Laman

Kamis, 18 Desember 2014

Ibu Takan Kecewa

Ibu Takan Kecewa
melihat nilai raportku " A "
sehingga ibu tak menghitung piring nasi sarapan pagi
dan membelikan baju seragam dari telor mata sapi setiap hari
ia tak makan enak hanya untuk anak
dan yang dicucinya setiap hari
piring kotor dan kaos kaki.
Ibu takan kecewa
dengan nilai ijazahku "A"
membelikan toga yang sekali pakai
dan tak menghitung lagi transver bulanan
atau ketika aku mengarang kebutuhan
serta fotocopy ribuan lembar
Ibu takan kecewa
walau aku belum dapat kerja
itu bukan nilai raportmu
Ibu tahu aku mendapat "A" di setiap seleksi penerimaan kerja
Ibu tak kecewa

Jumat,19-12-2014

Minggu, 07 Desember 2014

Tandingan -tandingan itu

Tulisan 'tandingan'
Hal mengenai "tandingan" sudah ada sejak zaman pewayangan , dalam sejarah Indonesia 'tandingan' kerap muncul dalam sejarah-sejarah kerajaan. Raja tandingan, ratu tandingan, sampai bupati tandingan itu sudah ada. Di era perjuangan kemerdekaan RI, 'presiden tandingan' pun sudah ada. Dimasa Kemerdekaan juga diteruskan cara-cara ketidak-puasan dengan 'tandingan. Babak-babak tandingan pun dilanjutkan zaman orde lama, orde baru, dan kini orde reformasi.
Disegi ekonomi hal mengenai 'tandingan' ada segi untungnya jika menunjukan persaingan yang sehat lagi pula menguntungkan agar tidak terjadi monopoli. Namun kejadian 'tandingan ini telah terjadi di berbagai segi kehidupan di Indonesia. Di lingkungan pendidikan, organisasi, pemerintahan, hingga organisasi politik.
Bagaimana di dunia sastra Indonesia? apakah pernah terjadi hal 'tandingan' ? Tentu saja ada meskipun tarafnya baru semacam 'persaingan'
Timbulnya raja 'kembar', ratu 'kembar' , atau presiden'kembar' , sampai ketua partai polik kembar adalah akibat ketidakpuasan yang didorong oleh ketidakpuasan lain. Ketidakpuasan itu didorong oleh ambisi , dan "ambisi" bekerja apabila ada dorongan semangat walaupun sedikit, baik itu cita, cinta, sanjungan, materi dan ideologi yang diramu sehingga menjadi ambisius.
Bila kita temukan kejadian 'tandingan' di kehidupan sekarang adalah wajar. Kewajaran itu apabila didasari seperti disebutkan tadi , baik itu cita, cinta, sanjungan, materi dan ideologi yang diramu sehingga menjadi ambisius. Tetapi jangan katakan maklum bila tandingan dipengaruhi pihak ketiga . Jika hal ini terjadi maka bukan lagi tandingan dua pihak tetapi melibatkan berbagai pihak. Nah ini repotnya.