Seniman Bunglon,
Di saat Bunglon merasa terancam , Ia akan mengubah warna kulitnya menjadi serupa dengan warna lingkungan sekitarnya, sehingga keberadaannya tersamarkan. Fungsi penyamaran demikian disebut mimikri. Hal ini berbeda dengan "kamuflase", yakni penyamaran bentuk atau warna hewan yang menyerupai makhluk hidup lain. Ini keistimewaan hewan bunglon. Sekarang ini ada kisah seniman bunglon. Seniman ini kayanya multi talenta juga. Pendek kata apa pun dia bisa. Dan di setiap event slalu ingin tampil utama.
Musim orang buat puisi, dia bisa, dan menyamakan kedudukannya jadi penyair, dan ternyata bisa puisinya diterima di komunitas para penyair dengan mudahnya. Lalu ketika orang menulis sejarah daerahnya, dia pun ikutan kumpul-kumpul. Ketika lagi ramai pameran lukisan bersama, dia pun ikut juga melukis dan nibrung seolah pelukis terkenal. Ketika ada kumpul kumpul membuat film dokumenter, dia pun ikutan juga bak artis peran. Pokoknya semua bisa.
Suatu ketika sang seniman bunglon mendapat undangan seminar dari empat kegiatan seni/budaya yang berbeda jenis.Kebetulan harinya hampir bersamaan. Dia ingin datang di pertemuan itu. Apakah bunglon harus merubah empat warna? Akhirnya Seniman Bunglon itu memutuskan menghadiri keempat kegiatan itu. Alangkah sibuknya modar-mandir.
Begitu tiba di tempat seminar sastra, dia diminta mengutarakan pendapat dari permasalahan yang tidak diikutinya dari awal. lalu dia berdiri dengan lagak kuminter sambil menenteng bahan-bahan referensi, menceritakan yang bukan lagi dibahas. Dia bercerita tentang situs petilasan (kuburan), tentang makam yang tidak terurus, tentang cerita mistik dsb. Peserta seminar langsung menoleh ke arahnya dan moderator memberhentikan ocehannya. Moderator mengalihkan pada peserta lainnya.
Seniman bunglon akhirnya merasa malu, tampa pikir panjang ia pelan-pelan keluar tanpa permisi dari ruangan. Lalu kata seorang panitia, " Pak , kamar kecil disana," sambil menunjuk arah kamar kecil. Namun seniman bunglon itu seakan berlari keluar gedung. Dan seorang teman panitia menimpali, " mungkin ia sudah kebelet", sambil tertawa-terbahak-bahak.
Di saat Bunglon merasa terancam , Ia akan mengubah warna kulitnya menjadi serupa dengan warna lingkungan sekitarnya, sehingga keberadaannya tersamarkan. Fungsi penyamaran demikian disebut mimikri. Hal ini berbeda dengan "kamuflase", yakni penyamaran bentuk atau warna hewan yang menyerupai makhluk hidup lain. Ini keistimewaan hewan bunglon. Sekarang ini ada kisah seniman bunglon. Seniman ini kayanya multi talenta juga. Pendek kata apa pun dia bisa. Dan di setiap event slalu ingin tampil utama.
Musim orang buat puisi, dia bisa, dan menyamakan kedudukannya jadi penyair, dan ternyata bisa puisinya diterima di komunitas para penyair dengan mudahnya. Lalu ketika orang menulis sejarah daerahnya, dia pun ikutan kumpul-kumpul. Ketika lagi ramai pameran lukisan bersama, dia pun ikut juga melukis dan nibrung seolah pelukis terkenal. Ketika ada kumpul kumpul membuat film dokumenter, dia pun ikutan juga bak artis peran. Pokoknya semua bisa.
Suatu ketika sang seniman bunglon mendapat undangan seminar dari empat kegiatan seni/budaya yang berbeda jenis.Kebetulan harinya hampir bersamaan. Dia ingin datang di pertemuan itu. Apakah bunglon harus merubah empat warna? Akhirnya Seniman Bunglon itu memutuskan menghadiri keempat kegiatan itu. Alangkah sibuknya modar-mandir.
Begitu tiba di tempat seminar sastra, dia diminta mengutarakan pendapat dari permasalahan yang tidak diikutinya dari awal. lalu dia berdiri dengan lagak kuminter sambil menenteng bahan-bahan referensi, menceritakan yang bukan lagi dibahas. Dia bercerita tentang situs petilasan (kuburan), tentang makam yang tidak terurus, tentang cerita mistik dsb. Peserta seminar langsung menoleh ke arahnya dan moderator memberhentikan ocehannya. Moderator mengalihkan pada peserta lainnya.
Seniman bunglon akhirnya merasa malu, tampa pikir panjang ia pelan-pelan keluar tanpa permisi dari ruangan. Lalu kata seorang panitia, " Pak , kamar kecil disana," sambil menunjuk arah kamar kecil. Namun seniman bunglon itu seakan berlari keluar gedung. Dan seorang teman panitia menimpali, " mungkin ia sudah kebelet", sambil tertawa-terbahak-bahak.