Laman

Minggu, 26 Juli 2015

", mencerdaskan kehidupan bangsa, "


Demikian isi alinea 4 UUD 1945 yang tak mau direfisi, inilah kata yang menunjukan bahwa bangsa ini masih belum cerdas alias masih bodoh.
kata 'me' mengandung arti kata :akan mengerjakan, melakukan, melaksanakan perbuatan dalam hal ini untuk mencerdaskan bangsa yang berarti bangsa yang belum cerdas.
Dari sini saja wajar apabila pola pendidikan kita hanyalah upaya pencerdasan . Akan hasil upaya itu bisa cerdas atau mungkin belum cerdas. Tetapi upaya terus dilakukan sepanjang amanat ini masih tertuang.
Penulis tak bermaksud mengganti amanat itu, tidak juga mengusulkan sesuatu kalimat pengganti, Sebab kalimat itu jelas bagus, yakni kehidupan bangsa yang perlu dicerdaskan. Wajar apabila segi segi kehidupan banyak menjadi alat untuk mengemban amanat itu. Sebagai contoh misalnya ada masyarakat cerdas karena mampu membuat membuat mobil. Andai ini bisa maka segi kehidupan bidang trasportasi tak perlu dicerdaskan karena kita mampu. Jadilah warga negara yang mampu membuat mobil sendiri diminta untuk menahan diri agar jangan membuat/mencipta karena nanti tiada mencerdaskan masyarakat karena masyarakat sudah pintar.

Bagaimana hubungan puisi dan amanat UUD 1945?


Hubungannya dengan puisi masyarakat ternyata sudah cerdas. Mereka sudah padai 'mencipta', Kata "mencipta" yakni suatu kata yang memiliki nilai tak perlu dimulai dari awal untuk tahapan belajar. Mereka sudah pandai mencipta. Kata 'cipta' ini memiliki nilai tinggi bagi ukuran ilmuwan. Nah hubungannya dengan amanat UUD 1945 yakni :...'mencerdaskan kehidupan bangsa,'... tak lagi berlaku di puisi. Maka wajar apabila puisi tak perlu disentuh dalam APBN karena rakyat sudah pandai mencipta.

Puisinya tak seindah pendapatannya


Padahal aku sudah katakan pada calon istriku doeloe, penyair ga ada duitnya, penyair itu hanya kaya imajenatif, penyair itu hanya kaya bahasa, pendek kata aku ini melarat, tetapi calon istriku tetap saja 'ngganduli' aku.
Suatu ketika (setelah 20 tahun) aku menunjukan buku karyaku yang dibeli penerbit, apa jawab istriku, puisimu tak seindah pendapatannya!

Gedung DPR itu ternyata banyak dihuni makhluk halus !


Kenapa Anggota DPR ribut duit terus ?
Ternyata gedung dewan itu dihuni banyak banyak makhluk halus sepeti gendruwo, tuyul dan butho Ijo yang slalu merasupi anggota DPR.
Menurut Mbah Kakung yang dulu jadi tukang batu mengerjakan gedung itu bercerita bahwa para pekerja, tukang kayu, tukang batu, tukan instalasi, sampai mandor minta agar ada salamatan sebelum diresmikan. Tetapi pihak pimpro tidak mau karena gedung ini majikannya rakyat, kalau mengadakan selamatan / syukuran tak mungkin mengundang rakyat Indonesia. " Oh pantas banyak jin nya ! "

Sabtu, 25 Juli 2015

Diantara ribuan batu akik yang berserakan di pengunungan Indonesia pasti terdapat pualam dan manikam yang gemerlap.


Era 2000an jumlah penyair berkembang pesat, Jika seratusribu jiwa saja terdapat 1 orang penyair maka terdapat 25.000 penyair di Indonesia.
Upaya , Kurniawan Junaedhie, penyair asal Tegal, yang mengumpulkan Haiku saja lebih dari seribu penyair menulis itupun jika tidak disortir mungkin ribuan jumlahnya. Kemudian Sosiawan Leak , merekrut puisi bertema korupsi telah ribuan penyair mendaftar.
Perkembangan yang sangat menggembirakan ini adalah minat masyarakat terhadap sastra meningkat pesat sejak internet meluas di Indonesia, namun sayang masyarakat yang memiliki minat baik terhadap dunia sastra di Indonesia kurang direspon oleh pemerintah. Bahkan ilmu sastra sangat jarang dipelajari di sekolah karena tidak didukung dengan pengintegrasiannya pada mata pelajaran bahasa Indonesia atau bahasa daerah yang mau tidak mau sastra selalu menempel pada bahasa.
Kurikulum kita pernah mengintegrasikan hal yang bodoh seperti flu burung, lingkungan hidup, karakter bangsa, wawasan nusantara, budi pekerti dan terakhir anti korupsi pada mata pelajaran mulai SD hingga sekekolah menengah tetapi alat yang terbaik berupa apresiasi sastra justru tidak disentuh, padahal justru sastra sangat baik bagi pendidikan putra putri kita.
Jumlah penyair yang begitu banyak adalah bukti minat masyarakat yang diwakili oleh sastrawan/penyair, meski jumlah penyair yang banyak akan membiaskan nama tokoh penyair, namun tetap penilaian adalah terhadap karyanya. Karya yang bagus dan bermutu itulah yang akan mengangkat nama penyair itu menjadi terkenal diantara ribuan penyair yang setiap saat bertambah banyak . Namun kita harus percaya diantara ribuan batu akik yang berserakan di pengunungan Indonesia pasti terdapat pualam dan manikam yang gemerlapan.

Sama-sama tidak laku dijual.


Inilah ironisnya, minat masyarakat yang tinggi terhadap sastra bukan berarti minat membeli buku bertambah. buktinya aku menemukan buku-buku sastra dengan terbitan penerbit terkenal di kaki lima dengan harga murah dan jauh dibawah harga di toko buku terkenal. Selidik punya selidik, ternyata buku yang kurang laku di toko buku terkenal akan direktur , dihitung, dan dikembalikan pada penerbitnya. Penerbit yang menanggung kerugian kemudian setelah lama menjadi isi gudang disalurkan pada pedagang kaki lima dengan harga murah meriah. Jadi jangan bangga dengan peluncuran buku dengan mewah atau bukunya diterbitkan atau dijual di toko buku terkenal , hasilnya sama dengan kita-kita orang (penyair pinggiran) yang rejekinya pas-pasan.

Orang padang Pinter masak

Sebetulnya yang pinter masak itu orang Padang, mereka sudah melayani selera Indonesia sejak zaman penjajahan. Mereka melayani masyarakat kelas bawah hingga kalangan kelas atas dengan menu yang sama.

Gudeg

Lain dengan pedagang nasi gudeg di Solo, dan di DI Yogyakarta, terdapat bermacam jenis pedagang dari mulai lesehan, angkringan, warung dan lestoran gudeg. Keadaan ini menjadi banyak tanggapan mana yang pedagang khas, masakan khas, dan tentu rasa yang berbeda menurut pecinta kuliner. Dalam hal harga tentu berbeda-beda. Begitu juga masyarakat pembeli berbeda beda, namun satu keunggulan gudeg ini yakni masakan gudegnya yang khas itu saja. Walaupun dicampur ayam, atau gading tetap gudegnya mendominasi.

Sega Jamblang , nambah harga berlipat

Keunggulan sega jamblang adalah menunya yang beraneka, takaran nasi dan lauk yang dibuat sedikit/kecil untuk memudahkan agar pilihan itu terjangkau harganya, namun bila merasa tak cukup takaran itu boleh jadi nambah dan tentu saja harganya berlipat.

Ayam Goreng Lamongan

Jika sekarang ini banyak terdapat pedagang dari Lamongan dengan bebek goreng dan lele goreng di setiap kota itu adalah keunggulan orang Lamongan yang dapat menangkap selera nusantara dengan sajian hangat dan terjangkau harganya.

Silahkan mereformasi Mbahmu !?,

Pada tahun 2002 aku diundang dalam pertemuan kel. "Ronggo Kastuba, sebuah warisan trah Mangkunegaran terasing yang ada di Tegal. Ketika satu-persatu diperkenalkan aku di sebut , langsung anakku berbisik katanya papah nasionalis kenapa sekarang feodal. Silahkan mereformasi Mbahmu !?, kataku pada anakku itu.

Keunggulan masakan warung tegal

Keunggulan masakan warung tegal adalah masakannya yang terjangkau masyarakat bawah. Hal masakannya sama seperti ibu-ibu rumah tangga biasa masak di rumah. Namun warung tegal adalah sebuah profsi dagang dan mata pencaharian orang Tegal sejak doeloe dan berhasil menguasai kebutuhan makan / sarapan masyarakat kelas bawah.

"Loh Bapak katanya ..."

Ibunya dikasih hadiah baju muslim 2 stel, Bapaknya dikasih sarung, baju koko, juga 2 stel. Tumben.
Usai lebaran barulah anaknya minta dilamarkan kawin.
"Jadi kamu disekolahkan tinggi-tingi itu mau durhaka sama orang tua?
"Lhoh katanya pengen cepat punya cucu?"
......"ya sudah , anake sapa yang mau dilamar?
"Tetangga sebelah , Pak"
"Tetangga sebelah mana. Pak Sis ga pnya anak perempuan"
"Sebelahnya lagi, Pak"
"Jangan, jangan itu........"
"Loh Bapak katanya pengen penya menantu yang bukan orang jauh supaya ga susah nengok cucu".
" ...."

Th 2015 tahun huruf o

Th 2015 itu adalah tahun persaingan tahun menurut hitunganku adalah tahun huruf o : Otot , Ongkob (panas), Obor (geni) , Obah (oreg) , Obar (kebakaran) , Obong (membakar), Ongkos (mahal) , Ojreg (berkelahi) jadi
Hati hati setelah lebaran ini di tempat kerja kalian akan tumbuh lagi persaingan sesama dan bisa mungkin kurang sehat. Iri dan syirik akan slalu mengiringi bahkan lebih kuat lagi sampai menjatuhkan. Karena menurut perhitunganku th 2015 ini tahun otot. Sarannya adalah : 1. Mengalah, 2 waspada bujuk rayu, 3. dan jangan merasa rugi tergores sedikit rezeki oleh orang lain, 4. Jangan mudah emosi oleh orang yang sengaja membuat ulah

Salah Belajar Ilmu Dagang

Temanku bilang waktu SMEA doeloe salah mempelajari ilmu ekonomi, ia hanya menyerap satu ilmu dagang 'jual-beli tapi yang dipelajari hanya ilmu jualnya saja, jadi sampai sekarang sukanya jual jual saja, punya mobil dijual, rumah dijual, motor dijual, perabotan dijual, baju dijual sampai jual apa saja yang ada.

Mereka dengan iklas menemani karya puisi ku dalam antologi " Surau Kampung Gelatik"

Mereka dengan iklas menemani karya puisi ku dalam antologi " Surau Kampung Gelatik"
Daftar Penyair Pendukung Antologi
1. Budhi Setyawan Penyair Purworejo, Bekasi.
2. Bagus Setyoko Purwo , Jakarta
3. Dian Rusdiana, Bekasi.
4. Bambang Widiatmoko, Jakarta.
5. Heru Mugiarso, Semarang.
6. Ayid Suyitno Ps, Bekasi.
7. Aloeth Pathi II, Margoyoso-Pati.
8. Sotarso Osratus, Sorong Papua.
9. Andrian Eksa,Boyolali.
10.Syarif hidayatullah, Banjarmasin Timur.
11.Didi Kaha (Usman Didi Khamdani) , Tangerang Selatan.
12.Mahbub Junaedii, Brebes .
13.NURAINI , Solo.
14.Ali Syamsudin Arsi Ali Arsy,Banjarbaru.
15.Hasan Bisri Bfc Bisri BFC , Bogor.
16Riswo Mulyadi, Banyumas Jawa Tengah.
17.Eddie MNS Eddie Mns Soemanto, kelahiran Padang
18.Aris Rahman Yusufn Yusuf Mojokerto, Jawa Timur.
19.ARIF KHILA, Pati.
20.Nani TandjungJakarta.
21.Kurnia Fajar,Wonogiri.
lewat nulis bersama menjadikan persahabatan antar penyair semakin kuat. 

Sabtu, 11 Juli 2015

Menjadi Tokoh Sastra Bukan Tipe Pemilihan Kepala Daerah

Menjadi Tokoh Sastra Bukan Tipe Pemilihan Kepala Daerah
Semenjak kasus Buku 33 Tokoh Sastra Berpengaruh th 2014 ada gejala - gejala 'menular pembodohan publik dalam tokoh sastra kita dengan tidak mengedepankan mutu. Oleh karena itu bagi kaum terpinggirkan untuk dapat bergabung dan merapatkan barisan. Menjadi Tokoh Sastra di Indonesia kita jaga jangan sampai seperti tipe Pemilihan Kepala Daerah yang mengedepankan sisi materi sebagai hal utama.
Rg. Bagus Warsono (gus.warsono@gmail.com)