Laman

Jumat, 25 Juli 2014

Tentang Sayur Lodeh

Waktu usiaku 10 th ibuku tak kuat beli daging di hari lebaran. Namun Ibuku sungguh wanita luar biasa, hanya dengan beberapa rupiah dibelinya bahan masakan untuk sayur lodeh. Ketika anak-anak semuanya 7 orang pulang dari sholat Ied kita makan bersama tanpa daging, Hanya sayur lodeh. Tapi anak-anak tiada yang protes, semua mensyukuri apa adanya. Ketupat memang ada dibuat beberapa puluh sekadar menyenangkan adik kecil. Sampai sekarang aku tetap mengenang sayur lodeh ibu. Di hari kedua ibu pun memasak lagi sayur asem sengaja dibuat banyak agar sampai sore hari. ketika sanak saudara bersilaturahmi ke rumahku tak ada makanan yang baik kecuali makan siang . Jadilah kita makan bersama sanak saudara padahal hanya dengan sayur asem dan tempe mereka makan juga makanan kita\yang sangat sederhana itu. Padahal sanak saudaraku orang orang kaya namun suka masakan ibuku. Entah mengapa mereka justru senang makan dirumahku ketimbang dirumahnya yang penuh makanan enak.
Sayur lodeh kini menjadi makanan favoriete anak-anak ketika semua pada berkeluarga. Bahkan beberapa menantu yang slalu diejek tidak bisa masak sayur lodeh berusaha belajar pada mbakku yang sulung. Termasuk istriku berkali-kali masak sayur lodeh tetap saja tak seenak ibu memasak. Kadang sering aku memarahi istri gara-gara sayur lodeh yang tidak karuan. Andai ibuku masih hidup besok lebaran ini tak usah masak apa-apa cukup sayur lodeh yang istimewa buatan ibuku.