Laman

Senin, 07 Juni 2021

Masih berjalan dalam rel peninggalan masa lalu.


 Ada suatu yang menjadikan puisi biasa-biasa saja, monoton dan tampak hanyut dalam euforia terhadap karya yang telah lalu. Kenapa publik dijejali hal yang basi? Apa memang masyarakat menyukai yang 'bekas atau 'tilasan-tilasan. Itulah yang menjadikan publik dan pecinta sastra enggan mencatat karya-karya tersebut. 

Untuk mengulas bagaimana sebuah karya dapat menjadi karya sastra yang menjadi catatan perjalanan yang ditulis dalam sejarah sastra memerlukan kajian dan bedah karya dengan menyoroti karya-karya pilihan. 

Karya-karya bertema cinta, misalnya, sejak pujangga lama hingga kini tema cita slalu ada. Begitu juga tentang hak asasi manusia sampai kapan pun slalu ada, juga tema korupsi, tema ketimpangan sosial akan slalu ada mengiringi kehidupan manusia. Karya -karya itu adalah hal lama yang baru dibuat. Terhadap karya ini publik pembaca terlihat hanya senyum-senyum biasa dan bahkan tak dianggap sama sekali. 

Jika memang tema 'kehidupan semacam itu hendak diangkat kembali tentu memerlukan modifikasi dan inovasi terhadap tema kehidupan ini. Misalnya tema cinta judul-judul berisikan sub tema cinta terlarang, patah hati ,  sex atau cinta terpaksa itu biasa. Kenapa Anda tidak mengangkat perihal cinta manusia dan binatang, atau dengan mahluk halus, misalnya. Begitu juga terhadap tema-tema kehidupan lain seperti tema sosial, hak asasi, korupsi atau tema alam karya-karya penyair kita seperti tak mau berontak. 

Demikian banyak perbincangan tentang puisi dewasa ini yang tampak masih berjalan dalam rel peninggalan masa lalu. Oleh karena itu Lumbung Puisi slalu mengetengahkan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya.