Laman

Rabu, 20 Februari 2019

MBLEKETEK ini baru antologi modern, suguhan tema yg luas yang memberi makna bahwa puisi itu Sakkarepmu



Filosofi keliru

"Kalau bekerja di sawah itu ikut kotor" , tak berlaku bagiku untuk persamaan pada bidang lain. "melu belok" (ikut kotor) tanpa sengaja dan tanpa niat, lain persoalannya dengan melakukan kotor-kotoran seperti orang lain padahal itu tau kotor.

Sesekali suami bekerja ada saja mendapat tambahan penghasilan yang sering diterima padalah itu tidak halal. Suaminya berkelit, "Bagaimana saya mau menolak, Bu, nanti tidak umum dengan karyawan lain" . Sebuah dilematika yang sebenarnya memiliki dua pilihan yang dapat ditentukn dengan cepat bagi pemilik idealis. Kenapa terus dilakukan?

Akhirnya "melu belok" meluas menjadi mengikuti apa kata orang banyak dengan alasan tidak umum juka menolak, ikut yang banyak dilakukan teman sehingga tidak beda dan diterima dalam pekerjaannya, dan alasan yang lain. Perbuatan ini akhirnya menjadi kebiasaan yang dianggap biasa. Ha ha ha . (rg bagus warsono, 20-02-19)

Melihat dengan mata atau melihat dengan mata hati

Tentu sarapan ini untuk konsumsi dewasa, seperti halnya membaca beda dengan 'membaca sesungguhnya. Bahasa memang membuat makna lain dalam pandangan pembaca meski bacaan yang sama.

Penulis mengamati beberapa tayangan youtube, jika ditelaah, isi status viral tak berarti status itu terjamin kebenarannya meski yang like itu banyak. Sebaliknya yang tidak suka bukan berarti sebuah tayangan itu hoax. Agaknya kita perlu memilah dengan teliti, tetapi sangat diperlukan adalah pemahaman tinggi.

Sumber daya manusia menjadi tolok ukur menyebut sebuah negara tertingal, berkembang atau maju. Jika ini menjadi pegangan maka betapa negeri kita tergolong sebagai negara berkembang. Artinya kita belum dapat 'membaca dalam tanda petik arti sesunguhnya.

Lalu bagaimana dengan membaca dengan mata hati? Oh masih jauh Mas. Jangankan yang bersifat ironi, paribahasa, atau nyerempet ambigu, yang jelas saja kadang salah arti. ! (rg bagus warsono 20-02-19)