Laman

Selasa, 12 Januari 2021

Menyoroti Puisi Asu karya Joko Punirbo

 Pada puisi ke dua Joko Punirbo di tahun 2012 menulis lagi dengan cerita yang menarik yang membuat penulis terkesan, Di sini Joko Punirbo membuktikan dirinya sebagai Penyair terbaik di Angkatan yang oleh penulis disebut angkatan Pasca 66. Cerita yang disuguhkan dalam Mengenang Asu sungguh suatu puisi yang menggambarkan diri bahwa tidak semua orangh berangkat dari yang baik, justru dari yang tidak baik kadang menjadi baik. Dalam puisi ini juga menggambarkan bagaimana laku keras hidup dalam kehidupan di zaman ini, pola asu kadang dipakai tetapi pada akhirnya orang memilih bagian yang terhormat yaitu kebaikan dari sifat-sifat asu. Asu digambarkan dalam puisi itu sebagai perumpamaan bahwa kita jangan mengaku benar padahal kita juga pernah menjadi asu. 


Karya Joko Pinurbo (2012)

Mengenang Asu,

Pulang dari sekolah, saya main ke sungai.

Saya torehkan kata asu dan tanda seru

pada punggung batu besar dan hitam

dengan pisau pemberian ayah.

Itu sajak pertama saya. Saya menulisnya

untuk menggenapkan pesan terakhir ayah:

“Hidup ini memang asu, anakku.

Kau harus sekeras dan sedingin batu.”

Sekian tahun kemudian saya mengunjungi

batu hitam besar itu dan saya bertemu

dengan seekor anjing yang manis dan ramah.

Saya terperangah, kata asu yang gagah itu

sudah malih menjadi aku tanpa tanda seru.

Tanda serunya mungkin diambil ayah.

2012

Joko Pinurbo

Buku: Selamat Menunaikan Ibadah Puisi

Joko Pinurbo (lahir di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962; umur 58 tahun) adalah salah seorang penyair terkemuka Indonesia yang karya-karyanya telah menorehkan gaya dan warna tersendiri dalam dunia puisi Indonesia. Ia menyelesaikan pendidikan terakhirnya di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (sekarang Universitas) Sanata Dharma, Yogyakarta. Kegemarannya mengarang puisi ditekuninya sejak di Sekolah Menengah Atas.
Atas pencapaiannya, Jokpin telah memperoleh berbagai penghargaan: Penghargaan Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta (2001), Sih Award (2001), Hadiah Sastra Lontar (2001), Tokoh Sastra Pilihan Tempo (2001, 2012), Penghargaan Sastra Badan Bahasa (2002, 2014), Kusala Sastra Khatulistiwa (2005, 2015), dan South East Asian (SEA) Write Award (2014).
Penyair yang bermukim di Yogyakarta ini sering diundang ke berbagai pertemuan dan festival sastra. Karya-karyanya telah diterjemahkan antara lain ke dalam bahasa Inggris, Jerman, dan Mandarin. Sejumlah puisinya juga telah dimusikalilasi antara lain oleh Oppie Andaresta dan Ananda Sukarlan.

Penulis : Rg Bagus Warsono