Laman

Jumat, 08 November 2013

Kompasiana Tempat Pembuang Akhir Unek-unek

Beruntung Indonesia punya Kompasiana, kalau tidak maka banyak orang stres karena tidak tersalurkan unek-uneknya. Doeloe adamusim Kotak Pengaduan , disamping susah payah menulis surat juga belum tentu surat itu dibaca dan ditanggapi. Setidaknya bagi mereka yang bisa menulis, Kompasiana dapat menjadi sasaran untuk menghilangkan stres itu.
Sebetulnya Kompasiana bukan barang baru di Indonesia, Surat Pembaca di Kompas juga termasuk dalam penyaluran karya tulis seseorang dengan berbagai maksud tujuan serta gagasan penulisnya, namun Surat Pembaca, oleh redakturnya tak dapat menampung sekian surat dalam sehari media itu cetak. Bayangkan jika Kompasiana dicetak makan boleh jadi jumlah halaman menjadi ratusan lembar dan koran penuh dengan sampah unek-unek.
Berbagai tanggapan terhadap Kompasiana bermunculan, katanya ada pro dan kontra akan keterbukaan, yang memandang blo’on dan intelektual, yang tempat  kumpulan belajar nulis sampai yang profesional, dan yang narsis sampai lempar batu sembunyi tangan. Ini juga menjadi sebuah opini Kompasiana di masyarakat. dari banyaknya orang membicarakan Kompasiana, Kompasiana menjadi populair sepanjang masa di Indonesia.
Isi Kompasiana tidak dapat dijadikan referensi atau rujukan, berkualitas atau kacangan, namun dari hal-hal semacam ini kompasiana laris dikunjungi masyarakat. Tidak saja mereka yang mengisi Kompasiana yang merupakan kompasianer-kompasianer dari seluruh nusantara bahkan ada yang dari luar negeri, tetapi juga mereka yang merasa perlu untuk melihat langsung Kompasiana.
Bagi mereka pemirsa dan juga kompasianer, boleh jadi Kompasiana adalah Tempat Pembuang Akhir (TPA) Unek-unek. Jawabnya memang,   ya!   Lalu bagaimana dengan yang menganggap tulisan di Kompasiana itu bermutu? maka jawabnya yang bermutu harus pembacanya. Publiklah yang mesti kualitas pilihan bacaan. Dan nyata jumlah pengunjung setiap tulisan di Kompasina berbeda-beda. Ada yang laris hinga ribuan pengunjung dan ada yang sama sekali kurang dibaca publik pemirsa Kompasiana. Betapa konyolnya jika diketahui justru tulisan yang konyol malah banyak pengunjungnya. Hah kenaspa begitu? Ternyata Kompasianernya orang pinter juga membuat judul yang menarik untuk dibuka/klik  (bukan dibaca) .
Kompasianer merasa senang menulis di Kompasiana, karena ada rasa kepuasan tersendiri. Sesuatu yang dapat tersalurkan sebagai TPA Unek-unek. Tulisannya juga kadang menyebalkan, menunjukan kwalitas penulisnya, rendahnya gagasan, namun tak sedikit kompasianer yang tulisannya bisa menjadi bahan ajar, bermutu tinggi, menyuguhkan informasi aktual, seperti pilihan nya “menarik”, “aktual”, “inspiratif”, atau “bermanfaat” .  Publik juga yang menilai.
Dari semua itu Kompasiana memiliki kekuatan tersendiri sebagai web yang tetap laris. Karena pembaca yang memberikan penilaian. Wah kalau begitu, kita menilai sampah unek-unek. Boleh jadi ya dan tidak.
Rg.(Ronggo) Bagus Warsono lebih dikenal dengan Agus Warsono, SPd.MSi,dikenal sebagai sastrawan dan pelukis Indonesia. Lahir Tegal 29 Agustus 1965.Tinggal di Indramayu.Mengunjungi SDN Sindang II, SMP III Indramayu, SPGN Indramayu, (S1) STIA Jakarta , (S2) STIA Jakata. Tulisannya tersebar di berbagai media regional dan nasional. Redaktur Ayokesekolah.com.Pengalaman penulisan pernah menjadi wartawan Mingguan Pelajar, Gentra Pramuka, Rakyat Post, dan koresponden di beberapa media pendidikan nasional. Anggota PWI Cabang Jawa barat. Menikah dengan Rafiah Ross hingga sekarang,

Kamis, 07 November 2013

CERPEN-CERPEN KARYA RG BAGUS WARSONO













TANGKAP AKU WALAU DI SANGKARMU

Karya : Rg Bagus Warsono
rupanya diklat belut putih berhasil menyentuh
pejabat-pejabat eselon
kemudian dikirim untuk menjadi sastrawan
agar pandai mengarang cerita
mimpi, hayal, rekacerita, sampai ngarang cerpen dan novel
humaniora dan hukum konvensional
maka kuatlah ia
sekarang
tangkap aku walau di sangkarmu
jangan pakai surat undangan
jemput paksa atau cekal luar kota
aku akan datang sendiri ke KPK
menghampiri pendekar-pendekar pembela Tanah Air
tangkap aku walau di sarangmu
maka
aku tak meminta kau menyuruhku pulang
aku tak memohon kau mengabulkan
tangkap aku walau di sangkarmu
aku tak akan terbang
silahkan tangkap aku walau di sangkarmu.

Sabtu, 02 November 2013

LUKISAN PINSIL KARYA RG BAGUS WARSONO, TEMA INDRAMAYU

 Anco

 Mulang kehujanan

Nderek ibu

LUKISAN PINSIL KARYA RG BAGUS WARSNO TEMA INDRAMAYU

 Sentot

 Betotot

 Tandur

Tukang prau Pagirikan 

LUKISAN PINSIL HITAM PUTIH KARYA RG BAGUS WARSONO TEMA INDRAMAYU

 Arumanis

 Panggalan

 Kursin

Pencak Silat Kijang Mas