Sejak 2011 menginventarisir tokoh sastrawan daerah, telah lebih dari 1200 sastrawan nusantara berikut catatan karya2nya, ingin sekali dibukukan namun masih banyak yang terlewat, sebab setiap kabupaten slalu bertambah. Karena perkembangan semakin pesat.
Salah satu yang sulit dilacak adalah saudara2 kita sastrawan daerah yang dulu mengisi media daerah sebelum ada online, baik media berbahasa indonesia maupun berbahasa daerah.
Kolom sastra atau pojok budaya, atau mirip catatan pinggir media cetak nasional merupakan bukti keterlibatan sebagai penyair.
Belum lagi mereka yang aktif sebagai pengasuh acara malam hari di RRI atau radio swasta FM pengasuh dan pengirim untaian kata , seperti pengajian puisi, swara hati, syair malam, dll
Media cetak lain adalah buletin sastra, tahun 70-an 80-an tumbuh subur di berbagai kota besar. Banyak redaktur dan pengasuhnya terlewatkan, apa pun alasannya mereka telah menoreh kesusastraan Indonesia.
Kini semenjak ada internet peta sastra Indonesia hampir menyeluruh wilayah . Meski ada beberapa yang tampak redup hal demikian boleh jadi dikarenakan stasiun relay di beberapa daerah yang belum ada. Sehingga penggunaan internet belum memasyarakat yang otomatis informasi sastra melalui facebook atau akun internet lainnya belum tampak dari daerah itu.
Jawa Tengah, Jogya, dan Jawa Timur tampak mendomiasi jumlah terbanyak pelaku sastra dan tumbuh setiap hari tunas tunasnya sedang di Sumatra,Lampung, Riau, Sumatra Barat, Sumatra Utara dan Aceh telah semakin bersaing jumlah pelaku sastra. Di Kalimantan adalah Kalimantan selatan.
Pertumbuhan pelaku sastra di suatu tempat adalah peran para penggeraknya yakni tokoh2 sastra di daerah itu yang mau peduli untuk memberikan sentuhan kepribadian bagi generasi muda melalui berbagai jenis dan bentuk kegiatan sastra. Di samping itu adalah pemilik rasa 'tanggung jawab untuk mau menghidupi sastra : menghidupi puisi, cerpen, novel atau jenis lainnya.
Menurut hemat saya, zaman dulu penerbitan boleh dijadikan skala mutu sastra sebab proses menuju penerbitan yang memerlukan tahapan alot, kini telah banyak perusahaan penerbitan begitu banyak memberikan keleluasaan penulis. Oleh karena itu saya berpendapat skala mutu adalah bagaimana terdapat proses evaluasi melalui kegiatan sastra seperti lomba baca/cipta , terlepas siapa juri dalam kegiatan itu. (rg Bagus Warsono, 25-11-2015)
Salah satu yang sulit dilacak adalah saudara2 kita sastrawan daerah yang dulu mengisi media daerah sebelum ada online, baik media berbahasa indonesia maupun berbahasa daerah.
Kolom sastra atau pojok budaya, atau mirip catatan pinggir media cetak nasional merupakan bukti keterlibatan sebagai penyair.
Belum lagi mereka yang aktif sebagai pengasuh acara malam hari di RRI atau radio swasta FM pengasuh dan pengirim untaian kata , seperti pengajian puisi, swara hati, syair malam, dll
Media cetak lain adalah buletin sastra, tahun 70-an 80-an tumbuh subur di berbagai kota besar. Banyak redaktur dan pengasuhnya terlewatkan, apa pun alasannya mereka telah menoreh kesusastraan Indonesia.
Kini semenjak ada internet peta sastra Indonesia hampir menyeluruh wilayah . Meski ada beberapa yang tampak redup hal demikian boleh jadi dikarenakan stasiun relay di beberapa daerah yang belum ada. Sehingga penggunaan internet belum memasyarakat yang otomatis informasi sastra melalui facebook atau akun internet lainnya belum tampak dari daerah itu.
Jawa Tengah, Jogya, dan Jawa Timur tampak mendomiasi jumlah terbanyak pelaku sastra dan tumbuh setiap hari tunas tunasnya sedang di Sumatra,Lampung, Riau, Sumatra Barat, Sumatra Utara dan Aceh telah semakin bersaing jumlah pelaku sastra. Di Kalimantan adalah Kalimantan selatan.
Pertumbuhan pelaku sastra di suatu tempat adalah peran para penggeraknya yakni tokoh2 sastra di daerah itu yang mau peduli untuk memberikan sentuhan kepribadian bagi generasi muda melalui berbagai jenis dan bentuk kegiatan sastra. Di samping itu adalah pemilik rasa 'tanggung jawab untuk mau menghidupi sastra : menghidupi puisi, cerpen, novel atau jenis lainnya.
Menurut hemat saya, zaman dulu penerbitan boleh dijadikan skala mutu sastra sebab proses menuju penerbitan yang memerlukan tahapan alot, kini telah banyak perusahaan penerbitan begitu banyak memberikan keleluasaan penulis. Oleh karena itu saya berpendapat skala mutu adalah bagaimana terdapat proses evaluasi melalui kegiatan sastra seperti lomba baca/cipta , terlepas siapa juri dalam kegiatan itu. (rg Bagus Warsono, 25-11-2015)