang melawan
Kemeja Putih Lengan Panjang Mas Joko
Dipakai lagi setelah Bi Kuni mencuci sendiri
Ketika Bi Kuni pulang kampung
Kemeja penuh getah
Kancing lepas benang
Krah penuh daki
Kantong tersiram tinta
Terpaksa Kemeja Putih Lengan Panjang Mas Joko
Dibeli baru dari toko
Dan urusan binatu yang cuci kemeja
Disertika dengan minyak wangi pula.
Indramayu, 24-11-2015

Jumat, 06 November 2015

Sijagur

 Penulis kenalkan Meriam Sijagur  sebuah meriam tentara Belanda hasil rampasan yang menjadi andalan pasukan Siliwangi di Distrik Indramayu pimpinan Kapten Sentot di masa perjuangan merebut Kemerdekaan Indonesia. 

Siagur , kisah perjuagan Sentot, segera terbit karya Rg Bagus Warsono

Sijagur , kisah peruangan rakyat Indramayu dalam kemerdekaan Indonesia. akan memenuhi khasaah cerita anak Idramayu.  Segera terbit.

Kopral Dali Seri Perjuangan Sentot karya Rg Bagus Warsono

Kopral Dali lebih tenar ketimbang komandannya. Di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia,  di Indramayu  dulu Dali demikian populair. Tidak saja dilingkungan TNI tetapi di masyarakat  kota kecil Indramayu pasti mengenalnya. Kopral cerdas dan pemberani ini pantas diketahui oleh kita semua ceritanya. Semoga buku ini menjadi teman generasi muda khususnya di kabupaten Indramayu dan Indonesia pada umumnya. Sehingga kita dapat  menghargai jasa dan pengorbanan para pahlawan , seperti Kopral Dali yang satu ini.