Laman

Sabtu, 05 Maret 2016

omongan publik lebih berpengaruh menentukan

"Djikalau aku mendengarkan burung perkutut dipepuhunan
Aku mendengarkan suara Indonesia" (Ir.Soekarno)
Sulit dapat dibedah baris puisi yang ditulis proklamator kita. Permasalahannya karena kata "medengarkan burung perkutut dipepuhunan" beda dengan melihat gunung atau buih di lautan atau mata anak-anak Indonesia. Hanya kuping pencinta burung perkutut yang sanggup menterjemahkan baris puisi ini. Apalagi banyak burung lain dari Indonesia yang lebih merdu suaranya. Kenapa harus perkukut?
Sebuah pelajaran bagi kita omongan publik lebih berpengaruh menentukan, Bahwa burung khas bersuara merdu Indonesia itu perkutut, bukan kutilang atau cucokrowo, atai cendrawasih. Jadi dapat dipetik pelajaran bahwa suara publik bahkan mengalahkan kajian ilmiah atau kajian yang dipertanggung-jawabkan