Kebebasan berkreativitas dalam menulis jangan terbelenggu oleh waktu, keadaan, aturan, hukum, atau pengekang diri. Ikatan itu harus dilepas sebebas-bebasnya, namun sebagai layaknya sebuah karya penting mengutamakan konsumenya yakni pembaca. Karenanya karya Anda yang menarik itu memberikan suguhan yang tak mati karena waktu dan sasaran sementara , jika mungkin karya abadi sehingga tak hanya hari ini like suka tetapi seterusnya.
Perhatikan puisi Paman Doblang ini, Rendra hendak menangkap sasaran, namun kemasannya apik sehingga tidak hari itu disukai saja tetapi hingga saat ini puisi ini di like suka.
Paman Doblang ~ W.S. Rendra.
Paman Doblang! Paman Doblang!
Mereka masukkan kamu ke dalam sel yang gelap.
Tanpa lampu. Tanpa lubang cahaya. Pengap.
Ada hawa. Tak ada angkasa.
Terkucil. Temanmu beratus-ratus nyamuk semata.
Terkunci. Tak tahu di mana berada.
Paman Doblang! Paman Doblang!
Apa katamu?
Ketika haus aku minum dari kaleng karatan.
Sambil bersila aku mengharungi waktu
lepas dari jam, hari dan bulan
Aku dipeluk oleh wibawa tidak berbentuk
tidak berupa, tidak bernama.
Aku istirah di sini.
Tenaga ghaib memupuk jiwaku.
Paman Doblang! Paman Doblang!
Di setiap jalan mengadang mastodon dan serigala.
Kamu terkurung dalam lingkaran.
Para pengeran meludahi kamu dari kereta kencana.
Kaki kamu dirantai ke batang karang.
Kamu dikutuk dan disalahkan.
Tanpa pengadilan.
Paman Doblang! Paman Doblang!
Bubur di piring timah
didorong dengan kaki ke depanmu
Paman Doblang, apa katamu?
Kesedaran adalah matahari.
Kesabaran adalah bumi.
Keberanian menjadi cakerawala.
Dan perjuangan
adalah perlaksanaan kata-kata.
(Depok, 22 April 1984)
Puisi Oleh: W.S. Rendra
Perhatikan puisi Paman Doblang ini, Rendra hendak menangkap sasaran, namun kemasannya apik sehingga tidak hari itu disukai saja tetapi hingga saat ini puisi ini di like suka.
Paman Doblang ~ W.S. Rendra.
Paman Doblang! Paman Doblang!
Mereka masukkan kamu ke dalam sel yang gelap.
Tanpa lampu. Tanpa lubang cahaya. Pengap.
Ada hawa. Tak ada angkasa.
Terkucil. Temanmu beratus-ratus nyamuk semata.
Terkunci. Tak tahu di mana berada.
Paman Doblang! Paman Doblang!
Apa katamu?
Ketika haus aku minum dari kaleng karatan.
Sambil bersila aku mengharungi waktu
lepas dari jam, hari dan bulan
Aku dipeluk oleh wibawa tidak berbentuk
tidak berupa, tidak bernama.
Aku istirah di sini.
Tenaga ghaib memupuk jiwaku.
Paman Doblang! Paman Doblang!
Di setiap jalan mengadang mastodon dan serigala.
Kamu terkurung dalam lingkaran.
Para pengeran meludahi kamu dari kereta kencana.
Kaki kamu dirantai ke batang karang.
Kamu dikutuk dan disalahkan.
Tanpa pengadilan.
Paman Doblang! Paman Doblang!
Bubur di piring timah
didorong dengan kaki ke depanmu
Paman Doblang, apa katamu?
Kesedaran adalah matahari.
Kesabaran adalah bumi.
Keberanian menjadi cakerawala.
Dan perjuangan
adalah perlaksanaan kata-kata.
(Depok, 22 April 1984)
Puisi Oleh: W.S. Rendra