Pada puisi ke dua Joko Punirbo di tahun 2012 menulis lagi dengan cerita yang menarik yang membuat penulis terkesan, Di sini Joko Punirbo membuktikan dirinya sebagai Penyair terbaik di Angkatan yang oleh penulis disebut angkatan Pasca 66. Cerita yang disuguhkan dalam Mengenang Asu sungguh suatu puisi yang menggambarkan diri bahwa tidak semua orangh berangkat dari yang baik, justru dari yang tidak baik kadang menjadi baik. Dalam puisi ini juga menggambarkan bagaimana laku keras hidup dalam kehidupan di zaman ini, pola asu kadang dipakai tetapi pada akhirnya orang memilih bagian yang terhormat yaitu kebaikan dari sifat-sifat asu. Asu digambarkan dalam puisi itu sebagai perumpamaan bahwa kita jangan mengaku benar padahal kita juga pernah menjadi asu.
Karya Joko Pinurbo (2012)
Mengenang Asu,
Pulang dari sekolah, saya main ke sungai.
Saya torehkan kata asu dan tanda seru
pada punggung batu besar dan hitam
dengan pisau pemberian ayah.
Itu sajak pertama saya. Saya menulisnya
untuk menggenapkan pesan terakhir ayah:
“Hidup ini memang asu, anakku.
Kau harus sekeras dan sedingin batu.”
Sekian tahun kemudian saya mengunjungi
batu hitam besar itu dan saya bertemu
dengan seekor anjing yang manis dan ramah.
Saya terperangah, kata asu yang gagah itu
sudah malih menjadi aku tanpa tanda seru.
Tanda serunya mungkin diambil ayah.
2012
Joko Pinurbo
Buku: Selamat Menunaikan Ibadah Puisi
