Laman

Selasa, 26 Agustus 2014

Rindu Kampung Halaman di Negri Sendiri, sebuah Pengantar Antologi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Jilid II

Sekilas Buku

Rindu Kampung Halaman di Negri Sendiri
Oleh : Rg Bagus warsono

Bilakah rindu kampung halaman, namun hanya kerinduan yang hanya bayangan masa lalu desa tempat kelahiran kita. Ingin rasanya kembali di tengah suasana modern kini. Namun jauh untuk menuju tempat itu walau kini berada dalam desa yang telah berubah. 
Kerinduan itudiungkapkan Ali Syamsudin Arsi, dalam sebuah puisinya yang berjudul ‘Ia Lekat di Pelupuk Mata’  katanya….//”ibuku menyatukan daun-daun pisang lantas dibawa ke tengah pasar untuk ditawarkan aku ikut di sampingnya dengan langkah kecil tatapan mata kecil dan harapan-harapan kecil – aku pernah kecil dan tak punya daya ketika berlari di jalan setapak yang berkelok-kelok menuju arus sungai berpasir dengan jamban-jamban pemandian – kecipaknya aku sangat merindukan- ia lekat di pelupuk mata”//….Sebuah kenangan masa lalu dengan pengalaman masa kecilnya.

Merindukan masa kecil di kampung kelahiran adalah menggali kenangan dan bahkan budaya yang kian berubah dan bergnti, Dewa Putu Sahadewa. Dalam puisinya ‘Dua kampung’ seperti …//”Kuterima sirih pinangmu-Sebagai natoni jiwa-Pesta padang kuda liar-
Senada-Kunyahan sekapur sirih-Tembang rare-Di pesta panen padi”//.Budaya desa juga menjadi cirri melekat kerinduan itu pada desa kita dimana pun kita berada.Namun kenyataan kini sudah banyak berubah banyak budaya desa yang sulit dipertahankan.
Kemudian Diah Natalia melantunkan kenangan masa kecilnya di ‘Banten Kulihat Kudengar’ seperti:“Aku pernah melihat,Tentang anak-anak nelayan. Yang terpaksa meninggalkanBangku-bangku sekolah. Karena terpaksa harus bekerja”//…...
Di sisi lain En Kurliadi Nf masih menuliskan kerinduan itu pada puisinyaGubuk Kami : kapung ragangdemikian bunyinya:…//gubuk ini kami bangun dengan keringat kuningpagi yang merapat pada senja
ternak yang dilepas ke lading sedangkan bila terbangun dari tidursungai mengirim kecipak airnya kehilir
ke tanah seberang, tempat jagung dan padi tumbuh juga
batu yang kanvas diantara hutan belukar//….
SementraJack Efendidalam  „Majapahit, aku berhasrat Pulang” ...//Setelah lama berburu silau di gebyarnya ibukota.  Aku cemburu pada kemolekan Jaladwara di candimu. Memancurkan tirta ke ladang-ladang serta sawah. Aku risau dengan cara para punggawamu mengadunkan dirimu,//… 

Penyair lain dalam buku ini seperti  Nur Lathifah Khoerun Nisa dalam puisi berjudul“Pesona Kroya”
//Aku menjadi dewasa dipusaran kota ini,berlatih dan meniti langkah demi langkah kehidupanAromanya selalu merindu diri//…Sedang Sugi Hartono dalam puisi Batanghari menuturkan : //aku adalah hati
menyatu dilubuk hulu ke hilirmenggelayut dari purba
dengan cinta penuh maknapenghulu satu 
memadu rindu dari waktu ke waktu//…..Tak dapat dipungkiri  ia menyimpan kerinduan dan rindu yang muncul tiba-tiba , ungkapan kerinduan dari hasrat kembali pulang. 

Di lembar lainSindi Violindamenulis dalam 
“Hilangnya Kampung Halaman”…//Engkaulah wanita rentan yang setia menungguKulepaskan segala rindu padamu, Mak!Namun samar-samar akhirnya kusadar jugaKulirik sudut demi sudut kampungku berbeda//…
Begitu juga Tuti Anggraeni dalam “Rindu”…//di antara ada dan tiada engkau bersimaharaja pecahkan segala akal semua logika telinga, hidung, mata dan pancaindra mati merasa ruang waktu jarak terkapar tergeletak tersisa wajahmu penghilang seribu hasrat//…

Penyair lain sepertiYusti Aprilina dalam puisinya
“Pantai Panjang”mengisahkan : …//bermacam aneka panganan dijajakan oleh ibu-ibu ada udang dan kepiting goreng tepung kriukdi sepanjang pantai warung-warung  menjajakan kelapa muda dan jagung bakar
asyik disantap kala sore menjelang menyaksikan sunset di ufuk baratmenikmati angin datang sepoi-sepoi
dan angan melayang nun jauh di seberang lautan
kenangan masih terus membayang, di tepi pantai ini//.

Penyair Bambang Widiatmokomenulis puisinya berjudul “Boulevard “//Setiap aku kembali ke tempat asal mulaDeretan pohon cemara masih setia menyapa
Yang hilang hanya tanah  mengubah bulakDan menutup sumur hingga tak tersisa. / Aku selalu setia menjalani kehidupanSeperti boulevard tempat aku bermain layang-layangJuga tetap tegar seperti pilar-pilar balairung//. Demikian menyatu sampai sukma membeku.//

Kemudian penyairFasha Imani Febriyanti dalam puisi 
“Sebuah Perjamuan”…//barangkali sudah kehendak illahihitam dan putih sebuah takdir.perwujudan cinta adalah harapanseperti halnya harapan purba
biarlah kutelan kenyataan ini//.
Lain itu semua , Djemi Tomuka dalam “Anak-anak Laut”(masa kecilku di kampung) berikut cuplikannya ….//ufuk baru saja tumbuh dengan cawat terikat dan dada telanjang anak-anak itu mulai menjelujur asin-asin laut dikedua tangannya berbaris di pasir dengan kaki setengah air memunguti satu persatu biji-biji terik yang menempel di soma bapak : hari-harinya, laut yang selama ini membusungkan dadanya siang masih sedikit miring ketika anak-anak itu harus kembali menggulung//…
Penyair BaliWayan Jengki Sunartajuga seakan mengahiri semua kerinduan itu berikut cuplikannya dalam “Di Somba Opu”: …//di somba opuapa yang piluselain langkah makin ragumenjauhdari istanamu//. Lalu  penyairArdi Susantimengahiri kerinduan kampong halaman itu dengan “Kebun Teh Kotaku” : …//sejauh mata hamparan perdu the indah mengukir bebukitanmentari tersenyum malu kabut perlahan merangkak naik wanita-wanita perkasa ke luar peraduan berjalan kelilingi bukit kerangjang di bahu 
jari-jamari lentik lincah menari di pucuk-pucuk daun teh 
tanpa kenal lelah, tanpa hati patah//.
                                   --------------------