Laman

Senin, 29 Februari 2016

Mereka yang membaca puisi akan dapat menangkap pesan

Sebuah pertanyaan apakah membaca puisi membaca sebuah pengetahuan? Jawabnya adalah "Ya"
Mereka yang membaca puisi akan dapat menangkap pesan dari kata dan baris/kalimat yang memiliki 'tekanan makna

Meracuni Puisi.

Meracuni Puisi.
Menyisipkan pesan sesat agar pembaca terpengaruh dan termakan racun puisi. Umpamanya memberi pesan kebebasan yang negatif seperti sex terhadap sasaran pembaca remaja. Meracuni puisi kadang lolos sensor editing. Bahkan penerbit publishing maen asal cepat cetak saja. Kebebasan berkreatifitas diartikan kebebasan mutlak, Penyisipan pesan negatif juga sering muncul pada puisi yang merusak norma adat budaya.Puisi puisi demikian sebaiknya dibuang.

Minggu, 28 Februari 2016

Penyair itu Tukang Potret Keliling



Penyair itu Tukang Potret Keliling

1.Penyair itu idola keturunannya.
Berbahagialah Anda sebagai penyair.Bagaimana jika menulis antologi? Jawabnya adalah sama. Suatu ketika apa pun antologi itu 'bobot dan timbangannya serta termashur atau tidak termashur akan dicari oleh keluarga kita. Dan keturunan kita akan merasa bangga mempunyai kakek / nenek yang mewarisi 'keindahan budi.


2.Penyair itu Suami istri dengan Karyanya.
 Penulis dan karyanya seperti dua kutub besi berani yang slalu perpasangan. Jika sudah seperti magnet, dengan cepat menemukan nama penulisnya ketika sebut sebuah judul.

3. Penulis itu Mentri Sekretaris Negara
Kalian tak akan tahu Singosari, Daha atau Kediri, kerajaan masa lalu, tetapi ada empu pujangga menulis tentang masa lalu. Negara silih berganti tetapi nama negara termashur hingga sekarang karena ada Mentri Negara yang hebat sepertimu wahai pujangga.

4. Penyair itu Juru Masak.
Jejak langkah adalah sejarah, tahapan proses yang lumrah dan umum, pertama bahan baku utama, bahan baku perasa, bahan baku penyedap, dan adonan seimbang, kemudian dimasak dan dimakan.

5. Penulis itu Hakim Mahkamah Agung.
Masyarakat sekarang tahunya Ken Dedes , Tri Buana Tunggal Dewi, Dyah Pitaloka itu cantik padahal tahu juga tidak orangnya. Itu karena ada Hakim Mahkamah Agung yang memvonis mereka itu cantik. Ialah pujangga keraton sepertimu duhai penyair.

6. Penulis itu Tukang Martabak
Satu adonan saja diwolak walik. Dalam berbagai puisi penyair menulis : sepi itu sunyi, sepi itu sendiri, sepi itu senyap, sepi itu gelap, sepi itu menggerigisi, sepi itu syetan, sepi itu melayang dsb.

7. Penyair itu Tukang Potret Keliling.
Melihat gadis desa montok dibuat puisi, melihat nenek-nenek dibuat puisi melihat gedung tua tak berpenghuni dibuat puisi, melihat gubuk kecil dibuat puisi, melihat gunung dibuat puisi, melihat batu dibuat puisi, Melihat burung dibuat puisi, melihat macan dibuat puisi, melihat koruptor dibuat puisi,melihat guru dibuat puisi,Melihat Jembatan dibuat puisi, Terakhir melihat duit dibuat puisi juga.

8. Penyair itu Penggembala ( 'Cah Angon )
Cari daun pakan untuk kambingnya, cari rumput hijau juga untuk kambingnya, cari lapangan untuk kambingnya , lembah hijau untuk kambingnya, Seperti puisi untuk dibaca orang lain.

9. Penyair itu Profesor.
Jadi tidak usah kuliah lagi, mereka tahu segalanya. Ga pernah ke kutub juga tahu kutub selatan dan dibuat puisi, Ga pernah melihat menara Efiel juga bisa dibuat puisi, Ga pernah ke padang pasir bisa buat puisi tentang panasnya gurun. Apalagi masih Indonesia , Ga pernah ke DPR juga dibuat puisi tentang DPR gampang.

10. Penyair itu Komponis

Mungkin Anda pernah baca Wiro Sableng pedekar 212 oleh Bastian Tito, atau Asmara Berdarah oleh Kho Ping Hoo, atau Api Dibukit Menoreh oleh SH Mitardja. Pembaca saat itu tak perlu tahu wajah pengarangnya karena memang pada saat itu tampang tak perlu. Tetapi karya karya itu betul-betul melekat dengan namanya. Seperti komponis mencipta lagu, kadang tak terpikirkan seperti apa wajah C Prawit, C Simanjuntak, Sudarnoto, H. Mutahar, Daljono, L Malik dll padahal ia pencinta lagu nasional yang setiap hari Senin upacara atau hari besar nasional dinyanyikan.Jadi yang melekat dengan karya itu bukan orangnya tapi namanya.

Rg bagus warsono, penyair tinggal di Idramayu 22-2-2016

Rabu, 10 Februari 2016

"Kemat Jaran Guyang"

"Kemat Jaran Guyang" adalah jampi-jampi seorang laki-laki untuk dapat dicintai oleh wanita pujaannya dalam proses ritual tersendiri dan merupakan cerita warisan budaya Cirebonan termasuk Indramayu. Perumpamaannya dikisahkan lewat cerita Baridin dan Ratminah karya pertunjukan tarling oleh H Abdul Adjid , Budayawan Cirebon, meski dalam cerita itu pun tokoh Baridin yang begitu cintanya terhadap Ratminah tetap tidak kesampaian. Tetapi cerita ini telah memberikan gambaran bahwa 'cinta yang tulus tak dapat dipaksakan karena guna-guna yang mereka dalam budaya Cirebon sebagai kemat yakni pengasihan yang didorong oleh bantuan goib sebetulnya hanya kisah.
Jadi jujur saja kalau ditolak cinta oleh si gadis sebaiknya berbuatlah kira-kira dia tertarik, kasihan, kagum, atau terkesan, atau 'kena batunya pada kita dengan hal nyata bahwa kita laki-laki itu ksatria. Jangan dukun bertindak karena itu upaya tolol lebih baik wujudkan dengan prilaku dan kesungguhan tulus serta tidak kalah dengan sainganmu dalam berbagai hal.

Senin, 08 Februari 2016

Mantapkan untuk tetap berkarya sastra.

Mantapkan untuk tetap berkarya sastra.
Bukan aku tak menurut, silahkan kalau mau membagi nama angkatan sastrawan ajukan desertasi di perguruan terakreditasi di fakultas bahasa baru dipercaya. Sepeninggal HB Jassin dan Khorie Layun Rampan bagiku tak ada lagi batasan pengelompokan angkatan. Kini sastrawan termasuk penyair begitu banyak, siapa pun orangnya berkarya sastra itulah sastrawan dan tentu saja tergantung pengakuan publik. Yang penting tetap berkarya sastra. Yang penting bebas berkreatifitas. Terserah saja esok mau anggap kita ini apa bagaimana. Mantapkan untuk tetap berkarya sastra.

Kesempatan itu begitu banyak

Kesempatan itu begitu banyak
Jangan takut tidak terkenal, pengamen saja bisa menjadi artis. Kita hidup diantara 265 juta jiwa manusia Indonesia, bacaan baik buku maupun lewat net belum mencukupi ratio ideal dengan jumlah penduduk itu. Belum lagi andai pasar global sastra dipenuhi , kesempatan itu begitu banyak. Jadi yakinkan bahwa tiap penyair memiliki fand-nya tersendiri. Karena itulah jangan takut bila karyamu bagus pasti diakui dan dikenal. Sekali lagi kesempatan begitu banyak

Berkarya sastra nyata bukan impian tetapi fondament bangunan popularitas

Berkarya sastra nyata bukan impian tetapi fondament bangunan popularitas
Seperti penyair membuat puisi, adalah adonan 'batu-bata, pasir dan semen meletakan pondasi cita-cita sang penyair. Kemudian ia melengkapi kekuatan dengan 'mutu sastra sebagai besi beton rumah kita yang kokoh. Menjadi penyair bukan impian tetapi 'perjalanan diri .Berkarya sastra nyata bukan impian tetapi fondament bangunan popularitas.

jejak perjalanan kita.

Salah satu keuntungan mengikuti antologi bersama adalah menambah pancaran baca puisi Anda. Syair itu dibaca tim seleksi, dibaca penyelenggara, dibaca awak media, dibaca teman seisi antologi, dibaca keluarga dari teman sesama pengisi antologi, dibaca mereka yang berkaitan dengan para penulis baik profesi atau organisasi seperti siswa, awak komunitas, anggota grup sastra dll.
Kami pun menyelenggarakan Lumbung Puisi IV, bagi yang belum pernah mengikuti silahkan sambil menambah jejak perjalanan kita.

Pacaran

 "Jangan bilang-bilang Bapakmu ya Jeng, aku ini penyair ya?"
"Kenapa?"
"Karena Bapakmu seniman, ngerti yen seniman itu pon pon kliwon dapat rejeki nya."
"Lho iki duit dari mana makan bakso?"
"Ngamen !"
"Yu aku temani ngamen Mas!"
"Loh kamu seniman joga toh"
...............



"Kalau aku pulang kampung, Adik minta dioleh-olehi apa?"
"Apa ya..........?"
"Kerajinan kulit, kain batik, atau jajanan tradisional semua ada di kampung"
"..............aku minta surat duda aja Mas"
"!" Aku kaget , dalam hatiku "Dari mana ia tau aku punya istri di kampung?"
"Sudahlah ,,,,,,,Mas , aku minta jajanan tradisional saja , nanti dimakan adik-adikku.
.".......... Aku permisi , Dik , pikir pikir pesananmu itu."
Si adik tersenyum .



"Katanya Mas Penyair, diam-diam menghanyutkan, sekarang ga ada siapa siapa kok Mas diam saja?"
"Yang mana dulu, Dik?"
"Terserah pilih yang mana, aku sudah pasrah..."
............................
"Jangan , Mas. Jangan ah !"
"Kenapa? tadi bilang boleh"
"Dasar penyair ngeres! diajak rundingan malah gerayangan!", jawab Dik Sun sambil masuk rumah.



"Sampaikan salam ke Mbakyumu , Dik ya?"
"Aku ga punya kakak perempuan, Mas"
"Kemarin kamu berjalan dengan siapa?"
"kakak"
"La itu, aku cocok, sama kakakmu itu"
"Itu ibuku , Mas, ibuku dikawin kakak iparku"
"Owalah , aku keduluan !"

 

Kalau penyair punya istri dua itu lagi belajar.

Kalau kepala desa punya istri dua wajar , kalau PNS punya istri dua itu dihajar!, Kalau penyair punya istri dua itu lagi belajar.

Masih ga parcaya aku dari Belanda

Masih ga parcaya aku dari Belanda aku bisa sebut bahasa Belada seperti : pit (sepeda) bahasa Belanda , brug (Jembatan) Bahasa belanda, sepur (kereta api) basaha Belanda, piul (biola) bahasa Belanda, drum (tong) bahasa belanda, sekul (nasi) bahasa belanda, mandor (kepala regu) bahasa belanda), anemer (pemborong) bahasa Belanda, Sinyo (anak) bahasa Belanda, rumah bahasa belanda, pistol bahasa Belanda, radio bahasa belanda,stasiun bahasa belanda, inspektur bahasa Belanda, kondektur bahasa Belanda, kaleder bahasa belanda, prei (libur ) bahasa Belanda , mangkok bahasa Belanda, indekos bahasa Belanda, dan apalagi ya ?................

Jumat, 05 Februari 2016

"Akan Aku Taruh Bintang dalam Atologiku"

"Akan Aku Taruh Bintang dalam Atologiku"

Yakni sebuah pengantar buku oleh tokoh terkenal , seolah memberikan 'rekomendasi terhadap antologi agar 'terpercaya. Tentu saja kata pengantar yang menyoroti isi bukan menyoroti penyair dalam antologi itu. Dengan bangga penyair pemula yang menulis atologi meluncurkan bukunya tanpa ragu. Karena penulis antologi itu mendapat kesan dukungan tokoh terkenal yang secara langsung memberi kata pengantar antologi.

Ada Magnet di Satu Puisi Bersama

Ada Magnet di Satu Puisi Bersama

Antologi bersama akan lebih kuat jika dipasang beberapa puisi yang memiliki 'magnet baca bagi khalayak pecinta sastra. Magnet baca itu adalah puisi dengan kekuatan daya tarik baca yang luar biasa untuk memanggil khalayak tertarik untuk membaca antologi tersebut.
Biasanya penggagas antologi bersama mengundang penyair ternama untuk mengisi antologi dengan maksud menjadikan atologi bersama yang disusunnya sebagai antologi 'berbobot sastra dengan ketertarikan baca yang tinggi. Tetapi bisa juga dengan seleksi atau lomba untuk memberikan antologi itu memiliki daya ketertarikan minat baca.
Utuk menjadikan antologi bersama dengan ketertarikan baca yang tinggi sangat penting ditonjolkan nama penyair terkenal atau judul puisi terbaik dalam antologi tersebut. Namun sayang banyak peluncuran buku sekumpulan puisi hanya menonjolkan nama penyair tanpa mempopulairkan judul puisinya sehingga setelah dibaca 'magnet itu hanya semetara.
rg bagus warsono, 2-2-2016

"Kucari Dahulu Inisial Namamu di Antologi itu"

"Kucari Dahulu Inisial Namamu di Antologi itu"

Ya huruf "S" , tetapi kau semunyikan nama depanmu, sehingga kau berada di awal lembar buku. Tetep dengan cepat kutemukan dirimu. Dilipatan buku tebal itu istriku curiga. Gila! kau bercinta dengan perempuan penyair ! sambil membanting antologi dan menginjak-injak buku. Lalu aku jawab aku bukan bercinta dengan yang kau cemburui ! tetapi aku bercinta dengan puisi !

"Kau Diam atau Membaca dalam Hati"

"Kau Diam atau Membaca dalam Hati"

Kau tersenyum sendiri, mengerut kening, dan menarik nafas
semoga dugaku benar, kau tengah mengapresiasi puisiku. Ragu aku karena
"Kau Diam atau Membaca dalam Hati"
ketika ku mendekat, aku malu sendiri, kau menahan tawa. Dan sekarang aku yakin kau juga mencitaiku.

"Itu tanda-tandanya kau suka"

"Itu tanda-tandanya kau suka"

Mengulang baca baris, menekan kata, menggaris bawah,
tak perlu distabilo, karena kata manis slalu diingat.
ketika kau baca puisi lain
lembarku dibuka kembali
kali ini kau membaca namaku.
lekatkan puisi dan penciptanya di hatimu sayang.

"Kalau kau mau aku telanjangi dirimu di kamarmu"

"Kalau kau mau aku telanjangi dirimu di kamarmu"

Beri aku sebait puisi
aku apresiasi penuh sampai lekuk ditubuh itu
dan bau harum badanmu
dari rempah pembangkit syahwat
membelai dalam alun clasic
kau terpejam aku mengapresiasi.

"Jangan malam ini, cukup satu puisi."

"Jangan malam ini, cukup satu puisi."
Kau mulai terangsang puisiku terbuka
kau peluk puisi, aku biarkan dia mengapresiasi
kau semakin bergairah
puisiku memanas
kau puas, puisiku memberi sejuk hatimu
kau meminta halaman baru
aku tantang apa maumu.
Jangan malam ini, cukup satu puisi.

"wajahmu di masa silam (100-500 tahu lalu)

Aku sebetulnya bisa membuat sketsa gambar "wajahmu di masa silam (100-500 tahu lalu) tapi takut ditertawakan, sebuah perumpamaan diri di masa silam (bukan reinkarnasi tetapi agak mirip) bahwa Anda mungkin sebagian dari perumpamaan tokoh di masa silam. Hanya biayanya cukup mahal padahal hanya kertas gambar dan pinsil konte.

Kenapa aku jarang kumpul bersama para penyair?

Kenapa aku jarang kumpul bersama para penyair? karena terkadang tampak dalam pertemuan itu orang-orang yang sangat asing. Ketika ngintip pertemuan di Tegal tahun lalu, disana ada raja, ada pendekar, ada pertapa, ada senopati perang dan tokoh adipati, juga sepintas bayangan para wali sanga.