Laman

Senin, 13 Desember 2021

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(63)

 Jejak: Antisipasi Kebekuan Kehidupan Sastra , Diro Aritonang, Pikiran Rakyat 24 maret 1992; Melayu Puisi Penyair Melayu, LK Ara, Pelita 22 Maret 1992; Inspirasi Seniman, Pesu Aftarudin, Pikiran rakyat 27 September 1992; Mengenal Tuhan Lewat sajak Popy Hutagalung, LP Murdiantoyo, Harian Terbit 25 Oktober 1992; Wayang Dalam Puisi Indonesia Modern, Agus Sri Danardana, Harian Terbit 30 Agustus 1992; Episode Pujangga Baru, Puji Santosa, Harian Terbit 30 Agustus 1992; Masalah Angkatan dan Periodesasi Sejarah sastra Indonesia, Retno Nurbuatingsih, Harian Terbit 25 Oktober 1992; Pesona Sebuah Cerpen , Wil, Bansung Pos 27 Oktober 1992; Drama Ken Arok-nya Saini KM Bakal Habiskan Biaya 14 Juta, uei, Bandung Pos 27 Oktober 1992; Novel Konvensional Gaya Baru, Maman S Mahayana, Surabaya Post Minggu III Juli 1992.(rg bagus warsono/Jejak)

Kata "adiluhung" juga memiliki makna hanya satu orang yang lain tidak.

 Sebagai orang yg berasal dari Jawa, memahami arti kata "adiluhung" adalah sesuatu yg bermutu dan bernilai, tetapi kata ini memiliki makna lain dalam keseharian di Jawa yaitu menganggap hanya seorang saja yang memiliki nilai bermutu itu,  dan orang lain tidak. Adi luhung secara otomatis menganggap semua masih dibawahnya.

Jadi penggunaan kata "adiluhung" juga memiliki makna hanya satu orang yang lain tidak.

Contoh: Para pahlawan nasional tidak disebut sebagai adi luhung padahal besar jasanya terhadap negeri. Ki Hajar Dewantara tidak menggunakan kata "diluhung" untuk menyebut RA Kartini. Juga RA Kartini rela memberikan beasiswanya kepada H Agus Salim demi untuk tidak dikatakan adiluhung. Juga Sultan Hadiwijaya (Mas Karebet) tidak mau dikatakan adiluhung dalam ilmu perang yang tak terkalahkan bahkan ketika mengalahkan Aryo Penangsang yang sakti. Kemudian Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamangkubuwono IX tak ada yang menyebutnya adiluhung. Bagi orang jawa, memiliki perasaan tidak menyombongkan menyebut adiluhung atau menyebut orang lain adiluhung karena orang dengan keadaannya itu undak undakan.(rg bagus warsono)

Minggu, 12 Desember 2021

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(62)

 Jejak: Hoerijah Adam, Sebuah Magma, bud/ai/isna, Pelita 29 desember 1991; Temu Penyair Bandung Hadirkan Beni dan Syamsul, Pikiran Rakyat 20 September 1992; Sastrawan Sebagai Guru Kemanusiaan, Z Arifin Thoha, Pelita 26 April 1992; Pemain Tunggal di Jalan Tak Ada Ujung, Julius Pour, Kompas 7 Maret 1992; Kado Istimewa Kompas, Korrie Layun Rampan, Harian Terbit 23 Agustus 1992; Thaha Husain, Sastrawan dan Pembaru, Idris Thaha, Pelita 23 Februari 1992; Pahlawan Pembauran Tanpa Tanda Jasa, Helmi Y Haska Helmi Haska, Pelita 15 Maret 1992 ; Gejala Meluasnya Pengaruh Kebudayaan Massa, Saini KM, Pikiran Rakyat 28 Juni 1992; Rosihan Anwar 70 Tahu  Wartawan Aneka Citra, Julius Pour, Kompas 11 Mei 1992; Nilai Cinta Seorang Wanita (Surat sastra Untuk Rita, Piek Ardijanto Suprijadi , Mutiara Minggu V Juni 1992. S. Takdir Alisjahbana Sebagai sastrawan, Korrie Layun Rampan, Harian Terbit 12 April 1992. (rg bagus warsono/Jejak)

Sabtu, 11 Desember 2021

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(61)

 Jejak: Kesusastraan "Pasemon", GOenawan Muhamad, Kompas 25 Mei 1992 ; Puisi Refleksi Nou Menon, Korrie Layun Rampan, Simponi 15 April 1992; Jika Romo dan haji Memberi Selamat, H Rosihan Anwar, Kompas 5 Juli 1982, Seni Memang Tak Bisa Dipasung, Sumatno, Harian Terbit 28 Juni 1992; Mengenang B Soelarto Domba Revolusi Sastra Indonesia, Nirwan Dewanto, Kompas 9 Juni 1991; Kapitalis Manis dan Kesenian Kita, Hardi, Kompas 5 Juli 1992; Karya Sastra Sebagai Alternatif, Dhanu Priyo Prabowo, Pelita 15 Desemnber 1991; Menikmati orang kecil dalam Pengucapan Sastra Ahmad Tohari, Sumarni, Harian Terbit 28 Juni 1992; Wajah sastra Mutakhir, Agus Sardjono, Pikiran rakyat 20 September 1992; Penyair Penyaji Dunia Rakyat, Korrie Layun Rampan, Pikiran rakyat 20 September 1992; Sebuah Satire Politik dalam sastra, Handoko SR, Simponi 13 Mei 1992; Aktor Wanita Budaya Sastra, Jiwa Atmaja, Kompas 26 April 1992. (rg bagus warsono/ Jejak)

Jumat, 10 Desember 2021

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(60)

 Jejak: Wanita "Speaker" Terbelah Dalam sastra, Afrizal Malna, Kompas 22 Desember 1994; Gumarang Sakti . dari Silat ke Sastra, Ahmad Gazali/Budi Winarno, Pelita 2 Februari 1992; Teriakan Spiritualisme di Akhir Zaman, Syair Rabiah Al-Adawiyah, Redaksi, Pelita 16 Februari 1992; Hemingway Menggugat Makna Hidup; prapti, Suara Karya Minggu I Agustus 1991; Beberapa Puisi Syu'bah Asa, Piek Ardijanto Soeprijadi, harian Terbit 8 Desember 1991; Burung-Burung rantau dan Penghargaan Arsitektur IAI, pom/wis/jup/mh, Kompas 28 Januari 1992; Peran Perempuan Dalam sastra Indonesia dan Jerman , Wawan Kuswandi, Minggu Merdeka 1 Desember 1991; biarkan Cerpen Bercerita Sendiri, Wil, Bandung pos 29 September 1992; Pengadilan sastra di Semarang, Tavifrudi Y, Pelita Minggu 29 Desember 1991; Kembar Lelaki dan Perempuan dan Keberuntungan Perempuan,Umar Yunus,  Kompas 31 Mei 1992. (rg bagus warsono/Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(59)

 Jejak: Mengenang Toha Mohtar, Aku Telah Pulang Ayah, efix.tjo, Kompas 22 Mei 1992; Rekontruksi Strategis Seni Budaya Umat Islam (sapaan Dari jalan Sunyi), Emha Ainun Nazib, Kompas 22 Desember 1991; Teknik Menyususn Sebuah Cerita, Yacob Sumardjo, Pikiran Rakyat 26 April 1992; Kehidupan sastra Indonesia Sedang Sekarat, Soni Farid maulana, Pikiran Rakyat 25 Mei 1992; Peran Guru dalam Pengajaran sastra , Puji Santosa, Pelita 31 Mei 1992; Sitor Situmorang Merekam keindahan Lingkungan, LP Murdiantoyo, Harian Terbit 8 Desember 1991; In Memorial Toha Mohtar Telah Berpulang Si Novelis Pulang, Pelita 31 Mei 1992; Makna Anggur dalam Puisi Sufi, Lisfia Asri, Pelita 16 Februari 1992; Ulang Tahun Taman Ismail Marzuki ke-24, Edi Purnawady, Pikiran Rakyat 25 Oktober 1992; Mistisme dalam Sastra Amerika Melawan Pemiskinan Spiritual, Seno Gumbira Ajidarma,  Kompas 14 Mei 1992, Kritik Seni dalam Konteks Filsafat Sosial, Nor Pud Binarto T. Pikiran Rakyat 18 Juni 1992. (rg bagus warsono/ Jejak)

Rabu, 08 Desember 2021

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(58)

 Jejak: Sastra Almanak dalam sastra Indonesia dan jawa, Suripan Sadi Utomo, Berita Buana 18 Maret 1986'; Sastra Tak Perlu embel-embel, Dami N Toda, Berita Buana 23 maret 1985; Kultur sastra Indonesia, Jakob Sumardjo, Berita Buana 23 Maret 1985; Tantangan Seni Modern, Abdul Hadi WM, Berita Buana 5 Juni 1984; Perlunya Kesinambungan. Abdul Hadi WM, Berita Buana 28 Januari 1986; danarto dan Ionesso, Abdul hadi WM, Berita Buana 18 September 1984; Hikmah Dari Timur, Abdul Hadi WM, Berita Buana 9 Juli 1985; Berita Dari Timur Sebuah sajak RM Ng. Yasadipura, Abdul Hadi WM, Berita Buana 5 Maret 1985; Apresiasi Seni Para Seniman, Abdul Hadi WM, 10 Juli 1984. (rg bagus warsono/Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(57)

 Jejak: Seni Timut dan Spiritualisme, Abdul Hadi WM, Berita Buana 21 Agustus 1984; Masalah Dewasa, Iskandar Siahaan, Berita Buana 12 Juli 1986; Lewat barat Kembali Ke Timur Al Hallaj, Goethe, Chairil Anwar. Abdul Hadi WM, Berita Buana 28 Agustus 1984; Angkatan Sebenarnya adalah Angkatan Pujangga Baru, Abdul Hadi WM, Berita Buana 31 Juli 1984; Malam Budaya Tebing Tinggi, Damiri Mahmud, Berita Buana 23 Juli 1985; Memberontaklah dalam sastra Anda Akan Mengorbit, Subiantoro Atmo, Berita Buana 23 Juli 1985; Keluhan Seniman Muda , Abdul Hadi WM, Berita Buana 20 Nofember 1984; Puisi Dari mana-mana, Abdul hadi WM, Berita Buana 4 September 1984; Karya bsastra Yang Diterjemahkan Pengarang Wanita Jauh Lebih Unggul , Ant/Sp, Pelita 30 Mei 1984; Oh , Novelis Indonesia Abdul Hadi WM, Berita Buana 11 September 1984; Sisi Lain Polemik Kebudayaan, Armijn Pane VS Amir hamzah, Abdul Hadi WM, Berita Buana 18 Maret 1986. (Rg Bagus Warsono/Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(56)

 Jejak: Membaca "Nenek Moyangku Air mata" D Zawawi Imron: Sajak-sajak Yang Lancar Mengalir, Redaksi Berita Buana 12 Agustus 1996; Ikan Paus dan Demonstran Pakistan, Sutardji Calzoum Bachri, Berita Buana 21 Maret 1989; Hallo Para Pemred, Ikranegara; Berita Buana 15 Juli 1986; Minat Baca Meningkat Tetapi Sarananya Payah, Man Suparman, Berita Buana 15 Juli 1986; Suasana yang Hilang Dalam Pentas Slamet Sukirnanto, Yon Ag, Berita Buana 11 April 1989; Konsep Tengah Al-Ghazali Bagi sastra Sufistik, Jamal D. Rahman II, Berita Buana 11 April 1989; Kebebasan Bersastra Dalam Konsepsi Islami, Pracoyo, Pelita 1 maret 1989; Ronggowarsito, Sastra Profetik Dan Seni Religius, DBB/H , Berita Buana 10 Februari 1987; Kelompok Wirabrajan dan Surat-surat Iwan , Redaksi, Pelita 19 September 1986; Sapardi dan Anugerah Puisi Putra 83, Sutardji Calzoum Bachri, Pelita 13 Agustus 1986; Catatan Atas Sebuah Fledoi, Enthieh Mudakir, Pelita 4 Agustus 1985; Alam Pedesaan di Mata Penyair, Dasril Ahmad, Pikiran Rakyat 9 Aguistus 1983; Simbolisme Kontradiktif . BY Tand, Pikiran Rakyat 8 Agustus 1983, Penyair Butuh Dileme Obsesi dan Vitalitas, Diro Aritonang, Pikiran Rakyat 9 Agustus 1983. (rg bagus warsono/Jejak)


Senin, 06 Desember 2021

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(55)

 Jejak : Chairil Anwar:Ruang Hunian Sang Maut, Idk Raka Kusuma, Berita Buana 4 Juli 1989; Claude Simon, Pemenang Hadih Nobel Kesusastraan 1985, Hasan Junus, Suara Karya 15 Nofember 1985; Obsesi Litererial Dekade 80-an Jamal D Jamal D. Rahman II, Berita Buana 11 Juli 1989; Kutub-kutub Sastra Sufi (bagian ketiga selesai), Ali Audah, Berita Buana 18 Februari 1986; Tempat-tempat Penyimpanan hadiah Pejabat, Ant, Merdeka 3 Mei 1984; Konsistensi Tema, Iwan Nurdaya Djafar, Berita Buana 4 Juli 1989; Mempoesikan Poesi, Wiratmo Soekito, Suara karya 14 Desember 1984; Sumbangsih Penting Bagi Para Peneliti, Jakob Sumardjo, Pikiran Rakyat 24 januari 1989; Sastra dan Luar sastra, Damiri Mahmud, Berita Buana 29 Mei 1984; Penyair Bukan Abdi, Idk Raka Kusuma, Berita Buana 28 Maret 1989. (rg bagus warsono/Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(54)

 Jejak: Karya Sastra Pantulan Dua Keadaan, Yohanes Sehandi, Suara Karya 29 Juli 1984, Salaman Rushdie Identi dengan Dajjal? Moh.hari Suwarno, Pelita 1 Maret 1989; Tujuan Pendidikan Menurut S Radhakrishnan, Iwan Nurdaya Djafar, Berita Buana 4 April 1989; Hikmah dari Timur, Abdul Hadi WM, Berita Buana 4 Juni 1984.; Pengajaran Sastra Tradisi di Sekolah, Abdul Hadi WM, Berita Buana 29 Mei 1984; Hari Sastra Sementara,  Nanang R Supriyatin, Berita Buana 11 April 1989; Tentang Cermin (bag. kesua selesai) , Wahyu Wibowo; Berita Buana 8 Juli 1986; Voltaire dan Revolusi Prancis.  Jamal D. Rahman II, Berita Buana 29 Agustus 1989; Bukan Pekerja Seni, Wiratmo Soekito, Suara Karya 21 September 1984; Emha, Iwan Nurdaya Dhafar, Berita Buana 29 Agustus 1989; Tentang Sepercik Warna Kepengarangan, Herry Lamong, Suara Karya 25 Agustus 1985; Seni Tradisi Masa Kini (bagian Kedua) , Endo Suanda, Berita Buana 18 Juli 1985; Para Pengikut dan Pecinta Tradisi, Tarman Effendi Tarsyad; (rg bagus warsono/Jejak)

Minggu, 05 Desember 2021

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(53)

 Jejak: Catatan dari Tokyo, Abdul Hadi WM, Pusaran no 17 1996; Daya Gugah Kreativitas Sastra, I Gusti Putu Antara, Buletin Puisi No,20 1987; Menggugah Masyarakat Atau Menggugah Sastrawan, Djodi Wuryantoro, Buletin Puisi no. 20 1987; Octavio Paz, Calon Pemenang Hadiah Nobel dan Sajak-sajaknya, Abdul Hadi WM, Pusaran no,20 1987; Sekilas Karya Sastra Indonesia di Ibukota Autralia Barat, Nurachman Hanafi, Pusaran No.20 1987;Penyair Dante, Penyair Hugo, Valina Muchtar, Gadis, 19981; Cipta dan Kejujuran, Putu Arya Tirtawirya, Sayap No, 2 1987; Antara Target dan Inspiransi, Redi Panuju, Sayap Np. 2 1987; Karya Sastra Yang Utuh Yang Bagaimana, Mohammad Kanzunnudin . Dharma 12 Agustus 1984; Mengenal Puisi Imajis, Gunoto Saparie, Sayap No. 11 1987; SEkitar Proses Kreatif Sastrawan, L Bambang Suryanto, Sayap Np. 12 1987; Sastra Kitsch Populer Picisan, Putu Arya Tirtawirya, Forum sastra No. 9 1987; Mengapa Kerja Mensastra Belum Menjadi Profesi, Redi Panuju, Forum Sastra No, 9 1987; Kesusastraan Sebagai Layar Proyeksi, Fuad Hassan, Forum Sastra No, 9 1987, (rg bagus warsono/Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(52)

 Jejak: Peristiwa Penyempitan atau Eksklusifisme, Saini KM, Pikiran Rakyat, 29 Agustus 1989; Sederas Arus Waktu, HB Jassin, Pelita 13 Agustus 1986; Kegandrungan Melimpah Pada sajak, Sutardji Calzoum Bachri, Pelita 23 Juli 1986; Ketakpuasan Dalam Sastra, Abdul Hadi WM, Berita Buana 18 Juli 1985; Olih-olih dari Solo&Yogya, Abdul Hadi WM, Berita Buana 4 Nofember 1984; Pengakuan Wahyu Wijaya, Idk Raka Kusuma , Berita Buana 27 Juni 1989; Akademi Jakarta dan Dewan Kesenian Jakarta Dihadapkan Dua Kenyataan Baru, Ikranegara, Berita Buana 8 Oktober 1985; Oh Kebudayaan, Abdul hadi WM, Berita Buana 27 Agustus 1985; Antara Kreativitas Teater dan Intelektualitas Teater, Waluyo Budi, Berita Buana 27 Juni 1989, Hikmah Dari Timur: Tagore Tentang Seniman, Berita Buana 26 Februari 1985. (rg bagus warsono/Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(51)

 Jejak: Sastra Drama dan Teater, Saini KM, Pikiran Rakyat 20 Juli 1983, Prestasi Insaniah Versus Prestasi Rasional, Adhy Ryadi, Berita Buana 13 Nofember 1984; Binatang Jalang, En Yakob Ereste, Eksponen 1-9 Agustus 1986; Karya Yang Diilhami Oleh Karya Lain, Abdul Dadi WM, Berita Buana 18 Februari 1986; Sang Penyair Nusantara Dalam Bahasa Sederhana, Naim E Prahana, Eksponen, 3-9 Agustus 1986; Keterpencilan Sastra, Sutardji Calzoum Bachri, Berita Buana 25 Pebruari 1987; Memanfaatkan Kritik sastra Dalam Pengajaran sastra, Agus Sri Danardana, Pelita 1 Maret 1989; Seniman dan Birokrasi, Shafwan Hadi Umry, Berita Buana 9 September 1986; Kampus Angkasa Luar Itu, Iwan Nurdaya-Djafar, Berita Buana 11 April 1989; Bakat dan Tradisi,  Abdul Hadi WM, Berita Buana 4 Nofember 1986; Penyair Muda daerah yang Baik, Siapakah Dia? Wahyu Prasetya, Pelita 23 Juli 1986; Seni Para Petani, Abdul Hadi WM, Berita Buana 2 September 1986; Menyambut Pertemuan Sastrawan Nusantara V, Sutardji Calzoum Bachri, Pelita 19 Nofember 1986. Mengenang Kariapur, Sutardji Calzoum Bachri, Pelita 4 Maret 1987; Kalil Gibran Suara Penyair, terjemahan Muhammad Ridlo Eisy-Danke Drajat, Pikiran Rakyat22 Juli 1986. (rg bagus warsono/Jejak)

Sabtu, 04 Desember 2021

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(50)

 Jejak: Bukan Diam Tanpa Gejolak, Damiri Mahmud Mahmud, Berita Buana 3 Juli 1984; Suara Keheningan , Seuntai Puisi Kalil Gibran, Gigih Mulyono Rusdi, Bonus Majalah Sarinah no 79; Sastra dan Kaum Intelektual Kita, Abdul Hadi WM, Berita Buana 4 Maret 1984; Bertemu Penyair Korea di Apotik, Motinggo Busye, Berita Buana 7 Oktober 1986; Kepada Damiri Mahmud Peristiwa Sastra dalam Kepala Kita, Afrizal Malna, Berita Buana 31 Juli 1984; Apakah Sastra Indonesia Itu, Abdul Hadi WM, Berita Buana 28 Agustus 1984; Sastrawan Heroik, Pahlawan Intelek atau Obral Nilai, Ragil Suwarna, Berita Buana 7 Oktober 1986; Prinsip Intertekstualitas dalam sajak, Shafwan Hadi Umry, Berita Buana 24 September 1985; Kritik Teater Bikin Seniman Inferior, Redaksi, Eksponen 22 Nofember 1986; Studi Sastra Dalam Krisis, Abdul Hadi WM, Berita Buana 27 Nofember 1984; Kemiskinan Informasi dapat Menyesatkan, Harry Rusli, Pikiran Rakyat 18 Januari 1983; Sajak Referensif Pamer atau gagah-gagahan? CA, Eka Budianta, Berita Buana 18 Juni 1985. (rg bagus warsono/jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(49)

 Jejak: Kata-katadan Kebangkitan Jiwa, Achmad Rich, Berita Buana 1986; Pendidikan Kesenian di Indinesia,  Shafwan Hadi Umry, Berita Buana 19 Maret 1984; Octavio Paz: Puisi dan Sejarah, Abdul Hadi WM, Berita Buana 19 Februari 1985; Tiga Pertemuan Budaya, Abdul Hadi WM, Berita Buana 7 Oktober 1986; Sebuah Pertimbangan, Edwar Djamaris, Berita Buana 21 Agustus 1984; Pesan Chairil Anwar Pada Generasi Muda, Abdul Hadi WM, Berita Buana 24 Agustus 1984; Mencari Upaya Pendekatan Simultan, N Syamsuddin Ch. Haesy, Suara Karya 3 Agustus 1984; Ode Buat Penyair , Achmad Rich, Berita Buana 12 Agustus 1986; Generasi Gelanggang dan Kita, Abdul Hadi WM, Berita Buana 1 Mei 1984; Putu Oka dan Spontanitas Puitik, Haryadi S Hartowardoyo, Mutiara 29 September 1982, Tradisi Seni dan Dakwah,  Shafwan Hadi Umry, Berita Buana 25 September 1984; Isi Atau Teknik Penyampaian, Redi Panuju, Berita Buana 29 September 1982. (rg bagus warsono./Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(48)

 Jejak: Menyongsong 80 Th HB Jassin Menghormati Sebuah Dokumen Hidup, Ignas Kleden, Kompas 29 Juli 1997; Ihwal Penulisan Tulisan Ilmiah, Wilson Nadeak, Pikiran Rakyat 27 Juli 1997; Pelawak dan Dielek daerah, Tonny Trimarsanto, Pikiran rakyat 14 September 1997; Mencari (Sekali Lagi) Teater Indonesia, Radhar Panca Dahana Channel, Kompas 24 Agustus 1997; Sastra Tak Berhenti Pada makna, Dwi Joko Widianto, Kompas 24 Agustus 1997; Kreativitas Membutuhkan Masyarakat Dinamis, Jakob Sumardjo, Pikiran Rakyat 14 Septenber 1997; Surga Para Penyair, Kurnia JR, Media Indonesia 16 September 1996; Cerita dari pembaca Cerita Pendek Indonesia, Nur Pud Binarto T, Republika 7 April 1996; Diskriminasi Pembahasan Cerpen Indonesia, Viddy Alimahfudz Daery, Republika 31 Maret 1996; Tinjauan Kesunyian Kesepian Maut, Korrie Layun Rampan, Pikiran rakyat 31 Juli 1996; Sketsa Perkembangan Cerpen Indonesia, Gunoto Saparie, Pikiran Rakyat 31 Juli 1996; Kejujuran Modal Utama Menulis Puisi, Soni Farid Maulana, Pikiran Rakyat 20 Juli 1997.(rg bagus warsono/jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(47)

 Jejak: Menghikmati Sastra di Antara Kecipak Air, Beni R Budiman, Pikiran Rakyat, 20 Juli 1997; Ragam Percakapan, Kusman K Mahmud, Pikiran Rakyat 6 Juli 1997, Selera Seni, Jakob Sumardjo, Pikiran Rakyat 6 Juli 1997; Campir Kebudayaan dan Tabrakan Wacana, Afrizal Malna, Kompas 3 Agustus 1997; Pembaca Terlibat dalam Proses Penciptaan Sajak, Saeful Badar Saeful Badar Muslim, Pikiran Rakyat 10 Agustus 1997; Pocong dan Nur islami di Tengah Kesunyian , Eriyandi Budiman, Pikiran Rakyat 10 Agustus 1997; Asrul Sani Swebagai Penulis Skenario Film, Marselli Sumarno, Kompas 13 Juli 1997; Peran Kelas menengah , Budi Darma, Kompas 5 Oktober 1997; Ketika Penyair Masuk Kafe yang Hingar Bingar, Agung Nugroho , Pikiran Rakyat 27 Juli 1997; Menuju Filsafat Seni, Jakob Sumardjo, Pikiran Rakyat 27 Juli 1997.Sampah yang Berputar di Luar Rahasia, Afrizal Malna, Kompas 19 Oktober 1997. (rg bagus warsono./jejak)

Jumat, 03 Desember 2021

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(46)

 Jejak: Historiografi Sejarahnya Sejarah, Jim Supangkat, Kompas 12 Januari 1997; Setelah 60 Tahun "Buah Rindu" dan "Nyanyi Sunyi" , Gus Tf, Kompas 23 maret 1997; Bahasa Spanduk dan Tradisi Konsumen, Tonny Trimarsanto, Pikiran Rakyat 26 Januari 1997;Interferensi: Pengaruh Nonbaku Bahasa, Soe henda Iskar, Pikiran Rakyat 26 Januari 1997; Emha Membaca Realitas, Pikiran Rakyat 26 Januari 1997; Penyair, Waktu, Individu dan Lain-lain, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Pikiran rakyat 26 januari 1997; Moralitas Seksual Jawa dalam Novel Tahun 80-an Sartono Kusumaningrat, Kompas 20 April 1997; Ruang dan Waktu Dalam Teater, Nur Zain Hae, Kompas 20 April 1997; Dilema Seorang Budayawan Aristokrat, Abdul Mun'in DZ, Kompas, 13 Juli 1997; Pesta Kesenian Bali Dalam Ge;lombang Kritik, Gde Aryantha Soethama, Kompas 6 Juli 1997; Peluncuran kaset Puisi Rendra, Yang Hilang Dalam Kemasan, Rahim Asyik, Pikiran Rakyat 20 Juli 1997; Et Tu Bahasa, Juga Kamu Shakespeare, Agus R Agus R. Sarjono Full, Pikiran rakyat 20 Juli 1997. (rg bagus warsono/Jejak)


Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(45)

 Jejak: Kembali ke Apokayan, Memberdayakan Seni dan Seniman di Erau, Sal Murgiyanto, Kompas 13 Oktober 1996; Sastra Marjinal atau Marjinalitas Sastra, Ariel Heryanto, Kompas 13 September 1996; Membaca Sebagai Wanita, Kahfie Nazaruddin , Kompas 20 Oktober 1986; Masih Perlukah Bicara tentang Marjinalitas? , Meliani Melani Budianta, Kompas 8 September 1996; Krisis Dalam Bahasa dan sastra, Radhar Panca Dahana Channel, Kompas 22 November 1996; Pengajaran sastra Kesalahan Masa Lalu, Maman S Mahayana, Kompas 22 September 1996; Mimbar penyair Abad 21 Tapal Batas yang Samar-samar, Putu Fajart Arcana, Komopas 17 November 1996; Hermeneutika dan sastra Marjinal, Komarudin, Kompas 12 Januari 1997; Pertempuran Baru Sastra-sastra Indonesia, Radhar P. Dahana, Kompas 23 Maret 1997; Saya Duduk di Sebuah Ruangan Berbeda, Afrizal Malna, Kompas 6 Oktober 1996; Musik Blasteran, Slamet A Sjukur, Kompas 23 Maret 1997. (rg bagus warsono/Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(44)

 Jejak: Sastra, Kurikulumdan Buku Ajar, Iwan Gunadi, Kompas 21 April 1996; Honor dan Satire Masyarakat, Wijanarto, Kompas 12 Mei 1996; Sastra Koran, Sastra Kumpulan, Sumaryono Basuki KS, Kompas 14 Juli 1996; Jejak Realisme di Pangging Teater Modern Indonesia, Arie F Arie Batubara, Kompas 1 September 1996; Dari Poetry International Rotterdam 1996; Nyonya, Ini Sebuah Pergaulan Puisi, Afrizal Malna, Kompas 7 Juli 1996; Sekarang Baru Tahap Tawar Menawar, Iwan Gunadi, Kompas 11 Agustus 1996;  Sastra Marginal sastra Alternatif , Sumaryono Basuki KS, Kompas 25 Agistus 1996; Pada Apa Teater Harus Percaya?, Autar Abdillah, Kompas 29 September 1996; Lebih Jauh dengan Remy Silado, Redaki: Efix Mulyadi, Tonny D Widiastono, Kompas 16 Juni 1996. (Rg Bagus Warsono/Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(43)

 Jejak: Kritik Anti Penilaian Dan Komunitas sastra Serba Umum, Agus R Agus R. Sarjono Full, Kompas 5 Mei 1996. Rekontruksi Kritik Akademis Dalam Esai , Acep Iwan Saidi, Kompas 5 Mei 1996. Perkembangan dan Perjalanan Pemikiran Keperempuanan Dalam Novel Indonesia, Wiyatmi, Kompas 21 April 1996; Budaya :Polemik , Lingkaran Tafsir dan Stagnasi Nilai, Dorothea Rossa Herliany; Kompas 16 Juni 1996; Kreativitas dari Kritik Tanpa Kritik,. Joni Ariadinata, Kompas 14 April 1996; Karakteristik Ritual Dalam Seni Kontemporer, Tommy F Awuy; Kompas 7 April 1996; Mitos Wayang Dalam Teks Sastra, S Prasetyo Utomo, Kompas 14 April 1996; Penyair dan Tali Perkauman, Afrizal Malna, Kompas 16 Juni 1996; Puisi Yang Berdialog, James Soma, Kompas 12 Mei 1996. (rg bagus warsono/Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(42)

 Jejak: Arsitektur Kata dan Refigurasi Ruang Publik, Afrizal Malna, Kompas 31 Maret 1996; Konsekwensi Novel yang Dikorankan, Muhammad Fuad Riyadi, Kompas 24 Maret 1996; Andai Sastrawan Mau Bicara, Catatan Untuk Beberapa Teman, Faruk Tripoli, Kompas 31 Maret 1996; Dunia Puisi di Hadapan Kamus Yang Pecah, Agus R Agus R. Sarjono Full, Kompas 24 Maret 1996; Kritik Sastra Minus Legetimasi, Agus Noor, Kompas 19 Maret 1996; Sastra Dalam Managemen Isu, Acep Iwan Saidi, Kompas 10 Maret 1996; Pengalaman/Rasa Estetis: Sebuah Apresiasi?, Mudji Sutrisno SJ, Kompas 3 Maret 1996; Lebih Jauh Dengan NH Dini,Redaksi Kompas ,SN Wargatjie Bre Redana, Kompas 3 Maret 1996; , Lebih Jauh Dengan Umar Kayam ,  SN Wargatjie Bre Redana, Kompas 3 Maret 1996; Kristanto JB, Efix Mulyadi, Kompas 10 Maret 1996. (rg bagus warsono/Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(41)

 Jejak: Sketsa Masyarakat Itu Kehilangan Identitas, Kenedi Nurhan, Kompas 17 September 1995; Sun Moon Lake, Taiwan , Leon Agusta.Kompas 17 September 1995; Sastra Indonesia menumpang Nampang, Sunaryono Basuki KS, Kompas 29 Oktober 1995; Sobekan Sejarah yang Keluar Jalur, Wannofri Samry, Kompas * Oktober 1995; Teater Adalah Keringat, Autar Abdillah, Kompas 31 Desember 1995; Apresiasi Pemehaman Seni, Mundji Sutrisno SJ, Kompas 5 November 1995; Hilang Nyali Menghadapi Power Rangers, Enang E Rokajat Asura , Kompas 14 Januari 1996; Dekonstruksi Perempuan Atas Kekaryaan Dan Kenyataan, Eny Farihatin, Kompas 28 Januari 1996; Jalan Tengah Adalah Daya Hidup, Dadang Christanto, Kompas 31 Maret 1996. Kritik sastra: Diantara Tolak Menolak Kritikus Dan Sastrawan, Iwan Gunadi, Kompoas 26 Febnruari 1996 (rg bagus warsono/Jejak)

Kamis, 02 Desember 2021

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(40)

 Jejak: Ketegaran Dini Sebagai Perempuan , Refleksi Kumpulan Cedrpen Tuileries. Nana Ernawati, Berita Buana 30 Oktober 1984; Puisi Di Tengah Kemiskinan, Diro Aritonang, Berita Buana 30 Oktober 1984; Seni Dalam Masyarakat Indonesia, Korrie Layun Rampan,  Berita Buana 30 Oktober 1984; Masalah Kritik Puisi, MS Hutagalung, Suara Karya 1 Februari 1985; Kreativitas Sastra Dan Dialog Batin,  Syaiful Hadi JL, Prioritas 21 Maret 1987; Nasib Sang Bola Pimpong, Kusman K Mahmud, Berita Buana 8 Juli 1986. (rg bagus warsono, Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(39)

 Jejak: Bila Penyair dan Bekas Penjahat Berdialog, Derek Manangkal, Prioritas 4 Pebruari 1987; Sebuah Gebrakan Budaya Yang Berbobot dan Bermakna, Heri Iskandar, Prioritas 4 Pebruari 1987;  Penyaitr WS Rendra di Kol, Redaksi Prioritas 4 Pebruari 1987; Seniman Bengkulu Masih Adakah Kemampuanmu? , ER Mawardi Yung, Minggu Merdeka 1 Maret 1987; Menilik Perkembangan Dunia sastra, Saeful Bahri AR,  Minggu Merdeka 1 Maret 1987; Tambur Pengamen Jalanan , Naim E Prahana, Eksponen Edisi 15-21 Maret 1987; Memandang dsastra Dari Kacamata Sosiologi, Nanang R Supriyatin, Prioritas 25 Januari 1987;Diah Hadaning dan Ar DE Kemalawati,  Penyair Wanita Indonesia Bertaraf Antarbangsa, Wirawan Sadewa, Prioritas 25 Januari 1987; Yang Muda Juga Bisa Kreatif Berkarya, Diha/418 h, Minggu Merdeka 19 Oktober 1986; Terjemahan Buku Asing Perlu Digalakan, Oloria Silaen, Minggu Merdeka13 Nofember 1986; Sastra Indonesia Penuh Pengarang Semu, mh/eflik, Minggu Merdeka  15 Desember 1984; (rg bagus warsono, Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(38)

 Jejak: Tentang HUT RI, HB Jassin, Pelita 20 Agustus 1986; Sajak Obskurantis-Imajisme, Kriapur, Berita Buana 29 Juli 1986; Tentang Menerbitkan Kumpulan Puisi, Arief Joko Wicaksono, Pelita 20 Agustus 1986; Selintas Tentang Kritik Sastra, Nanang R Supriyatin, Pelita 20 agustus 1986; Iwan Simatupang, sastra Dan Politik, Wiratmo Sukito, Pelita 20 Agustus 1986, SSI=Sketsa Sastra Indonesia, Herri , Pelita 20 Agustus 1986; Seni Tak Lagi Indah tetapi Mengejutkan? Wawan Hamzah Arfan,  Pelita 20 Agustus 1986; Situasi drama Modern Di Mataram , Putu Arya Tirtawirya;  Pelita 20 Agustus 1986; Sevaluasi Dihayati Dengan Iman Pembangunan; WS Rendra, Prioritas, 27 Nofember 1986; Perjalanan panjang (Pengakuan D Zawawi Imron) , Eksponen 30 Nofember 1986; Karya yang baik Tidak Selalu Absurd, Nanang R Supriyatin, Prioritas 8 Januari 1987. (rg bagus warsono, Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(37)

 Jejak : Juara Lomba Puisi PBB, EN/418h, Eksponen 8 Nofember 1986; Surat Terbuka untuk Emha Ainun Najib Politik? No! Mengapa? , Wiji Thukul Wijaya,  Eksponen 8 Nofember 1986;Sebuah Dilema Apresiasi sastra di Sekolah, Harianto Gede Panembahan, Prioritas 4 Desember 1986;  Sebuah catatan atas Dilema-nya Harianto GP Perihal Apresiasi Sastra di sekolah, Prioritas, 4 Desember 1986, Bahasa Indonesia Bahasa Nusantara, Ras Siregar, Prioritas 4 Desember 1986; Tidak Semua Penyair Mampu Baca Puisi, Doddy PS, Minggu Merdeka 19 Oktober 1986; Kepada Kritikus sastra. Aji Sayketi, Eksponen Pikiran rakyat 14 desember 1986; Asap dan Angin , BWD, Minggu Merdeka 14 Oktober 1986. Penobatan sastrawan Menurut Tradisi Etnis Banjar, Tajuddin Noor Ganie, Minggu Merdeka Oktober 1986; Budaya Minang dalam Perbincangan, Darman Moenir, Pelita 23 Juli 1986; Kondisi kepenyairan Indonesia Setelah Tugu, Redi Panjalu, Minggu Merdeka 28 September 1986; Percik-percik Estetika Iqbal, Hendri Hamdi, Pelita 20 Agustus 1986; Antara Iklan dan Pendidikan, Sutan Iwan Sukri Munaf, Prioritas 22 Agustus 1986. (rg bagus warsono, Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(36)

 Jejak: Sastra Sufi, Sebuah Antologi Editor Abdul Hadi WM, By Tand, Berita Buana 28 januari 1986; Sekitar kebebasan Karya Seni, Budi Wahyono, Berita Buana 28 januari 1986; Sebuah Kumpulan Sajak Mansur Samin, Dendang Kabut Senja Sebagai Pencerita, Jakob Sumardjo, Pikiran Rakyat 1986; Semangat "Sumpah Pemuda" dalam Puisi Asmara Hadi, Tajuddin Noor Ganie, Pelita 13 Agustus 1986; Surat Dari Depok, Sapardi Djoko Damono, Pelita 13 Agustus 1986; Relevansi Manives Kebudayaan, Hidayat S, Pelita 13 Agustus 1986; Sastra Dan Interprestasi yang Keliru, d.a.Padang 1986, Pelita 3 Desember 1986; Sutardji Mabuk Puisi Mantera, BWD, Eksponen 30 Nofember 1986; Kota Persinggahan Daki Eksistensi Sosial, Naim E Prahana, Eksponen 30 Nofemnber 1986; Orientasi Kebudayaan Indonesia Alami Stress? BWD, Eksponen 8 Nofember 1986. (rg Bagus Warsono, Jejak)

Rabu, 01 Desember 2021

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(35)

 Jejak: Penyair Dan Citra, Naim E Prahana , Minggu Merdeka 15 Oktober 1986; Jadi Seniman Pun Semakin Sulit, Aji Sayekti, Minggu Merdeka 15 Oktober 1986; Apresiasi sastra Dan Pendewasaan Manusia . Jakob Sumardjo, Pikiran Rakyat, 29 Oktober 1985; Kiri Kanan Sastra Kita, Eko Tunas, Minggu Merdeka 15 september 1986 (sampai bagian (3) dalam 3 X penerbitan); Pengalihan Imej Dan Simbol Puisi Islam Klasik Ke Dalam Bahasa Indonesia, Abdul Hadi WM, Pelita 20 ASgustus 1986; Hakikat Polisemi Pada Sebuah Karya Sastra, Drs Sucipto; Berita Buana 28 Januari 1986; Menyimak Perjalanan Kemala, Penerima Sea Write Award, Drs Wirawan Sadewa, Prioritas, 9 Nofember 1996; Bahasa Malaysia Dipermasalahkan, Dr Nik Safiah Karim, Pelita 13 Agustus 1986; Saduran dan Pengaruh Itu Bagaimana, Pamusuk Eneste, Pelita 6 Agustus 1986; Sekali Lagi sastra Kita Tidak Lesu, Sutardji Calzoum Bachri, Pelita 6 Agustus 1986; Masalah Angkatan Dan Penulisan Sejarah Sastra Indonesia (sampai bag (2) dalam 2 X Penerbitan, Rachmat Djoko Pradopo, Berita Buana 4 September 1986. (rg bagus warsono, Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(34)

 Jejak: Catatan Buat Soeparwan G Parikesit, Sastra Wilayah Tanpa Kotak, Lazuardi Ade Sage, Pelita 22 Oktober 1986; Menghidupkan Sufisme Dalam Seni, Danarto, Berita Buana 7 Oktober 1985; TIM Makin Tua makin Gelisah, Kenapa? Tjok Hendro, Berita Buana 26 Oktober 1985; Surat Budaya dari Pulau Dewata, Wirawan Sadewa, Prioritas 26 Oktober 1986; Pengarang Wanita Kita Bagai Jamur Di Musim Hujan, I Ariyanto, Prioritas, 26 Oktober 1986; Siostem Nilai , Hakimudin, Prioritas, 26 Oktober 1986; Toleransi, Jarudin Sianipar; Berita Buana 29 Oktober 1985; Yang Terlupa dan Yang Berhura-hura, Tjok Hendro, Berita Buana 4 November 1986; Berta dari Bandung, Arie FB, Minggu Merdeka 19 Oktober 1986, Seminar sastrawan Asean, BD 418, Minggu Merdeka 19 Oktober 1986; Keajaiban Lik Par di UNPAD, Gumelar Hikmat Berdoa, Minggu Merdeka 19 Oktober 1986; Dialog Dengan I Gusti Ngurah Parsua, Peta sastra Bali Tidak Berubah, Redi Panuju, Minggu Merdeka 19 Oktober 1986; Dari Perlagaan D Zawawi Imron Di Ujung Padang, JF2A, Eksponen 31 Januari 1987. (rg Bagus Warsono, Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(33)

 Jejak: Nilai Puisi Bukan Harga Banting, Redi Panjalu, Berita Buana 10 Pebruari 1987; Tingkat Kehadiran Tokoh Dalam Cerita Rekaan (2), Jiwa Atmaja, Berita Buana 12 Agustus 1986; Cinta, Doa dan Sembahyang Sangat penting Bagi Puisi, Abdul Hadi WM, Berita Buana 30 September 1986; Eksistensialisme Iwan Simatupang, Manusia Kalah, BWD, Eksponen 12-25 Oktober 1986; REkontruksi Secara Fiktif, Apakah Bukan sastra? Jakob Sumarjo, Pikiran Rakyat 14 Oktober 1986;  Sastra Kita Pertumbuhan dan Otoritas Angkatan, Wahyu Prasetya, Pelita 15 Oktober 1986; Sastra Bukan Milik sastrawan Semata, Ayip Bakar, Pikiran Rakyat 14 Oktober 1986; Hari Depan sastra, Nirwanto Ki S Hendrowinoto, Pelita 15 Oktober 1986; Sasjak-Sajak Pohon Siwalan, Lucianus Bambang Suryanto, Berita Buana 4 Nofember 1986; Bahasa Lampung: Menunggu Godot?, Iwan Nurdaya Dhafar, Minggu Merdeka 19 Oktober 1986; Sembilu Dalam taman Novel Ngurah Parsua; Made Sukada, Berita Buana 4 Nofember 1986/ (rg Bagus Warsono, Jejak)


Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(32)

 Jejak: Yang Kukuh Dengan Pendiriannya, JF2A, Eksponen 30 November 1986; Tawaran Alternatif Sapardi Dikecam, Mahar Effendi, Minggu Merdeka 14 September 1986; Perlukah Berpuisi di Era Pembangunan?, Unang HP, Minggu Merdeka 14 September 1986; Sastra Sekolah Menengah, GE Kriswanto, Prioritas 26 Oktober 1986; Pamusuk Eneste Hanya Modal Nama Dalam 22 Cerita Pendek,  Harianto Gede Panembahan, Pelita 12 Nofember 1986; Simposium sastra Indonesia, Antara, Minggu Merdeka 21 September 1986; Puisi Bagi Seorang Penyair, Reina Cresilia, Minggu Merdeka 21 September 1986; Sikap Ilmiah Dalam Pengkajian sastra, Dasril Ahmad, Minggu Merdeka 21 September 1986; Kritik Pembaca Sastra Pada Siapa? Wahyu Prasetya, Pelita 25 Pebruari 1987; Sufisme Dan Pesona Kekanak-kanakan Danarto, Dwi Ery Santoso, Minggu Merdeka 28 September 1986. (rg Bagus Warsono, Jejak)

Selasa, 30 November 2021

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(31)

 Jejak: Manusia Modern Di Mata Redup Damiri Mahmud Mahmud, Asro Kamal, Minggu Merdeka 3 Agustus 1986; Bulan Tertusuk lalangnya D Zawawi Imron, Irawan Sandhya Wiraatmaja. Berita Buana 2 September 1986; Menyenandungkan Puisi Memperluas Apresiasi, Wilda, Klipping 17 September 1986; Protes Sosial dalam Sastra, Saini KM, Berita Buana 2 September 1986; Kedudukan Kritik Puisi, Achmad Rich, Berita Buana 29 Juli 1986; Sulit Menilai Seni Erotis Yang Bagaimana, Made Aripta Wibawa, Minggu Merdeka  24 Agustus 1986; Mencari Kebenaran Sejarah Lewat Tokoh sastrawan, Bj 418, Minggu Merdeka 24 Agustus 1986; Sastra Dan Politik, Kosasih Kamil, Minggu Merdeka 24 Agustus 1986; Ada Ketololan Perjuangan, Mustakim, Eksponen Edisi 24 30 Agustus 1986, Kenapa Timbul Keinginan Membubarkan Pusat Bahasa? Yusuf Abdullah Puar, Pelita 12 Nofember 1986. (rg bagus warsono, Jejak)

Senin, 29 November 2021

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(30)

 Jejak: Sekitar Isyu Kelesuan Cipta: Ada Jurang yang menganga Terlalu Lebar, HGP, Pelita 23 Juli 1986; Forum Penyair Muda Tinggal Kenangan, Harianto Gede Panembahan, Berita Buana 29 Juli 1986; Kejujuran Dsapardi Jadi Cemohan, I Gusti Putu Bawa Samar Gantang, Pelita , 23 Juli 1986; Batara Gana Bertiwikrama, Anto Sastroatmojo, Pelita 23 Juli 1986; Sapardi sah Terima Anugerah Piagam Puisi Putra 83 , Mulyono Prehantoro. 418H, Berita Buana 16 September 1986, Peranan Kata Dalam Puisi, BY Tand, Berita Buana 16 September 1986; Sejarah dan Kelupaan Kita, Redaksi, Berita Buana 16 September 1986; Suatu Produk Dalam Puisi Modern Kita, Umar Junus, Pelita 30 Juli 1986; Mengejar Nilai Intelektual, Slamet Rahardjo Rais, Pelita 30 Juli 1986; Pengarang harus Melihat Pembangunan Secara Makro, HSD/AZA , Pelita 30 Juli 1986. (rg bagus warsono, Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(29)

 Jejak: "Duka Nestapa" Eka Budianta, Piek Ardijanto Soeprijadi, Berita Buana 15 Juli 1986; Feihan Buka Suara Yang Tak Berbudaya Tidak Ambil Bagian, Soeparwan G Parikesit, Pelita, 16 Juli 1986; In Memoriam Heinrich Boll Menulis Berarti Perlawanan, Is scale, Pelita 16 Juli 1986; Jakob Sumardjo dan Saini KM Sependapat Sastra Lesu Tapi Apanya?, sgp, Pelita 16 Juli 1986; Meredam Sikap Bar-bar Wartawan Budaya, Sutardji Calzoum Bachri, Pelita,16 Juli 1986; Puisi-puisi Chairil Anwar dan Pergumulan Saya dengan Teori Sastra, Dr Umar Junus, Pelita 23 Juli 1986; Ibrahim Sattah Harta Karunnya Orang Riau, HS Djurtatap,Pelita 23 Juli 1986, {rofesionalitas Lampu Teplok< Lajuardi A. , Pelita 23 Juli 1986; Dibutuhkan Buku Pelajaran sastra, Redaksi, Pelita 17 September 19986. (rg bagus warsono, Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(28)

 Jejak: Arti Penting Sajak Delapan Kota Bagi HP3 N, Redi Panuju, Berita Buana 13 Juli 1986; Kroitik Sosiologik Dalam Sajak-sajak D. Zamawi Imron, Berita Buana 28 Januari 1986; Sastra KKehilangan Estetika, Mimhar Harahap, Berita Buana 28 Februari 1986; Sastra Epistemologis, Jiwa Atmaja, Berita Buana 28 Februari 1986; Sedikit Hubungan Chairil Anwar Dengan HB jassin, Oyon Sofyan, Berita Buana 22 April 1986; Sepi Di Mata Penyair, Raji Akbar, Berita Buana 22 April 1986; Kita Dan sastra Tradisi, Dr.Umar Junus, Pelita 21 Juni 1986; Olenka Sebagai Tokoh Collage, Wawan IL, Berita Buana 15 Juli 1986; 20 Tahun Horison Masih Soor ...Sendiri, HGP, Pelita 12 Juli 1986; Dengarlah! Hasmad Angkat Bicara, HGP, Pelita 12 Juli 1986; Mempertanyakan Persoalan "Remaja"-nya Redi Panuju, Nanang R Supriyatin,  Beriyta Buana 15 Juli 1986. (rg bagus warsono, jejak)


Minggu, 28 November 2021

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(27)

Jejak: Rusia Baru Buat Alexander Solzhenitsyn, Purwanto Setiadi, Berita Buana 29 September 1991; Shakespeare Bilang: Whats isn a Name, Emirul Chag Aka, Berita Buana 27 Oktober 1991; Masalah Geografis Kesusastraan, Dusun-dusun Yang Tak Tertinggalkan, Afrizal Malna, Kompas2 Desember 19990; Tafsir Baru Sitti Nurbaya dan Novel Balai Pustaka Pramerdeka, Maman S Mahayana, Kompas 15 September 1991; Persekutuan Pedagang, Penyair dan Pejabat, ii/xjb/bre, Kompas 18 Agustus 1991; Dilema sastra Negara Berkembang, Eka Budianta, Kompas, 24 Februari 1991; Gerson Poys, sastrawan Alam, Wijaya, Harian Terbit, 8 Oktober 1991; Menulis Puisi adalah Amal Ibadah, Heri S/473H, Minggu Merdeka 1Desember 1991; Seni Pesona dan Imajenasi Tersimpan Pada Jiwa Yang Gelisah, Pesu Aftaruddin, Pikiran Rakyat 5 Mei 1992; Ramadhan KH dan Delian Noor Penulis Biografi Politik yang Masih Langka, Mustappa, Pikiran Rakyat 3 Mei 1992; Dua Buah Puisi Rusli A Malem, Edijushanan, Pelita, 26 April 1992, (rg bagus warsono, Jejak)


Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(26)

 Jejak: Puisi-puisi Yang Menggelitik, Piek Ardijanto Suprijadi, Harian Terbit 7 Juli 1991; Mengenang Idrus Ironisasi Seorang Pelopor, Nahrawi, Harian Terbit 7 Juli 1991; Rendra Dari Jalan Ke jalan, Korrie Layun Rampan, Simponi 10 Juni 1991; Untuk Siapa Saya Menulis, Yakob Sumardjo, Pikiran Rakyat, 7 Juli 1991; Merekam Cinta Yang Melebihi Keberadaan Manusia, myr, Kompas 18 Agustus 1991; Hadiah sastra LBSS Penghargaan Untuk Kuantitas, Budi Rahayu Tamsyah; Sepanjang Jalan, danarto, Republika 5 September 1993; Puisi Sunda Modern Miskin Kritik, Soni Farid Maulana, Pikiran Rakyat 3 Maret 1991 (rg bagus warsono, Jejak)


Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(25)

 Jejak: Melihat Sajak Alexander Blok Penyair Rusia, Korrie Layun Rampan, Merdeka 25 Agustus 1991; Peringatan, Mahbub Djunaedi, Kompas Minggu 9 Juni 1991; Puisi Swadesi Bulan Juni, Korrie Layun Rampan, Swadesi 21 Juni 1991; Pro Kontra Pengkaplingan Sastra, Deddy Daryan DB, Merdeka 25 Agustus 1991; Teater Yang Kehilangan Teater, Afrizal Malna,  Kompas 7 Nofember 1991; Karya Budaya Besar, Arief Ariel Heryanto, Kompas 6 Juni 1991; Beberapa Masalah Dalam Jurnalisme Seni, Kurnia JR, Media Indonesia 14 Nofember 1993; Kreativitas Membimbing Langkah Kita, Pesu Aftarudin, Bandung Pos, 22 Oktober 1991; Tasauf Orofetik dan Anatomi Sufi Membumi, Cecep Syamsul Hari, Bandung Pos 17 September 1991; Dor Putu Wijaya Gema Sebuah Pentas, Redaksi Terbit 28 Juli 1991. (ra bagus warsono, Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(24)

 Jejak : Oknum, Soetjipto Wirosardjono, Kompas 7 Juli 1991; Puisi Surabaya tahun '90;  Pudwianto Arisanto, Surabaya Pos 14 Januari 1990; Rumah Cinta Puisi-puisi Horison Bulan Juni, Korrie Layun Rampan, Pelita 11 Agistus 1991; Harapan Pada Kongres Kebudayaan, Eka Budianta, Basis Agustus 1991; Arthur Rimbaud Penyair Telapak Angin Perancis, Aktuil Nomor 3/12 Desember 1981; Peranan sastra Dalam Sejarah Indonesia, LP Murdiantoyo; Harian Terbit 28 Juli 1991; Tanggapan Peranan Indo Belanda dalam Sastra, Yakob Sumardjo, Pikiran rakyat 28 Juli 1991; Bermimpi Seratus Nabi, KH Isa Djakasuria, Republika 5 September 1993; Pertemuan Sastrawan Nusantara ke-7 , Banyak Hambatan , Persatuan sastrawan Serantau Ditunda, Kompas 18 Juni 1991 (rg bagus warsono, Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(23)

 Jejak: Puisi dan Perdamaian Sejarah. Octavio Paz, Pilita 1 September 1991; Dunia Ini Milik Tuhan, Leon Agusta, Suara Karya Minggu I, Maret 1991; Kesenian Indonesia dalam Horison Kura-kura Ninja, Garin Nugroho, Kompas 15 Agustus 1993; Kita Tak Terlatih Dengah Kebebasan Berfikir, Goenawan Mohammad; Berita Buana 10 Maret 1991; Toffler dan Kimia Kekuasaan,Alvin Tloffer Saya Bukan Nabi, Farid Gaban, Berita Buana 10 Maret 1991; Sebuah Renungan Budaya, Saya Kesepian Maka saya Ada, Pikiran rakyat, 29 Mei 1990; SaJak Rumah Wahyu Prasetya Kerinduan dan Pesona, Luhung Ika IMS; Mingguan Karya Bakti januari 1989; Puisi Sepanjang dasawarsa 80-an Diantara Penggemparan Peredaman, Afrizal Malna, Kompas 24 Desember 1989. (rg bagus warsono, Jejak)

Sabtu, 27 November 2021

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(22)

 Jejak: Tahar Ben Jelloun Islam Yang Teduh dan Terbuka, Nasir Tamara, Republika Minggu 31 Januari 1993; Chairil Anwar Berjuang Lewat Sajak, Among Kurnia Ebo, Simponi 28 April 1993; Kenapa sajak-sajak Cinta Rendra? Ahmadun Yeha, Republika 6 Juni 1993; Ketika sajak Menjadi waktu Menjadi Batu, Radhar Panca Dahana Channel, 11 Juli 1993; Seni Kita Suara di Padang Gurun, hrd, Kompas 20 Mei 1993; Tokoh Pekan Ini Taufiq Ismail, Ali Nurdin, Republika 20 Juni 1993; Muhammad Haji Salleh , Penyair Malaysia, LK Ara, Simponi 28 April 1993; Sosok Ketika Arifin Kehilangan Figur, ali/nisha/ayh, Republika 16 Mei 1993; Polaisme Dalam Puisi Penyair Muda, Naim E Prahana, Republika Minggu IV Mei 1993; Sapardi Joko Damono, Pembacaan Puisi bukan Ukuran Apresiasi Sastra, Edy Suntoro, Republika Minggu III Juli 1993 (Rg Bagus Warsono, Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(21)

 Jejak: Sastra Arab Alot dan Asing, Damanhuri Zuhri, Republika 31 Januari 1993; Fenomena Penyair Ludrukkan, Ahmadun Yeha, Republika 2 Maret 1993; Eksistensi Para Penyair Wanita Dalam Era Emansipasi, Handoko SR, Simponi, 7 April 1993; Generasi Cerpen di Hari Minggu, Selamat Pagi, Afrizal Malna, Kompas 21 Maretn1993; Hidup Dalam Sehari Kiai Haji Ahmad Penyair Balsem Mustofa Bisri, Redaksi Republika Hasil Perbincangan denmgan Ruly Baharudin, Republika 23 Mei 1993; Agenda Sastra Indonesia 1992 Memahami Generasi Yang Luka, Redi Panuju, Simponi 24 Februari 1993; Jakob Sanhg Kritikus Mutung, yoe/rys/ayh, Republika 2 Mei 1993; Gejala Snobisme Kesenian, Ahmadun Yeha, Republika 16 Mei 1993; Cubitan Buat Indonesia . Ali/Firly/nisha, Republika 23 Mei 1993; Publiksentrisme Sastra Indonesia Mutakhir, Jamal D Jamal D. Rahman II, (rg bagus warsono, Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(20)

 Jejak : Senjata kata Mochtar Lubis, Setyagraha Hoerip, Republika 14 Maret 1993; Semalam Bagi Firman Muntaco, Abdul Sahal, Ahmadun Yeha, Republika 14 Februari 1993; Kelancungan Angkatan '80 , Beni Setia, Kompas 17 Januari 1993; Menjadi Pengarang Tidak Sulit, Abraham Fanggida E, MutiaraI Februari 1993; Humor Dalam Sastra Indonesia,  AP Sutarwan, Bandung Pos  9 Februari 1993; Ledakan Puisi Indonesia Mutakhir, Ayid Suyitno Ps, Republika 21 Februari 1993; Catatan Kecil: Belenggu Imajenasi, Wil, Bandung Pos, 26 Januari 1993; Bagaimana Puisi Memberi Arti Kepada Sejarah, Wiratmo Soekito, Mutiara Minggu III Maret 1993; Krisis Sastra tanpa Pembaca dan Lubang Perangkap, Dorothea Rosa Herliany, Mutiara Minggu III Maret 1993;Sapardi Puisi dan Proyek, Ahmadun Yeha, Republika 28 Maret 1993. (rg bagus warsono, Jejak)

Jumat, 26 November 2021

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(19)

 Jejak: Dunia Pribadi Itu Tersuruk dalam Puisi, Afrizal Malna, Bandung Pos 24 Januari 1993; Apresiasi Sastra di Televisi Mlempem, WP Saraswati, Harian Terbit 14 Februari 1993; WS Rendra Apresiasi Sastra Di Sekolah Memprihatinkan, Ismail Lutan, Minggu I Februari 1993; Wajah sastra di Jawa Timur Dilema di Tengah Isu Perkembangan, Mh Zaelani Tammaka Kompas Minggu 17 Januari 1993; Catatan dari Pulau Penang sastra Asean : Sebuah Suaka Budaya, Eka Budianta, Kompas Minggu 13 Desember 1992; Tafiq Ismail, Andai tak Ada Arief Budiman, Ahmadun Yeha, Republika 31 Januari 1993; Penyair Angkatan Baru Gempita Tanpa legetimasi, Dorothea Rosa Herliany, Republika 14 Februari 1993 .(rg bagus warsono, Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(18)

 Jejak: Tentang Pembebasan Sastra, Sri Sukamtiningsih, Simponi 27 Januari 1993; Kebudayaan Adalah Kerja Sama Seluruh Lapisan, Sitor Situmarang, Simponi 27 Januari 1993; Pleonasme di Balik 'Prof. Teeuw Award',Jiwa Atmaja,  Republika 24 Januari 1993; Ingin Akrab dengan Kesusastraan Asia, Muhammad Arsad, Sahabat Dautche Welle Januari 1993; Nyanyian Pasemon dari Goenawan, Jiwa Atmaja, Republika 14 Februari 1993; Sososk Budayawan Sang Pendongeng dari Maghreb, Tahar Ben Jlloun, Redaksi Republika 24 Januari 1993; Kritik sastra indonesia Miskin Pendekatan Multidiomensional, Paul Tukan, Mutiara Minggu I Pebruari 1993; Cerpen Sastra Terus berlahiran , Sastyagraha Hoerip, Republika 20 Pebruari 1993; Ibsen dan Masalah Kemunafikan Sebagai bahan Baku Seni Teater, Supriyanto Efzet, Bandung Pos 2 Februari 1993. (rg bagus warsono, Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(17)

 AS Isma, Penyair Brunai Darusalam, LK Ara, Jogyakarta 10 Januari 1993, Burung Rantau Burung Pasca Indonesia, Trias Yusuf Put, Mutiara 1 januari 1993; TIM dan Pembaca Puisi, Ayid Suyitno Ps, Bandung Pos 19 Januari 1993; Cerpenis Kritikus Pertama Pada Karyanya, Wil, Catatan Kecil Bandung Pos 19 Januari 1993; Umbu Sang Penyair Mitos, Ahmadun Yeha, Republika 17 Januatri 1993; Takhayul, Danarto, Republika 17 Januari 1993; Para Cerpenis Indonesia Sembunyi di Balik Simbol, Sapardi Djoko Damono, Republika 17 Januari 1993; Pengajaran Sastra Kembali ke sastra Rakyat, Pamusuk Eneste, Mutiara Minggu I Januari 1993 (rg bagus warsono, Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(16)

 Jejak : Kehidupan sastra di dalam Pikiran, Seno Gumbira Ajidarma, Kompas 3 Januari 1993; Pengarang Ayat-ayat Setan Salman Rusdhi di mana Bersembunyi? , Lestari WK Soemadi, Bandung Pos 12 Januari 1993; Robohnya Surau Kami: Suatu Dilema, Umar Junus,Kompas  10 Januiari 1993; Gunawan Masih Mencekam. A Mustappa. Abdullah Mustappa , Pikiran rakyat 10 Januari 1993; Kegagalan Pendidikan Kesenian di Sekolah, Jakob Sumardjo, Kompas 10 Januari 1993; Sosok Budayawan Inspirasi dari Pinggir Kali, Arie MP, Republika 10 Januari 1993; Perlu Pesan Seni yang Cerdik, Sunaryono Basuki KS Republika 10 Januari 1993; Antara Penyair dan Puisi, Ayid Suyitno Ps , Jogyakarta 10 Januari 1993 (rg bagus warsono, jejak)

Buku Setyasastra Nagari , Penyusun Rg Bagus Warsono

 


Kamis, 25 November 2021

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(15)

Jejak : Sulit Memilih Mana yang Terbaik, Duduh Durahman, Pikiran Rakyat 6 Januari 1990, Teater Jalanan Gaya Renggo, Eriyandi B; Seniman Ibu Kota pun Beda Pendapat , Yon A/Hdy, Merdeka 28 Juli 1983; Sastrawan Jadi Pahlawan Bagi Bangsanya, Abdullah Mustapa, Pikiran Rakyat 31,Desember 1989; Realitas Puistik di Luar jangkauan, Saini KM, Pertemuan Kecil Pikiran Rakyat 21 januari 1990;  Menganggap Perlu Tapi Dengan catatan, Redaksi,  Merdeka 9 Juli 1983; Dan Mahasiswa Dibulang Hanya Mengejar Ijazah, redaksi Merdeka 8 Juli 1983; Manusia yang sastrawanm dan Jendela , Badruddin Emce , Berita Buana 9 Januari 1990; sakit dan Cinta, Berita Buana 9 Januari 1990; Masalah Utama Penyair Berkisar Pada Sikap, Saini KM , Pertemuan Kecil Pikiran Rakyat 29 Oktober 1989; Penyair Tidak Asyik Sendiri, Saini KM , Pikiran Rayat 8 Oktober 1989; Hakikat Kepenyairan, Saini KM , Pertemuan Kecil Pikiran Rakyat, 15 Oktober 1989; (Rg Bagus warsono, Jejak)


Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(14)

 Jejak: pengalaman Dalam Karya Sastra,Pudentea T Karnadi, Berita Buana 6 September 1963; Pengarang Indonesia Hanya Mencari Identitas , Budi Darma, Merdeka, 28 Juli 1983; Nasib Buku-buku Sastra, ramai-ramai Menerbitkan Sendiri di Tengah Apresiasi yang Rendah, Redaksi, Merdeka 18 Agustus 1983; Mahasiswa Sastra Pembangunan Macam Apa Itu, Herdi Umbaranputra, Merdeka 11 Agustus 1983; Nilai Spatial Dalam Dunia Fikir Seni,Dedy Suardi, Pikiran Rakyat 14 September 1982; Sastrawan dan Politik, Ngurah Parsua, Merdeka, 4 Agustus 1983; Tradisi Merubung Kritikus, Damiri Mahmud, Berita bUana 19 Juli 1983, Persoalannya adalah Kreteria Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, Merdeka 21 Juni 1983; Karya Penyair 1980-an Karya Penjenuhan, M Victor Manahara; Sekilas Perkembangan Sastra di Majalah dan Koran Jakarta, Nanang R SupriyatinMedia Indonesia 28 Januari 1990 (Rg Bagus Warsono , Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia.(13)

 Jejak: Sastra Sunda: Tragedi sangkuriang, R Suryanto Sastroatmojo, Berita Buana 16 Agustus 1983; Generasi Muda Buta terhadap naskah-naskah sastra Lama, Yuti, Berita Buana 29 September 1983; Tragik Sungai Mekong, Damiri Mahmud Mahmud , Berita Buana 27 September 1983; "paradise Regained" Subagio Sastrowardoyo, Piek Ardijanto Soepridjadi, Berita Buana 6 Pebruari 1990; Dialog Apokaliptik sastra dabtempaty Transendensi (3), Abdul hadi WM, Berita Buana 6  Pebruari 1990; Oh Novelis Indonesia, Abdul Hadi WM, Berita Buana 20 September 1983; Imbauan Affandi, Abdul Hadi WM, Berita Buana 6 September 1983; Taufik Ismail dan Agustus 1965, Abdul Hadi WM Berita Buana 23 Agustus 1983; Surutnya Kesenian Bernafaskan Islam, B Yass, Merdeka 8 Juli 1983; Berkenaan Dengan Sastra Gayo, MJ Melatatoa, Berita Buana 16 Agustus 1983. (Rg Bagus Warsono, Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia.(12)

 Jejak: Kritik Sosial Dalam Burung-burung Manyar, Putu Wirya Jatha; Majalah Horison 17 Tahun, Abduil Hadi WM, Berita Buana 26 Juli 1983; Kebudayaan Audio dan Humaniora, Abdul Hadi WM, Berita Buana 30 Agustus 1983; Perihal Karya Sastra Dalam Sastra, Wahyu Wibowo, Bereta Buana 13 September 1983; Perihal Karya Dalam sastra (2) , wahyu Wibowo, Berita Buana 20 September 1983; Amir Hamzah Sebagai Penyair, Piek Ardijanto Soepridjadi, Berita Buana 26 Juli 1983; Pendapat lain Mengenai Proyek Jananologi: Semangat Penelitian Harus Diteruskan, DBB.H, Berita Buana 5 Juli 1983; Kesenjangan Generasi Versi Ike Soepomo, Berita Buana 13 September 1983; Jembatan sastra Bagi Awam dan Pemula, Putu Arya Tertawirya, Pikiran rakyat 14 September 1982.(Rg Bagus warsono, Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia.(11)

 Jejak: Pengajaran sastra dan peningkatan Buku Teksnya, Dr, Boen S Oemardjati, Berita Buana 2 Agustus 1983; Wiratmo Sukito, Sadstra dan politik, BY Tand, Berita Buana 19 Juli 1983; Mempertanyakan Kritik Sastra yang Objektif, Gunoto Saparie; Berita Buana 26 Juli 1983; Budi Darma , Novel Indonesia & Palang Pintu, DBB/H , Berita Buana 2 Agustus 1983; Solilokui "Budi Darma", Korrie Layun Rampan, Berita Buana 9 Agustus 1983; Hambatan Itu datang dari Kita Sendiri, Abdul Hadi WM, Berita Buana 5 Juli 1983; Sastra Aktif dan sastra Pasif, Abdul Hadi WM, Berita Buana 9 Agustus 1983; Meditasi Abdul Hadi WM, Ahmadun Yeha , Berita Buana 5 Juli 1983; Motif-motif Seni dan Wilayahnya, Ngurah Parsua, Berita Buana 9 Agustus 1983; Renungan Sesudah Lebaran, Abdul Hadi WM, Berita Buana 19 Juli 1983; Soal Pemanggungan Puisi, Ook Nugroho, Berita Buana 23 Agustus 1983. (Rg Bagus Warsono, Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia.(10)

 Jejak: Karya sastra Sekali Jadi, Tarman Effendi tarsyad, Berita Buana 9 September 1989; Kreatifitas Seni, Subyektivisme dan Obyektivisme, Sanento Yuliman, Berita Buana % September 1989; "Doa Kesetiaan" Ahmadun Yeha Kehendak Untuk Mengandung Tuhan, tarman Effendi Tarsyad, Berita buana 12 September 1989; Pendekatan Strategis Memasarkan Sastra, Shafwan Hadi Umry, Berita Buana 12 September 1989; Sastra dan kebenaran, Isbedy Stiawan Z S, Berita Buana 5 September 1989; Sastrawan Sebagai Arsitek Bangsa , Hidayat S, Berita Buana 2 Agustus 1989; Tergantung Pada Sang Penyair, Naim E Prahana, Berita Buana 12 September 1989; Mengapa Orang Membaca Puisi, Herman KS, Berita Buana 9 Agustus 1983; Relevansi Karya sastra Terhadap Peristiwa Sejarah, Herry Mardianto Kokusakons, Berita Buana 20 September 1983; Kegagalan Karena ketidakjelasan, Saini KM , Pikiran Rakyat 5 Juni 1984. (Rg Bagus Warsono, Jejak)

Rabu, 24 November 2021

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia.(9)

 Jejak: Membangkitkan Minat baca masyarakat, Mudjiono PS, Pelita 15 Maret 1989; Nabi Muhammad dalam Puisi, Iwan Nurdaya Djafar, Berita Buana 21 Pebruari 1989; Esoterisisme Dalam Sastra, Isbedy Stiawan Z S, Berita Buana 28 Maret 1989; Buku Puisi dan Masyarakat Puisi , Lucianus Bambang Suryanto, Berita Buana 28 Maret 1989; Mencari Masa Depan sastra Indonesia, Beni Setia, Pikiran rakyat, 17 Januari 1989; Jika Sastra Berbicara Tentang Guru, Suyanto, Berita Buana 21 Maret 1989; Kritik sastra Tetap Punya Masalah, Putu Arya Tirtawirya, Bali Post 26 Februari 1989; Kontribusi Sajak Ikbal Bagi Kebudayaan Islam, Zaenuddin HM, Pelita 25 maret 1989; Menangkal Deislamisasi Kebudayaan, Ahmadun Yeha, Pelita 25 Maret 1989. (Rg Bagus Warsono, Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia.(8)

 Jejak: Rubaiyat Omar Khayam, Renungan Untuk Manusia, Tarman Effendi Tarsyad, Pelita 28 Oktober 1987; Penyair Berbakat Dini Tapi Tidak Produktif & Tanpa Buku, Linus Suryadi AG, Nusa Tenggara 6 Januatri 1989; Suwuk Awang Awung, Renungan Sufistik Kuntowijoyo, Harta Pinem, Berita Buana 7 Pebruari 1989; Khomeni Bangkitkan Api Refolusi Iran, Nirwan Lesmana, Pikiran rakyat 25 Februari 1989; Mengenang Kriapur, Puji Santoso, Berita Buana 14 Februari 1989; Mengalirlah sajak-sajak Ahmad Syubanuddin Alwi , Subagio Madhari, Pikiran Rakyat Edisi Minggu III Februari 1989; Setiap Karya Sastra Mempunyai Tempat Tersendiri, Redi Panuju, Pikiran rakyat 22 Februari1988; Kesusastraan dan Gambaran Nabi Muhammad, Abdul Hadi WM , Berita Buana 21 Maret 1989 (Rg Bagus Warsono, Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia.(7)

 Jejak : Membangun Kebudayaan dalam Tautan Kesatuan, Yus Rusyana, Pikiran rakyat 5 januari 1988; sajak Dan Drama Kerapkali Lolos dari Pembicaraan, Enes Sobari, Pikiran Rakyat 4 Agustu 1987; Nyanyian Akhir Tahun-nya Nurdin, Siapakan Nama Kanti dalam sajaknya, Nana Mulyana, Pikiran Rakyat 1 Desember 1988; Rendra di Balik Toppeng Oidipus, Abdullah Mustappa,  Pikiran rakyat 4 Agustus 1987; Sisa-sisa bahasa Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri; Peliota 28 Oktober 1987; Percakapan Dengan Putu Wijaya , rasa Malu Harus Dipertumbuhkan, Egy Massadiah, Kompas 25 Oktober 1988 (Rg Bagus warsono, Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia.(6)

 Jejak: Pertentangan Antara Subjektivisme dan Objektivisme, Sumarsono, Pikiran rakyat 13 Desember 1988; Catatan Untuk Wawan Hamzah Arfan, Ahmad Syubbanuddin Alwi, Pikiran Rakyat edisi Cirebon 1 Desember 1988; Beckett CS dan Teater Absur, Gerson Poyk Fanny Jonathans, Berita Buana 21 Februari 1989; Bukan Penyair Soliter Tetapi Penyair Solider (II) , Linus Suryadi AG, Nusa Tenggara 9 Desember 1988; Gejolak Karya Sastra dalam Kehidupan, IB Putra Tanaya, Nusa tenggara 9 Desember 1988; Penyair Alat Hidup dari sang Hidup, I Wayan Arthawa, Nusa Tenggara 9 Desember 1988; Perlu Kebijaksanaan Dalam Kebudayaan, Yani, Surat kabar 2 Juni 1987; Gerak Bunyi dan Suara Jadi Puisi Pentas, yakob Sumardjo, Pikiran rakyat 2 Desember 1988; Mirah dari Banda Novel Karya Rambe, Kakob Sumardjo, Pikiran rakyat 4 Agustus 1987; Kebijaksanaan Kebahasaan Nasional, Wahyu Wibisana, Pikiran rakyat 20 Desember 1988.(Rg Bagus Warsono, Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia.(5)

 Jejak: Novel Sejarah Memotret Dunia Silam, A. Edy Effendi, Berita Buana 20 Desember 1988; Etika Kebersihan Masyarakat Sunda, Jakob Sumardjo, Pikiran Rakyat 5 Januari 1988; Hubungan Seks dalam Novel Muchtar Lubis, Tarman Effendi  Tarsyad; Sastrawan Sebagai Futuris, Iwan Nurdaya Djafar, Berita Buana November 1988; Aktifis Sastra dan Kemerosotan Kritik sastra, Ahmad Nurullah, Berita Buana November 1988; Kebudayaan Tinggi dan Kebudayaan Massa , Jakob Sumardjo, Pikiran rakyat 2 Juni 1987; Mencari Paradigma "Indonesia" dalam Karya Sastra, Naim E Prahana, Minggu Merdeka 8 Januari 1989; Masa Teduh Dalam sastra, Tarman Effendi Tarsyad, Berita Buana 10 Januari 1989; Sastra Profetik, Najib Mahfuz dan Intifada, Abdul Hadi WM, Berita Buana 10 Januari 1989. (Rg Bagus Warsono, Jejak)

Selasa, 23 November 2021

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia.(4)

 Jejak: Dari Aksi absolut Lekra Sampai Budaya Profetik, Hidayat S, Berita Buana 25 Oktober 1988; Hadiah Nobel Untuk Najib Mahmud, Abdul Hadi WM, Berita Buana 25 Oktober 1988; Pulangnya SI Anak Hilang, Idk Raka Kusuma, Berita Buana 8 Nogember 1988; Kritik Yang Bertanggung Jawab Kritik sastra Yang Bagaimana? , Wawan Hamzah Arfan, Pikiran rakyat Edisi 1988; Peristiowa Budaya Atau Fenomena Sosial, Sy Bahri Judin, Minggu Merdeka 20 Nofember 1988; Dari sastra Dukun Sampai Kecemasan, Nana Mulyana, NN Nofember 1988; Puisi Gambar Tentang Perjuangan wanita Aceh, Nana Mulyana dan Nurdin, Pikiran Rakyat Edisi Cirebon 1 Februari 1989; Subagio Sastrowardoyo Aku Tidak Bisa Menulis Lagi, I Wayan Arthawa, Nusra 6 Pebruari 1989; Mengakrabi Para Penyair Mufda Cirebon, Wawan Hamzah Arfan. Berondong rasa Gula, Subagio Madhari, NN Agustus 1988; Kreativitas Dalam Karya sastra , Dorethea Rosa Herliani, Nusra 6 Januari 1989; Apresiasi Penulis Muda :Pengarang Tak Lepas Dari Kepekaan Sosial, Wawan Hamzah Arfan. Metode Penulis "Pat Golipat" Redi Panuju, Minggu Merdeka 15 Januari 1989; Moderniasasi dan sastra Kita, Harta Pinem, Minggu Merdeka 15 januari 1989; Sososk dsastra Kita Kurus , Shafwan Hadi Umry, 20 Desember 1988 (Rg Bagus warsono, Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia(3)

 Jejak : Suka Deka dengan Dokumentasi sastra, A Yasser S, Berita Buana 23 Agustus 1988; Sulit Mencari Donor Sastra, Satyagraha Hoerip, Jayakarta 29 September 1988; Aspek sosial Transendental Dimensi sastra religi, Abd. Achmadisasatra, Jayakarta 29 September 1988; Lahirnya Jeritan-jerita Penyair Kampus, Neta Spane, Minggu Merdeka 2 Oktober 1988; Mengarang Suatu Proses, Enthieh Mudakir Minggu Merdeka 2 Oktober 1988; Bahasa dalam Dua Segi, Idk Raka Kusuma, Berita Buana 4 Oktober 1988; Doa Bagi Penyair Indonesia , Ayid Suyitno Ps, Berita Buana 4 Oktober 1988; Lautan Jilbab Emha Ainun Najib , Sebuah Potrt Nasib Wanita Berjilbab, Kuswandi Kertarahardja, Berita Buana 4 Oktober 1988; Manifes Kebudayaan dan Kepengarangan di Indonesia , Abdul Hadi WM, Berita Buana 25 Oktonber 1988; Memotret Sufisme di Tangan Penyair Sebuah Retorika, Syaiful Irba Tanpaka, Berita Buana 25 Oktober 1988. (Rg Bagus Warsono, Jejak)


Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia.(2)

 Jejak : Menyambut Kecenderungan Baru, Idk Raka Kusuma, Berita Buana 16 Agustus 1988; Warna Lokal yang Kisruh, Wahyu Wibowo, Berita Buana 23 Agustus 1988; Berhala Orang-orang Jinahan, Umar Yunus, Berita Buana 30 Agustus 1988; Kreativitas Dalam Sastra, Rosa Widyawan RP; Puisi Ditengah kebudayaan , Lucianus Bambang Suryanto, Berita Buana 6 Septemberv 1988; Menjompokan Orang-orang Konvensional, Kuswandi Kertarahardja, Berita Buana 30 Agustus 1988; Nisbah Sufi dan Puisi, Iwan Nurdaya Djafar, Berita Buana 13 September 1988; Dalam Seni Tak Ana Timur dan Barat, Percakapan dengan Pelukis Rusli, Redaksi Berita Buana 13 September 1988; Wawasan Estetik Puisi Indonesia Muasir, Iwan Nurdaya Djafar, Berita Buana 17 September 1988; Sejarah Singkat PDS HB jassin, Oyon Sofyan, Pelita 10 Agustus 1988.(Rg Bagus warsonon Jejak)

Jejak Esai Indonesia , Lumbung Puisi sastrawan Indonesia.

 Jejak: Politik dalam sastra Indonesia, Andre Hardjana, Berita Buana 19 Juli 1988; Universalitas Sastra Islam, Ajamuddin Tifani, Berita Buana 26 Juli 1988; Dunia sastra Dunia Alternatif, Kuntowijoyo, Berita Buana 2 nAgustus 1988; Sufi dan Konsekuensi Sosial, Benia Setia, Berita Buana 12 Juli 1988; Tetang Sajak dan Kerinduannya, Syafruddin Noor, Pikiran Rakyat Edisi Cirebon Minggu III Agustus 1988; Menimba Makna Kepenyairan Chairil Anwar Hopplaa, Amirza Mahidin, Minggu Merdeka 7 Agustus 1988; Menulis Puisi Sebagai Ketrampilan Berbahasa, Nyoman Tusthi Eddy, Berita Buana 9 Agustus 1988; Masih Perlukah Pembedaan Roman dengan Novel, Aster Bili Bora, Berita Buana 9 Agustus 1988; Perlunya weawasan Budaya, Catatan Terbuka untuk Benni Setia , Remmy Novaris DM , Berta Buana 16 Agustus 1988. (rg Bagus warsono, jejak)


Jumat, 19 November 2021

Penyair Indonesia

 1. Abdul Hadi WM

2. Abdul Wachid Bs

3. Acep Zamzam Noor

4. Agit Yogi Subandi

5. Agus R. Sarjono Full

6. Ahda Imran

7. Ahmad Faisal Imron

8. Ahmad Nurullah

9. Ahmadun Yosi Herfanda

10. Ajip Rosidi

11. Amir Hamzah

12. Aslan Abidin

13. Asrul Sani

14. Ari Pahala Hutabarat

15. Ayatrohaedi

16. B.Y. Tand

17. Beni Setia

18. Beno Siang Pamungkas

19. Binhad Nurrohmat

20. Budiman S. Hartojo

21. Chairil Anwar

22. Cecep Syamsul Hari

23. D Zawawi Imron

24. Darmanto Jatman

25. Dedy Tri Riyadi

26. Dina Oktaviani

27. Dorothea Rosa Herliany

28. Eka Budianta

29. Emha Ainun Nadjib

30. F. Rahardi

31. Frans Nadjira

32. Goenawan Mohamad

33. Gus TF

34. Hamid Jabbar

35. Hartojo Andangdjaja

36. Ibrahim Sattah

37. Idrus Tintin

38. Isbedy Stiawan ZS

39. Iswadi Pratama

40. Inggit Putria Marga

41. JE Tatengkeng

42. Jamal D. Rahman

43. Jimmy Maruli Alfian

44. JJ. Kusni

45. Joko Pinurbo

46. John Kuan

47. K.H. A. Mustofa Bisri

48. Korrie Layun Rampan

49. Kuntowijoyo

50. Kriapur

51. Leon Agusta

51. L. K. Ara

52. M Faizi

53. Malkan Junaidi

54. Mochtar Pabotinggi

55. Moh. Wan Anwar

56. Nirwan Dewanto

57. Nezar Patria

58. Ook Nugroho

59. Piek Ardijanto Soeprijadi

60. Radhar Panca Dahana

61. Ragil Suwarna Pragolapati

62. Ramadhan K.H.

63. Raudal Tanjung Banua

64. Rendra

65. Rida K Liamsi

66. Rivai Apin

67. Roestam Effendi

68. Saini K.M.

69. Sanoesi Pane

70. Sapardi Djoko Damono

71. Saut Situmorang

72. Sides Sudyarto D.S.

73. Sitok Srengenge

74. Sitor Situmorang

75. Slamet Sukirnanto

76. Soni Farid Maulana

77. Sosiawan Leak

78. Subagio Sastrowardojo

79. Suminto A. Sayuti

80. Sunlie Thomas Alexander

81. Sutan Takdir Alisjahbana

82. Sutardji Calzoum Bachri

83. Tan Lioe Ie

84. Taufik Ikram Jamil

85. Taufiq Ismail

86. Tia Setiadi

87. Timur Sinar Suprabana

88. Toety Herati Noerhadi

89. Toto St Radik

90. Toto Sudarto Bachtiar

91. Triyanto Triwikromo

92. Umbu Landu Paranggi

93. Upita Agustine

94. Warih Wisatsana

95. Wayan Jengki Sunarta

96. Wiji Thukul

97. Wing Kardjo

98. Yudhistira ANM Massardi

99. Zeffry Alkatiri

100. Zen Hae.(bdy/inilampung)

Kamis, 18 November 2021

Popularitas Penokohan Sastrawan Melekat dengan Produknya oleh Rg Bagus Warsono

 Pengarang cerpen novel akan lebih mudah membuat puisi, sedangkan penyair yang mengarang novel menemukan hambatan pengembangan cerita. Beberapa novelis Cerpenis ditemukan juga ia mengarang puisi, sedang sedikit penyair mengarang novel. Rendra selain berkarya puisi ia mengarang banyak naskah drama, tetapi lebih populair sebagai penyair. Bagi penulis seangkatanku membuat cerpen adalah target honorarium, teman lain juga membuat cerpen seperti Herry Lamong, Naim Emel Prahana, Gunoto Saparie, Arifin Brandan, Isbedy ZS Stiawan, Wawan Hamzah Arfan, Wadie Maharief, Arief Joko Wicaksono, Nanang R Supriyatin, Endang Supriadi, Budhi Setyawan, Micky Hidayat, Jamal T. Suryanata, Bambang Widi Yogyakarta, Kurniawan Junaedhie dll. Mereka di masyarakat atau kalangan pembaca lebih dikenal sebagai penyair. Penyair lain justru lebih kokoh disebut sebagai Cerpenis yaitu Yanusa Nugroho,  Beni Setia, dll. Agaknya rutinitas seorang Cerpenis atau penyair akan menokohkan diri melekat dengan produknya.

Sebagai seorang guru aku banyak ngobrol dengan guru bahasa  di tingkat sekolah lanjutan pertama dan atas. Obrolan bahkan di beberapa guru di kota kecil yang saya kunjungi. Aku bertanya pada mereka, "Penyair siapa sajakah yang bapak ibu guru kenal setelah Angkatan '66?". Kebanyakan mereka menggeleng kepala, tahunya mereka Yang hafal adalah angkatan '66 seperti Taufiq Ismail, WS Rendra, Abdul Hadi WM, sedangkan sedikit sekali mereka bisa menyebut nama-nama sastrawan setelah angkatan' 66 atau pasca '66. Beberapa nama yang sering disebut tetap Nama-nama yang terkenal sekarang seperti Gunoto Saparie, Isbedy ZS Stiawan, Tajuddin Noor Ganie, Kusprihyanto Nanma.

Popularitas sastrawan di kalangan pendidikan juga didapat dari media massa yg mempopulairkan nama sastrawan masa kini terutama segi keunikan yang melekat dengan pribadi sastrawan itu. Beberapa tokoh sering disebut seperti Sitok Srengenge, Sosiawan Leak, Wiji Tukul, Saut Situmorang, dan menyusul Wayan Jengki Sunarta dan Tan Lioe Ie.

Kurangnya perbendaharaan nama sastrawan-sastrawan di kalangan pendidikan adalah semakin hilangnya pengajaran sastra di sekolah-sekolah. Kenyataan ini disebabkan karena guru yang diangkat jarang yang menyukai sastra. Sebagian lain dikarenakan kurikulum yang diterapkan di sekolah sedikit disisipi muatan sastra.

Selasa, 02 November 2021

Prinsip: Nulis,

 Prinsip: Nulis, nulis saja yg bagus, tak perlu harus mengungguli orang lain. Sebab kita sama sama bersastra untuk Indonesia. Kelak nanti juga orang lain akan mengakui kita, mulai seorang, lebih atau semua.


Rabu, 13 Oktober 2021

Gugurnya Patih Celeng

 Gugurnya Patih Celeng



Tersebutlah kerajaan Manikmantaka,

Kerajaann bangsa rotadenawa bangsa butho.

Raja Manikmantaka bernama Prabu Niwatakawaca ingin mempersunting Dewi Supraba.

Dewi Supraba tak kuasa menolak asal mendapat ijin ayahnya, Begawan Ciptaning, yang tengah bertapa di gua Mintaraga dalam hutan Kaliangsa yang maha buas di pegunungan Indrakila.

Sang Prabu Niwatakawaca sudah kasmaran ingin segera Dewi Supraba bersanding di kerajaan.

Diutuslah Mamangmurka, patih terbaik Niwatakawaca

Patih sakti putra Patih Sakipu keturunan Giliwangsa

yang sakti mandraguna.

Mamangmurka bertus meminta restu Begawan Ciptaning, pertapa di gua Mintaraga.

Begawan Ciptaning tak mau menemui Mamangmurka

hutan Kaliangsa menjadi gelap gulita pegunungan Indrakila membentang tak berujung.

Gua Mintaraga tak akan ditemukannya.

Mamangmurka mengamuk dihutan gelap

pohon dan batu diobrak abrik

hutan rusak hewan berpencaran mencari selamat

Begawan Ciptaning yang tengah bertapa menjadi marah

dikutuknya Mamangmurka menjadi butho celeng

Melihat tubuhnya berganti celeng

Mamang murka semakin mengamuk merusak hutan

Akhirnya Begawan Ciptaning menghentikan amuk Mamangmurka dengan panah kalitawarna

Menancab di tubuh Mamangmurka.

(Rg Bagus Warsono)

Selasa, 21 September 2021

popularitas zaman modern pada bidangnya masing-masing (rg bagus warsono)

 Kisah penyair terkenal yg ikut numpang mobil truk dari Jakarta-Surabaya, tak ada seorang pun yg mengenalnya padahal 8 x mampir di rumah makan, sedang sang sopir truk slalu disapa dan dikenal pemilik/pelayan rumah makan yg disinggahinya. Penyair yg dikenalkan supir truk pada setiap kali mampir sebagai sahabatnya tetap sebagai orang asing yang lebih rendah dari sang sopir. Jadi tak usah lah kita menepuk dada bahwa kita orang hebat terkenal, baru dengan sopir truk saja sudah tak ada apa apanya. Bahwa popularitas itu zaman modern pada bidangnya masing-masing (rg bagus warsono)


Rabu, 15 September 2021

kualitas pun harus juga disesuaikan pangsa pasarnya.

 Dulu ada kita punya merk sepatu kualitasnya bagus, sampai-sampai India minta dikirimi sepatu ini, jadilah kita expor sepatu. Saking gembiranya ga tanggung2 kirim 10 kontainer . Sampai sana ukuran 40 hanya masuk kaki anak kecil itu pun tidak lucu karena diracang untuk orang dewasa. Jadi kualitas pun harus juga disesuaikan pangsa pasarnya.

Membuat antologi tunggal itu perjuangan

 Membuat antologi tunggal itu perjuangan, yg sering mengganggu adalah kesehatan badan yaitu mata, pinggul, perut, kaki, tangan, hingga gangguan urat syaraf.

sebuah Pekan Raya Sastra,

 Harus ada upaya membuat bazar tahunan buku sastra, di sebuah Pekan Raya Sastra, dimana penyair seindonesia berkumpul merayakan Hari Puisi yang disepakati bersama. Dengan aneka kegiatan berkaitan dengan Kesusastraan.


pijakan pengalaman penyair

 Event-event antologi bersama tampak mulai ramai diselenggarakan berbagai komunitas, lembaga seni, dan juga lembaga pendidikan yang peduli dengan puisi. Bak mata rantai besi yang tak bisa lepas dari kegiatan satu ke kegiatan lain. Ini sebuah aktifitas kreatif yg justru datangnya bukan dari pemerintah yang punya kementerian pariwisata dan industri kreatif. Event-event antologi bersama itu adalah lokasi/objek wisata seni yang merupakan pijakan pengalaman penyair dalam meniti perjalanan sebagai pengalaman intelektual penyair dalam hidupnya dan tentu saja mengisi baris dalam biografinya. (rg bagus warsono)

seperti menara sutet

 Ketika kau dan aku dekat hati menjadi jauh, sebaliknya ketika kita berjauh jarak kau seakan membuntuti berjalan dibelakang. Jadi lebih baik jauh-jauhan seperti menara sutet yang mengaliri mega volt listrik, sebab kalau dekat mudah terbakar.

kerinduan itu tak tersampaikan padanya walau lewat puisi

 Kerinduan bertatap muka dengan perempuan penyair pujaan akan terobati di masa pandemi berlalu. Yang menjadi permasalahan kerinduan itu tak tersampaikan padanya walau lewat puisi. Ia tak mendengar kecuali Anda bertindak membeli tiket kereta api untuknya. Itulah pengorbanan kerinduan.

kegiatan sastra mulai menggeliat

 Gairah kegiatan sastra mulai menggeliat, kehidupan New Normal kembali di depan mata, tak hanya sekedar berjabat tangan, tetapi bisa bercumbu, mencium, memeluk bahkan bersenggama dengan puisi. Hidup Penyair Dunia!!!

Sabtu, 21 Agustus 2021

 Lalu aku memisahkan diri dengan sesama, karena aku besar dan hebat, dan bergabung dengan penyair2 yg tak pernah berkata kecuali meludah. Tapi alhandulillah, aku masih tetap seperti dulu, masih bersama sesama, karena kunci perbedaan penyair bukan pertemanan tetapi karya tiap2 penyair itu.

 Pahlawan Nasional itu tdk berhenti pd yg berjasa sd. th 1965 tetapi seterusnya. Marsinah, misalnya, patut diangkat sebagai Pahlawan Nasional.


 Apa2 yg aku sampaikan di lumbung adalah apa2 yg aku terima dlm hidup ini. Salah satu ilmu yg ibuku berikan padaku yaitu: Jika kau ingin besar seperti orang besar, berkaryalah seperti orang besar itu sehingga sejajar. Jika dalam dunia sastrawan, berkaryalah seperti karya  sastrawan ternama dan kau sejajar dengan sastrawan itu.

 


Puisi keroyokon pada malam 17 Agustus 2021 itu aseli tidak berubah urutannya, dan terjaga keasliannya

 Pahlawan Nasional itu tdk berhenti pd yg berjasa sd. th 1965 tetapi seterusnya. Marsinah, misalnya, patut diangkat sebagai Pahlawan Nasional.


 Berkelompok/bersastra itu bebas kemana suka, pilihan merdeka. Tetapi aku senang bersama yg yg kecil karena aku kecil, agar apa yg ada padaku, meski kecil tetapi bermanfaat, walau manfaat kecil tetapi nyata terlihat.

 Sebaliknya akupun berterima kasih kepada semua sahabat Lumbung Puisi, karena melalui Lumbung Puisi aku dibutuhkan. Dan ini kebahagiaan, bagaimana tidak, penyair penyair dari berbagai penjuru Tanah Air menitipkan buku padaku untuk dicatat dalam sejarah yg di dokumentasikan di lumbung puisi. Sebuah kepercayaan publik yg patut menjadi kebanggaanku.

 Siapa pun boleh memberi kritik puisi (KRIPUT: Kritik Puisi T)

 Bersyukur alhamdulillah dari th 2011 antologi bersama Lumbung Puisi tak pernah sepi

 Lumbung itu merdeka, mereka yg dibesarkan tak perlu menengok Lumbung puisi, sebab popularitas adalah prestasi penyair itu sendiri.

 Kritik yg bagus dan medasar, bukan patokannya penyair ternama atau sarjana bahasa.

 Kritik puisi itu bakal melahirkan: gemes, nesu, mungkes, dan kegugu!

 Jika yg ditampilkan puisi penyair ternama, jangan takut memberi kritik, sebab dlm lumbung posisi sejajar.

 Puisi yang akan diberi kritik ramai2 itu adalah puisi T ( Antologi Terbaru/Tersembunyi/Terpopuler) yang tengah digarap.

 Bgm penyair mendapatkan uang, jawabannya kelak suatu saat nanti kau akan merasakan fulus itu datang me dekat tanpa dipanggil

 Mengkritik karya seseorang yg memiliki hub emosional kebanyakan tidak jujur

 Sejak th 2011 Lumbung Puisi telah membuat antologi bersama, telah banyak puluhan buku terbit

 Kritik itu merdeka tdk memandang latar belakang pendidikan si pengkritik

 Telah banyak Lumbung mengantar penyair yg kini mapan menjadi terkenal.

 Kritik itu mengkritik puisinya, bukan menohok penyairnya

 Jangankan 10 puisi, 1 puisi saja aku sanggup membuatnya menjadi buku dng 200 halaman.

 Penyair harus mau puisinya dikritik, sebab kritik itu vitamin dan juga imunisasi

 Yg paling berat adalah mengkritik puisi Mantan!

 Kritik serius bisa menimbulkan pertentangan yg berujung 'ora wawuh. Karena itu aku berperan sebagai 'Tino Sidin

 Sebab belum terjadi dikritik aku faham karakter wajah. Sebab banyak penyair ternama emosional

Kamis, 10 Juni 2021

Terang Benderang di Bandanaira


Terang Benderang di Bandanaira


Pagi di balik bukit

Tanpa awan di langit

Semorot surya timur terang benderang

Memanggil penduduk desa

Siaga bekerja

Karena hari ini tamumu datang

Lihat siapa gerangan

Berkopiah tampan

Berjalan tegap dalam pengawalan

Terang benderang di Bandaneira

Tak ada yang bangun kesiangan

Memberi gairah

Semangat bekerja bercocok tanam

Membangun rumah untuk Si Bung

Bilik bambu pilihan

Beras, sagu, dan ayam

Berkumpul di halaman

Tak ada lapar

Semua senang

Bersama untuk belajar.

Rg. Bagus Warsono, 1996




http://si-bung.blogspot.com/.../terang-benderang-di...

Rabu, 09 Juni 2021

Jangan Menoleh Kebelakang

 Jangan Menoleh Kebelakang,

Tanpa menoleh kita sudah yakin bahwa teman seberangkatan tengah berpacu bersama. Sedikit saja menoleh berarti kita mengendurkan kecepatan. Demikian sprinter (pelari cepat) Indonesia legendari Purnomo Muhammad Yudhi (Purnomo) tampa menoleh sedikit pun pada teman seberangkatan untuk mencapai tercepat di finish dalam Olimpiade Los Angeles 1984 hingga ia merupakan satu-satunya pelari Asia yang masuk babak final.

Ini artinya sebuah filosofi bahwa sebetulnya dalam berbagai frofesi selalu ada persaingan. Dan itu pasti. Pastikan bahwa tak perlu kita menengok siapa yang mengejar kita, sebab pasti jika sesama penyair semua menginginkan terbaik. Maksudnya dalam artikel ini tak perlu kita sengaja bersaing sengan seseorang, sebab tanpa bersaing pun kita sudah bersaing sebab bersama-sama di garis start yaitu menulis/penyair. (rg bagus warsono)

Senin, 07 Juni 2021

Kita belum tersesat


 Kita belum tersesat

Jika membaca karya satra indah tentang kehidupan membuat kita merenungkan keindahan kemanusiaan, tentang alam membuat kita merenungkan betapa keagungan Allah maha pencipta, jika membaca tentang ketidak-adilan betapa masih banyak yang perlu dibenahi di negeri ini. Hal-hal sederhana seperti puisi itu dapat menghubungkan jutaan orang dengan etnis, bahasa, budaya yang berbeda, dan menciptakan hal-hal yang indah ini hanya karena kecintaannya. Kita dipenuhi dengan air mata kebahagiaan karena hal-hal seperti itu membuat kita percaya bahwa kita belum tersesat.

Masih berjalan dalam rel peninggalan masa lalu.


 Ada suatu yang menjadikan puisi biasa-biasa saja, monoton dan tampak hanyut dalam euforia terhadap karya yang telah lalu. Kenapa publik dijejali hal yang basi? Apa memang masyarakat menyukai yang 'bekas atau 'tilasan-tilasan. Itulah yang menjadikan publik dan pecinta sastra enggan mencatat karya-karya tersebut. 

Untuk mengulas bagaimana sebuah karya dapat menjadi karya sastra yang menjadi catatan perjalanan yang ditulis dalam sejarah sastra memerlukan kajian dan bedah karya dengan menyoroti karya-karya pilihan. 

Karya-karya bertema cinta, misalnya, sejak pujangga lama hingga kini tema cita slalu ada. Begitu juga tentang hak asasi manusia sampai kapan pun slalu ada, juga tema korupsi, tema ketimpangan sosial akan slalu ada mengiringi kehidupan manusia. Karya -karya itu adalah hal lama yang baru dibuat. Terhadap karya ini publik pembaca terlihat hanya senyum-senyum biasa dan bahkan tak dianggap sama sekali. 

Jika memang tema 'kehidupan semacam itu hendak diangkat kembali tentu memerlukan modifikasi dan inovasi terhadap tema kehidupan ini. Misalnya tema cinta judul-judul berisikan sub tema cinta terlarang, patah hati ,  sex atau cinta terpaksa itu biasa. Kenapa Anda tidak mengangkat perihal cinta manusia dan binatang, atau dengan mahluk halus, misalnya. Begitu juga terhadap tema-tema kehidupan lain seperti tema sosial, hak asasi, korupsi atau tema alam karya-karya penyair kita seperti tak mau berontak. 

Demikian banyak perbincangan tentang puisi dewasa ini yang tampak masih berjalan dalam rel peninggalan masa lalu. Oleh karena itu Lumbung Puisi slalu mengetengahkan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya.

"Jadilah dirimu sendiri artinya jangan membebek."


 "Jadilah dirimu sendiri artinya jangan membebek." 

Pelajaran ini tentu tidak diajarkan di 'sekolah-sekolah atau kursus-kursus yang diberikan pada calon sastrawan. Ini bukan berarti tidak boleh berguru, tetapi bergurulah pada banyak orang sehingga dapat berbagai ilmu yang akan dapat memperkuat talenta diri yang  dapat memunculkan berbagai kreativitas baru yang akan dapat memberikan dukungan kemapanan seorang sastrawan/penyair. 

Begitu juga terhadap membaca karya sastra, bacalah berbagai karya sastravdari berbagai sastrawan, sehingga kita memiliki evaluasi diri yang arif dan bijak. Sebab karya itu berlapis dan terpencar bergunung-gunung. Jika kita mengatakan karya seseorang luar biasa hebatnya, pasti ada karya lebih hebat dari karya itu , dan di suatu tempat lain ada karyua yang mengunggulinya di tempat lainnya lagi ada karya yang tak dapat di kalahkan, begitu seterusnya. 

Demikian keberadaan karya sastra di dunia ini, semakin kita banyak membaca semakin banyakj kekaguman pada beberapa orang sehingga kita memiliki evaluasi diri agar kita memiliki ciri dan jati diri yang diharapkan.

Karya puisi adalah pencarian


Karya puisi adalah pencarian,

Sesuatu yang menjadi wacana dunia kepenyairan dewasa ini adalah: Lebih terkenal penyairnya ketimbang karyanya. Keadaan ini terbalik dibandingkan masa kesusastraan pujangga lama dan baru dimana sastrawan mengemuka itu setelah karyanya populair. 

Jika Anda tak percaya tulisan ini, kita dapat membuktikannya bahwa sastrawan2 populair sekarang ini hanya bebetrapa saja yang diimbangi dengan kepopulairannya. 

Berexperimen dalam berproses atau juga penjelajahan dalam pencarian karya adalah proses didi penyair. Proses itu tak akan henti karena proses adalah kata kerja penyair. Orang yang populair yang tak diimbangi dengan karyanya maka kepopulairannya tak akan abadi bahkan menghilang ditelan masa.

Sabtu, 01 Mei 2021

bersejarah dan indah !!

 Saya tidak tahu sudah berapa kali saya melihat ini dan hari ini masih ada air mata karena begitu banyak keindahan; puisi, kota, kesederhanaan dan kualitas para penyair dan di atas segalanya untuk kenangan indah panggung  dan pentas bersejarah dan indah !!


kita belum tersesat.

 Video semacam ini membuat saya merenungkan keindahan kemanusiaan. Betapa hal-hal sederhana seperti itu dapat menghubungkan jutaan orang dengan etnis, bahasa, budaya yang berbeda, dan menciptakan hal-hal indah ini hanya karena kecintaannya. Saya dipenuhi dengan air mata kebahagiaan karena hal-hal seperti itu membuat saya percaya bahwa kita belum tersesat.

atau bersaksi momen indah seperti ini

 Oke jadi saya depresi dan kadang-kadang berpikir tentang bunuh diri tetapi tidak akan pernah bisa melakukannya, jadi ini secara acak mulai diputar dan saya mulai menangis karena jika saya bunuh diri, saya tidak akan pernah bisa mendengarkan musik lagi atau bersaksi momen indah seperti ini

Dan 50 tahun kemudian masih belum ada jawaban

 Kembali pada tahun 1970 Bob menulis lirik, "Berapa lama mereka akan membunuh keuntungan kita, sementara kita berdiri di samping dan melihat?"

Dan 50 tahun kemudian masih belum ada jawaban atas pertanyaannya

Legenda tidak akan pernah dilupakan!

 Jadilah siapa lagi yang sedang nongkrong di ranjang bersama dengan lagu-lagu tersebut? Pria paman bob akan sangat senang mengetahui masa mudanya yang abadi terus hidup, Legenda tidak akan pernah dilupakan!

kerja bagus

 Saya dapat membayangkan bahwa Tuhan sedang tersenyum kepada mereka. dan menepuk bahu Bob sambil berkata, kerja bagus nak, kamu membuatku bangga

jika kita semua bisa

 lihat betapa damai dan ramahnya setiap orang ... tampak seperti dunia baru bagiku ..... jika kita semua bisa seperti ini menyanyi sambil tertawa bersama hidup bahagia selamanya

Musik dapat menyatukan berbagai ras, agama, kepercayaan, dan kehidupan bersama.

 Bayangkan sebuah dunia tanpa diskriminasi, tanpa perang, tanpa argumen. Hanya menikmati hidup. Sungguh mengherankan saya bagaimana Musik dapat menyatukan berbagai ras, agama, kepercayaan, dan kehidupan bersama.

Kamis, 28 Januari 2021

Di Tempat Lain Banyak yg lebih Hebat

 Tak perlu kita menepuk dada sebagai pendekar dengan tingkat mumpuni dalam olahkanuragan, di tempat lain di kampung-kampung Nusantara terdapat Jawara dengan ilmu kanuragan yang luarbiasa hebatnya sehingga pada saat itu di zaman penjajahan ditakuti kolonial. Ketika meledak pemberontakan di sebuah daerah lalu ditumpas, tumbuh pemberontakan lain di ribuan kampung lain. Dengan bintang pahlawan daerah yang begitu banyaknya.

Di Tempat lain ada yang lebih nikmat

 Lalu sebuah kota memamerkan makanan khas yang lezat, jajanan atau masakan kuliner yang tiada tara nikmatnya. Kekaguman begitu ketika kita meninggalkan kota itu. Seakan ingin kembali menikmati sajian ibu-ibu di sana. Belum lagi sampai jauh di sebrang pulau lapar dan dahaga tiba. Ternyata ditemukan kuliner lain yang tak kalah nikmatnya. Suguhan penyairt-penyair Nusantara yang meracik rempah dan bumbu serta palawija yang tak terdapat di daerah lain.

Semakin luas kita menjelajah semakin banyak ditemukan yang bersinar.

 Dari bukit Barisan hingga Jaya Wijaya berserakan batu-batu dari endapan, patahan, diantara batu-batu itu terdapat pualam manikam yang gemerlap. Betapa menyadari Nusantara itu luas dengan penghuninya terpilih yakni penyair-penyair Indonesia, dan diantara penyair-penyair itu terdapat batu pualam manikam yang gemerlap. Semakin luas kita menjelajah semakin banyak ditemukan yang bersinar.

Jangan iri dengan teman

 sengaja aku pidah di tempat lain 

Ketika aku mancing bareng di sungai , kawan kawan yang berdekatan memperoleh ikan besar bahkan terus menerus. Sedang kailku tak disentuh ikan kecil.  Setan membisikkan agar melempar batu ke sungai agar ikannya bubar dan kita semua pulang. Tetapi aku melawan nafsu jahat, memuji kawan yang memperoleh ikan kakap dan aku pidah di tempat lain. Perlahan kailku disentuh ikan. Setelah umpan dimakan , kutarik ikan dan , ..dapat! 

Meskti bukan tergolong besar tetapi cukup membuat aku dan teman2 tersenyum. Akupun pulang ke rumah dimana istriku sudah membuat bumbu ikan sungai Cimanuk goreng yang lezat.

Supaya Pembeli Tidak Bosan

 Seorang ibu di Indramayu, sebutlah namanya Ibu Mas (Masrinih), memiliki 5 orang anak. Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya membatu pendapatan suami dengan berjualan makanan jajanan yang berganti-ganti setiap hari. Warungnya di depan rumahnya dengan disediakan tempat duduk bagi pembeli. Berkat menu yang berganti ganti ini rumah Bu Mas setiap hari slalu ramai. Yang datang banyak juga ibu-ibu dari kampung lain yang sengaja datang untuk belajar langsung membuat kueh. Kadang adonan kueh yng akan dimasak itu dibantu diracik oleh para pembelinya. Tentu saja aku slalu menanyakan ke istriku, Ibu Mas buat apa sekarang, Bu? Kemarin ia membuat comro, dan urab daun genjer. Kemarin lusa membuat krupuk sambel dan pecel jantung pisang, begitu seterusnya beraneka jajanan berganti-ganti. Hari ini saja ia membuat mirong ikan sepat dan krawu yaitu ubi (bodin) diiris-iris diberi kelapa dan gula merah yang dicairkan. Nah

Seandainya HB Jassin masih hidup

 Seandainya HB Jassin masih hidup ia akan kewalahan dengan laju teknologi informasi dan teks elektronik yang kian canggih. Koran dan majalah saja masih banyak yang tak terbaca, apalagi kini setiap orang bisa membuat media publik sendiri. Karya-karya sastra modern semakin berhamburan di dunia internet. Kini tak bisa lagi orang secara otoriter menentukan siapa karya yang hebat atau paling agung karena anak usia 5 tahun saja bisa membacanya dan memilahnya mana yang bagus bagi pilihannya. Dan dewasa yang terpelajar bias menentukan mana yang terbaik. Jadi tak boleh kita menentukan sendiri mana yang hebat di zaman ini tanpa dasar dan permbuktian ilmiah sebab orang lain pun bisa melihat.

Apa itu Setyasastra Nagari

 Setyasastra Nagari adalah Anugerah Sebutan unt memberi penghargaan kepada sastrawan Indonesia dalam 30 th pengabdian yg tertuang dalam buku Setyasastra Nagari yg tengah disusun oleh Lumbung Puisi. 

Tidak ada hadiah atau cinderamata lainnya kecuali mendapat buku itu yg dikirim kepada mereka yg disebut dalam buku itu (apabila ybs yg tersebut di buku itu mengirimkan alamat rumah setelah buku itu terbit dan dipublikasikan).

Pendataan terus berkembang bertambah karena banyak ditemukan sastrawan yg memang memiliki bukti otentik aktifitasnya berupa klipping sampai dengan th 1994. Jadi Setyasastra Nagari adalah leksikon sastrawan pasca angkatan 66 yg hingga saat ini masih aktif. Klipping koran/majalah/buku sebelum th 1994 adalah portofolio yg dapat dipertanggungjawabkan pada publik. 

Setyasastra Nagari tidak baku karena temuan baru terus bertambah sehingga buku yg terbit pertama disebut buku pertama dan akan bertambah pada buku kedua dst.

Selasa, 19 Januari 2021

Penyair Antologi Gembok

 A. Zainuddin Kr, Alifah NH, Ade Irman Saepul, Aditya Mahdi Farsya/ Aditya

Majong, Agus Mursalin, Agus Sighro Budiono, Aisyah Rauf, Alfiah S Putra,

Amal Bin Mustofa, Anisah, Anis Muchtarom, Ardhi Ridwansyah, Arnita, Arya

Setra, Asro Al Murthawy, Aloeth Pathi, Asih Minanti Rahayu, Abidi Al-Ba'arifi

Al-Farlaqi, Alfiah S Putra, Aloysius Slamet Widodo, Aku Polma Chaniago,

Arya Arizona, Ayu Siti, Atek Muslik hati, Apri Medianingsih, Ary Toekan, Asep

Khairul Akbar, Ahmad Zainuddin Ujung, Barlean Aji, Buana KS, Budi Riyoko,

Buya Al Banjari, Beti Novianti, Bijuri, Brigita Neni Anggraeni, Chanchan

Parase, Che Aldo Kelana, Dedari Rsia, Dyah Nkusuma, Dedi Wahyudi, Dalle

Dalminto, Dwi Anggraini Mujiman, Dwi wahyu Candra Dewi, Edison P. Malau,

Eko Windarto, Ence Sumirat, Evita Erasari, Funky Zubair Affandy, Gambuh R.

Basedo, Gampang Prawoto, Gilang Teguh Pambudi, Hapsah Sengaji,

Hasani Hamzah, Hendri Amin Raja Cinta, Hendra Sukmawan, Hendro

Suryosastro, Herman Suryadi, Heru Patria, Herry Trunajaya, Ignas N. Hayon,

I Made Suantha, Irawati, Irwansyah, Istikomah, Indri Yuswandari, Isnaeni HS,

Is Mugiarti, Indra Anwar, Iwan Bonick, Jenika Widiya, Julianti Julianti, Kasdi

Kelanis, Khalidah Ali Z, Khalid Alrasyid, Khoirul Mujib, Krislam Yusuf, Lebe

Penyair /Agus Tarjono, Lis Erviana Ramlan, M Tauhed Supratman, M

Johansyah, Marshelina, Marthen Luther Reasoa, Meri Anggraini Abdul

Manan, Moh Shadam Taqiyyuddin Azka, Mohammad Saroni, Muhammad

Abdul latif, Muhammad Lefand, Muhammad Malindo, Muhammad Jayadi,

Mani Selesue, Dinamikanto, Moehammad Abdoe, Mohammad Saroni,

Muhammad Syaeful Anam, Mimi Marvill, Mustiar Ar, Masyono Bunergis

Muryono, Muhammad Lutfi, Nabilah Nur Nasyirah, Naning Scheid, Nia

Rohania, Nok Ir, Nurhayati, Nur Khofifah, Odi Shalahuddin, Oka Miharza S,

Osratus, Pensil Kajoe, Petrus Nandi, Putri Bungsu, Prayit. Sp, Pri Gurit, Q

Alsungkawa, R. Budiman, Raden Rita Maimunah, Rakai Lukman, Rasuna,

Rissa Churria, Ria Mi, Rina Yuliana, Raden Mas Soedarmono, Rai Sri Artini,

Rita Orbaningrim, Rosmita,S.Pd, Rohani Athala, Rasif Arisa, S Suratman

Suras, Shah Kalana Alhaji, Sami'an Adib, Sarwo Darmono, Silivester Kiik, Siti

Ratna Sari, Siti Subaida, Siti Rukayah, Selly Gunawi Ayu, Sugeng Joko

Utomo, Soekardi Wahyudi, Said Sanib, Sumrahadi/ Munadi Oke, Sri Asih, Sri

Gumilang, Sukma Putra Permana, Sulistyo, Suneni, Supianoor, Surasono

Rashar, Syahrianur Khaidir, Syahryan Khamary, Tri Wahyuni, Tono, Uyan

Andud, Wanto Tirta, Wardjito Soeharso, Wyaz Ibn Sinentang, Wayan

Budiartawan, Winar Ramelan,Wiwin Herna Ningsih, Yoe Irawan, Yublina Fay,

Yus Harris, Zaeni Bol

Kamis, 14 Januari 2021

Jadi jangan menyepelekan orang lain sebelum tahu betul.

 Suatu ketika Ir Soekarno menjadi presiden, ada seorang pejuang berpangkat perwira tinggi yang membenci Si Bung. Ia memang pintar dan cerdas. Si Bung tahu itu. Tetapi Si Bung orang baik, dipanggilah ia tetapi tidak sendiri dengan perwira lainnya untuk suatu kepentingan negara. Ketika orang itu menghadap Si Bung, duduk dihadapan sang Proklamator. Si Bung berkata "Mari agak mendekat, Mas". Ketika orang itu menggeser kursinya, tampak kaki orang itu gemetar , ngopyok. Persiden pun tersenyum.

Jadi jangan menyepelekan orang lain sebelum tahu betul.

Selasa, 12 Januari 2021

Menyoroti Puisi Asu karya Joko Punirbo

 Pada puisi ke dua Joko Punirbo di tahun 2012 menulis lagi dengan cerita yang menarik yang membuat penulis terkesan, Di sini Joko Punirbo membuktikan dirinya sebagai Penyair terbaik di Angkatan yang oleh penulis disebut angkatan Pasca 66. Cerita yang disuguhkan dalam Mengenang Asu sungguh suatu puisi yang menggambarkan diri bahwa tidak semua orangh berangkat dari yang baik, justru dari yang tidak baik kadang menjadi baik. Dalam puisi ini juga menggambarkan bagaimana laku keras hidup dalam kehidupan di zaman ini, pola asu kadang dipakai tetapi pada akhirnya orang memilih bagian yang terhormat yaitu kebaikan dari sifat-sifat asu. Asu digambarkan dalam puisi itu sebagai perumpamaan bahwa kita jangan mengaku benar padahal kita juga pernah menjadi asu. 


Karya Joko Pinurbo (2012)

Mengenang Asu,

Pulang dari sekolah, saya main ke sungai.

Saya torehkan kata asu dan tanda seru

pada punggung batu besar dan hitam

dengan pisau pemberian ayah.

Itu sajak pertama saya. Saya menulisnya

untuk menggenapkan pesan terakhir ayah:

“Hidup ini memang asu, anakku.

Kau harus sekeras dan sedingin batu.”

Sekian tahun kemudian saya mengunjungi

batu hitam besar itu dan saya bertemu

dengan seekor anjing yang manis dan ramah.

Saya terperangah, kata asu yang gagah itu

sudah malih menjadi aku tanpa tanda seru.

Tanda serunya mungkin diambil ayah.

2012

Joko Pinurbo

Buku: Selamat Menunaikan Ibadah Puisi

Joko Pinurbo (lahir di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962; umur 58 tahun) adalah salah seorang penyair terkemuka Indonesia yang karya-karyanya telah menorehkan gaya dan warna tersendiri dalam dunia puisi Indonesia. Ia menyelesaikan pendidikan terakhirnya di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (sekarang Universitas) Sanata Dharma, Yogyakarta. Kegemarannya mengarang puisi ditekuninya sejak di Sekolah Menengah Atas.
Atas pencapaiannya, Jokpin telah memperoleh berbagai penghargaan: Penghargaan Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta (2001), Sih Award (2001), Hadiah Sastra Lontar (2001), Tokoh Sastra Pilihan Tempo (2001, 2012), Penghargaan Sastra Badan Bahasa (2002, 2014), Kusala Sastra Khatulistiwa (2005, 2015), dan South East Asian (SEA) Write Award (2014).
Penyair yang bermukim di Yogyakarta ini sering diundang ke berbagai pertemuan dan festival sastra. Karya-karyanya telah diterjemahkan antara lain ke dalam bahasa Inggris, Jerman, dan Mandarin. Sejumlah puisinya juga telah dimusikalilasi antara lain oleh Oppie Andaresta dan Ananda Sukarlan.

Penulis : Rg Bagus Warsono