Muda-mudi
itu sudah tidak bisa lagi berpacaran di pantai, tak ada ngabuburit di
bulan Ramadhan di pantai. Pemancing geleng-geleng kepala, lokasi
mancingnya sudah dilarang. Karena berdiri hotel mewah dengan area hotel
yang luas dan menghadap ke pantai. Tahu tidak pantai bukan milik rakyat
sekarang, katanya.
Ibu
jangan berobat di sini, rumah sakit ini tidak melayani jaminan
kesehatan rakyat miskin, padahal berlaku di rumah sakit mana saja.
Dirumah sakit lain tak disentuh dokter, hanya perawat magang dari
akademi perawat, obatnya pun dibedakan. Kalau bisa miskin mati saja
jangan berobat. Duhai Indonesia, untuk apa mereka digaji negara? kita
dijajah bangsa sendiri.
Dan
komplek perumahan-perumhan elit itu dijaga satpam, jalan itu khusus
warga komplek itu dan tamu warga komplek itu. Jangan lewat sini , ini
bukan jalan umum, padahlah maksudnya agar melalui jalan itu lebih dekat.
Apalagi pedagang gerobak dorong, pemulung pun dilarang takut mencuri,
Oh republik merdeka masih ada larangan di jalan umum, kita memang
dijajah bangsa sendiri.
Lalu
sekolah-sekolah dibedakan peruntukannya, masyarakat kaya atau
masyarakat miskin. Kamu sekolah di sana, di sini harus kuat membayar, di
sini hanya orang-orang kaya. Jadilah si miskin berjalan kaki menjauh ke
sekolah 'rakyat kecil. Kita dijajah lagi oleh bangsa sendiri.
Ketika
di desa itu berdiri supermarket, warung-warung menjadi sepi
pengunjung, toko kecil gulung tikar, pengrajin makanan turun produksi
karena sudah jarang pembeli. Mereka kalah pemasaran, kalah manajemen,
kalah pemodalan dan kalah semuanya dengan supermarket yang merambah
desa. Perekonomian desa menjadi turun dratis, pengagguran bertambah,
miskin bertambah. Kita Dijajah Lagi