Laman

Senin, 28 Oktober 2013

MANGUNHUDOYO, 8 ANAK MENANTU MENJADI PRAJURIT

Sugeng Mangunhudoyo (Kuningan) adalah pejuang sejati, pimpinan perlawanan Rakyat daerahTegal,Brebes, Slawi, Purwokerto. Ia tak haus jabatan di TNI. Pangkat Kopral pun tidak, tapi ribuan veteran minta tandatangan kesaksian dibawah kepimpinannya ketika perang kemerdekaan. (bingkisan buat kel Sugeng Mangunhudoyo di Kuningan Jawa Barat)
Yoesoef Soegiono , pemuda muhammadiah yang menjadi Tentara Pelajar di Tegal, lebih memilih menjadi guru Sekolah Rendah (ongko loro) setelah merdeka, ketimbang menerima diberi pangkat tinggi di TNI tapi perang sudah selesai. (suri tauladan dan contoh kel Yoesoef Soegiono)
Siddik Mangunhudoyo (Purwokerto) adik Sugeng Mangunhudoyo, menerima pangkat penghargaan, pejuang Kemerdekaan di Daerah Tegal, brebes Slawi Banyumasdi , sebagai Letnan Satu CPM dan memilih pensiun muda ketimbang diatur oleh pahlawan Kesiangan (Bingkisan kel Mangunhudoyo Cilacap)
Basuki Amanat Mangunhudoyo, adik Sugeng Mangunhudoyo, pejuang Kemerdekaan daerah Tegal, Brebes, Slawi, Puwokerto, menerima beasiswa belajar di Luar Negeri dan pulang terkatung-katung hingga ditarik di perusahaan sepatu Henna sebagai ahli pembuat sepatu.
Lettu Kasim, menantu Mangunhudoyo, tim kesehatan Jendral Soedirman, belum ada dokter kala gerilya, dipundaknya sekesalamtan Jendral Soedirman menjadi tanggungjawabnya. Memilih pensiun dan membantu masyarakat daerah Majenang Cilacap dengan ilmu pengobatannya. Beliau hidup dengan penuh kesengsaraan. (bingkisan kel. Kasim Cilacap)
Kapt. Muhammad Noor, menantu Mangunhudoyo, menerima pangkat penghargaan perwira (Kapten) atas perjuangan kemerdekaan di daerah Tegal, Brebes Slawi Banyumas, dibuang di korp seni (musik) tanpa naik pangkat hingga pensiun di Indramayu (Bingkisan kel. Muhammad Noor)
Sutoro, menantu Mangunhudoyo tim Palangmerah perjuangan rakyat daerah Tegal, Brebes Slawi Banyumas pada perang kemerdekaan memilih pensiun ketimbang menarima jabatan sebagai matri pemberantas penyakit malaria. (Bingkisan Kel. Sutoro Purwokerto)
MANGUNHUDOYO (BANJARNEGARA), 8 ANAK MENANTU MENJADI PEJUANG , TANPA PENGHARGAAN DARI PEMERINTAH , MESKI RUMAH KEL. dI BANJARNEGARA DIBUMIHANGUSKAN TENTARA BELANDA
Sugeng Mangunhudoyo, anak pertama Mangunhudoyo, pimpinan pejuang kemerdekaan daerah Tegal. Brebes, Slawi , purwokerto dan Banyumas. Sejarahperjuangan kemerdekaan didaerah Tegal sekitarnya tak lepas dari Nama Sugeng Mangunhudoyo. (lihat perpustakaan Angkatan Darat kodam Diponegoro)
PEMDA KAB/KOTA TEGAL.BREBES, SLAWI, PURWOKERTO SELAYAKNYA HARUS MENGHARGAI PAHLAWAN PEJUANG KEMERDEKAAN DIDAERAHNYA TERUTAMA KEPADA SUGENG MANGUNHUDOYO, PIMPINAN PEJUANG KEMERDEKAAN DI DAERAH ITU, SERTA KEL MANGUNHUDOYO DENGAN 8 ANAK MENANTU MENJADI PEJUANG TANPA PAMRIH.
JIKA DI SULSEL ADA ROBERT WOLTER MONGINSIDI, DI INDRAMAYU ADA SENTOT, DI BLITAR ADA SUPRIYADI, DI SOLO ADA KOMARUDIN. MAKA DI KARESIDENAN TEGAL DAN BANYUMAS ADA SUGENG MANGUNHUDOYO.
PARA SEPUH DAN RAKYAT KAB/KOTA TEGAL.BREBES, SLAWI, PURWOKERTO MENGETAUI BAHWA SUGENG MANGUNHUDOYO ADALAH PIMPINAN PEJUANG KEMERDEKAAN YANG SANGAT TERKENAL KEBERANIAN DAN KHARISMATIK SEHINGGA MAMPU MENGGELORAKAN SEMANGAT RAKYAT UNTUK BERSATU PADU MENMELAWAN PENJAJAH .
MANGUNHUDOYO, 8 ANAK MENANTU MENJADI PEJUANG, DIMAKAMKAN DI KLAMPOK PURWOKERTO 1966 DENGAN TANPA DIUNDANG DIHADIRI RIBUAN TENTARA SERTA BARET COKLAT DAN SEJUMLAH JENDERAL YANG TENGAH KEGIATAN DI PURWOKERTO
SEMOGA JASA PARA PAHLAWAN PERANG KEMERDEKAAN KHUSUS DI KARESIDENAN TEGAL, BANYUMAS KHUSUS SUGENG MANGUNHUDOYO, DKK DIBERIKAN TEMPAT YANG LAYAK DI SISI ALLAH SWT.

Rabu, 23 Oktober 2013

KENANGAN DIWAKTU MUDA, AKU MENULIS

Tahun 1992-th 2002 adalah masa-masa produktifitas di jalur jurnalisku. Telah ratusan artikel dimuat dikoran, ratusan cerpen anak, betapa secara ekonomis saya pada waktu itu cukup 'kaya' dibandingkan teman-teman guru pada waktu itu, aku menghabiskan 8 buah mesin tik, yang sedikit rusak saja langsung ganti, 4 camera canon, dan 6 vespa yang rusak langsung masuk gudang dan beli lagi, maklum senangnya cuma vespa. 

































Senin, 14 Oktober 2013

mengemas indah karya sendiri

Menghargai karya orang lain adalah mengemas indah  karya sendiri oleh sendiri,
Membaca  karya orang lain adalah bentuk penilaian karya sendiri oleh sendiri. Membaca prestasi orang lain adalah mengukur prestasi diri oleh sendiri. Menyanjung karya orang lain adalah menenggelamkan karya sendiri oleh sendiri. Dan mencemoh karya orang lain adalah menutupi kelemahan sendiri oleh sendiri.

Selasa, 08 Oktober 2013

Acara boleh membosankan, tapi buku tidak

Acara boleh membosankan, tapi buku tidak
Seberapa kuat bertahan sebuah acara tv, misalnya, akan berujung dengan membosankan. Tercatat sepanjang zaman hanya acara "Dunia dalam Berita" yang bertahan puluhan tahun dengan rutin acara setiap hari. Kemudian disusul acara musik keroncong setiap minggu sekali pada masa TVRI berjaya dulu. 
Kini tv swasta acara akan bertahan bukan karena disukai pemirsa tetapi kekuatan sponsor bertahan apa tidak menghadapi persaingan sponsor dan kekuasaan media. 
Drama kocak Srimulat pada masa jayanya dulu adalah sebuah acara yang bertahan hingga bertahun-tahun, sampai-sampai , katanya sang pelaku kehabisan ide lawakannya. Jadi lamanya kontrak tak berarti acara itu sukses. 
Di samping itu sebuah acara dengan mengarah pemirsa khusus penggemar kini kurang diminati sponsor. Cantohnya seperti acara keroncong, jarang sekali ada perusahaan yang menyeponsori, bila pun ada sponsor minta diadakan siaran langsung dengan mengundang tamu pembesar yang berpengaruh. 
Acara yang terus-menerus dengan isi yang tak berfariasi (itu-itu juga) akan membuat pemirsanya bosan dan kemudian meninggalkannya. Selanjutnya acara yang bersifat kontemporer tetapi disuguhkan terus-menerus juga sulit diharapkan sukses besar. Apalagi penontonnya sadar betul bahwa teman penonton lainnya adalah orang itu-itu juga. 
Lain sebuah acara tv lain pula buku. Buku memiliki keistimewaan tersendiri.
(bersambung en'dho)

Jumat, 04 Oktober 2013

PUISI MENOLAK KORUPSI SUMBANGSIH PENYAIR UNTUK NEGERI

PUISI MENOLAK KORUPSI SUMBANGSIH PENYAIR UNTUK NEGERI

Sebuah pertanyaan kenapa puisinya yang menolak korupsi tidak penyairnya? Jika ini sebuah gerakan para penyair kenapa bukan penyair yang harus di depan? Pertanyaan di atas tidaklah harus disamakan dengan profesi lain. Sebab menurut sejarah, lebih berani tulisannya ketimbang orangnya. Lebih tajam pena-nya ketimbang lidahnya, lebik kritis kalimatnya ketimbang pendapatnya. Oleh karena itu para penyair gunakan produknya sebagai senjata untuk melawan korupsi.
Lebih dari itu sebetulnya produk sastra sangat erat dengan penulisnya. Undang-undang hak cipta begitu memberi kekuatan yang tak terpisahkan antara penulis dan karyanya. Jadi sebetulnya produk sastra tersirat dibelakangnya sosok penulisnya. Jika demikian jelas pesan yang dituangkan dalam karya sastra sebetulnya adalah hasil pemikiran penulisnya.Puisi menolak korupsi ini otomatis penyair yang mencipta puisi itu juga menolak korupsi. 
Dalam diri hati manusia ada sisi baik dan sisi buruk. Siap orang yang waras menginginkan kehidupan yang baik. Sisi buruk yang ada hanyalah pembatas utuk tidak melakukannya. Sisi baik dan buruk slalu seiring pada diri manusia yang memiliki nafsu. Ini tergantung neracanya. Karena itu sisi buruk manusia perlu diisi dengan agama, aturan, pendidikan dan norma hidup. Sehingga sisi buruk itu terbelenggu dan tidak akan keluar dari nafsu manusia. 
Puisi sebagai karya sastra memiliki nilai berbagai macam sentuhan hati. sebab puisi yang diciptakan oleh para penyair terkandung menitipkan pesan-pesan kebaikan yang beraneka. Ahlak, budi pekerti, budaya luhur, norma adat, peraturan, pantangan dan sebagainya terdapat dalam puisi. Hampir tiap puisi yang dibuat terkandung unsur intrinsik pesan-pesan tersebut dan intrinsik inklusif dalam Puisi Menolak Korupsi adalah masalah korupsi. 
Dalam kurun hapir setengah abad perjalanan negeri ini (sejak 1966) perjalanan sastrawan kita hanya membuat karya yang bagus sehingga sulit dibuat angkatan.
Meskipun gelombang reformasi mengganti orde baru, karya satra berikut sastrawannya tidak mengiringi perubahan bangsa ini. Hal demikian dikarenakan reformasi yang sampai sekarang masih berjalan tersendat-sendat. 
Bolehlah pada kritikus sastra atau sastrawan membuat angkatan kesusastraan, dengan alasan yang berbeda-beda, Itu sah-sah saja. Angkatan Reformasi, Angkatan 2000 tak menjadi maslah sejauh referensinya dapat diterima. 
Masalah korupsi bukankah sudah ada sejak negara ini berdiri? Namun sebelumnya hal korupsi belum membudaya seperti sekarang ini. Masalah korupsi hampir terjadi di setiap pelosok negeri. Pelakunya dari pangkat terendah sampai pucuk pimpinan, dari pegawai rendahan sampai mentri, dari pejabat tingkat RT sampai Presiden dan beraneka profesi yang melakukannya. Wabahnya bak penyakit menular yang juga menyerang mantri pembasmi penyakit itu. 
Berangkat dari merajalelanya masalah korupsi yang sudah menasional ini bagaikan sebuah budaya baru yang dilakukan masyarakat, para penyair merasa prihatin melihat kejadian wabah korupsi yang terjadi di mana-mana ini. 
Dunia menyoroti kita sebagai salah satu negeri terkorup. Negara-negara donatur sudah geram melihat tingkah pejabat kita yang korup. Media bingung memberitakan kasus korupsi yang mana yang harus di beritakan pagi hari, karena saking banyaknya kasus korupsi yang masuk di meja redaksi. Alim ulama tak henti-henti menggemborkan utuk menyelamatkan negeri ini. 
Sesekali tokoh muncul anti korupsi hanya untuk meraih suara, sudah itu ia juga termasuk dan melakukan korupsi. Lalu yang berteriak lantang membasmi korupsi kemudian teriakan itu menjadi lagu nostalgia yang membikin orang kantuk. Pendek kata hanya isapan jempol semata.
Disinilah penyair dengan berbagai keberadaannya yang sama sekali tidak ada perhatian dari pemerintah, bahkan boleh jadi pada komunitasnya yang 'terpinggirkan' dan mungkin 'terbuang' ikut memberikan sumbangsih dalam menyelamatkan negeri ini dari acaman bahaya korupsi. Melalui karya Puisi Menolak Korupsi mereka suguhkan untuk khalayak masyarakat Indonesia untuk dapat memberikaa apresiasi terhadap karyanya. Diharapkan melalui karya ini dapat mengajak masyarakat untuk menolak korupsi di manapun tempat. 
Kelihatannya seperti tak ada artinya puisi menolak korupsiatau penyair menolak korupsi. Penagak hukup yang memiliki tanggung jawab pemberantasan korupsi yang ada di Indonesia juga susah menghadapi masalah korupsi ini, apalagi penyair yang tak punya apa-apa. Ditilik dari tindakan mungkin belum ada arti, namun melalui puisi menolak korupsi yang dibaca jutaan manusia Indonesia akan dapat menyentuh hati. Ia tidak saja sebagai penyejuk atau siraman air untuk otak manusia, tatapi telah memberikan wacana mendasar bahwa pemyair Indonesia telah berbuat untuk negerinya , sebagai sumbangsih karya untuk Tanah Air tercinta.
(rg bagus warsono/agus warsono, 4-10-13)

Rabu, 02 Oktober 2013

BUKU LARIS APA JUAL DEDET

Buku laris
Sebuah impian bagi penulis apabila karyanya menjadi buku yang laris atau boleh disebut "best seller". Di bidang penulisan sastra best seller seringnya pada jenis novel dan majalah sastra. Untuk puisi, walaupun ada juga yang sampai best seller namun sangat sedikit pada buku jenis ini. Kecuali jika dihitung penjualannya sampai sekian tahun. Buku puisi karya Chairil Anwar, misalnya, mungkin sudah dicetak ratusanribu eksemplar namun ini tidak dalam kurun sebulan atau setahun, tetap dalam puluhan tahun. Dicetaknya pun karena pengadaan buku perpustakaan sekolah. Hanya kalangan tertentu di masyarakat berkeinginan untuk memilikinya. Begitu juga buku-buku puisi Rendra, sama seperti halnya Chairil. Namun buku Kamus Bahasa Indonesia Poerwadarminta, pada masanya, memang banyak dicari oleh berbagai kalangan dan lapisan masyarakat. Sedangkan buku pelajaran dan yang sejenisnya yang digunakan sebagai buku paket pelajaran, meski dicetak jutaan eksemplar belumlah dikatakan best seller.
Kebahagiaan seorang penulis adalah apabila karyanya dibaca orang lain. Dari membaca itu pesan penulis melalui isi buku akan tersampaikan. Buku menjadi alat transfer pesan penulis pada pembacanya.
Untuk meyakinkan apakah buku itu dibaca orang, laku atau tidak, seorang penulis datang ke toko buku dimana ada terdapat buku ciptaannya dijual di toko itu sambil melihat buku-buku baru lainnya. Dan seorang penulis akan merasa bahagia ketika karyanya akhirnya diminati orang.
Sebuah perumpamaan lain, ketika seorang dosen menjual buku diktat hasil karyanya sebagai bahan diskusi kepada mahasiswanya, dan hampir semua mahasiswa ikut membelinya, apakah ini disebut laris? Lebih parah lagi ketika seorang guru sastra menyuruh siswanya menulis puisi, kemudian puisi-puisi itu dicetak menjadi buku kumpulan puisi dan setelah menjadi buku siswanya suruh membelinya dengan alasan ganti ongkos cetak, ini juga termasuk "laris" bukan?

Seniman Bunglon,

Seniman Bunglon,
Di saat Bunglon merasa terancam , Ia akan mengubah warna kulitnya menjadi serupa dengan warna lingkungan sekitarnya, sehingga keberadaannya tersamarkan. Fungsi penyamaran demikian disebut mimikri. Hal ini berbeda dengan "kamuflase", yakni penyamaran bentuk atau warna hewan yang menyerupai makhluk hidup lain. Ini keistimewaan hewan bunglon. Sekarang ini ada kisah seniman bunglon. Seniman ini kayanya multi talenta juga. Pendek kata apa pun dia bisa. Dan di setiap event slalu ingin tampil utama. 
Musim orang buat puisi, dia bisa, dan menyamakan kedudukannya jadi penyair, dan ternyata bisa puisinya diterima di komunitas para penyair dengan mudahnya. Lalu ketika orang menulis sejarah daerahnya, dia pun ikutan kumpul-kumpul. Ketika lagi ramai pameran lukisan bersama, dia pun ikut juga melukis dan nibrung seolah pelukis terkenal. Ketika ada kumpul kumpul membuat film dokumenter, dia pun ikutan juga bak artis peran. Pokoknya semua bisa. 
Suatu ketika sang seniman bunglon mendapat undangan seminar dari empat kegiatan seni/budaya yang berbeda jenis.Kebetulan harinya hampir bersamaan. Dia ingin datang di pertemuan itu. Apakah bunglon harus merubah empat warna? Akhirnya Seniman Bunglon itu memutuskan menghadiri keempat kegiatan itu. Alangkah sibuknya modar-mandir.
Begitu tiba di tempat seminar sastra, dia diminta mengutarakan pendapat dari permasalahan yang tidak diikutinya dari awal. lalu dia berdiri dengan lagak kuminter sambil menenteng bahan-bahan referensi, menceritakan yang bukan lagi dibahas. Dia bercerita tentang situs petilasan (kuburan), tentang makam yang tidak terurus, tentang cerita mistik dsb. Peserta seminar langsung menoleh ke arahnya dan moderator memberhentikan ocehannya. Moderator mengalihkan pada peserta lainnya.
Seniman bunglon akhirnya merasa malu, tampa pikir panjang ia pelan-pelan keluar tanpa permisi dari ruangan. Lalu kata seorang panitia, " Pak , kamar kecil disana," sambil menunjuk arah kamar kecil. Namun seniman bunglon itu seakan berlari keluar gedung. Dan seorang teman panitia menimpali, " mungkin ia sudah kebelet", sambil tertawa-terbahak-bahak.

Banyak cara golek rezeki.

Banyak cara golek rezeki.
Dunia ini penuh rezeki demikian bila Allah masih memberi hudup , maka pasti bisa makan. Buktinya banyak penyair yang tetap sehat dan hidup meski tidak ada penghasilan sama sekali. Inilah kebesaran Allah itu.
Rezeki tidak semata-mata akan turun dengan sendirinya (walau ada juga yang tiba-tiba datang) tetapi untuk meyakinkan kita harus bisa makan adalah berusaha. 
Ada banyak penghasilan sambilan yang dapat diraih oleh para penyair/sastrawan diluar menjual karyanya. Syaratnya tidak malu, tidak berat tangan, tidak sombong bahwa saya ini sastrawan besar kedudukannya tinggi, dan tidak menolak rezeki kecil. 
Beberapa yang mungkin bisa ditawarkan pada masyarakat yakni:
Manfaatkan latop atau computer kita untuk jasa pengetikan
Manfaatkan jika lagi tak ada inspirasi untuk jasa pembuatan proposal atau pidato atau sambutan atau lainnya.
Manfaatkan tempat kita untuk kegiatan sanggar belajar sastra.
Manfaatkan diri kita bila disambat jadi pembawa acara, melamarkan tetangga ke bakal mantu, atau memberi sambutan di berbagai acara keluarga dsb.
Sampaikan ke lembaga pendidikan bila membutuhkan jasa pelatihan baca atau cipta puisi atau berkesenian lain.
Sampaikan ke lembaga pendidikan taman kanak-kanak/paud bilamana mereka memasukan hal mendongeng dalam kurikulum sekolahnya.
Sampaikan pada kantor yang menangani kebudayaan bila membutuhkan tenaga berkaitan dengan budaya dan sejarah serta sastra.
Cetak buku kita dan dicopi lalu tawarkan pada lembaga pendidikan sebagai bahan ajar latihan baca puisi atau cerpen.
Tawarkan kepada pembawa acara profesional bilamana dibutuhkan ada sisen baca puisi dan sebagainya.
Tawarkan kepada kepala sekolah bilamana membutuhkan teknik pengajaran baca puisi atau menulis pada guru-guru sebagai bentuk pelatihah intern sekolah (ini banyak dananya dan dianggarkan lho.)
Yang jelas tadi itu modalnya, tidak ada kata malu.

Musuh kedua penyair

Musuh kedua penyair 
Musuh pertama penyair biasanya adalah penguasa ketika karyanya menyinggung mereka. Kritik, melalui sastra di zaman orla/orba disangkanya melawan. Jadilah sastrawan dianggap musuh pemerintah. 
Dan siapa musuh kedua? 
Musuh kedua adalah teman kita seprofesi. Guru bersaingnya dengan guru lagi, polisi bersaingnya dengan polisi lagi, tentara ya dengan tentara lagi, karyawan sepabrik bersaingnya dengan temannya sendiri. Mengapa? Jawabnya karena tahu "rahasia perusahaan" walau tidak mendetail hanya secara umum saja. 
Ketika teman seprofesi guru (misalnya) membeli mobil baru, maka kita yg juga guru (misalnya) merasa panas ati. Panas ati lalu menimbulkan iri, iri menimbulkan syirik, syirik menimbulkan fitnah, dan kurang puas , melakukan kejahatan untuk menjatuhkan.
Adanya hacker yang merusak, nama samaran, dsb itu berasal dari yang iri itu.
Jadi musuh kedua penyair boleh jadi dari teman kita juga (biasanya). Mereka terkadang kurang puas dengan prestasinya sendiri. kurang bersyukur. Suatu ketika teman kita dikontrak jutaan rupiah oleh penerbit, tetap saja iri dengan yang mendapat honor limapuluhribu rupiah hasil menjadi juri lomba baca puisi.
Nah jadi bukannya menuduh, hanya ini kebiasaan budaya hidup di dunia.
Yang paling bagus adalah enjoy saja, biar saja mereka tak suka kita yang penting kita tidak menyakiti mereka. Dan hidup akan menjadi indah.

Semua saudara kita

Semua saudara kita, 
Tidak ada ketentuan profesi sastrawan itu harus kelihatan perlente atau berambut gondrong bagi yang laki-laki atau berkesan urakan atau ciri yang lainnya. 
Semua itu hanya penampilan . Cak Nun yang kiyai saja tampil baca puisi apa adanya, sebaliknya ada penyair yang mau tampil di pentas terkesan menyepelekan penonton, berbaju asala-asalan , rambutnya tidak disisir dan mungkin juga belum mandi. Chairil dan Asrul sani adalah penyair yang perlente ketika mudanya dan berkesan biasa ketika dihari tuanya yang slalu hidup kekurangan. Sebagaimana di zamannya, pemuda pergerakan doeloe, pemuda intelek kerap berbaju perlente berlengan panjang dengan kelihatan bekas setrika, sepatu disemir mengkilap, berdasi, dan rambut disisir rapi dengan potongan tempo doeloe. 
Sastrawan yang juga kalangan akademika memang tampak terlihat terpelajar karena memang harus tampil sopan di depan mahasiswanya, namun sastrawan lain yang juga memiliki profesi serabutan, tak sempat memikirkan segi penampilan. Yang berrambut gondrong karena memang kesukaannya, ciri penampilannya. 
Dibalik itu semua, kita tidak boleh memandang bahwa penampilan adah kepribadian.
Ternyata banyak orang yang berpenampilan biasa bahkan terkesan gembel tetapi memiliki kepribadian yang sangat baik, sebaliknya yang terlihat perlente belum tentu pemiliki kepribadian baik. Seorang pemimpin yang terlihat berpenampilan mempesona tetapi kelakuannya buruk, raja tega, buas, rakus uang, dan biasa korupsi.
Yang jelas jika kita mengaku sastrawan mereka yang sastrawan adalah saudara kita, siapa lagi yang akan mengangkat nama baik dan membela kalau bukan seprofesi.