Penyair
kapan pun masanya melekat dengan dunia pendidikan, bahkan sejak zaman
kerajaan Singosari. Jadi alangkah baiknya jika penyangga itu harus
selalu dilibatkan baik sebagai objek maupun subjek sastra. Ingat bahwa penyangga terbesar masa depan sastra indonesia adalah pendidikan
Roadshow,
Lauching, Bazar, Pentas, Antologi Bersama, Seminar, Bedah Buku,
Musikalisasi, Pameran, Lomba baca, Lomba Menulis, Shoothing Baca, dll
adalah kegitan positif dalam rangka memelihara sastra Indonesia yang
justru kebanyakan dilaksanakan oleh masyarakat dan bukan oleh
pemerintah.
Ketika
orang beramai-ramai ingin menjadi warga negara ruang angkasa adalah
gejala kehidupan modern yang pasti akan ditanggapi kalangan sastra.
Dikarenakan sastra berkembang tidak hanya mengiringi zaman tetapi juga
kadang melampaui masa. Sebagaimana penyair Tan Lioe Ie menulis tentang masa depan sebelum orang banyak ingin menjadi warga negara angkasa.
Ujung
kegiatan positif itu adalah apresiasi masyarakat yang berimbas pada
personal penyairnya yang berjerih payah memajukan sastra, sebuah promosi
yang baik yang patut menjadi contoh untuk perkembangan nama seseorang.
Namun demikian jangan sampai berhenti di satu pijakan itu saja. Pasalnya
gelombang sastra terus berubah-ubah seiring kemajuan kehidupan dunia
ini