Pembenaran Penyair.
Pembenaran penyair berujung pada pengadilan publik atas karya yang diakui publik sebagai karya sastra. Publik adalah publik pembaca dalam hal ini masyarakat pencinta sastra, kurator, kritikus, akademika, dan perpustakaan serta pasar buku. Pembenaran penyair harus dimiliki oleh insan penyair agar menjadi cacatan sejarah bangsa. Bukan populair atau tidak populair tetapi catatan bangsa dari yang disebut diatas tersebut yakni pencinta sastra, kurator, kritikus, akademika, perpustakaan dan pasar buku. Pembenaran adalah pengakuan bahwa penyair itu memcipta karya sastra bermutu yang layak sebagai bacaan sastra. Jadi generasi muda tidak perlu khawatir dengan banyaknya penyair sebab mutu sastra tetap nomor satu dan publik yang mengadilinya.(rg bagus warsono 25-8-17)
Dulu sosok HB Yassin adalah pembenaran tunggal bagi pembenaran siapa penyair di Indonesia. Pada saat itu patut dimaklumi karena sejarah sastra kita begitu. Sekarang pembenaran tunggal tidak berlaku dalam kajian dan riset ilmiah sebab harus diperoleh sumber pembanding dari kurator lain. Demikian Pembenaran Penyair. ilmiah memerlukan banyak referensi sumber terpercaya lain agar tidak terjadi kesalahan atas penetapan kajian ilmiah.
Kekeliruan sering kali terjadi atas penilaian dan peklasifikasian sastra sastrawan Indonesia. Jawabnya adalah sepele yaitu adanya 'kepentingan.
Jika kalian baca riwayat sastrawan Pramoedya Ananta Toer bagaimana ia dikucilkan namanya dari sastra Indonesia justru oleh kurator-kurator terkenal pada saat itu. Ini jawabnya sepele yaitu 'kekeliruan atas 'kepentingan.
Dan hal semacam ini, di masa semakin maju dan beradab ini mari kita mencegah agar tidak terjadi kekeliruan semacam itu.
Namun sungguh tak pantas dan tak masuk akal, kekeliruan justru terjadi di tahun 2014 tahun masuk dalam masa modern dengan pemikiran modern dan kajian intelektual yang semakin canggih dimana terjadi cacat sejarah sastra Indonesia manakala PDS HB Jassin mengumumkan 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Indonesia penetapan dari beberapa sastrawan. Kejadian ini anggap saja sebagai kekeliruan atas suatu kepentingan. Semoga dimasa akan datang tidak terjadi hal demikian itu.
Antara Senang dan Tidak Senang
Menulis siapa siapa penyair kini sah-sah saja terserah penulisnya. Adalah hak seorang penulis untuk menulis semau mereka. Polemik itu terjadi manakala ada antara senang dan tidak senang. Suka dan tidak suka. Seperti yang dikatakan Supardi Djoko Damono seni itu polemik semakin banyak dibicarakan semakin membuat terkenal. Namun tentu saja tetap berakhir pada mutu karena kini masyarakat sudah pandai memilah antara yang bermutu dan tidak bermutu.
(rg bagus warsono , 25 Agustus 2017 tinggal di Indramayu)
Pembenaran penyair berujung pada pengadilan publik atas karya yang diakui publik sebagai karya sastra. Publik adalah publik pembaca dalam hal ini masyarakat pencinta sastra, kurator, kritikus, akademika, dan perpustakaan serta pasar buku. Pembenaran penyair harus dimiliki oleh insan penyair agar menjadi cacatan sejarah bangsa. Bukan populair atau tidak populair tetapi catatan bangsa dari yang disebut diatas tersebut yakni pencinta sastra, kurator, kritikus, akademika, perpustakaan dan pasar buku. Pembenaran adalah pengakuan bahwa penyair itu memcipta karya sastra bermutu yang layak sebagai bacaan sastra. Jadi generasi muda tidak perlu khawatir dengan banyaknya penyair sebab mutu sastra tetap nomor satu dan publik yang mengadilinya.(rg bagus warsono 25-8-17)
Dulu sosok HB Yassin adalah pembenaran tunggal bagi pembenaran siapa penyair di Indonesia. Pada saat itu patut dimaklumi karena sejarah sastra kita begitu. Sekarang pembenaran tunggal tidak berlaku dalam kajian dan riset ilmiah sebab harus diperoleh sumber pembanding dari kurator lain. Demikian Pembenaran Penyair. ilmiah memerlukan banyak referensi sumber terpercaya lain agar tidak terjadi kesalahan atas penetapan kajian ilmiah.
Kekeliruan sering kali terjadi atas penilaian dan peklasifikasian sastra sastrawan Indonesia. Jawabnya adalah sepele yaitu adanya 'kepentingan.
Jika kalian baca riwayat sastrawan Pramoedya Ananta Toer bagaimana ia dikucilkan namanya dari sastra Indonesia justru oleh kurator-kurator terkenal pada saat itu. Ini jawabnya sepele yaitu 'kekeliruan atas 'kepentingan.
Dan hal semacam ini, di masa semakin maju dan beradab ini mari kita mencegah agar tidak terjadi kekeliruan semacam itu.
Namun sungguh tak pantas dan tak masuk akal, kekeliruan justru terjadi di tahun 2014 tahun masuk dalam masa modern dengan pemikiran modern dan kajian intelektual yang semakin canggih dimana terjadi cacat sejarah sastra Indonesia manakala PDS HB Jassin mengumumkan 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Indonesia penetapan dari beberapa sastrawan. Kejadian ini anggap saja sebagai kekeliruan atas suatu kepentingan. Semoga dimasa akan datang tidak terjadi hal demikian itu.
Antara Senang dan Tidak Senang
Menulis siapa siapa penyair kini sah-sah saja terserah penulisnya. Adalah hak seorang penulis untuk menulis semau mereka. Polemik itu terjadi manakala ada antara senang dan tidak senang. Suka dan tidak suka. Seperti yang dikatakan Supardi Djoko Damono seni itu polemik semakin banyak dibicarakan semakin membuat terkenal. Namun tentu saja tetap berakhir pada mutu karena kini masyarakat sudah pandai memilah antara yang bermutu dan tidak bermutu.
(rg bagus warsono , 25 Agustus 2017 tinggal di Indramayu)