Laman

Jumat, 20 April 2018

Menjadikan Lumbung Tempat Rekreasi Baca Pecinta Sastra Indonesia.

Lumbung Puisi pertama kali terus dipancarkan ke seluruh penjuru Tanah Air dengan kemampuan sahabat pengisi lumbung dari berbagai daerah di Indonesia. Kesannya sangat kecuil untuk promosi diri lumbung puisi. Bahkan informasinya pun kadang tenggelam karene memang kami tidak pernah menampilkan pengumuman di tag grup atau laman lain atau web lain sejenis. Lumbung yang kecil ini ternyata dilihat pula oleh orang-orang tekenal di dunia sastra termasuk penyair-penyair terkenal, serta pemerhati sastra Indonesia.
Kami tak hendak membuat lumbung ini besar karena kalau lumbung ini besar tiang penyangganya pun harus besar. Kecil saja asal terpancar. Sedapatnya kami memberi sentuhan-sentuhan tentang Lumbung Puisi di beberapa buku lain dengan menyinggung tenatng lumbung puisi Indonesia. Hasilnya ternyata luar biasa orang ingin melihat apa sih lumbung puisi?
Tentu saja pancaran lumbung puisi adalah produk. Tema yang menggelitik juga belum tentu diselidik, Sedang tema bagus belum tentu bagus direspon bahkan bisa jadi tergerus tema dan kegiatan sastra yang banyak di Indonesia. Namun sesuatu yang indah adalah tempat dimana orang ingin berrekreasi menikmati keindahan itu. dan Lumbung Puisi berusaha sebagai tempat rekreasi keindahan Sastra Indonesia tidak saja bagi kalangan pecinta sastra tetapi juga bagi seluruh manusia bumi ini. (Rg Bagus Warsono)

Senin, 09 April 2018

Kewajiban Pemerintah Memberi Layanan Literasi

Pertubuhan penulis semakin pesat, gairah sastra Indonesia makin besar. Komunitas tumbuh dimana-mana. Kenyataannya hanya menunggu waktu disaat masih sekolah, masih menjadi mahasiswa dan masih belum bekerja, setelah itu komunitas menjadi kenangan dan reuni sewaktu-waktu. Itu masih bagus, karena mengisi waktunya dengan yg bermanfaat. Pemerntah harus melihat hal seperti ini.
Jika mungkin sastra dan kegiatannya berpengguna semakin besar maka menjadi kewajiban pemerintah untuk dapat memberi layanan dan dukungan, sebab sastra juga bagian dari turut mencerdaskan kehidupan bangsa yg merupakan amanat undang-undang.
Kenapa aku berfikir spt ini. Produk berkenaan dengan subjek dan objek sasaran. Pemerintah menggalakan literasi tapi hanya gembar-gembornya saja. Tanpa bukti ril yang nyata dan berdampak bagi suksesnya program literasi itu. Katanya Indonesia mau kerja, mau hebat, mau maju mau menyambut era kemajuan teknologi, tapi sangat minim dan bahkan tak ada hal yang menyentuh masyarakat. Mari ajak bicara pelaku-pelaku literasi di Indonesia, sastrawan/penulis, penyair diantaranya.
Pertubuhan penulis semakin pesat, gairah sastra Indonesia makin besar. Komunitas tumbuh dimana-mana. Kenyataannya hanya menunggu waktu disaat masih sekolah, masih menjadi mahasiswa dan masih belum bekerja, setelah itu komunitas menjadi kenangan dan reuni sewaktu-waktu. Itu masih bagus, karena mengisi waktunya dengan yg bermanfaat. Pemerntah harus melihat hal seperti ini. Jika mungkin sastra dan kegiatannya berpengguna semakin besar maka menjadi kewajiban pemerintah untuk dapat memberi layanan dan dukungan, sebab sastra juga bagian dari turut mencerdaskan kehidupan bangsa yg merupakan amanat undang-undang.
Satu kekeliruan dari pelaku sastra kita adalah bertindak klasik. Spt puisi dan manfaatnya. Orang mengira hanya untuk dibaca dan dan menggairahkan cipta atau baca puisi dan pamer-pamer. Ini jelas tertinggal manakala literasi di berbagai negara digalakan. Bahasa dengan sastra adalah bagian dari kehidupan. Jika tak mempan dengan peraturan denda misalnya pada tatatertib lalu lintas, cobalah dengan sentuhan sastra, akan lebih bersahabat dan menyentuh.

Sabtu, 07 April 2018

Ibu Indonesia

Ibu Indonesia

Karya Rg Bagus Warsono

Ada yang gendut ada yang lencir
ada yang ayu ada yang kemayu
ada yang tregep, gesit, dan ada yang gemulai
ada yang mesem ada yang mrengut
ada yang sehat ada yang ngreges
ada yang jorok ada yang rapih
ada yang agresif sex ada yang malu-malu kucing
ada yang mabur-mabur ada yang di rumah saja
ada yang kaya raya ada yang nestapa
ada yang bahagia ada yang nelangsa
ada yang sombong ada yang sabar
Ibu yang sabar ibu Indonesia

(rg bagus warsono, 6 April 2017)