Laman

Selasa, 27 Agustus 2013

Masih tentang sastrawan,

Setidaknya untuk menjadi Sastrawan/Seniman memiliki ke-khas-an karyanya, dari sini , publik mudah mengenali. Pada suatu ketika ke-khas-an karya seseorang sastrawan/seniman bisa menjadi suatu yang universal. 
Kalian yang telah memiliki ciri karya sastra/seni adalah talenta tersendiri dimana orang lain belum tentu dapat melakukannya.

apresiasi yang tinggi dari mendengar/membaca puisi akan menusuk hati dan otak. Hati dengan rupa-rupa perasaan, otak dengan rupa-rupa pikiran. Karena itu proses "memprasastikan" puisi dari mulai menulis, membuat pustaka, mebaca/dibaca adalah dalam rangka menusuk hati dan otak. Hati yang membuat kita cinta, rindu, cemburu, marah, murka, sedih, gembira dsb, dan otak yang memberi pemikiran dan tindakan dari hati itu.
Sastra juga seni, dan seni 'bukan' sastra.
Sastrawan adalah seniman, dan seniman 'bukan. sastrawan.
Kata 'bukan' merupakan sebuah penegasan. Kita tidak menggunakan pengganti kata 'bukan' dengan 'belum tentu' atau 'tidak berarti' atau 'tidak selalu'.
Kata 'bukan' itu saya maksudkan karena sastrawan merupakan profesi tersendiri.
Walaupun banyak orang memiliki profesi ganda, menjadi pelukis juga sastrawan, guru juga sastrawan, atau ilmuwan juga sastrawan, dramawan juga sastrawan, atau penyanyi juga sastrawan.
Hal mengenai profesi ganda bukan barang baru di Indonesia. Di Amerika misalnya, seorang berprofesi tukang kayu juga adalah berprofesi sebagai wasit tinju.
Kenapa banyak orang Indonesia berprofesi ganda, sebagai dosen misalnya juga sebagai sastrawan. Jawabannya karena produk sastrawan di Indonesia belum sampai untuk dapat mencukupi sembako "empat sehat lima sempura", "sembilan bahan
pokok", atau kebutuhan primer dan sekunder orang Indonesia. Namun tidak sedikit sastrawan yang berhasil dan sukses karena ketekunannya. Belum lagi jika produknya dicetak, sastrawan berikut buah karyanya dikontrak penerbit, royaltinya berlaku sampai ahli waris. Sastrawan Indonesia Makmur.