Laman

Rabu, 18 Mei 2016

Pejabat negara kok ditarget setoran, kaya supir angkot saja. ya

Hidup di Indonesia begini :
Kalau banyak pelanggaran (tilang) sampai menumpuk banyak berarti kinerjanya bagus, sebaliknya kalau pelanggaran (tilang) sedikit berarti kinerjanya jelek. Apa ga keliru ? pantesan ga ada salah apa-apa dikarang-karang pelanggaran (tilang). Wah !

 Tahun 45 sampai 60-an sistem upeti juga ada memang, Yang namanya 'bekel ngirim ke Lurah, lurah ngirim ke wedana, wedana ngirim ke bupati, dan bupati kirim ke residen . Popoknya numpuk itu beras/gabah di rumah wedana. Tetapi doeloe ga dimakan sendiri tapi ada buat masyarakat berupa pembiayaan mengadakan pertunjukan dsb.

 Tempat 'basah dan tempat 'kering itu beda harga. Kalau mau di tempat basah ukurannya harga mobil baru, kalau di tempat kering juga ada harganya, ukurannya masih 'saudara sendiri . Tapi yang di tempat sejuk lain lagi bisa lebih mahal . Ya ya ya memang perumahan tipe sama tapi beda harga .

 Aku membayangkan andai serdadu-serdadu dari batalion ditempatkan ada di setiap kota sehingga ada keseimbangan dengan aparat lain dan lebih hati-hati melayani masyarakat.

 "Kamu kok bicara prestasi, pengabdian, dan kesungguhan kerja ?!
Ini bukan zaman pemuda manggul bambu runcing, " kata seorang pimpinan, kemudian " Emangnya kursi ini murah?!" sambil menepuk sandaran kursi.
"Ya , Pak, saya ngerti," kata bawahannya itu, "Masalahnya kursi juga beda-beda , ada yang empuk ada yang ukir, ada juga besi atai stailes ."
Kalau memang gak terbeli jadi tukang parkir sepeda motor aja seharian berdiri terus.