Laman

Selasa, 09 Juni 2015

Siapa yang bertelor

Siapa yang bertelor?, tentu bebek. Bebek yang mana? bebek. Ia tidak pamer jasa siapa yang berjasa hari ini. Sebuah falsafah bahwa kita tak perlu menyombongkan diri atas sebuah jasa yang kita perbuat kelak nanti juga akan diketahui orang lain atas jasa kita tanpa berkoar.

Yang bangga bukan bebeknya jika telurnya banyak tetapi peternaknya. Itulah falsafah bebek. Seorang bawahan yang produktif tidak perlu bangga hanya pimpinannya saja yang mengaku hasil bawahannya.

Tak bertelor pun tetap diberi makan.

Kadang kita iri dengan kepribadian peternak bebek begitu adilnya. Ia tidak marah jika ada bebek yang tidak bertelur. Perlakuannya sama, semua diberi makan. Itulah kepribadian pemimpin yang perlu digali dari peternak bebek

Bakul ketika menghitung telor tak memikirkan bebek siapa, dipelihara siapa , kandangnya dimana, bebeknya dikasih makan apa, dikasih minum apa, dia tak lagi memikirkan semuanya kecuali telur dijual dan dapat untung besar. Ini artinya sebuah falsafah bahwa manusia kadang ingin mudahnya saja. tidak tahu prosesnya bagaimana. Jika orang tak tahu latar belakang proses selalu menggampangkan masalah.


Menghitung telur setiap hari slalu menghitung jumlah bebek. Jangan memaksa jumlah bebek sama jumlah telur setiap hari. Seandainya jumlah telur setiap hari melebihi dari jumlah bebek ada tidak merasa kehilangan bebek. Sebuah falsafah yang artinya jika kita mendapat rejeki harus menghitung siapa fakir yang kita hitung untuk diberi sebagian dari nikmat itu.


sebutir telur saja memiliki proses panjang, yang terakhir betapa bebek harus mengeluarkan tenaga ekstra ketika mengeluarkan sebutir telur dari duburnya.


Hewan juga tahu membalas budi baik. Bebek tak pernah hutang budi , ia langsung membayar budi baik dengan mengiklaskan telornya setiap hari.