Laman

Sabtu, 17 Juni 2017

sekedar kenang-kenangan

Dalam beberapa kesempatan berkunjung ke sekolah selalu membawa buku apa saja yang pada saat itu ada untuk sekedar kenang-kenangan, ini penting bagiku sebagai alat promosi diri dan juga promosi buku termasuk buku antologi bersama yang aku selenggarakan. Gambar diatas adalah ketika berkunjung di SD Purawinaya Kecamatan Ciasem kabupaten Subang Jawa Barat pada 12-13 Juni 2017

Sastrawan itu Seperti Bumbu Masak

Segenap penyair/sastrawan Indonesia dimanapun berada, mohon maaf lahir bathin , sebetulnya kita semua hanya bumbu masak, yang punya ciri, khasiat, aroma, faedah, dan rasa yang membuat masakan Indonesia beraneka warna. Masing-masing memiliki keutamaannya sendiri tetapi juga rasa tersendiri. Kita hanya bagian dari sebuah masakan yang sedap. Apalah artinya sebuah kunir (aku ini) atau sebuah kemiri (aku ini) tanpa bumbu yang lain masakan menjadi tak sedap. Hanya karena jahe merasa lebih unggul saja, padahal di tempat lain bawang putih merasa lebih berkhasiat, atau kemiri merasa dibutuhkan, Akan tetapi temu ireng yang terkucil sewaktu-waktu pun dicari dimana berada. Itulah sastrawan Indonesia ibarat bumbu masak. (rg Bagus Warsono)

Rabu, 07 Juni 2017

Jangan Kunjungi Nisanku karya Rg Bagus Warsono dari Si Bung

Jangan Kunjungi Nisanku

Kau berdoa untukku namun kau
mengotori batu nisanku dengan abu rokok
melumurinya dengan tahi kerbau
dan menginjak-injak bumiku yang damai dengan kakimu
yang najis.
Sementara burung walet di Pantai Kidul menghargaiku
dan kera-kera hutan menjauh merasa ia tak pantas berada
bumiku damai
Padahal aku tak melarang
Sementra pengemis, gelandangan, dan petani
mengirim doa dengan tulus
tanpa doa-doa yang direkayasa
Yang hanya menutup bejat pejabat kita
Jangan kau kunjungi nisanku
Jika kau tak hendak melihatku
Karena aku sesungguhnya
Sudah tak berada di sana
Ketika orang-orang sepertimu datang di tempatku.
Rg Bagus Warson, 1993

Jumat, 02 Juni 2017

berbagi kebahagiaan

Di sudut-sudut jalan, di lorong-lorong gedung, dibawah jembatan layang, diatap gedung tua, di antara gundukan sampah terdapat saudara kita menanti uluran tangan karena ada beberapa aktifitas yang terhenti karena berpuasa. Dan kegembiraan itu datang manakala ada ajakan untuk berbagi kebahagiaan