Lomba-lomba baca dan cipta puisi di Indonesia tidak berjenjang seperti Pemilihan Bintang radio dan Televisi yang dimulai dari setiap kota , propinsi dan nasional, atau Ajang pemilihan biduan dangdut (KDI) dengan diawali seleksi, atau seperti Asia Bagus atau Stand Up Comedy yang diawali dengan seleksi dan dibanjiri peserta. Hal demikian dikarenakan belum diterapkannya keadilan pada tiap unsur seni di Indonesia baik oleh pemerintah maupun masyarakat.
Lomba-lomba baca dan Cipta Puisi akhirnya tidak menghasilkan "bintang" yang dilihat masyarakat demikian benderang. Seusai pembagian hadiah dan unjuk kebolehan sudah itu sang pemanang biasa lagi dan hanya meratapi piagam penghargaan.
Agaknya Baca Puisi dan Cipta Puisi sebagai seni di tanah Air difonis oleh masyarakatnya sendiri. Apakah dikarenakan penggemarnya sedikit? Oh tidak sekarang justru penggemar sastra semakin berkembang banyak. Lalu apakah tak ada sponsor? Nah ini berkaitan dengan pangsa pasar produk sponsor itu. Dan apakah pemerintah kurang memperhatikan bidang sastra? Mungkin juga demikian tetapi apakah pemerintah juga memberi porsi berlebih pada seni stand up comedy. Kiranya ini perlu mendapat perhatian serius para pemikir dan pecinta sastra Indonesia agar kita memiliki sesuatu yang dibanggakan.
Di sisi lain akhirnya penggemar sastra (pencinta dan pelaku) mencari jalan pintas seperti yang dilakukan Denny JA (membaca) , atau berupaya menampilkan tayangan 'pura-pura yang divideokan, atau peluncuran antologi mewah yang berbiaya besar. jalan pintas itu pun akhirnya tak berujung 'bintang karena rekayasa tak pula menyentuh penggemar (pecinta dan pelaku) dan pemerhati sastra indonesia.
Keadaan lomba-lomba baca dan cipta puisi yang monoton dan tak menghasilkan apa-apa bagi pemenangnya membuat kejenuhan penggemar sastra. Padahal pencinta (pembaca puisi dan penyair) sastra memerlukan sebuah 'predikat atau sebutan yang merupakan puncak karier dalam lomba sastra itu. Jangankan bintang diraih skala nasional, predikat yang wajar saja tidak ada kecuali selebar penghargaan yang hanya portofolio kegiatan dan tak melekat dengan yang memilikinya. (rg bagus warsono)
Lomba-lomba baca dan Cipta Puisi akhirnya tidak menghasilkan "bintang" yang dilihat masyarakat demikian benderang. Seusai pembagian hadiah dan unjuk kebolehan sudah itu sang pemanang biasa lagi dan hanya meratapi piagam penghargaan.
Agaknya Baca Puisi dan Cipta Puisi sebagai seni di tanah Air difonis oleh masyarakatnya sendiri. Apakah dikarenakan penggemarnya sedikit? Oh tidak sekarang justru penggemar sastra semakin berkembang banyak. Lalu apakah tak ada sponsor? Nah ini berkaitan dengan pangsa pasar produk sponsor itu. Dan apakah pemerintah kurang memperhatikan bidang sastra? Mungkin juga demikian tetapi apakah pemerintah juga memberi porsi berlebih pada seni stand up comedy. Kiranya ini perlu mendapat perhatian serius para pemikir dan pecinta sastra Indonesia agar kita memiliki sesuatu yang dibanggakan.
Di sisi lain akhirnya penggemar sastra (pencinta dan pelaku) mencari jalan pintas seperti yang dilakukan Denny JA (membaca) , atau berupaya menampilkan tayangan 'pura-pura yang divideokan, atau peluncuran antologi mewah yang berbiaya besar. jalan pintas itu pun akhirnya tak berujung 'bintang karena rekayasa tak pula menyentuh penggemar (pecinta dan pelaku) dan pemerhati sastra indonesia.
Keadaan lomba-lomba baca dan cipta puisi yang monoton dan tak menghasilkan apa-apa bagi pemenangnya membuat kejenuhan penggemar sastra. Padahal pencinta (pembaca puisi dan penyair) sastra memerlukan sebuah 'predikat atau sebutan yang merupakan puncak karier dalam lomba sastra itu. Jangankan bintang diraih skala nasional, predikat yang wajar saja tidak ada kecuali selebar penghargaan yang hanya portofolio kegiatan dan tak melekat dengan yang memilikinya. (rg bagus warsono)