Laman

Sabtu, 22 September 2018

Menurut pendapatku,
antara politik dan cinta,
yang paling banyak menelan korban adalah cinta !
Kim Jong-un, mula dibenci dunia, kemudian sekarang dipuja. Itulah gambaran orang yg teguh pendirian.
Kenenangan itu biasanya berasal dari blunder para pendukung lawan.
Jika pilpres dan pileg dilaksanakan bersama, kesasar pilihan memiliki kemungkinan besar, yg ngutak-atik UU kena batunya sendiri.
Aku percaya generasi melenial lebih optimis menatap masa depan Indonesia, yg perlu diisi adalah nilai kejujuran dan budaya bangsa.
Kelak siapa pun presiden ke depan tdk akan berpengaruh bg kemajuan hidup diri dan keluarga, pabila UU tersedia & hukum ditegakan
Generasi melenial tdk akan bisa membandingkan era pemerintahan sekarang dng era sebelum2nya karena tdk merasakan. Jd yg tua maklum
Masyarakat termasuk penyair gembar-gembor menolak korupsi, tp diberi yg jujur maunya ganti, kan aneh?!
Aku tidak merasakan jelas zaman presiden Soekarno,tetapi sebagai pembaca sejarah yg baik, presiden saat inilah yang paling jujur.

Rabu, 19 September 2018

Pancen Zaman Mbleketek


Mbleketek memang, tentu bukan benang ruwed. Mungkin alam ini menghendaki demikian, tak semata 'apa boleh buat, buktinya tetep ditelan juga. Bahkan ada yang menari seperti udang dalam bubur-udang. Dicari kemana daging udang itu dalam panci bubur-udang, tetep tidak ketemu. Ternyata penjualnya bilang, udangnya tak akan ketemu karena udangnya digerus dengan sambal ! Ah, bisa-bisa saja penjual bubur-udang itu berkelit. Tetapi ketika ahli kuminer mencicipi masakan itu, katanya, ada udang dalam bubur-udang.
Katanya, " Enak jamanku ya Bro?". Tentu bukan untuk yang sengsara di zaman ini, sebab yang sengsara jaman doeloe juga bukan main banyaknya. Anehnya yang kecukupan dan berkah di zaman ini bilang "Enak jamanku doeloe", kan aneh?
Ya sudah, wong maunya ngomong begitu biarin. Esok harinya kedapatan orang yang bilang enak dijaman doeloe itu membeli mobil baru (buktinya juga banyak, di jalan mobil baru banyak dipakai) , padahal di zaman doeloe boro-boro orang beli mobil, pit onthel saja gak kebeli. Lhoh? Macam mana pula ini orang?. Itulah Indonesia.
Lucunya lagi ada penyair yang dapat duit besar karena "disumpel cangkeme pakai segepok atusan ewu, dihujat teman-temannya. ada yang bilang munafik, 'gembel babu, 'carmuk, sampai kethek nemoni mulud. Suatu saat giliran dirinya dipanggil untuk disumpel bacotnya. Kemudian dia bilang katanya ini karena prestasi karya sastranya. Ndasmu "kunyuk pada karo aku jebule. Jangankan coca-cola, ubi mentah diiris-iris juga rebutan. seperti monyet di Plangon Cirebon.
Di dunia kepenyairan mblekethek juga terlihat. sampai-sampai orang lupa kritikus dan kurator. Tetapi tanpa dikritik juga penyairnya bisa terkenal. Doeloe untuk menjadi terkenal karyanya dihantam kritik dan dibicarakan banyak orang, sekarang lain. Untuk menjadi terkenal boleh dengan cara apa saja. Doeloe ada yang ngamen di mobil bus dengan baca puisi. Ada yang bilang, "belum masuk bui berarti belum terkenal"! ha ha ha ia sih.
Sekarang setiap kota punya penerbit, perkara buku laku apa tidak itu nomor dua. Bilang saja "best seller" padahal nyetaknyua cuma 10 eksemplar. Wah wak wah.
Pancen zaman blekethek sekarang ini!
(Rg. Bagus Warsono, Sastrawan tinggal di Indramayu)