Laman

Jumat, 22 Maret 2013

PENGAKUAN SASTRAWAN BUKAN MENCETAK ANTOLOGI PUISI

catatan kecil : Agus Warsono
DOELOE bukan main senangnya ketika karya sastraku dimuat di salah satu media cetak  regional , kala itu di Indramayu tak ada media cetak yang ada di Cirebon dan Bandung. Kira-kira tahun 80-an. Seakan kebanggaan  besar, bagi pemula seperti saya kala itu yang masih duduk di bangku sekolah guru. Kebanggaan pengakuan dari seorang pengasuh kolom sastra sebuah media kepada seorang sastrawan pemula. Apalagi disekolahku dulu koran mingguan regional itu (PR Edis Cirebon/redaktur budayanya Nurdin M Noor kalau tidak salah ) itu dipasang di majalah dinding sekolah.
   Kejadian semacam itu mungkin dialami oleh sastrawan lain meski bobot dan publikasinya lebih luas. Hal demikian biasa media cetak tersebut  membedakan karya dengan jumlah honorarium yang diberikan. Terlepas dari itu semua pendek kata untuk bisa dimuat di media massa memerlukan karya yang baik disamping seleksi ketat redaktur mengingat banyaknya karya yang datang di meja redaktur budaya.
   Lain doeloe lain sekarang kini tak ada lagi penilaian atau pengantar/catatan redaksi/komentar/esai pendek seorang redaktur budaya mengantarkan karya puisi/cerpen penyair/sastrawan bila pun ada hanya dimedia cetak nasional yang bersar seperti PR, Republika, Kompas, saja. Bila penulis pemula mengirimkan karya ke media ini dijamin berkemungkinan seribu satu.
  Demikian sastrawan dibentuk dari kesungguhan cita rasa terhadap satra dengan talenta tersendiri. Lambat laun datang juga pengakuan orang lain atas karya itu secara bertahan dan mungkin perlahan. Talenta yang diasah akan menghasilkan karya yang bagus. Pada gilirannya pengakuan menimbulkan minat orang lain untuk mempublikasikan atau mendokumentasikan seperti memuat dalam koran majalah atau menerbitkannya dalam  buku dan alat dokumentasi lainnya.
   Perkembangan sastra menunjukan kegembiraan dengan semakin banyaknya karya sastra muncul baik media cetak maupun elektronik. Karya sastra demikian banyak sehingga bukan tidak mungkin akan tumbuh persaingan yang tidak sehat dalam mempublikasikannya.
   Kepiawaian mempublikasikan karya sastra menjadikan sastrawan cepat populair, sebaliknya karya bagus tak pandai mempublikasikan menjadikan teman arsip lapuk yang disimpan di rak butut pula. Namun yang lapuk itu kelak menjadi barang langka yang akan dicari kemudian.
   Sastrawan instan akhirnya muncul bak jamur dimusim hujan, hanya dengan uang kurang dari 2 jt anda akan memeperoleh buku karya anda itu dicetak penerbit lengkap dengan ISBN dan Hak Cipta. Apakah sastrawan ini termasuk sastrawan, jawabnya bisa mungkin. Namun ia akan diadili publik apakah karyanya itu layak atau tidak dinikmati sebagai karya sastra. Meski peluncuran buku sastrawan instan ini dibuat meriah, dengan kata pengantar penyair kondang yang tentu saja dibayar mahal belum menjamin karya itu diakui sebagai karya yang bagus, juga penyairnya belum tentu cepat dinobatkan sebagai penyair, sebab sebab penyair atau sastrawan bukan pengakuan diri tetapi orang lainlah yang memberinya. Jadi tidak asal cetak antologi kemudian disebut sastrawan. (masagus/agus warsono/rg bagus warsono)


 

   

Kamis, 21 Maret 2013

MAAF MENJADI SASTRAWAN TAK BISA DIBELI


Dunia sastra Indonesia berkembang seiring kehidupan di Indonesia. Jumlah penduduk yang banyak menjadikan berkembang jumlah pencinta sastra Tanah Air. Tumbuh bagai jamur disetiap pelosok kota Indonesia para pecinta sastra. Baik yang terorganisir seperti membentuk sanggar/kelompok/grup/organisasi atau yang nginduk di Dewan Kesenian di setiap kota/kab atau pun yang perorangan semakin terlihat banyak dari berbagai karya sastra mereka.
    Keberadaan ini tentu saja menggembirakan bahwa Indonesia kaya akan pecinta sastra. Sebuah pembentukan karakter budaya bangsa yang patut didukung pemerintah. Sebab melalui kecintaan sastra akan tumbuh karakter bangsa yang halus dan luhur, karena sastra itu indah.
   Di balik itu , pertumbuhan pecinta sastra diiringi pertumbuhan sastrawan baik penyair, esais, cerpen maupun prosa lainnya mereka saling menunjukan kiprahnya sebagai sumbangsih dunia sastra Indonesia. Tak sedikit karya sastra bagus yang patut mendapat apresiasi positif . Kemudian bermunculan pula sastrawan-sastrawan daerah karena kiprahnya itu.
    Dunia sastrawan di Indonesia belum mengarah profesional secara nasional, bila pun ada hanya beberapa prosen saja. Setelah media cetak dikalahkan media elektronik dan internet, banyak sastrawan kehilangan sumber rezeki dari media cetak, yang bertahan hanya mereka yang menyediakan karya sastra untuk siaran tv atau media internet.   Akhirnya tumbuh persaingan yang tak sehat.
    Di bagian lain ada sastrawan yang memang karena kecintaannya terhadap sastra, meski sudah berkesan profesional, namun lebih mengarah pada pengokohan diri sebagai sastrawan. Ia membutuhkan pengakuan dari masyarakat bahwa dirinya adalah sastrawan kenamaan tanpa ia berbuat karya yang bagaimana bisa dinikmati atau disenangi masyarakat.
   Namun nyata dinamika perkembangan terus berubah, selera masyarakat berubah-ubah, sastrawan yang tak mengikuti arus bukan tidak mungkin ditinggal baik rezeki maupun kepopulairan. Kini tumbuh berkembang sastrawan daerah yang maju dan laris karya-karyanya. Di tv sering kita jumpai acara wawancara sastrawan muda seperti novelis dan cerpenis yang profesional dan berhasil. Sastrawan gaek justru hanya merenungi nasibnya , membaca karya-karyanya yang disesali, akhirnya ia hanya mencemoh kawan saniman lain. Wah. Keliru.
    Jadi pergolakan itu sebetulnya adalah bagaimana mencipta dengan hasil bagus dan laku dipasaran. Karya bagus belum tentu laku dipasaran, sebaliknya karya yang laku bagus dapat diartikan bagus bagi pembelinya.
   Sastrawan tak seharusnya mencemoh teman, sebaiknya kritik atau esai bagus membuat redaktur koran senang memuatnya. Kemudia mengaku sastrawan tanpa karya sungguh bukan sastrawan, sebab sastrawan tidak bisa dibeli seperti kursi pimpinan partai (politikus bisa dibeli) kecuali berkarya dan berkarya.

SEGA LENGKO KINI TAK BERDAUN PISANG


INDRAMAYU, 21 Maret 2013
Kuliner khas Indramayu, Jawa Barat, Sega Lengko,  kini tak lagi ditemukan orisinal tradisionalnya oleh perubahan perkembangan dan dinamika kehidupan. Makanan yang dulu identik dengan kuliner sarapan pagi indramayu, sega lengko telah berkembang ke arah yang tak populair.
   Diawali dari menu-nya, doeloe sega lengko mengggunakan tahu kulit (tahu yang berbentuk prisma segi tiga
dan berkulit tebal) khas Indramayu. Tahu tak digoreng namun diiris tipis sebagai bumbu bersama sambel goreng dan kecap. Namun kini berkembang dengan diganti tempe maupun tahu potong putih/kuning yang digoreng lebih dulu.
   Sega lengko yang dibeli dari pedagang nasi sarapan di kampung-kampung di Indramayu bukan main nikmatnya sampai-sampai sanak keluarga yang datang ke Indramayu, nasi lengkolah yang menjadi permintaan utama mereka untuk sarapan pagi. Namun bukan main kagetnya kini sega lengko banyak berubah tak seperti dulu. Dari mulai bumbu lengko, sampai pembungkusnya beda. Nasi lengko kini sudah pakai tahu putih yang digoreng, ada mie-gorengnya/bihun atau suatu tempat dijumpai sega lengko dijumpai pakai tempe dan telor pendang, di sutu tempat lagi sega lengko pakai tempe goreng yang dipotong kecil-kecil. Bumbu yang dicampur dengan tauge dan ketimun yang diiris tipis memang masih melekat, namun kecapnya kini sembarang yakni buatan pabrik modern.
   Makan nasi lengko tentu sangat beda aroma jika sega lengko itu dibungkus daun pisang, ada kesan tradisional dan selera makan, kini sega lengko dibungkus pakai kertas-minyak dan kunci pembungkusnya dengan hacter kawat. Jika makan di warung segalengko, maka akan dilayani langsung dipiring tanpa dialasi daun pisang.
   Menurut hj Umamah (80th), veteran perang kemerdekaan pensiunan  legiun veteran Indramayu yang dulu  sebagai penjual nasi lengko ternama di Sindang Indramayu, nasi lengko sulit untuk dijaga keasliannya, diikarenakan bahan baku, dan juga keinginan penjual dan pembeli yang serba ingin praktis. Ketiadaan daun pisang (daun pisang klutuk  pisang biji) adalah kegagalan pemerintah dalam membangun perekonomian keluarga. Dulu setiap pekarangan rumah hampir dijumpai tanaman pisang, namun kini masyarakat enggan menaman pisang di pekarangan rumah. Apalagi  semua desa dipinggiran kota  kini berkembang menjadi kota menjadi semakin sempit pekarangan rumah. Hj Umamah dulu membeli daun pisang dari tetangga yang memiliki tanaman  pisang untuk pembungkus segalengko.
   Nasi lengko khas Indramayu yang dulu dijumpai di pasar Mambo diwaktu sore menjelang malam kini tak kelihatan lagi. Yang tubuh berkembang adalah warung sega jamblang yang merupakan kuliner khas Cirebon. Akankah sega lengko tetap lestari atau berkembang tergantung dari kemauan warga penerus warisan pendahulu itu. Sega lengko kini saja tetap disebut sega lengko walau tak berdaun pisang. (agus Warsono/masagus)


   

Minggu, 17 Maret 2013

comot puisi karya Agus Warsono dari antologi layang-layang cinta

Becak disekitar kita,                                           Karya : Agus Warsono

Becak berjajar menunggu penumpang, 
harap rezeki di hari ini, 
becak cemas hampa, 
dapur istri hanya air mendidih tanpa beras.

 Becak melayang, penumpang senang, 
keringat bercampur bayang sesuap nasi.

 Becak melaju kencang tanpa penumpang,
 gemerincing perut lapar , 
hanya sekilogram beras.

Becak menanti ,
 berrebut,
 dan kadang semrawut,
 becak digalang truk ,
 dibuang laut. 

Duhai teman bukankah sama dengan kita makan untuk hidup ,\
betapa susahnya mendapatkan makan. 

Beri kesempatan rezeki,
 teman.

Sabtu, 16 Maret 2013

BUNG KARNO DALAM PUISI KARYA PENYAIR AGUS WARSONO (Rg BAGUS WARSONO)



Agus Warsono
14.
Si Bung Menangis
Mari buka buku sejarahmu
dengan penggaris dan pena
menekan kata
duhai kesuma
haruskah belajar mengeja
sedang umurmu tlah dewasa
Tersenyum Si Bung
memandang
anak-anak bangsa
betanyalah ! mengapa
aku pilih kaca mata hitam
agar aku tak melihat
agar kau tak melihat
Di sana
Si Bung membuka kaca mata
air mata membatu dalam sapu tangan
Merah putih
kenapa tidurku tak dapat nyenyak
duhai kesuma
selimuti aku dengan merah putihmu
Indramayu, 21 Maret 2001

Ia mengusahakan kesejahteraan bangsanya agar rakyatnya bisa 
merasakan kendaraan yang kala itu sangat populair, Sepeda Onthel.


Rg.(Ronggo) Bagus Warsono lebih dikenal dengan Agus Warsono, SPd.MSi,dikenal sebagai sastrawan dan pelukis Indonesia. Lahir Tegal 29 Agustus 1965.Tinggal di Indramayu.Mengunjungi SDN Sindang II, SMP III Indramayu, SPGN Indramayu, (S1) STIA Jakarta , (S2) STIA Jakata. Tulisannya tersebar di berbagai media regional dan nasional. Redaktur Ayokesekolah.com.Pengalaman penulisan pernah menjadi wartawan Mingguan Pelajar, Gentra Pramuka, Rakyat Post, dan koresponden di beberapa media pendidikan nasional. Anggota PWI Cabang Jawa barat.

Karya antara lain:
1. Rumahku di Tepi Rel Kereta Api (Kumpulan cerpen anak 1992)
2. Menanti hari Esok (antologi puisi)
3. Mata Air (antologi puisi)
4. Bunyikan Aksara Hatimu (BAH) (antologi puisi)
5. Si Bung (Bung Karn0) (antologi puisi)

 Antologi bersama :
 Puisi Menolak Korupsi (PMK II)

Cergam antara lain :
1. Laskar Wiradesa
2. Kopral dali
3. Pertempuran Heroik Di Ciwatu
4. Pertempuran Selawe
5. Si Jagur 
6. Panglima Indrajaya
7. Endang Dharma










Jumat, 15 Maret 2013

cuplikan puisi karya penyair agus warson (rg. bagus warsono)





------------------------------------------------------------------------------------------------
Bunyikan Aksara Hatimu
(Kumpulan puisi)
Penulis : Agus Warsono
------------------------------------------------------------------------------------------------
Desainer Sampul : Agus Warsono
------------------------------------------------------------------------------------------------
Iluistrasi : Agus Warsono
------------------------------------------------------------------------------------------------
Diterbitkan Oleh :  Himpunan Masyarakat Gemar Membaca
(HMGM) Indramayu
Jalan Amamanda Merah No. 6 Perumahan Citra
Dharma Ayu , Margadadi Indramayu 45211
Cetakan ke 1 tahun 2010
Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
Dicetak oleh : HMGM Indramayu
------------------------------------------------------------------------------------------------
ISBN
------------------------------------------------------------------------------------------------



Agus Warsono
11.
Bunyikan Aksara Hatimu
Lama menunggu di peron tawaran asong tiada
henti
kereta lewat bukan tujuan
karcis kupegang basah ditelapak
sileweran copet bodoh
reka kantong penuh dollar
corong stasiun Jogya kereta terakhir akan tiba
dan lampu tembak menerpa wajah duka
memutih
kau diam menutup jiwa bergolak
tebal kaca bola mata
kereta makin dekat kerikil gemeretak.
Getar badan kurus
hati tersayat iba
bilakah kereta barang yang tiba
menambah kalender karcis kereta
agar masih bersua
mega menggeser pura-pura
menambah deras hujan semata
mengapa rekat masih tebal
gigi menggigit bibir kecil
menahan bunyi aksara hatimu.
Indramayu, 13 Oktober 2000