Laman

Kamis, 18 Desember 2014

Ibu Takan Kecewa

Ibu Takan Kecewa
melihat nilai raportku " A "
sehingga ibu tak menghitung piring nasi sarapan pagi
dan membelikan baju seragam dari telor mata sapi setiap hari
ia tak makan enak hanya untuk anak
dan yang dicucinya setiap hari
piring kotor dan kaos kaki.
Ibu takan kecewa
dengan nilai ijazahku "A"
membelikan toga yang sekali pakai
dan tak menghitung lagi transver bulanan
atau ketika aku mengarang kebutuhan
serta fotocopy ribuan lembar
Ibu takan kecewa
walau aku belum dapat kerja
itu bukan nilai raportmu
Ibu tahu aku mendapat "A" di setiap seleksi penerimaan kerja
Ibu tak kecewa

Jumat,19-12-2014

Minggu, 07 Desember 2014

Tandingan -tandingan itu

Tulisan 'tandingan'
Hal mengenai "tandingan" sudah ada sejak zaman pewayangan , dalam sejarah Indonesia 'tandingan' kerap muncul dalam sejarah-sejarah kerajaan. Raja tandingan, ratu tandingan, sampai bupati tandingan itu sudah ada. Di era perjuangan kemerdekaan RI, 'presiden tandingan' pun sudah ada. Dimasa Kemerdekaan juga diteruskan cara-cara ketidak-puasan dengan 'tandingan. Babak-babak tandingan pun dilanjutkan zaman orde lama, orde baru, dan kini orde reformasi.
Disegi ekonomi hal mengenai 'tandingan' ada segi untungnya jika menunjukan persaingan yang sehat lagi pula menguntungkan agar tidak terjadi monopoli. Namun kejadian 'tandingan ini telah terjadi di berbagai segi kehidupan di Indonesia. Di lingkungan pendidikan, organisasi, pemerintahan, hingga organisasi politik.
Bagaimana di dunia sastra Indonesia? apakah pernah terjadi hal 'tandingan' ? Tentu saja ada meskipun tarafnya baru semacam 'persaingan'
Timbulnya raja 'kembar', ratu 'kembar' , atau presiden'kembar' , sampai ketua partai polik kembar adalah akibat ketidakpuasan yang didorong oleh ketidakpuasan lain. Ketidakpuasan itu didorong oleh ambisi , dan "ambisi" bekerja apabila ada dorongan semangat walaupun sedikit, baik itu cita, cinta, sanjungan, materi dan ideologi yang diramu sehingga menjadi ambisius.
Bila kita temukan kejadian 'tandingan' di kehidupan sekarang adalah wajar. Kewajaran itu apabila didasari seperti disebutkan tadi , baik itu cita, cinta, sanjungan, materi dan ideologi yang diramu sehingga menjadi ambisius. Tetapi jangan katakan maklum bila tandingan dipengaruhi pihak ketiga . Jika hal ini terjadi maka bukan lagi tandingan dua pihak tetapi melibatkan berbagai pihak. Nah ini repotnya.

Minggu, 23 November 2014

Di Hari Guru Ini Pak Guru dan Bu Guru Kembali Bersepeda Lagi

Sejak Pidato Presiden Jokowi Umumkan Kenaikan BBM Mulai Tanggal 18 November 2014, harga BBM yang naik : Bensin Rp 8500/Liter, Solar Rp 7500/Liter, Harga BBM Mengalami Kenaikan Mulai Pukul 00.00 Tanggal 18 November 2014 itu merupakan pukulan berat bagi pegawai  khususnya guru. Dengan kenaikan BBM ini akan sangat mengganggu tugas dan kinerja guru di lapangan.
Di l;ain pihak Pemerintah ingin agar kinerja pegawai meningkat sebagai mana didengungkan Kementrian Pemnberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi , yang menuntut agar pegawai negeri sebagai aparatur negara memiliki kinerja yang baik. Dan guru juga merupakan aparatur negara.
Hubungannya dengan kenaikan harga BBM ini adalah hal pendapatan gaji yang semula telah diperhitungkan untuk transportasi kerja kini harus melakukan revisi anggaran rumah tangga pegawai. Jika seorang guru mengeluarkan Rp 10.000,- dalam 3 hari kerja dengan jarak dari rumah kesekolah 5 km misalnya kini dengan uang sebesar itu hanya akan dapat melaksanakan 2 hari perjalanan dari rumah ke sekolah. Di hari Guru ini dengan melihat kenaikan BBM seakan 'hadiah' buat para guru untuk kembali bersepeda lagi.
Ah memang aku ini "Oemar Bakri" begitu kata seorang guru menanggapi kenaikan harga BBM ini. Rupanya pemerintah tak senang melihat Guru sejahtera , katanya bersedih.
Tak ada cara lain untuk menyikapi kenaikan BBM bagi para guru ini kecuali berhemat pendapatan. Salah satu hemat itu adalah dengan tidak lagi menggunakan sepeda motor yang memerlukan bahan bakar bensin yang kini mahal bensin  tetapi kembali bersepeda .
Ya bersepeda cara penanggulangan dampak kenaikan BBM itu. Guru menyadari bahwa kenaikan harga BBM ini mempengaruhi kenaikan barang-barang kebutuhan pokok, namun demikian dengan bersepeda minimalnya terbantu . Anggaran keluarga untuk transportasi kerja kita alihkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang ikutan naik . (Rg Bagus warsono, 23-11-2014)


Jumat, 21 November 2014

pipit kecil dalam sangkar

Aku Ingin Bebas Seperti sunarko
Menanti Sunarko pipit kecil dalam sangkar
bermangkuk air mineral dan jewawut
Tidak aku tidak suka
Aku ingin bebas terbang
melayang diangkasa dan bersiul bebas kapan
Aku tak ingin hinggap di batang kayu dalam sangkar ini
makan dan berak menjadi satu dalam sangkar
aku ingin makan dimana tempat
dan membuang kotoran di padang rumput
Sunarko, aku menunggu mu
melepaskan pintu kandang yang terkunci
atau memotong jeruji sangkar dengan gigimu Sunarko

(Rg Bagus warsono, 19-11-2014)

Soenarko Anak Pecinta Burung sekilas cerpen :

Soenarko Anak Pecinta Burung
sekilas cerpen :
Bocah kecil itu dikerubuti wartawan foto, ia hanya diam tak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sengaja dilontarkan. " Jadi Adik sudah melepaskan burung dari sangkar milik orang sudah berapa jumlahnya?" , begitu tanya wartawan media nasional menanyakan. Soenarko menatap wartawan itu, kemudian ia menjawab dengan santai , " ribuan jumlahnya , Pak" katanya terus terang.
Wartawan-wartawan lain tercengang, anak sekecil itu telah melepaskan ribuan burung yang dipelihara oleh banyak penggemar burung telah dilepaskannya. Ia berada di kantor polisi karena tertangkap basah ketika melepaskan burung dalam sangkar peliharaan seseorang dengan tuduhan pencurian. Namun Soenarko tak memegang berung itu ia sengaja melepaskan burung yang berada dalam sangkar itu.

Demikian cuplikan cerpen anak karya Rg Bagus Warsono yang menggemparkan yang berjudul "Sunarko Terbang Bersama Burung-Burung " yang ditulis tahun 2014 ini.
Diilhami oleh seorang anak penyayang binatang yang gemes ingin melepaskan kalau liat ada burung dalam sangka. Kelakuan Sunarko ini tak disadari oleh pemilik burung berkicau piaraan. Suadah ribuan jumlahnya burung di kota-kota di jawa tengah yang dilepaskan oleh Sunarko tanpa disadari para pemilik burung piaraan. Sunarko yang baru kelas VI SD ini sangat gemas bila melihat burung berada di dalam sangkar. Ia akan berusaha melepaskan burung-burung itu. Tak peduli milik Bapaknya, pamannya atau burung mahal sekalipun. Ia dengan sembunyi=-sembunyi akan membuka sangkar burung dan meninggalkannya begitu saja. Burung yang sangkarnya terbuka itu tentu saja keluar kandang dan terbang.
Demikian kisah cerita pendek anak karya Rg Bagus Warsono yang berjudul Sunarko Terbang Bersama Burung-burung.

Kamis, 13 November 2014

Album kenangan karya -karya Rg Bagus warsono

 1. Hujan telah reda

 2. Di Stasiun Kereta Api


Artikel : Ramadhan dan kepedulian Sosial

 Berita Kegiatan HMGM

 3. Sang Penulis puisi

 4. Nasi Lengko Indramayu

 5. Darim Ikut Khitanan Masal

 6. semangkuk Bubur kacang Hijau

 Artikel Pendidikan : Memantapkan Pengertian Berhitung dengan latihan Untuk Pengajaran di Kelas Rendah

 Artikel Pendidikan : Menampilkan Objek Kongkrit Untuk Pengembangan Siswa SD dalam Mengarang

 Artikel pendidikan : Membantu Anak Mengerjakan PR di Rumah

7. Di Stasiun Kereta Api

Selasa, 30 September 2014

Sejarah Kabupaten Indramayu perlu terus digali

Sejarah Kabupaten Indramayu perlu terus digali untuk menetapkan sejarahnya yang benar. Sejarah sebuah kabupaten erat hubungannya dengan kekuasaan pada masa lalu. Sebuah daerah dapat menjadi kekuasaan pengusa tergantung pada saat itu siapa menguasai dan berganti-ganti. Jika sebuah daerah tak bertuan biasanya diklaim beberapa penguasa di negara tetangganya atau yang lebih besar. Ditilik dari usianya maka Indramayu pada saat berdirinya terdapat pada peta kekuasaan Majapahit (lihat saja sejarah Indonesia). Pada kurun berikutnya Indramayu juga termasuk dalam peta Mataram Islam. Kemudian Kesultanan Cirebon memasukan wilayah ini menjadi menjadi bagianya. Buktinya ada seorang kepala tanah perdikan bernama Dampu Awang juga memberi upeti kepada Cirebon. Pada kurun waktu usia Indramayu juga termasuk dalam kekuasaan pemerintah Belanda. Pada saat pemerintahan Belanda , Belanda mengatur tata pemerintahan Hindia Belanda dengan pembagian wilayah kabupaten dengan kepala pemerintahan yang disebut Bupati. Bahkan pemerintah Belanda juga mengesahkan siapa Bupatinya.

apa itu kata "Ronggo"

Seseorang teman menanyakan apa itu kata "Ronggo" ? pada namaku.
Ini bukan gagah-gagahan mas ini hanya nama kecil pemberian orang tua.
Pada masa penjajahan dulu, Kakek buyutku dan mungkin diatasnya lagi adalah pegawai pemerintah Belanda yang bekerja diperkebunan milik Pemerintah Belanda. Setiap wilayah perkebunan disebut 'Afdeling kepala wilayah perkebunan itu mendapat gelar Ronggo. Karena zaman itu sedikit saja orang menduduki jabatan ini maka banggalah keluarga itu. Hingga akhirnya anak turunannya menggunakan gelar ini, maksudnya agar orang Belanda mengetahui bahwa itu anak ronggo yang merupakan anak pegawai Pemerintah Belanda.
Pada saat itu Kepala wilayah perkebunan bisa kekuasaan perkebunannya lebih luas dari sebuah Kawedanan atau kabupaten. Jabatan ini adalah jabatan produktif bagi pemerintah Belanda. Wajar apabila para Ronggo memiliki akses pada pemerintahan setempat.
Jadi ronggo itu adalah tukang kebun. Dan aku juga kini tukang kebun.
Jadi aku ini bukan apa-apa hanya nama biasa.
Kemudian anak-anakku protes kenapa tidak diberi nama ronggo didepan namanya. Aku jelaskan bahwa ronggo sama dengan sebutan lainnya di zaman sekarang. Tidak bisa ditukar dengan beras.

Senin, 29 September 2014

Andai Gus Dur duduk di DPR sekarang ini

Andai Gus Dur duduk di DPR sekarang ini
dia akan tidur dikala RUU dibahas
lalu bangun dan mementahkan pasal keblinger
dan tidur lagi
lalu bangun lagi dikala sidang pengesahan
dan menuding-nuding beberapa orang yang ada di gedung itu
Katanya, .....
Hay si "A" kamu anaknya siapa? Bukankah bapakmu orang baik? Kamu belajar di mana? Apa sekolahmu di ...... mengajarkan demikian? dan apa anakmu akan diajari kelakuanmu ?
Lalu sidang terdiam sejenak.....
Beberapa anggota yang sadar segera menyebut Agstafirullah .......
Dan akhirnya semua anggota DPR yang tengah sidang itu menciumi tangan
Gus Dur.

Sabtu, 20 September 2014

teknik meningkatkan nilai komersial sebuah talenta.

Seorang artis terkenal adalah warga sebuah RT. Ia diundang untuk mengisi acara 17-an. Ia datang dan mau menyumbangkan talentanya menyanyi. Tanpa gengsi ia berbaur dengan warga RT dan menyanyi beberapa lagu. Suatu kesempatan ia diundang lagi oleh salah seorang warga RT untuk menghibur dia punya kenduri. Lalu apa jawab sang artis, Maaf, katanya, kebetulan aku lagi ada acara pada hari bertepatan dengan tetangganya hajatan itu. Itulah teknik meningkatkan nilai komersial sebuah talenta.

Tetap pada ciri khasmu

Tetap pada ciri khasmu, sehingga kamu punya nilai, pertahankan untuk tidak berpindah haluan sehingga namamu melekat dengan talenta apa yang kau punya, buat ciri khas itu semakin unik sehingga tak ada yang menyamai sehingga kau nomor satu dibidang itu. Seiring dengan itu buat promosi melalui kegiatan kecil dan jangan melakukan kegiatan kecil lagi setelah memiliki pengalaman kegiatan besar. Jangan puas dengan sukses keberhasilan pertama, kedua atau yang lampau, sebab itu hanya sejarah. Katakan sukses kita apa yang kita garap sekarang. Sukses kita slalu di hari esok. Semoga saudaraku, sahabatku, temanku tidak keliru.
Ketika kau balik bertanya, aku bagaimana?
Seperti yang kutulis ini, aku tetap pada pendirianku . Salam.

tak ada salahnya saling memuji

Dalam sebuah acara hut sebuah perusahaan yang mengundang mentri terkait dengan penampilan artis ibukota. di sambutan sang mentri , mentri itu mengatakan ia kalah populair dengan Cak Lontong yang kebetulan adalah salah satu artis yang diundang. Lalu apa balasan Cak Lontong ketika tampil? Cak Lontong memuji habis-habisan sang mentri, katanya, Ia sebagai artis yang belum begitu besar  merasa mendapat pernghargaan  dan penghormatan yang tinggi dipanggil sang mentri yang populair dalam kabinet dan dinilai berhasil dalam tugasnya.
Demikian tak ada salahnya yang sudah merasa besar memuji sesama yang belum beruntung, Justru balasannya ia akan semakin termasyhur.

Sabtu, 13 September 2014

Tetap pada ciri khasnya

Tahukah Anda kenapa penyair itu narsis
Tetap pada ciri khasnya. Inilah yang dilakukan Endah Laras , sinden , biduan campursari, dan juga penyanyi keroncong. Mempertahan kan dan mengasah talenta yang dimilikinya menjadikan terkena lsaat ini hingga ke manca negara. Baginya postur tubuh yang gemuk tak menjadi soal, yang penting tetap pada ke-khas-annya itu ia komitmen. Jadilah endah Laras kini artis dengan bayaran mahal. Hal demikian juga dilakukan oleh Sule dan Soimah yang mempertahankan ciri talentanya

Garin Nugroho sulit dibedakan artis atau sutradara.

Tahukah Anda kenapa penyair itu narsis
Garin Nugroho, adalah tokoh dibelakang layar sebuah film (sutradara) wajah Garin sebelumnya jarang ditemukan. Namun karena ia sering mendapat piala citra dan penghargaan atas film yang disutradarainya, maka akhirnya publik ingin juga lihat wajah Garin. Kini Garin Nugroho sulit dibedakan artis atau sutradara.

1980-an peran pembantu menjadi sorotan publik juga

Tahukah Anda kenapa penyair itu narsis
1980-an , pemeran pembantu sebuah film dapat terkenal dan kemudian menjadi bintang. Bahkan FFI juga memilih peran pembantu terbaik, Hal demikian dikarenakan tv swasta dengan sinetronnya belum ada. Sehingga penampilan peran pembantu menjadi sorotan publik juga. Pada saat itu film menjadi alat publikasi seseorang menjadi terkenal meski mulai dari peran peran pembantu.

Mereka tidak pernah meminta memasang gambar

Tahukah Anda Kenapa penyair itu narsis
Apa yang dilakukan Gombloh persis dilakukan oleh Mbah Surip. Meski tampil nyentrik , khas, dan unik lain dari manusia lain sama sekali dirinya tidak narsis sedikitpun. Ratusan media mengabarkan tentang dua orang ini hingga iklan. Mereka tidak pernah meminta memasang gambar pada media apa pun, justru medialah yang ingin menampilkan gambar wajahnya.

Baginya karya lebih utama untuk dikenal masyarakat ketimbang wajahnya.

Tahukah Anda kenapa penyair itu narsis?
Adalah sastrawan Kelahiran Tegal , Widjati, ( Tjio Wie Tjiat ) seorang penyair yang tak pernah ada gambarnya (batang hidungnya) pada tulisan-tulisannya ketika hidupnya, sastrawan ini banyak menulis di Kedaulatan Rakyat Yogyakarta.Barulah ketika meninggal muncul gambar fothonya.Ia sama sekali tak narsis. Baginya karya lebih utama untuk dikenal masyarakat ketimbang wajahnya.

Kamis, 11 September 2014

Ciri Penyair itu ia menjadi buku

Jangan dikira rambut gondrong itu ciri penyair, nanti yang plontos gundul marah. jadi bukan itu ciri penyair itu. Bukan ciri fisik. Ciri ciri umum itu misalnya dekat dengan buku, kutu buku, dan menjadi buku. Menjadi buku artinya penyair adalah buku. ia tempat bertanya bagi siapa saja.

Jadi Penyair itu mudah

Jadi Penyair itu mudah asal siap melarat dan siap terkenal
Demikian sebuah lagu keroncong berjudul Hasrat Menjadi Seniman yang dibawakan oleh Bram Titaly , suatu cita-cita yang mungkin dirasakan oleh seseorang. Penuh liku, dan pengorbanan, penuh intrik, penuh pengorbanan. Namun juga karena sudah keinginannya yang menggebu maka segala resiko itu harus dilaluinya. Kemudian menjadi kepuasan tersendiri.
Apa yang dikatakan Bram Titaly (ayah dari Harvey Malaiholo disebut juga Bram Aceh) adalah contoh agar menjadi pertimbangan jika ingin menjadi seniman.
Berikut langkah konyol untuk menjadi seorang penyair (seniman sastra)
Pertama mulailah dengan memposisikan diri dilingkungan terkecil ditempat Anda sebagai seorang penyair.
Berikut langkah konyol untuk menjadi seorang penyair (seniman sastra)
Pertama mulailah dengan memposisikan diri dilingkungan terkecil ditempat Anda sebagai seorang penyair, bisa dilingkungan RT, tempat kerja, kuliah, atau di kampung. Memposisikan diri seorang penyair itu tentu saja dengan merubah segala bentuk perlakuan diri. Bisa saja berperilaku nyentrik namun mulailah dengan bukti karya syairnya karya tulisan , terus dan terus menunjukan karya itu dari tingkat lingkungan terkecil sampai publik dunia. (bersambung)

Baca Puisi untuk Mendukung Minat Baca Buku

Yuk kita mulai dengan obrolan kita malam ini Rezeki Penyair.
Adalah seorang WS Rendra dengan bayaran terkecil 6 jt rupiah dalam sekali tampil membaca puisi , itu di tahun 80-an. Kira-kira di krus rupiahkan sekarang mungkin bernilai 60 jt-an. Sampai saat ini belum ada seorang penyair pun yang dapat menandingi harga sebuah penampilan.
Rendra sebetulnya tidak mematok harga untuk sebuah penampilannya, namun semua orang turut memberikan apresiasi tinggi terhadap penampilannya. Padahal penyair ini juga sering tampil tanpa honorarium biasanya apabila ia tampil sesuai kehendak hatinya.
Untuk menjadikan Anda seperti Rendra sebetulnya sudah dicontohkan secara tak sengaja oleh Rendra sendiri. Ia-lah yang memulai membaca puisi dijadikan sebuah intertaiment untuk dapat dinikmati khalayak. Ia juga-lah yang menjadikan bahwa seorang penyair dapat mensejajarkan diri dengan seorang artis terkenal. Namun belakangan justru diciderai oleh penyairnya sendiri.
 Namun belakangan justru diciderai oleh penyairnya sendiri.
Yaitu ketika penyair mengundang kehadiran masyarakat untuk datang ketika dirinya membaca puisi, dan bukan masyarakat yang mengundang penyair untuk tampil membaca puisi.
Rendra sendiri. Ia-lah yang memulai membaca puisi dijadikan sebuah intertaiment  sehingga memiliki nilai penghargaan finansial dari masyarakat, punya harga nilai profesi. Namun belakangan justru banyak penyair dengan murahnya tampil membaca puisi. Tanpa ditonton masyarakat umum, karena yang nonton juga penyairmnya sendiri.
Ada banyak hal terjadi belakangan di dunia kepenyairan. Rendra menyadari tingkat minat baca masyarakat Indonesia. Justru itu ia memberi pola penyampaian lewat penampilan baca puisi. Penampilan baca puisi ini untuk mendukung buku yang ditulisnya agar bukunya mengundang daya tarik untuk dibaca.

Selasa, 09 September 2014

Puisi apa rempeyek

Tema malam ini adalah buku puisi tebal .
Bukunya setebal KBBI, sebuah antologi tunggal pasti ratusan jumlah puisinya. Hebat dan luar biasa penyairnya.
Pastilah orang bilang keren antologinya.
Aku menduga itu dikarang dalam kurun waktu berpuluh tahun. Namun setelah dibaca semua ciptaan tahun 2013 terbitnya bulan Juni. Halaman belakangnya tertera angka 370 . Ada puisi pendek ada juga yang seperti genre puisi esai hingga 4 halaman. Pokoknya keren. So pasti penyairnya dalam tahun 2013 ini sangat produktif. Sebab dalam kurun setengah tahun atau 132 hari mampu membuat 370 puisi. Ini berarti rata-rata sehari dua puisi tercipta. Pendek kata produksinya kaya rempeyek atau mendoan, Begitu nyemplung di minyak langsung diangkat.

hanya bisa menulis yang bagus-bagus

Tentu saja aku hanya bisa menulis yang bagus-bagus untuk sahabat baikku, dan yang bagus bagus juga untuk sahabat yang mungkin telah menganggap aku mengecewakannya. Karena penafsiran Anda salah, karena aku slalu baik pada semua orang.

aku slalu baik pada semua orang.

Tentu saja aku hanya bisa menulis yang bagus-bagus untuk sahabat baikku, dan yang bagus bagus juga untuk sahabat yang mungkin telah menganggap aku mengecewakannya. Karena penafsiran Anda salah, karena aku slalu baik pada semua orang.

seorang hamba yang mau berguru.

Oh, tentu saja aku ingin belajar pada Tuan, tetapi suatu ilmu yang baru agar aku suka mempelajarinya. Tetapi sungguh pun Anda populair dan hebat, aku 'ogah' belajar padamu karena terbersit budi yang bagiku kurang cocok bagiku sebagai hamba, seorang hamba yang mau berguru.

Biarkan aku berada bersama kawan-kawan untuk leluasa memandangmu Tuan yang di atas

Sama sekali aku tidak tersinggung, karena aku memang belum apa-apa dibanding Anda, bahkan aku masih pada tataran terendah yang mungkin harus melampoi tahapan agar sejajar dengan Anda. Walau demikian aku tak akan melangkah menuju tahapan seperti Anda, biarkan aku berada bersama kawan-kawan untuk leluasa memandangmu Tuan yang di atas.

Rabu, 03 September 2014

Tentang narsis-nya penyair

Narsis adalah Kepopulairan kontemporer 
Berkarya adalah awal kepopulairan abadi 
Kepopulairan kontemporer dan kepopulairan abadi itu keduanya perlu promosi
Promosi didalamnya ada narsisnya
Karena itu jalur narsis juga perlu namun tetap dibarengi dengan berkarya .

Selasa, 26 Agustus 2014

Rindu Kampung Halaman di Negri Sendiri, sebuah Pengantar Antologi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Jilid II

Sekilas Buku

Rindu Kampung Halaman di Negri Sendiri
Oleh : Rg Bagus warsono

Bilakah rindu kampung halaman, namun hanya kerinduan yang hanya bayangan masa lalu desa tempat kelahiran kita. Ingin rasanya kembali di tengah suasana modern kini. Namun jauh untuk menuju tempat itu walau kini berada dalam desa yang telah berubah. 
Kerinduan itudiungkapkan Ali Syamsudin Arsi, dalam sebuah puisinya yang berjudul ‘Ia Lekat di Pelupuk Mata’  katanya….//”ibuku menyatukan daun-daun pisang lantas dibawa ke tengah pasar untuk ditawarkan aku ikut di sampingnya dengan langkah kecil tatapan mata kecil dan harapan-harapan kecil – aku pernah kecil dan tak punya daya ketika berlari di jalan setapak yang berkelok-kelok menuju arus sungai berpasir dengan jamban-jamban pemandian – kecipaknya aku sangat merindukan- ia lekat di pelupuk mata”//….Sebuah kenangan masa lalu dengan pengalaman masa kecilnya.

Merindukan masa kecil di kampung kelahiran adalah menggali kenangan dan bahkan budaya yang kian berubah dan bergnti, Dewa Putu Sahadewa. Dalam puisinya ‘Dua kampung’ seperti …//”Kuterima sirih pinangmu-Sebagai natoni jiwa-Pesta padang kuda liar-
Senada-Kunyahan sekapur sirih-Tembang rare-Di pesta panen padi”//.Budaya desa juga menjadi cirri melekat kerinduan itu pada desa kita dimana pun kita berada.Namun kenyataan kini sudah banyak berubah banyak budaya desa yang sulit dipertahankan.
Kemudian Diah Natalia melantunkan kenangan masa kecilnya di ‘Banten Kulihat Kudengar’ seperti:“Aku pernah melihat,Tentang anak-anak nelayan. Yang terpaksa meninggalkanBangku-bangku sekolah. Karena terpaksa harus bekerja”//…...
Di sisi lain En Kurliadi Nf masih menuliskan kerinduan itu pada puisinyaGubuk Kami : kapung ragangdemikian bunyinya:…//gubuk ini kami bangun dengan keringat kuningpagi yang merapat pada senja
ternak yang dilepas ke lading sedangkan bila terbangun dari tidursungai mengirim kecipak airnya kehilir
ke tanah seberang, tempat jagung dan padi tumbuh juga
batu yang kanvas diantara hutan belukar//….
SementraJack Efendidalam  „Majapahit, aku berhasrat Pulang” ...//Setelah lama berburu silau di gebyarnya ibukota.  Aku cemburu pada kemolekan Jaladwara di candimu. Memancurkan tirta ke ladang-ladang serta sawah. Aku risau dengan cara para punggawamu mengadunkan dirimu,//… 

Penyair lain dalam buku ini seperti  Nur Lathifah Khoerun Nisa dalam puisi berjudul“Pesona Kroya”
//Aku menjadi dewasa dipusaran kota ini,berlatih dan meniti langkah demi langkah kehidupanAromanya selalu merindu diri//…Sedang Sugi Hartono dalam puisi Batanghari menuturkan : //aku adalah hati
menyatu dilubuk hulu ke hilirmenggelayut dari purba
dengan cinta penuh maknapenghulu satu 
memadu rindu dari waktu ke waktu//…..Tak dapat dipungkiri  ia menyimpan kerinduan dan rindu yang muncul tiba-tiba , ungkapan kerinduan dari hasrat kembali pulang. 

Di lembar lainSindi Violindamenulis dalam 
“Hilangnya Kampung Halaman”…//Engkaulah wanita rentan yang setia menungguKulepaskan segala rindu padamu, Mak!Namun samar-samar akhirnya kusadar jugaKulirik sudut demi sudut kampungku berbeda//…
Begitu juga Tuti Anggraeni dalam “Rindu”…//di antara ada dan tiada engkau bersimaharaja pecahkan segala akal semua logika telinga, hidung, mata dan pancaindra mati merasa ruang waktu jarak terkapar tergeletak tersisa wajahmu penghilang seribu hasrat//…

Penyair lain sepertiYusti Aprilina dalam puisinya
“Pantai Panjang”mengisahkan : …//bermacam aneka panganan dijajakan oleh ibu-ibu ada udang dan kepiting goreng tepung kriukdi sepanjang pantai warung-warung  menjajakan kelapa muda dan jagung bakar
asyik disantap kala sore menjelang menyaksikan sunset di ufuk baratmenikmati angin datang sepoi-sepoi
dan angan melayang nun jauh di seberang lautan
kenangan masih terus membayang, di tepi pantai ini//.

Penyair Bambang Widiatmokomenulis puisinya berjudul “Boulevard “//Setiap aku kembali ke tempat asal mulaDeretan pohon cemara masih setia menyapa
Yang hilang hanya tanah  mengubah bulakDan menutup sumur hingga tak tersisa. / Aku selalu setia menjalani kehidupanSeperti boulevard tempat aku bermain layang-layangJuga tetap tegar seperti pilar-pilar balairung//. Demikian menyatu sampai sukma membeku.//

Kemudian penyairFasha Imani Febriyanti dalam puisi 
“Sebuah Perjamuan”…//barangkali sudah kehendak illahihitam dan putih sebuah takdir.perwujudan cinta adalah harapanseperti halnya harapan purba
biarlah kutelan kenyataan ini//.
Lain itu semua , Djemi Tomuka dalam “Anak-anak Laut”(masa kecilku di kampung) berikut cuplikannya ….//ufuk baru saja tumbuh dengan cawat terikat dan dada telanjang anak-anak itu mulai menjelujur asin-asin laut dikedua tangannya berbaris di pasir dengan kaki setengah air memunguti satu persatu biji-biji terik yang menempel di soma bapak : hari-harinya, laut yang selama ini membusungkan dadanya siang masih sedikit miring ketika anak-anak itu harus kembali menggulung//…
Penyair BaliWayan Jengki Sunartajuga seakan mengahiri semua kerinduan itu berikut cuplikannya dalam “Di Somba Opu”: …//di somba opuapa yang piluselain langkah makin ragumenjauhdari istanamu//. Lalu  penyairArdi Susantimengahiri kerinduan kampong halaman itu dengan “Kebun Teh Kotaku” : …//sejauh mata hamparan perdu the indah mengukir bebukitanmentari tersenyum malu kabut perlahan merangkak naik wanita-wanita perkasa ke luar peraduan berjalan kelilingi bukit kerangjang di bahu 
jari-jamari lentik lincah menari di pucuk-pucuk daun teh 
tanpa kenal lelah, tanpa hati patah//.
                                   --------------------

Puisi Rg Bagus Warsono yang Ratusan Ribu Kali Dibaca oleh Pelajar dan Mahasiswa se Indonesia dalam Acara-acara Kegiatan Kritik Terhadap Budaya Korupsi

Tangkap Aku walau di Sangkarmu



POTONG JARI MANISKU SAJA karya Rg. Bagus Warsono
Potong Jari Manisku Saja
Boleh di dua tanganku
dan sayur sup beraroma khas nusantara
kupersembahkan untuk tuan mulia
dengan pernyataan bermaterai sejuta
karna yang enamribu masih bisa ditipu
dan aku hadirkan seratus saksi biksu
karna saksi berni kalau seratusjuta
Tuan tak ada algojo muntilasi
tembak mati berarti menunggu
hukum mati berarti menunggu taubat
dikurung berari bersembunyi
banding berari menambah rezeki
boleh di dua tanganku
dengan mangkuk kuah kaldu
Potong jari manisku saja
tanpa publikasi
karena semua yakin untuk tulang sup negeri
dan ada cctv sebagai saksi tadi malam
yang tiada gambar karena petang
gelap warna meski baterai baru
yang terlihat hanya darah
menghitam menutupi semua layar
menimbulkan keyakinan hakim
tak pengaruh bila tiada jari manis
kalian bebas tanpa syarat..............................
Potong jari manisku saja katanya.
Indramayu, 23 Oktober 2013

Karya : Rg Bagus Warsono

rupanya diklat belut putih berhasil menyentuh

pejabat-pejabat eselon
kemudian dikirim untuk menjadi sastrawan
agar pandai mengarang cerita
mimpi, hayal, rekacerita, sampai ngarang cerpen dan novel
humaniora dan hukum konvensional
maka kuatlah ia
sekarang
tangkap aku walau di sangkarmu
jangan pakai surat undangan
jemput paksa atau cekal luar kota
aku akan datang sendiri ke KPK
menghampiri pendekar-pendekar pembela Tanah Air
tangkap aku walau di sarangmu
maka
aku tak meminta kau menyuruhku pulang
aku tak memohon kau mengabulkan
tangkap aku walau di sangkarmu
aku tak akan terbang
silahkan tangkap aku walau di sangkarmu.

Indramayu, 8 Nofember 2013

Selasa, 19 Agustus 2014

"Silahkan yang mau baca proklamasi?

"Silahkan yang mau baca proklamasi? Siapa yang siap menjadi proklamator?" begitu Bung karno menawarkan para teman-temannya, sambil menenteng naskah teks proklamasi yang terlihat banyak coretan ralat. Tan Malaka, Ali sastroamijoyo, Iwa Kusumasumantri, Chaerul saleh hanya menggeleng kapala. Karena dihadapkan resiko maut . Ya didor ! penjajah resikonya. Di luar pemuda-pemudi menanti segera proklamasi merdeka dibacakan.

Bu Fat, menjahit kain bendera pertama saat proklamasi dibacakan,

Semalaman Bu Fat, menjahit kain bendera pertama saat proklamasi dibacakan,(Bukan bendera pusaka setiap 17-an dipersandingkan dengan bendera yang akan dikibarkan di Istana Negara) ukurannya lebih kecil, maklumlah dijahit dengan tangan , kain merah dan putihnya pun tidak bahan sejenis, dan sebetulnya tidak sendirian ada beberapa teman wanita pergerakan yang ikut menemani.

Makna Tanggal 17 Agustus 1045

Waktu suasana tenang kembali. Setelah Bung Karno duduk. Dengan suara rendah ia mulai berbicara; " Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17 ". " Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja, atau tanggal 16 ?" tanya Sukarni. " Saya seorang yang percaya pada mistik”. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita. tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Al-Qur'an diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia ". Demikianlah antara lain dialog antara Bung Karno dengan para pemuda di Rengasdengklok sebagaimana ditulis Lasmidjah Hardi (1984:61).

PROKLAMASI

PROKLAMASI; Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia . Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta , 17 Agustus 1945. Atas nama bangsa Indonesia Soekarno/Hatta.
Demikianlah saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita! Mulai saat ini kita menyusun Negara kita! Negara Merdeka. Negara Republik Indonesia merdeka, kekal, dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu". (Koesnodiprojo, 1951).

Urutan Tanda jasa dari tertinggi ke terendah

Urutan Tanda jasa dari tertinggi ke terendah
Bintang Republik Indonesia adalah tanda kehormatan yang tertinggi dan dikeluarkan untuk menghargai mereka yang secara luar biasa menjaga keutuhan, kelangsungan, dan kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Bintang Republik Indonesia terbagi dalam lima kelas yaitu:
Bintang Republik Indonesia Adipurna
Bintang Republik Indonesia Adipradana
Bintang Republik Indonesia Utama
Bintang Republik Indonesia Pratama
Bintang Republik Indonesia Nararya
Bintang Mahaputra, adalah bintang penghargaan sipil yang tertinggi, tetapi dikeluarkan dan diberikan sesudah Bintang Republik Indonesia kepada anggota korps militer. Bintang ini diberikan bagi mereka yang berjasa secara luar biasa pada bidang militer pula.
Bintang Mahaputra dibagi dalam lima kelas yaitu:
Bintang Mahaputra Adipurna
Bintang Mahaputra Adipradana
Bintang Mahaputra Utama
Bintang Mahaputra Pratama
Bintang Mahaputra Nararya

berprestasi luar biasa tidak mutlak melekat dengan kepribadian

Pemberian Penghargaan dari negara oleh Presiden kepada seseorang yang berprestasi luar biasa tidak mutlak melekat dengan kepribadian keteladaan dari si penerima penghargaan itu. Adakalanya kemudian hari pemegang tanda jasa itu melakukan tindak korupsi. sungguh memalukan.

Kemerdekaan tak lepas dari nama Chaerul Saleh

Kemerdekaan tak lepas dari nama Chaerul Saleh , sejarah pun kadang tak menyebutnya, siapa orang ini?
Chaerul Saleh gelar Datuk Paduko Rajo (lahir di Sawahlunto, Sumatera Barat, 13 September 1916 – meninggal di Jakarta, 8 Februari 1967 pada umur 50 tahun)adalah seorang pejuang dan tokoh politik Indonesia yang pernah menjabat sebagai wakil perdana menteri, menteri, dan ketua MPRS antara tahun 1957 sampai 1966. Ia juga menelurkan ide negara kepulauan dengan batas teritorial 12 mil laut yang di­sahkan pada 13 Desember 1957. Atas jasa-jasanya Chaerul dianugerahi pangkat Jenderal TNI Kehormatan.
Pada masa Hindia-Belanda, Chaerul menjabat sebagai Ketua Persatuan Pemuda Pelajar Indonesia (1940-1942). Setelah Jepang masuk Indonesia, dia menjadi anggota panitia Seinendan dan anggota Angkatan Muda Indonesia. Kemudian ia berbalik arah menjadi anti-Jepang dan ikut membentuk Barisan Banteng serta menjadi anggota Putera pimpinan Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantoro dan Kyai Haji Mas Mansyur.
Chaerul merupakan salah satu tokoh penting dibalik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Bersama Sukarni, Wikana, dan pemuda lainnya dari Menteng 31, ia menculik Soekarno dan Hatta dalam Peristiwa Rengasdengklok. Mereka menuntut agar kedua tokoh ini segera membacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1946, Chaerul bergabung dengan Persatuan Perjuangan pimpinan Tan Malaka. Kelompok ini menuntut kemerdekaan 100% dan berdiri sebagai pihak oposisi pemerintah. Oleh karenanya pada tanggal 17 Maret 1946, beberapa tokoh kelompok ini ditangkap termasuk diantaranya Chaerul. Pada tanggal 6 Juli 1948, Tan Malaka mendirikan Gerakan Rakyat Revolusioner dan menunjuk Chaerul Saleh sebagai sekretaris pergerakan.
Setelah kematian Tan Malaka, Chaerul bersama Adam Malik dan Sukarni berhimpun di dalam Partai Murba. Tahun 1950, Chaerul memimpin Laskar Rakyat di Jawa Barat untuk menentang hasil Konferensi Meja Bundar (KMB). Ia kemudian ditangkap oleh Abdul Haris Nasution dan dibuang ke Jerman. Disana ia kemudian melanjutkan studinya ke Fakultas Hukum Universitas Bonn dan mendirikan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI)

Kesaksian Adam Malik

Kesaksian Adam Malik menyatakan bahwa penculikan terhadap Soekarno -Hatta oleh para pemuda itu terjadi (dengan luapan emosi untuk segera memerdekaan Indonesia ke Rengas Dengklok) dimana Bung Karno sampai menuruti saja para penculik itu dikarenakan para pemuda memberi alasan pada Bung Karno bahwa Dwi Tunggal harus dijaga keselamatannya. Andai tak memberi alasan itu tak mungkinlah Chaerul Saleh berani menculik Bung Karno.

Chaerul saleh, diam seribu basa.

Ketika para penculik, di rumah Rengas Dengklok mendesak Soekarno -hatta untuk segera memerdekakan Indonesia di hari itu juga 16 Agustus 1945 , Bung Kano menjawab dengan memberikan penjelasannya. Dan ketika para penculik itu mendesaknya sekali lagi, maka habis kesabaran Bung Karno itu. Para pencuik itu dibentak. Maka tiadalah suara di ruang rumah kecil di Rengas Dengklok itu. Para penculik yang sebenarnya juga para pemuda pejuang pergerakan itu , termasuk pemimpinya , Chaerul saleh, diam seribu basa.

Mengapa saudara tidak memproklamasikan kemerdekaan itu sendiri ?

” Ini batang leherku, seretlah saya ke pojok itu dan potonglah leherku malam ini juga! Kamu tidak usah menunggu esok hari !”. Bung Karno membentak para pemuda yang tidak sabar itu.
Bung Hatta kemudian menasehati memperingatkan Wikana; “… Jepang adalah masa silam. Kita sekarang harus menghadapi Belanda yang akan berusaha untuk kembali menjadi tuan di negeri kita ini. Jika saudara tidak setuju dengan apa yang telah saya katakan, dan mengira bahwa saudara telah siap dan sanggup untuk memproklamasikan kemerdekaan, mengapa saudara tidak memproklamasikan kemerdekaan itu sendiri ? Mengapa meminta Soekarno untuk melakukan hal itu ?”

dampak dari keikutsertaan Kasman menandatangani Petisi 50

Seandainya saya Presiden RI saya akan beri penghargan kepada Pahlawan Bangsa yang sengaja dilewatkan : ...............
" Pada 12 Agustus 1992, Presiden Soeharto memberikan Bintang Mahaputera kepada para mantan anggota BPUPK dan PPKI, Kasman Singodimedjo dilewati. Patut diduga, ini adalah dampak dari keikutsertaan Kasman menandatangani Petisi 50."

Kamis, 07 Agustus 2014

Menjadi Pelukis Untuk Mencukupi Kebutuhan

 Mungkin pembaca berminat dapat menghubungi lewat sms o82126776000
harga sangat murah 300rb kirim seluruh Indonesia


Jumat, 25 Juli 2014

Bersastra Sembari Kerja

Jangan dikira penyair itu tak ada perubahan mental
kini dapat diamati mereka telah melakukan bersastra sembari kerja
sebuah revolusi mental penyair Indonesia , karena itu tak jarang penyair berprofesi ganda. Sehingga memberi embal embel dokter juga penyair, polisi juga penyair, tentara juga penyair, pengusaha yg juga penyar, guru yang juga penyair, petani yang juga penyair, dll. Dan ini anda pembuktiannya, kalau tidak demikian apa mau makan puisi?

Tentang Sayur Lodeh

Waktu usiaku 10 th ibuku tak kuat beli daging di hari lebaran. Namun Ibuku sungguh wanita luar biasa, hanya dengan beberapa rupiah dibelinya bahan masakan untuk sayur lodeh. Ketika anak-anak semuanya 7 orang pulang dari sholat Ied kita makan bersama tanpa daging, Hanya sayur lodeh. Tapi anak-anak tiada yang protes, semua mensyukuri apa adanya. Ketupat memang ada dibuat beberapa puluh sekadar menyenangkan adik kecil. Sampai sekarang aku tetap mengenang sayur lodeh ibu. Di hari kedua ibu pun memasak lagi sayur asem sengaja dibuat banyak agar sampai sore hari. ketika sanak saudara bersilaturahmi ke rumahku tak ada makanan yang baik kecuali makan siang . Jadilah kita makan bersama sanak saudara padahal hanya dengan sayur asem dan tempe mereka makan juga makanan kita\yang sangat sederhana itu. Padahal sanak saudaraku orang orang kaya namun suka masakan ibuku. Entah mengapa mereka justru senang makan dirumahku ketimbang dirumahnya yang penuh makanan enak.
Sayur lodeh kini menjadi makanan favoriete anak-anak ketika semua pada berkeluarga. Bahkan beberapa menantu yang slalu diejek tidak bisa masak sayur lodeh berusaha belajar pada mbakku yang sulung. Termasuk istriku berkali-kali masak sayur lodeh tetap saja tak seenak ibu memasak. Kadang sering aku memarahi istri gara-gara sayur lodeh yang tidak karuan. Andai ibuku masih hidup besok lebaran ini tak usah masak apa-apa cukup sayur lodeh yang istimewa buatan ibuku.

Minggu, 20 Juli 2014

Yen ngaku wis populair

"Yen ngaku pinter, wis populair, wis ndue aran gede ojo wedhi disaingi karo sing enom.
Malah kudune mongmong sing enom-enom iku. Sangkane sing enom arep ngurangi rejekine sampean? Malah sing enom-enom iku jan pinter golek duit lain akeh kreatifitase.
Ader sampean dicatet nang buku lan dipelajari go sinau siswa? Ya ora lah, wong sampean karyane elek lan langka sing maca.
Saiki wis konangan, sampean monopoli komunitas sastrawan. Tak jamin ora bakal sue ya bakale kewirangan lan bubar !"

18 Juli 2014

Sabtu, 12 Juli 2014

Berkacalah pada Bumbung Kosong

Berkacalah pada Bumbung Kosong
oleh Rg Bagus warsono

Bumbung Kosong demikian sebutan untuk tidak memilih calon Kepala Desa dikarenakan Pemilihan Kepala Desa hanya diikuti seorang peserta. Bumbung kosong bisa berbentuk kotak kosong tanpa nama, di surat suara pun tak ada gambar maupun nama (seandainya menggunakan surat suara) dan seandainya menggunakan alat lain,  bumbung tak bernama disediakan untuk diisi bagi pemilik suara yang tidak menghendaki calon kepala desa yang seorang itu.

Bumbung kosong menjadi alternatif pilihan walau pun calan hanya seorang dan pemilihan kepala desa harus dilaksanakan. Ia menjadi tempat ketidak-setujuan warga desa atas sosok calon kepala desa, juga menjadi tempat bersemayam berbagai ketidak-setujuan warga atas sistem pelaksanaan dan sebagainya. Bumbung kosong juga menampung suara-suara golput.

Ini Indonesia negeri yang unik. Orang disuruh memilih sesuatu yang tidak ada dalam suatu pemilihan aparatur negara yakni Kepala Desa. Lucu kelihtannya, bukan? Karena yang tidak ada itu menjadi pilihan maka ada pemilihnya, bahkan sering terjadi Bumbung Kosong memenangi pemilihan dalam ajang Pemilihan Kepala Desa.

Bukan itu saja Indonesia menjadi negri yang  unik, namun juga menyimpan misteri. Bumbung kosong menjadi sosok yang menakutkan bagi pesaingnya yang hanya seorang itu. Karena menjadi alternatif pilihan bumbung kosong menjadi memiliki “roh” seakan hidup dan memiliki kekuatan, padahal bumbung kosong tanpa gerak, tanpa tim sukses, tanpa strategi, dan tanpa pos komando serta majikan.

Rakyat Indonesia ternyata biasa dihadapkan pada pilihan ya atau tidak, setuju atau tidak setuju, ada atau tidak ada, memilih atau tidak memilih. Desa ditentukan oleh warga desanya. Demokratis yang mengakar di masyarakat.

Bagi tim sukses Calon Kepala Desa yang hanya seorang itu justru dihadapkan pada kerja keras untuk memenangkan pemilihan dalam ajang Pemilihan Kepala Desa itu karena berhadapan dengan musuh yang tidak diketahui. Kerja tim sukses untuk meraih banyak suara tetap dilakukan. Semakin kuat tim sukses calon kepala desa yang hanya seorang itu bekerja, semakin kuat Bumbung Kosong itu, padahal di pihak Bumbung kosong tak ada yang bergerak,  tak ada yang mewakili seorang pun. Itulah ‘roh’ Bumbung Kosong.

Kecintaan pada kampung halaman adalah kecintaan warga kampung itu, mereka tak mau Desa terbaiknya tanpa kepala desa, tanpa lambang pemimpin, tanpa ada sosok pucuk pimpinan yang mengatur keadaan desa dan warganya, jadi calon yang seorang itu adalah putra terbaik desa yang harus dipilih. Sebaliknya warga desa pun tak mau mengorbankan desanya sehingga bumbung kosong menjadialternatif untuk menunggu sampai kemudian kelak akan ada pemilihan berikutnya dengan calon yang lebih baik.

Ketika pemilihan kepala desa itu dilaksanakan dan dihitung angkanya. Apa mau dikata Bumbung Kosong pemenangnya. Sebaliknya  ketika Bumbung kosong itu kalah dan pemenangnya pada calon yang seorang itu, maka betapa lucunya seseorang bertarung dengan sesuatu yang tidak ada namun dilaksanakan di ajang Pemilihan Kepala Desa yang mengeluarkan biaya dan tenaga yang besar.

Bersyukur Republik ini  miliki dua pasang capres-cawapres dalam pilpres 2014 ini.  Mereka dua orang capres dan dua orang cawapres adalah putra terbaik bangsa ini. Siapa yang terpilih pasti adalah yang terbaik untuk bangsa ini. Semoga tak akan terjadi Bumbung kosong di Pemilu Presiden Republik ini agar kita tidak merugi.

Jumat, 11 Juli 2014

ORANG INDONESIA ITU PALING SUSAH MENERIMA KEKALAHAN

Demikian sejarah Indonesia menulis, karakter manusia Indonesia yang sulit menerima kekalahan. Bahkan karena yakinnya akan kemenangan sebuah nasehat slalu mengatakan bahwa kekalahan “hanyalah kemenangan tertunda”.

Zaman penjajahan doeloe banyak pertempuran-pertempuran melawan penjajhan diceritakan oleh para sejarahwan slalu berujung kemenangan, sehingga berujung muncul beberapa tokoh pahlawan nasional. Sebuah peperangan biasanya diambil menghitung jumlah prajurit, logistik, persenjataan, perjanjian, wilayah kekuasaan,  pampasan dan pengakuan. Namun orang Indonesia slalu memunculkan sisi kemenangan di salah satu segi kreteria perhitungan hasil kemenangan. Jika banyak prajurit yang gugur, slalu sejarawan menyebutkan bahwa ‘beruntunglah bawaha pimpinan peperangan itu (raja, senopati, dsb) masih selamat.  Jika sampai ada raja yang menyerah tanpa syarat, dimunculkan tokoh lain agar kekalahan tak terjadi.

Keunikan Indonesia ini sampai pula pada masa perang kemerdekaan. Ada beberapa perjanjian  dengan pihak penjajah yang merugikan kita. Namun karena Indonesia itu tak begitu sajatunduk pada perjanjian, maka slalu perjanjian itu dibatalkan . Disinilah atas dasar rasa cinta Tanah Air kita tak akan mau menerima kekalahan pada masa itu.

Keteguhan tidak mau menerima kekalahan itu juga dibuktikan oleh Diponegoro, meski sudah ditangkap, pantang baginya untuk menyerah. Begitu juga Soekarno, tak ada kata menyerah meski harus mengalami penjara/hukuman ataupu pembuangan.

Terakhir sudah jelas-jelas kekalahan politik saat terjadi  jajak pendapat tentang Timor Timur , tetap saja orang Indonesia mengatakan nan memungkiri sebuah kekalahan politik Indonesia.

Di bidang olah raga misalnya, meski kalah bertanding, slalu media kita memberikan kesan menghibur diri, dengan memberikan sanjungan akan perjuangan mati-matian membela nama bangsa ini.

Karakter ’susah menerima kekalahan’ ini melekat erat dengan sifat orang  jawa yang slalu menyebut kata ‘beruntung’ bila terjadi kegagalan bahkan terjadi kecelakaan. Untung masih ada……….., untung masih hidup , untung diselamatkan, untung masih bisa dibayar, untung tidak ketinggalan , dan sebagainya.

Karakter susah menerima kekalahan ini di diwariskan juga oleh budaya nenek moyang kita. cerita-cerita kepahlawanan slalu berujung kemenangan. Cerita ludruk dan wayang slalu dimenangkan oleh tokoh yang diidolakan rakyat.  Sehingga begitu tertanam di hati anak-anak kita jiwa kesatria yang pantang menyerah.

Begitu juga falsafah-falsafah digunakan dalam berbagai organisasi, “pantang menyerah’, ‘pantang puitus asa’, ‘pantang mundur’, dan berbagai semboyan kedaerahan seperti ’sekali layar terkembang , pantang surut kepantai’, “rawe-rawe rantas malang-malang putung” sebagai perumpamaan agar segala yang merintangi maksud tujuan harus disingkirkan.

Demikian keistimewaan  orang Indonesia. Jika orang Barat mengatakan menyerah itu sebagai gentelmant, maka sebaliknya orang Indonesia kebanyakan untuk mau mengakui kekalahan itu justru sebagai orang yang dituduh penakut, bukan ksatria , kurang gentelmant.

Sekali lagi kegagalan itu hanyalah kemenangan tertunda begitu kata banyak motivator. Kita belum siap menerima kekalahan. Menerima kekalahan berarti malu . Dan malu ini dianggap sampai anak cucu. Meski ada juga oprang yang legowo dan mau menerima kekalahan , hanya terdapat pada orang-orang yang menyadari bahwa setiap pertarungan bentukapa pun slalu ada kalah dan menang. ***

Tags:

Jumat, 11 April 2014

Pengantar Antologi LUMBUNG PUISI SASTRAWAN INDONESIA 2014


Kekecewaan , Penyesalan dan Keyakinan Penyair Jiwa Kebhinnekaan

Ali Syamsudin Arsi seorang penyair asal Barabai, Kab. Hulu Sungai Tengah, Prov. Kalimantan Selatan seakan mebuka antologi ini dengan kekhawatiran terhadap negeri dengan terlulis lewat  “Daun-daun di jendela Perpustakaan geriis”  //… -ada libasan bayang-bayang ketika orang-orang berduyun di belakang berebut saling mencengkeram denga jari-jari tajam – kami hilang catatan – negeri ini semakin menuju arah ke curam-curam ketika tebing dengan setia menelentangkan tubuhnya atas keluh dan semua macam resahnya retak-retak embun sampai pecah-pecah cuaca,..// (Daun-daun di jendela Perpustakaan geriis) bahwa perlunya dokumentasi sejarah di masa sekarang (dibuat januari 2014) dan perlunya pengokohan fundamental anak bangsa yang tidak saja menipis tetapi juga mengkhawatirkan dan bahkan mebahayakan keselamatan bangsa.

Lalu Aloeth Pathi dari Sekarjalak-Pati meberikan pembuka jalan agar sedikit optimisme melalui rasa (Tanah Tumpah Darahku II: Daun Kami)
//…bangga apa yang telah diperbuat,
Biarkan yang rontok bercerita
Bahwa kami pernah bersatu menciptakan hijau
Meski kini kering tak memberi sejuk
Tapi pernah menggores catatan
pada batangmu yang mulai rapuh
benih-benih yang aku sebarkan
mulai tumbuh menjadi tunas-tunas
siap menerjang pilar-pilar yang menghadang
biarkan akar itu menjalar
di sisi ruas-ruas jalan….// Aloet Pathi meyakinkan Ada suatu optimisme walau dalam keadaan dan bahkan rintangan, seakan kelak berjalan dengan sendirinya, seakan ia berkata nanti juga aka nada penyelesaian.
apapun itu nama dan jenisnya selalu berserakan.

 CecepNurbani penyair muda berbakat dar Garut memotret negreri dalam pandangan mudanya yang seakan kecewa,  demikian  syairnya:
//…ditrotoar..,
kaki lima mengadu nasib dengan
memasang badan takut takut petugas datang
seperti maling mengintip tuan rumah
gadis cilik bersaudara bernyanyi sambil menghirup udara segar dari kaleng Lem
pengamen jalanan bernyanyi bermuram durjana sambil melihatkan  taringnya berharap uang kertas yang diterima
suungguh konyol dan menyedihkan  negeri ini….//
(Apapun itu Nama dan Jenisnya Selalu Berserakan)
Ada suatu yang menarik untuk disimak sebagai renungan dalam mengapresiasi buku ini seperti

Melihat Tanah Air sendiri dari pandangan setiap orang Indonesia adalah warna-warni. Suka dan tak suka, puja dan cerca, senang dan bosan, sanjung dan kritik. Penyair  Dwi Klik Santosa memotret Indonesia dala kepahitannya, seperti tertuang dalam “Berita Para Pemabuk”
“Akukah tak layak hidup.
//…Di bumiku yang kaya
janji-janji seperti nyanyian iblis.
Tak benar aku hendak dibawa ke sana.
Tapi lihat aku kini.
Melulu mengais-ngais sampah
di negeri sendiri.”//
Dwi Klik Santosa ingin mengajak untuk enengok kepahitan itu. Kepahitan  hidup adalah pengalaman kegetiran seseorang agar ditempa menjadi kuat dan tak terulang.

Lalu penyair eL Trip Umiuki menuliskannya dala sebuah syair yang sangat mendalam bahwa keadaan – keadaan Indonesia dengan berbagai problema seperti
“Sumur Tanpa Dasar”, demikian syairnya penutupnya:
//…sarjono namanya
sarjana sains, ekonomi, sekaligus psikologi
sayang pengalaman kerja takpunya
bersimpan bara di kepala minta kerja ia kepada tetangganya
mandor bangunan di kota
mengaduk pasir dan semen ternyata bukan kerja sederhana
dengan dendam membara
mencangkul dia mencangkul
menggali lubang di kebunnya
takpeduli darah berlumur terus mencangkul
menggali sumur
senin selasa rabu kamis jumat sabtu
tak ada minggu dan hari libur ia
terus mencangkul terus//.
Demikian kebhinnekaan menjadi warna-wani dari sudut pandang sastrawan kita. Seperti Fahmi Wahid mencoba mengingatkan akan Indonesia sesungguhnya sebagai negeri maritime negeri bahari yang pernah Berjaya. Lewat “Tangis Keberagaman”, ia menuturkan :
//…di hunjur kuningnya ladang
pada tebaran kicau kepodang
semasa hembus sejuk angin gunung
melipur musim yang kian gamang
petuah dan petitih enggan dimengerti
dan kebersamaan kini tak punya arti
sebab semua manusia tak lagi punya nurani
menyelamatkan kearifan budaya bahari
yang hampir tak terjamah lagi….//

Penyair Gampang Prawoto juga menulis bahwa merasakan semua itu adalah rasa dan aroma setiap manusia yang kadang tak mengerti hitam dan putihnya apa yang terjadsi. Seua adalah rasa katanya seperti dituturkan dalam syair :
 “Secangkir Rasa”
//…jangan hanya manis di pantai bibir
pahit di pusara hati
lidahku belum kelu
pemanis tak biasa tersuguh di meja rasa
walau tanpa gula
aroma kopimu aku baca tanpa mengeja
panas – hangatnya warna.//.

Di puisi Moh. Ghufron Cholid memberi kekuatan utuk meyakinkan pandangan-pandangan itu bahwa Indonesia itu meiliki kekuatan yang tak akan goyah walau dalam kegetiran papa pun. Seperti tertuang dalam :
 ‘Sebab Indonesia Adalah Kita”
//…tumbuh di tiap mata
mata hari
mata jiwa
mata doa
yang tak kenal purba
Indonesia takkan musnah dalam peta
jika kita tak mengamini ramalan-ramalan asing
yang menanam benih-benih asing
dalam jiwa kerontang….//.

Senada dengan Moh. Ghufron Cholid, penyair Rezqie Muhammad AlFajar Atmanegara mengajak utuk saling menjaga keistimewaan Indonesia itu.
“Bhinneka Tunggal Ika adalah Aku”
//…di mana lagi kami tanam bulir harapan
bila seluruh kehijauan hutan bunda
telah habis digeser bangunan-bangunan
berbaju kawat, baja, semen dan beton
ke mana jua kami layarkan perahu kebersamaan
sebab semua kolam susu pertiwi
keruh sampah payau berbisa
bagaimana kami menegakkan tugu pertahanan
karena kini tiap jengkal tanah terbongkar
di keteragisan reruntuhan negeri inilah
mari, kita bergenggam dan saling gandeng bersama
mempertahankan hakikat dan keutuhan bangsa…//.


Roni Nugraha Syafroni dalam “Semboyan” di bait terakhir syairnya seakan mengambil keputusan tentang slogan kebangsaan kita agar menjadi semboyan yang tidak saja sebagai slogan tetapi dihayati, seperti dalam syair ini:
//…Semboyan ini tampak tak berguna dan usang,
tapi ada secercah keyakinan tak akan dibuang.
Terus dihayati diamalkan hingga usia petang,
agar berguna teruntuk generasi mendatang.//.

Ada sebab-sebab pemberian keputusan itu tentu dari pengalaman dan sejarah bangsa. Seakan tak terima juga jika bangsa ini mengalami keretakan dari rantai kebhinnekaan itu. Soekoso DM  menulisnya dalam syair “Sajak Trenyuh Kala Sayap Garuda Nyaris Runtuh”, demikianj bunyi cuplikannya:
//…biarkan beda adat jadi rahmat beda budaya jadi taman bunga                                                                                     sebab Tuhanlah yang telah menanam benihbenihnya
Orangorang bertegursapa                                                                                                                        saling menjabat saling cinta
(Di ruangruang kelas dan di tanah lapang anakanak bernyanyi                                                                                      lagu Satu Nusa Satu Bangsa dan Bagimu Negeri).//

Pujian pun diberikan penyair Syarif hidayatullah lewat
“Rangkaian ikatan huruf, Indonesiaku” seperti dalam cuplikan ini://…Alif yang tegak mampu jadi hutan esok hariNun tanpa titik menjadi danau yang melegenda. Baa nan mungil tempat transportasi membelah sungai negeriku. Gunung-gunung memperindah goresan Tuhan dalam ikatan satu Ika….//

Bahkan Wadie Maharief  meyakinkan akan kecintaan terhadap bangsa ini, Ia tuliskan lewat syair “Lima Ekor Merpati Menembus Mendung” demikian bunyi cuplikannya dalam bait terakhir :
//…Lima ekor merpati melesat
Lubang ozon mencairkan es di kutub
Tujuh lapis langit terluka
Lima ekor merpati kehilangan sayap
Jatuh di pulau-pulau terbakar
Api cintamu yang berkobar.//

Masih banyak puisi lain yang menarik dan enak dibaca dalam buku ini seperti karya-karya dari : Ridwan Ch. Madris, Sokanindya Pratiwi Wening, Sus S. Hardjono, Abdul Wahid, Andrian Eka Saputra, Dimas Indiana Senja, Eddie MNS Soemanto , Fasha Imani Febrianty, Iwan Kuswandi, Julia Hartini, Mohamad Amrin, Muhammad Hafeedz Amar Riskha, Nieranita, Novy Noorhayati Syahfida, Puji Astuti.

Akhirnya Wardjito Soeharso mengajak kita seua untuk merenungkan seperti judul puisinya “Ngudarasa” //Sadalan dalan
Anane mung gronjalan
Mergo akeh kedokan
Salurung lurung
Anane mung bingung
Mergo adoh gurung
Yen dalan wis kebak kedokan
Lurung wis akeh sing suwung
Gurung wis pedot sakdurunge diulur…// bahwa banyak tanda-tanda zaman ini untuk dapat tidak saja untuk direnungkan tetapi juga untuk disikapi generasi uda sekarang.
//…Tan ana asile kang mapan
Mula ta tansah elinga
Bebrayan iku tansah sangga sinangga
Abot enteng nora rinasa
Arepa awan panase sumelet
Bengine peteng ndedet lelimengan
Kabeh lumaku kanti rahayu.//.

Demikian jika sastrawan mengungkapkan apa yang dirasakan pancainderanya memberikan suguhan rasa tersendiri, semoga dapat memberikan penyejuk dan apresiasi mendalam terhadap buku ini.

                                                     Rg Bagus Warsono
Kurator sastra di HMGM














Dapatkan bukunya di Leutikaprio

Si Bung
Penulis: Rg. Bagus Warsono, Kategori: Kumpulan Puisi
Penerbit : Leutika Prio
ISBN: 978-602-225-819-3
Terbit: Maret 2014
Halaman : 86, BW : 86, Warna : 0
Harga: Rp. 25.600,00
Dalam buku ini dilengkapi data Nama Sastrawan Indonesia sbb:
DAFTAR SASTRAWAN INDONESIA
Disusun Oleh : Rg. Bagus Warsono
1.A.A. Navis
2.A.A. Pandji Tisna
3.A.D. Donggo
4.A.Mustofa Bisri
5.A.S. Dharta
6.A.S. Laksana
7.Aam Amilia
8.Abas Sutan Pamuntjak Nan Sati
9.Abdul Hadi WM
10.Abdul Muis
11.Abdul Wahid Situmeang
12.Abdullah Mubaqi
14Achdiat K. Mihardja
15Achmad Munif
13.Abidah el Khalieqy
16Acep Syahril
17Acep Zamzam Noor
18.Adinegoro
19.Afrizal Malna
20.Agam Wispi
21.Agus Noor
22.Agus R. Sarjono
23.Agus Warsono(Rg Bagus Warsono)
24Ahmad Fuadi
25.Ahmad Subbanuddin Alwie
26.Ahmad Tohari
27Ahmad Yulden Erwin
28.Ahmadun Yosi Herfanda
29.Ahmad Mushthofa Bisri
30..Ajip Rosidi
31.AkiSora
32.Akmal Nasery Basral
33.Ali Akbar Navis
34.Alan Hogeland
35.Amal Hamzah
36.Andrea Hirata
37.Andliandri.A.A
38Andrei Aksana
39.Ani Sekarningsih
40.Anis Sholeh Ba’asyin
41.Anwar Putra Bayu
42.Aoh K. Hadimadja
43.Arafat Nur
44.Ari Pahala Hutabarat
45.Ari Setya Ardhi
46.Arie MP Tamba
47.Ariel Heriyanto
48.Arif B. Prasetyo
49.Arifin C. Noer
50.Armijn Pane
51.Arswendo Atmowiloto
52.Arami Kasih
53.Asep S. Sambodja
54.Asma Nadia
55.Asrul Sani
56.Asbari Nurpatria Krisna
57.Aslan Abidin
58.Ayatrohaedi
59Ayu Utami
60.B. Rahmanto
61.Badaruddin Amir
62.Badui U. Subhan
63.Bagus Burham
64.Bagus Hananto
65.Bagus Putu Parto
66.Bambang Set
67.Beni R. Budiman
68.Beni Setia
69.Beno Siang Pamungkas
70.Binhad Nurrohmat
71.Bokor Hutasuhut
72.Bonari Nabonenar
73.Bondan Winarno
74.Budi Darma
75.Budi P. Hatees
76.Budiman S. Hartoyo
77.Cecep Syamsul Hari
78.Chunel
79.Clara Ng
80.Cucuk Espe
81.D. Zawawi Imron
82.Dahta Gautama
83.Darman Moenir
84.Darmanto Jatman
85.Damhuri Muhammad
86.Danarto
87.Dad Murniah
88.Dami N. Toda
89.Daniel Mahendra
90.Dea Anugrah
91.Dewi Lestari
92.Dharmadi
93.Dian Hardiana
94.Djamil Suherman
95.Djenar Maesa Ayu
96.Dian Hartati
97.Diani Savitri
98.Dimas Arika Mihardja
99.Dina Oktaviani
100.Djamil Suherman
101.Dody Sam Yusuf
103.Donny Dhirgantoro
104.Dorothea Rosa Herliany
105.Djenar Maesa Ayu
106.Dyah Merta
107.Dyah Setyawati
108.Edy Firmansyah
109.Eka Budianta
110.Eka Kurniawan
111.Eko Tunas
112.Emha Ainun Nadjib
113.Endik Koeswoyo
114.Faruk HT
115.Fendi Kachonk
116.Fina Sato
117.FX Rudi Gunawan
118.Gazali Burhan Rijodja
119.Gatotkoco Suroso
120.Gerson Poyk
121.Godi Suwarna
122.Goenawan Mohammad
123.Gola Gong
124.Gus tf Sakai
125.H.B. Jasin
126.HR Bandaharo
127.Habiburrahman El Shirazy
128.Hamid Jabbar
129.Hamka
130.Hamsad Rangkuti
131.Hartojo Andangdjaja
132.Helvy Tiana Rosa
133.Herlinatiens
134.Herman J. Waluyo
135.Hersri Setiawan
136.Herdoni Syafriansyah
138.Ibnu Wahyudi
139.Ibrahim Sattah
140.Idrus
141.Iggoy el Fitra
142.Ikhwan Al Amin
143.Indra Cahyadi
144.Indra Tranggono
145.Intan Paramaditha
146.Imam Muhtarom
147.Ipon Bae
148.Irfan Hidayatullah
149.Irman Syah
150.Isbedy Stiawan ZS
151.Iswadi Pratama
152.Iwan Simatupang
153.Iyut Fitra
154.J.E. Tatengkeng
155.Jack Efendi
156.Jakob Sumardjo
157.Jamal D Rahman
158.Jamal T. Suryanata
159.Jatmika Nurhadi
160.Jeffry Alkatiri
161.Joni Ariadinata
162.Joshua Lim
163.Joko Pinurbo
164.Jose Rizal Manua
165.Jumari HS
166.Korrie Layun Rampan
167.Kriapur
168.Kuntowijoyo
169.Kurnia Effendi
170.Kusprihyanto Namma
171.Kuswinarto
172.Kwee Tek Hoay
173.Leila S. Chudori
174.Linda Christanty
175.Linus Suryadi AG
176. Lukman A Sya
178.M.Aan Mansyur
179.M. Rozaq Triyansyah
180.M. Shoim Anwar
181.Mahbub Junaedi
182.Mahmud Jauhari Ali
183.Maman S. Mahayana
184.Mansur Samin
185.Marah Roesli
186.Marga T
187.Marsetio Hariadi
188.Marianne Katoppo
189.Martin Aleida
190.Max Ariffin
191.Marsetio Hariadi
192.Mawie Ananta Jonie
193.Medy Loekito
194.Melani Budianto
195.Mochtar Lubis
196.Mohammad Diponegoro
197.Moch Satrio Welang
198.Motinggo Busye
199.Muhammad Asqalani eNeSTe
200.Muhammad Rois Rinaldi
201.Muhary Wahyu Nurba
202.Mukti Sutarman
203.Mustofa Bisri
204.Mh. Rustandi Kartakusuma
205.Muhammad Kasim
206.Mukti Sutarman Espe
207.Mutmainna
208.Mustafa W. Hasyim
209.Marsetio Hariadi
210.Marsetio Hariadi
211.Nanang Anna Noor
212.Nanang Suryadi
213.Nasjah Djamin
214.Nazaruddin Azhar
215.Nenden Lilis A
216.Nenek Mallomo
217.Ngarto Februana
218.Nh. Dini
219.Nirwan Ahmad Arsuka
220.Nirwan Dewanto
221.Noorca M. Massardi
222.Nova Riyanti Yusuf
223.Novy Noorhayati Syahfida
224.Nugroho Notosusanto
225.Nurochman Sudibyo.YS
226.Nur Sutan Iskandar
227.Nur Wahida Idris
228.Nyoo Cheong S
229.Ook Nugroho
230.Oyos Saroso HN
231.Palti R Tamba
232.Pamusuk Eneste
233.Panji Utama
234.Parakitri T Simbolon
235.Putu Oka Sukanta
236.Piek Ardijanto Soeprijadi
237.Pipiet Senja
238.Pramoedya Ananta Toer
239.Primadonna Angela
240.Putu Oka Sukanta
241.Putu Wijaya
242.Rachmat Djoko Pradopo
243.Rachmat Nugraha
244.Radhar Panca Dahana
245.Raditya Dika
246.Remy Silado
247.Ragdi F. Daye
248.Ramadhan K.H.
249.Ratih Kumala
250.Ratna Indraswari Ibrahim
251.Raya Langit Rokibbah
252.Rayani Sriwidodo
253.Raudal Tanjung Banua
254.Rieke Diah Pitaloka
255.Rifan Khoridi
256.Rifai Apin
257.Riki Dhamparan Putra
258.Rijono Pratikto
259.Riris K. Sarumpeat
260Rosihan Anwar
261.Roudloh Fathurrohman
262.Rukmi Wisnu Wardani
263.Ruli NS
264.Rusman Sutiasumarga
266.Saeful Badar
267.Sam Haidy
268.Sang Bayang
269.Sanusi Pane
270.Sapardi Djoko Damono
271.Sarabunis Mubarok
272.Saut Situmorang
273.Selasih/Seleguri
274.Seno Gumira Ajidarma
275.Sholeh UG
276.Sindhunat
277.Sitok Srengenge
278.Sitor Situmorang
279.Sindhunata
280.Sirajuddin Sudirman
281.Slamet Sukirnanto
282.SM Ardan
283.SN Ratmana
284.Sobron Aidit
285.Soe Hok Gie
286.Soekanto SA
287.Sonny H. Sayangbati
288.Sony Farid Maulana
289.Sori Siregar(Sori Sutan Sirovi Siregar)
290/Sosiawan Leak Seno
291.S. Sinansari ecip
292.Subagio Sastrowardoyo
293.Sukasah Syahdan
294.Suman Hs
295.Suminto A Sayuti
296.Sunaryo Basuki Ks
297.Sunlie Thomas Alexander
298.Suparto Brata
299.Sutan Iwan Sukri Munaf
300.Sutan Takdir Alisyahbana
301.Sutardji Calzoum Bachri
302.Sutikno WS
303.Suwarsih Djojopuspito
304.S. Yoga
305.Tajuddin Noor Gani
306.Tandi Skober
307.Tatang Sontani
308.Taufiq Ismail
309.Taufik Ikram Jamil
310.T. Firman Andiatno
311.Teguh Winarso AS
312.Tendy Faridjan
313.Timur Sinar Suprabana
314.Titie Said
315.Titiek WS
316.Titis Basino
317.Toety Heraty Nurhadi
318.Toha Mochtar
319.Toto ST. Radik
320.Toto Sudarto Bachtiar
321.Tri Astoto Kodarie
322.Trisno Sumardjo
323.Trisnojuwono
324.Triyanto Triwikromo
325.Trio Danu Kumbara
326.Tulis Sutan Sati
327.T. Wijaya
328.Udo Z. Karzi
329.Ugoran Prasad
330.Umar Junus
331.Umar Kayam
332.Umar Nur Zain
333.Umbu Landu Paranggi
334.Usmar Ismail
335.Utuy Tatang Sontani
336.Viddy AD Daery
337.Wahyu NH. Al Aly
338.Wahyu Prasetya
339.Wan Anwar
340.Wayan Sunarta
341.Widjati
342.Widji Thukul
343.Wisnu Sujianto
344.Wisran Hadi
345.W. Hariyanto
346.Widji Thukul
347.W.S. Rendra
348.Wowok Hesti Prabowo
349.Y.B.Mangunwijaya
350.Yonathan Rahardjo
351.Yudhistira ANM Massardi
352.Yusach Ananda
353.Y. Thendra BP
354.Y. Wibowo
355.Zainal Afif
356.Zainuddin Tamir Koto
357.Zen Hae
358.Zen Ibrahim
359.Zoya Herawati
Deskripsi:
Pebaca terhormat, tak ada kata lain yang lain kecuali terima kasihku atas apresiasi pembaca yang sudi membaca puisi-puisi dalam antologi yang di beri nama Si Bung ini. Sebuah inspirasi dari inspirator kita Dr. H Akhmad Soekarno, seorang pemimpin besar Revolusi, Proklamator RI ini dan juga seorang seniman sejati. Dari profilnya memberikan inspirasi syair-syair yang kami kumpulkan dalam sepuluh tahun. Sajian khusus bagi pembaca budiman, untuk dinikmati sebagai seni. Salam sejahtera Rg. Bagus Warsono             ___________________