Laman

Jumat, 25 Juli 2014

Bersastra Sembari Kerja

Jangan dikira penyair itu tak ada perubahan mental
kini dapat diamati mereka telah melakukan bersastra sembari kerja
sebuah revolusi mental penyair Indonesia , karena itu tak jarang penyair berprofesi ganda. Sehingga memberi embal embel dokter juga penyair, polisi juga penyair, tentara juga penyair, pengusaha yg juga penyar, guru yang juga penyair, petani yang juga penyair, dll. Dan ini anda pembuktiannya, kalau tidak demikian apa mau makan puisi?

Tentang Sayur Lodeh

Waktu usiaku 10 th ibuku tak kuat beli daging di hari lebaran. Namun Ibuku sungguh wanita luar biasa, hanya dengan beberapa rupiah dibelinya bahan masakan untuk sayur lodeh. Ketika anak-anak semuanya 7 orang pulang dari sholat Ied kita makan bersama tanpa daging, Hanya sayur lodeh. Tapi anak-anak tiada yang protes, semua mensyukuri apa adanya. Ketupat memang ada dibuat beberapa puluh sekadar menyenangkan adik kecil. Sampai sekarang aku tetap mengenang sayur lodeh ibu. Di hari kedua ibu pun memasak lagi sayur asem sengaja dibuat banyak agar sampai sore hari. ketika sanak saudara bersilaturahmi ke rumahku tak ada makanan yang baik kecuali makan siang . Jadilah kita makan bersama sanak saudara padahal hanya dengan sayur asem dan tempe mereka makan juga makanan kita\yang sangat sederhana itu. Padahal sanak saudaraku orang orang kaya namun suka masakan ibuku. Entah mengapa mereka justru senang makan dirumahku ketimbang dirumahnya yang penuh makanan enak.
Sayur lodeh kini menjadi makanan favoriete anak-anak ketika semua pada berkeluarga. Bahkan beberapa menantu yang slalu diejek tidak bisa masak sayur lodeh berusaha belajar pada mbakku yang sulung. Termasuk istriku berkali-kali masak sayur lodeh tetap saja tak seenak ibu memasak. Kadang sering aku memarahi istri gara-gara sayur lodeh yang tidak karuan. Andai ibuku masih hidup besok lebaran ini tak usah masak apa-apa cukup sayur lodeh yang istimewa buatan ibuku.

Minggu, 20 Juli 2014

Yen ngaku wis populair

"Yen ngaku pinter, wis populair, wis ndue aran gede ojo wedhi disaingi karo sing enom.
Malah kudune mongmong sing enom-enom iku. Sangkane sing enom arep ngurangi rejekine sampean? Malah sing enom-enom iku jan pinter golek duit lain akeh kreatifitase.
Ader sampean dicatet nang buku lan dipelajari go sinau siswa? Ya ora lah, wong sampean karyane elek lan langka sing maca.
Saiki wis konangan, sampean monopoli komunitas sastrawan. Tak jamin ora bakal sue ya bakale kewirangan lan bubar !"

18 Juli 2014

Sabtu, 12 Juli 2014

Berkacalah pada Bumbung Kosong

Berkacalah pada Bumbung Kosong
oleh Rg Bagus warsono

Bumbung Kosong demikian sebutan untuk tidak memilih calon Kepala Desa dikarenakan Pemilihan Kepala Desa hanya diikuti seorang peserta. Bumbung kosong bisa berbentuk kotak kosong tanpa nama, di surat suara pun tak ada gambar maupun nama (seandainya menggunakan surat suara) dan seandainya menggunakan alat lain,  bumbung tak bernama disediakan untuk diisi bagi pemilik suara yang tidak menghendaki calon kepala desa yang seorang itu.

Bumbung kosong menjadi alternatif pilihan walau pun calan hanya seorang dan pemilihan kepala desa harus dilaksanakan. Ia menjadi tempat ketidak-setujuan warga desa atas sosok calon kepala desa, juga menjadi tempat bersemayam berbagai ketidak-setujuan warga atas sistem pelaksanaan dan sebagainya. Bumbung kosong juga menampung suara-suara golput.

Ini Indonesia negeri yang unik. Orang disuruh memilih sesuatu yang tidak ada dalam suatu pemilihan aparatur negara yakni Kepala Desa. Lucu kelihtannya, bukan? Karena yang tidak ada itu menjadi pilihan maka ada pemilihnya, bahkan sering terjadi Bumbung Kosong memenangi pemilihan dalam ajang Pemilihan Kepala Desa.

Bukan itu saja Indonesia menjadi negri yang  unik, namun juga menyimpan misteri. Bumbung kosong menjadi sosok yang menakutkan bagi pesaingnya yang hanya seorang itu. Karena menjadi alternatif pilihan bumbung kosong menjadi memiliki “roh” seakan hidup dan memiliki kekuatan, padahal bumbung kosong tanpa gerak, tanpa tim sukses, tanpa strategi, dan tanpa pos komando serta majikan.

Rakyat Indonesia ternyata biasa dihadapkan pada pilihan ya atau tidak, setuju atau tidak setuju, ada atau tidak ada, memilih atau tidak memilih. Desa ditentukan oleh warga desanya. Demokratis yang mengakar di masyarakat.

Bagi tim sukses Calon Kepala Desa yang hanya seorang itu justru dihadapkan pada kerja keras untuk memenangkan pemilihan dalam ajang Pemilihan Kepala Desa itu karena berhadapan dengan musuh yang tidak diketahui. Kerja tim sukses untuk meraih banyak suara tetap dilakukan. Semakin kuat tim sukses calon kepala desa yang hanya seorang itu bekerja, semakin kuat Bumbung Kosong itu, padahal di pihak Bumbung kosong tak ada yang bergerak,  tak ada yang mewakili seorang pun. Itulah ‘roh’ Bumbung Kosong.

Kecintaan pada kampung halaman adalah kecintaan warga kampung itu, mereka tak mau Desa terbaiknya tanpa kepala desa, tanpa lambang pemimpin, tanpa ada sosok pucuk pimpinan yang mengatur keadaan desa dan warganya, jadi calon yang seorang itu adalah putra terbaik desa yang harus dipilih. Sebaliknya warga desa pun tak mau mengorbankan desanya sehingga bumbung kosong menjadialternatif untuk menunggu sampai kemudian kelak akan ada pemilihan berikutnya dengan calon yang lebih baik.

Ketika pemilihan kepala desa itu dilaksanakan dan dihitung angkanya. Apa mau dikata Bumbung Kosong pemenangnya. Sebaliknya  ketika Bumbung kosong itu kalah dan pemenangnya pada calon yang seorang itu, maka betapa lucunya seseorang bertarung dengan sesuatu yang tidak ada namun dilaksanakan di ajang Pemilihan Kepala Desa yang mengeluarkan biaya dan tenaga yang besar.

Bersyukur Republik ini  miliki dua pasang capres-cawapres dalam pilpres 2014 ini.  Mereka dua orang capres dan dua orang cawapres adalah putra terbaik bangsa ini. Siapa yang terpilih pasti adalah yang terbaik untuk bangsa ini. Semoga tak akan terjadi Bumbung kosong di Pemilu Presiden Republik ini agar kita tidak merugi.

Jumat, 11 Juli 2014

ORANG INDONESIA ITU PALING SUSAH MENERIMA KEKALAHAN

Demikian sejarah Indonesia menulis, karakter manusia Indonesia yang sulit menerima kekalahan. Bahkan karena yakinnya akan kemenangan sebuah nasehat slalu mengatakan bahwa kekalahan “hanyalah kemenangan tertunda”.

Zaman penjajahan doeloe banyak pertempuran-pertempuran melawan penjajhan diceritakan oleh para sejarahwan slalu berujung kemenangan, sehingga berujung muncul beberapa tokoh pahlawan nasional. Sebuah peperangan biasanya diambil menghitung jumlah prajurit, logistik, persenjataan, perjanjian, wilayah kekuasaan,  pampasan dan pengakuan. Namun orang Indonesia slalu memunculkan sisi kemenangan di salah satu segi kreteria perhitungan hasil kemenangan. Jika banyak prajurit yang gugur, slalu sejarawan menyebutkan bahwa ‘beruntunglah bawaha pimpinan peperangan itu (raja, senopati, dsb) masih selamat.  Jika sampai ada raja yang menyerah tanpa syarat, dimunculkan tokoh lain agar kekalahan tak terjadi.

Keunikan Indonesia ini sampai pula pada masa perang kemerdekaan. Ada beberapa perjanjian  dengan pihak penjajah yang merugikan kita. Namun karena Indonesia itu tak begitu sajatunduk pada perjanjian, maka slalu perjanjian itu dibatalkan . Disinilah atas dasar rasa cinta Tanah Air kita tak akan mau menerima kekalahan pada masa itu.

Keteguhan tidak mau menerima kekalahan itu juga dibuktikan oleh Diponegoro, meski sudah ditangkap, pantang baginya untuk menyerah. Begitu juga Soekarno, tak ada kata menyerah meski harus mengalami penjara/hukuman ataupu pembuangan.

Terakhir sudah jelas-jelas kekalahan politik saat terjadi  jajak pendapat tentang Timor Timur , tetap saja orang Indonesia mengatakan nan memungkiri sebuah kekalahan politik Indonesia.

Di bidang olah raga misalnya, meski kalah bertanding, slalu media kita memberikan kesan menghibur diri, dengan memberikan sanjungan akan perjuangan mati-matian membela nama bangsa ini.

Karakter ’susah menerima kekalahan’ ini melekat erat dengan sifat orang  jawa yang slalu menyebut kata ‘beruntung’ bila terjadi kegagalan bahkan terjadi kecelakaan. Untung masih ada……….., untung masih hidup , untung diselamatkan, untung masih bisa dibayar, untung tidak ketinggalan , dan sebagainya.

Karakter susah menerima kekalahan ini di diwariskan juga oleh budaya nenek moyang kita. cerita-cerita kepahlawanan slalu berujung kemenangan. Cerita ludruk dan wayang slalu dimenangkan oleh tokoh yang diidolakan rakyat.  Sehingga begitu tertanam di hati anak-anak kita jiwa kesatria yang pantang menyerah.

Begitu juga falsafah-falsafah digunakan dalam berbagai organisasi, “pantang menyerah’, ‘pantang puitus asa’, ‘pantang mundur’, dan berbagai semboyan kedaerahan seperti ’sekali layar terkembang , pantang surut kepantai’, “rawe-rawe rantas malang-malang putung” sebagai perumpamaan agar segala yang merintangi maksud tujuan harus disingkirkan.

Demikian keistimewaan  orang Indonesia. Jika orang Barat mengatakan menyerah itu sebagai gentelmant, maka sebaliknya orang Indonesia kebanyakan untuk mau mengakui kekalahan itu justru sebagai orang yang dituduh penakut, bukan ksatria , kurang gentelmant.

Sekali lagi kegagalan itu hanyalah kemenangan tertunda begitu kata banyak motivator. Kita belum siap menerima kekalahan. Menerima kekalahan berarti malu . Dan malu ini dianggap sampai anak cucu. Meski ada juga oprang yang legowo dan mau menerima kekalahan , hanya terdapat pada orang-orang yang menyadari bahwa setiap pertarungan bentukapa pun slalu ada kalah dan menang. ***

Tags: