Perlunya orang-orang pelaku sastra yang arif dan bijak dalam menyebarluaskan sastra ke depan dalam kemajuan teknologi yang setiap saat berkembang perlu untuk ditanamkan dari mulaisekarang. Sastra kedepan tidak sesederhana yang kita bayangkan. kasus-kasus pemberitaan hoax serta informasi keliru akan dapat ditelan bulat-bulat olehj pembaca media net. Siapa yang menguasai teknologi informasi akan berkuasa pula dalam dunia sastra. Mari kepada pelaku sastra yang budiman untuk dapat membaca perunahan-perubahan berkenaan kemajuan teknologi.
Demikian sastrawan harus menguasai teknologi informasi. Buku sastra apa saja kedepan akan bisa dibaca melalui internet, termasuk tayangan e book, resensi , ulasan, bahkan sampai cover dan kegiatan berkenaan dengan buku tsb serta apa dan siapa pengarangnya. Jika tidak, maka bisa hadi tampilan karya sastra dikuasi oleh mereka yang menggunakan hak-hak serta sastra untuk kepentingan lain.
Kemajuan teknologi informasi pun memungkinkan untuk tertinggalnya karya-karya dari pengarang tradisional dan yang sudah sepuh-sepuh yang terlambat atau tertinggal dalam hal penguasaan teknik informasi. Oleh karena itu bagi pelaku sastra untuk dapat terus meningkatkan pengetahuan serta penguasaan teknik informasi dan internet dengan tidak hanya menjadi pemakai ataui penikmat, tetapi juga sebagai pelaku dalam hal informasi itu.
Kedepan apresiasi pun akan lebih demokratis. Kemajuan teknologi informasi akan memberikan gambaran mana sastra yang disukai termasuk pengaragnya, mana yang bagus, foforiete atau mana yang karya agung. Demokratis itu didapat karena apresiasi langsung dari membaca melalui media elektronik yang semakin maju itu. Kelak orang akan dapat membedakan akan klik like (suka) karena karya yang dibacanya itu bagus atau hanya karena kadung nongol atas dasar tak sengaja terbaca. Penulis atau sastrawan yang bagus akan divonis langsung oleh masyarakat pembaca, dan sebaliknya yang sama sekali kurang indah atau tidak bermanfaat akan dengan sendirinya ditinggalkan, meskipun merasa namanya terkenal atau sudah tenar.
Demikian sastrawan harus menguasai teknologi informasi. Buku sastra apa saja kedepan akan bisa dibaca melalui internet, termasuk tayangan e book, resensi , ulasan, bahkan sampai cover dan kegiatan berkenaan dengan buku tsb serta apa dan siapa pengarangnya. Jika tidak, maka bisa hadi tampilan karya sastra dikuasi oleh mereka yang menggunakan hak-hak serta sastra untuk kepentingan lain.
Kemajuan teknologi informasi pun memungkinkan untuk tertinggalnya karya-karya dari pengarang tradisional dan yang sudah sepuh-sepuh yang terlambat atau tertinggal dalam hal penguasaan teknik informasi. Oleh karena itu bagi pelaku sastra untuk dapat terus meningkatkan pengetahuan serta penguasaan teknik informasi dan internet dengan tidak hanya menjadi pemakai ataui penikmat, tetapi juga sebagai pelaku dalam hal informasi itu.
Kedepan apresiasi pun akan lebih demokratis. Kemajuan teknologi informasi akan memberikan gambaran mana sastra yang disukai termasuk pengaragnya, mana yang bagus, foforiete atau mana yang karya agung. Demokratis itu didapat karena apresiasi langsung dari membaca melalui media elektronik yang semakin maju itu. Kelak orang akan dapat membedakan akan klik like (suka) karena karya yang dibacanya itu bagus atau hanya karena kadung nongol atas dasar tak sengaja terbaca. Penulis atau sastrawan yang bagus akan divonis langsung oleh masyarakat pembaca, dan sebaliknya yang sama sekali kurang indah atau tidak bermanfaat akan dengan sendirinya ditinggalkan, meskipun merasa namanya terkenal atau sudah tenar.