Laman

Sabtu, 05 Agustus 2017

tata keprajuritan Mataram

Berikut sebuah gambaran bahwa tata keprajuritan kerajaan Majapahit hingga eks kerajaan matram memiliki aturan tatanan kepangkatan yang berpedoman pada tingkat kemampuan olah kanuragan dan ilmu kanuragan diri seorang prajurit :
Sultan Trenggono, raja kerajaan Demak , tertegun ketika melihat seorang anak muda melompat mundur hingga menyebrang selokan ketika beliau hendak melewati jalan itu. Bagi Sultan Trenggono yang faham akan ilmu persilatan, polah anak muda itu tidak sembarangan dan pasti memiliki tingkat ilmu yang tinggi. Jadilah anak muda tersebut menjadi tamtama kerajaan yang kemudian meningkat kariernya sebagai senopati di Demak. Ilmu yang tinggi yang dimiliki anak muda itu membuatnya sultan Trenggono rela menjadikan anak muda itu sebagai menantunya. (anak muda itu diketahui sebagai Mas karebet /Joko Tingkir dan setelah menjadi raja Pajang bergelar Sultan Hadiwijaya)
Atas dasar ini dalam sejarah Penyerbuan Mataram ke Batavia , tidak mungkin Sultan Agung mengirim algojo untuk membunuh Senopati Bahureksa dan Pangeran Mandurareja , karena tinggkat kepangkatan algojo hanyalah sama dengan ki lurah yang memiliki tugas tertentu di sebuah pemerintahan kerajaan. Algojo tak akan berarti apa-apa dihadapan Senopati Perang seperti Bahureksa dan Pangeran Mandurareja cucu Ki Juru Murtani yang memiliki ilmu silat tinggi. (rg bagus warsono)