Laman

Rabu, 24 Juli 2013

SEJARAH KABUPATEN KOTA BANYAK YANG KELIRU, SAATNYA PENULIS DAERAH MELURUSKANNYA

oleh : Rg (Ronggo) Bagus Warsono/Agus Warsono/Masagus
Suka-suka penguasa, demikian untuk menulis sejarah kota/kabupaten di Indonesia. Demikian banyak sejarah hari jadi, asal usul atau sejarah kota/kabupaten dibuat dengan selera penguasa pada saat membuat buku itu. Pasalnya bila dibaca oleh yang memahami sejarah , sejarah kota/kab di Indonesia seperti cerita fiksi atau carang. Padahal bila diteliti banyak keganjilan dan bahkan kekeliruan yang mencolok. Oleh karena itu apa salahnya jika para penulis/intelektual  di daerah berbuat meluruskan. Sehingga anak cucu dan juga kalangan akademik tidak dibohonggi.
Dewasa ini kabupaten kota berlomba menjadi daerah tujuan wisata. Mereka mencoba mengetengahkan keunikan dan juga sejarah yang menarik untuk mengundang minat datang di kota/kabupaten itu. Namun betapa sangat menyesal membaca sejarah sebuah kota manakala terdapat keganjikan tahun kejadian, nama pelaku sejarah, onjek sejarah, sampai bukti prasasti sejarah.
Boleh jadi ini dikarenakan pembuat sejarah itu belum memahami teknik referensi yang dipertanggung-jawabkan atau kemungkinan lain sengaja untuk kepentingan penguasa. Akhirmya sejarah dibuat asal-asalan dan sangat tidak nyambung dengan bukti-bukti lain yang sebetulnya menjadi rujukan atau pembanding.
Belum lagi hal mengenai alur sebuah cerita, dibuat suapa berkesan bagus dan mulus. Padahan proses sejarah bukan mustahil terdapat hal yang oleh kaca mata masyarakat sekarang dikatakan merupakan hal yang buruk melintas di perjalanan sejarah kota/kabupaten kita.
Sudah saatnya para penulis kita membuktikan kebenaran sejarah dengan bukti-bukti ilmiah yang dipertanggungjawabkan secara akademik dan didukung dokumen atau prasasti yang ada. Namun ini bukan berarti mudah untuk membetulkannya, tetapi akan berpenturan dengan budaya di daerah itu. Bukan mustahil dari menunjukan kebenaran itu akan dilawan dengan kekuasaan adan masayarakat yang sudah terbius dengan cerita palsu itu.
Dari upaya melakukan pembenaran itu bisa mungkin akan menemukan perubahan dan tatanan budaya masyarakat. Nama tokoh bisa berubah, tempat, bahkan tanggal kelahiran akan berubah, Dan ini bukan berarti akan mulus, karena tentu akan mendapat reaksi dari kebiasaan yang bersumber dari sejarah yang keliru itu.
Namun jangan merasa ragu untukberbuat meluruskan. Bila memng perlu diluruskan, maka luruskanlah sejarah kabupaten kota Anda itu dan gelar ilmiahnya di forum akademik.

Selasa, 09 Juli 2013

SASTRAWAN DAERAH MERUPAKAN ASET BUDAYA BANGSA

Budaya daerah dengan bahasa daerah di Tanah Air  adalah kekayaan bagi sastrawan Indonesia. Ia adalah sumber inspirasi bagi sastrawan daerah yang mau menggeluti budaya, bahasa dan sastra daerahnya. Era 2000-an adalah saatnya sastra kita mengetengahkan unsur budaya sekaligus bahasa sastra daerah di mana sastrawan itu mau menggali budaya daerahnya.
Keanekaragaman budaya Tanah Air dengan ratusan dielek bahasa merupakan kekayaan dan sumber bahan penulisan sastrawan daerah. Mengapa tidak, bukankan sastra daerah juga adalah sumber tulisan sekaligus sumber rezeki bagi sastrawan daerah.
Otonomi daerah dengan masing-masing kota/kabupaten menghendaki ciri dan keunikannya untuk berusaha mempopulairkan daerahnya serta nilai pariwisata daerah mememerlukan peran sastrawan untuk turut membantu kearah itu. Bererapa hal yang biasa diangkat dalam bentuk tulisan adalah budaya daerah, termasuk sastra dan bahasa daerah. Namun perlu juga diangkat berbagai badaya yang hampir punah atau pun yang telah lama ditinggalkan untuk diangkat kembali.
Banyak sudah yang telah dilakukan oleh sastrawan kita di berbagai daerah untuk mengangkat daerahnya masing-masing, meski kadang berbenturan dengan daerah tetangganya. Namun demikian tak menjadi persoalan dalam hal dunia tulis-menulis ini. Bila memang ada unsur kesamaan maka publik akan mencari kebenaran secara ilmiah.
Sebagai contoh di Jawa Tengah saja terdapat berbagai dialek bahasa dan mungkin mereka (di masing-masing kabupaten kota) mempertahankan pendapatnya sendiri-sendiri. Di Tegal umpamanya, ada bahasa dan budaya  Tegalan, Lalu di Banyumas ada Banyumasan, lalu bagaimana dengan kabupaten tetangganya? seperti Brebes dan Pemalang yang berdekatan dengan Tegal, atau Purbalingga, Cilacap dan Banjarnegara yang bertetangga dengan Banyumas? Bukan kah dikota/kabupaten ini juga ingin menunjukan ke-khas-an budayanya.
Lalu di daerah Magetan dan Pacitan, budayanya pun akan lain dengan di Malang atau Surabaya atau di Pasuruan dan Banyuwangi. Setiap daerah berusaha memiliki ciri dan ke-khas-an yang berbeda.
Adalah tugas sastrawan kita untuk mengetengahkan dan mempublikasikan khasanah budaya bangsa itu dan tentu saja mengembangkan sastra daerah.
Jika mahasiswa dari luar negeri melakukan penelitian budaya di suatu tempat di negara kita, bahkan mungkin bukan hanya mahasiswa tetapi peneliti dan didanai mahal oleh negaranya, mengapa kita keduluan langkah.
Padahal sastra daerah kini merupakan bahan bacaan yang menarik untuk minat baca dewasa ini.
Disinilah peran sastrawan daerah untuk dapat melakukan pelestarian budaya dan berusaha mengembangkannya menjadikan khasanah budaya bangsa semakin luas dan memiliki corak dan ragamnya masing-masing. Sastrawan berati telah berbuat penyelamatan aset budaya bangsa. Dan sastrawan yang di setiap daerah ada, perlu mendapat apresiasi dari pemerintah daerah karena juga merupakan aset sumber daya  pengembangan budaya bangsa.
(masagus/rg bagus warsono/agus warsono, juli 2013)