Paviliun,
Paviliun adalah bangunan tambahan di samping rumah utama. Paviliun ini sering dijumpai pada bangunan-bangunan rumah lama (zaman Belanda) . Paviliun justru lebih banyak digunakan ketimbang bangunan utama, terutama di ruang tamu. Ini dikarenakan sang pemilik biasanya kalangan ningrat atau orang kaya menerima tamu dari semua kalangan melalui pavuliun.
Paviliun setelah merdeka justru dijadikan tempat istimewa, biasanya untuk tamu atau kala ibu-bapak mertua berkunjung. Paviliun pun semakin istimewa karena tidak lagi bentuknya disesuaikan dengan bangunan utama.
Yang menjadi tanda tanya adalah ketika orang berumah di perumahan membangun paviliun. Kalau rumah kecil di bangun disampingnya bukan paviliun , itu namanya nambah kamar. Karena sama-sama kecilnya.
Demikian Paviliun menjadi serambi sarana silaturahmi. Nah jika memang paviliun adalah sarana silaturahmi kenapa kita tidak membuat paviliun-paviliun supaya lebih dekat dengan tetangga dan siapa saja.
Masalahnya satu bukan gedungnya atau rumahnya yang dipemasalahkan tetapi adalah majikannya. Sejauhmana ia mau membuka pintu paviliun. Apalagi paviliunnya tampak mewah.
Demikian filosofi paviliun ini kita jadikan untuk berkaca diri. Baru merasa besar saja sudah tidak mau membuka pintu. Kalau pintu nya tertutup bagaimana menyapa tetangga. Apalagi paviliun itu kau hiasi bunga dan aneka taman, seakan tak boleh diinjak. Dengan kata lain kita dapat menarik kesimpulan : Kalau begitu untuk apa dibaca bukunya, dari luar saja sudah terbaca betapa jeleknya !
(rg bagus warsono, 14-10-19)
Paviliun adalah bangunan tambahan di samping rumah utama. Paviliun ini sering dijumpai pada bangunan-bangunan rumah lama (zaman Belanda) . Paviliun justru lebih banyak digunakan ketimbang bangunan utama, terutama di ruang tamu. Ini dikarenakan sang pemilik biasanya kalangan ningrat atau orang kaya menerima tamu dari semua kalangan melalui pavuliun.
Paviliun setelah merdeka justru dijadikan tempat istimewa, biasanya untuk tamu atau kala ibu-bapak mertua berkunjung. Paviliun pun semakin istimewa karena tidak lagi bentuknya disesuaikan dengan bangunan utama.
Yang menjadi tanda tanya adalah ketika orang berumah di perumahan membangun paviliun. Kalau rumah kecil di bangun disampingnya bukan paviliun , itu namanya nambah kamar. Karena sama-sama kecilnya.
Demikian Paviliun menjadi serambi sarana silaturahmi. Nah jika memang paviliun adalah sarana silaturahmi kenapa kita tidak membuat paviliun-paviliun supaya lebih dekat dengan tetangga dan siapa saja.
Masalahnya satu bukan gedungnya atau rumahnya yang dipemasalahkan tetapi adalah majikannya. Sejauhmana ia mau membuka pintu paviliun. Apalagi paviliunnya tampak mewah.
Demikian filosofi paviliun ini kita jadikan untuk berkaca diri. Baru merasa besar saja sudah tidak mau membuka pintu. Kalau pintu nya tertutup bagaimana menyapa tetangga. Apalagi paviliun itu kau hiasi bunga dan aneka taman, seakan tak boleh diinjak. Dengan kata lain kita dapat menarik kesimpulan : Kalau begitu untuk apa dibaca bukunya, dari luar saja sudah terbaca betapa jeleknya !
(rg bagus warsono, 14-10-19)