Laman

Sabtu, 12 Juli 2014

Berkacalah pada Bumbung Kosong

Berkacalah pada Bumbung Kosong
oleh Rg Bagus warsono

Bumbung Kosong demikian sebutan untuk tidak memilih calon Kepala Desa dikarenakan Pemilihan Kepala Desa hanya diikuti seorang peserta. Bumbung kosong bisa berbentuk kotak kosong tanpa nama, di surat suara pun tak ada gambar maupun nama (seandainya menggunakan surat suara) dan seandainya menggunakan alat lain,  bumbung tak bernama disediakan untuk diisi bagi pemilik suara yang tidak menghendaki calon kepala desa yang seorang itu.

Bumbung kosong menjadi alternatif pilihan walau pun calan hanya seorang dan pemilihan kepala desa harus dilaksanakan. Ia menjadi tempat ketidak-setujuan warga desa atas sosok calon kepala desa, juga menjadi tempat bersemayam berbagai ketidak-setujuan warga atas sistem pelaksanaan dan sebagainya. Bumbung kosong juga menampung suara-suara golput.

Ini Indonesia negeri yang unik. Orang disuruh memilih sesuatu yang tidak ada dalam suatu pemilihan aparatur negara yakni Kepala Desa. Lucu kelihtannya, bukan? Karena yang tidak ada itu menjadi pilihan maka ada pemilihnya, bahkan sering terjadi Bumbung Kosong memenangi pemilihan dalam ajang Pemilihan Kepala Desa.

Bukan itu saja Indonesia menjadi negri yang  unik, namun juga menyimpan misteri. Bumbung kosong menjadi sosok yang menakutkan bagi pesaingnya yang hanya seorang itu. Karena menjadi alternatif pilihan bumbung kosong menjadi memiliki “roh” seakan hidup dan memiliki kekuatan, padahal bumbung kosong tanpa gerak, tanpa tim sukses, tanpa strategi, dan tanpa pos komando serta majikan.

Rakyat Indonesia ternyata biasa dihadapkan pada pilihan ya atau tidak, setuju atau tidak setuju, ada atau tidak ada, memilih atau tidak memilih. Desa ditentukan oleh warga desanya. Demokratis yang mengakar di masyarakat.

Bagi tim sukses Calon Kepala Desa yang hanya seorang itu justru dihadapkan pada kerja keras untuk memenangkan pemilihan dalam ajang Pemilihan Kepala Desa itu karena berhadapan dengan musuh yang tidak diketahui. Kerja tim sukses untuk meraih banyak suara tetap dilakukan. Semakin kuat tim sukses calon kepala desa yang hanya seorang itu bekerja, semakin kuat Bumbung Kosong itu, padahal di pihak Bumbung kosong tak ada yang bergerak,  tak ada yang mewakili seorang pun. Itulah ‘roh’ Bumbung Kosong.

Kecintaan pada kampung halaman adalah kecintaan warga kampung itu, mereka tak mau Desa terbaiknya tanpa kepala desa, tanpa lambang pemimpin, tanpa ada sosok pucuk pimpinan yang mengatur keadaan desa dan warganya, jadi calon yang seorang itu adalah putra terbaik desa yang harus dipilih. Sebaliknya warga desa pun tak mau mengorbankan desanya sehingga bumbung kosong menjadialternatif untuk menunggu sampai kemudian kelak akan ada pemilihan berikutnya dengan calon yang lebih baik.

Ketika pemilihan kepala desa itu dilaksanakan dan dihitung angkanya. Apa mau dikata Bumbung Kosong pemenangnya. Sebaliknya  ketika Bumbung kosong itu kalah dan pemenangnya pada calon yang seorang itu, maka betapa lucunya seseorang bertarung dengan sesuatu yang tidak ada namun dilaksanakan di ajang Pemilihan Kepala Desa yang mengeluarkan biaya dan tenaga yang besar.

Bersyukur Republik ini  miliki dua pasang capres-cawapres dalam pilpres 2014 ini.  Mereka dua orang capres dan dua orang cawapres adalah putra terbaik bangsa ini. Siapa yang terpilih pasti adalah yang terbaik untuk bangsa ini. Semoga tak akan terjadi Bumbung kosong di Pemilu Presiden Republik ini agar kita tidak merugi.