Ini cerita:
Satu puisiku terselip dalam antologi lomba baca puisi tingkat sekolah dasar dimana peserta memilih puisi mana yang akan dibacakan. Bukan main bangganya aku karena diakui sebagai penyair dikota kecil. Jadilah aku penonton pertama yang duduk setia menanti peserta membaca puisi. Tak terasa rokok sebungkus tinggal sebatang. 30 peserta dari 31 kecamatan telah tampil, tinggal seorang lagi. Tak ada seorang pun yang membacakan puisiku. Rokok yang tinggal sebatang pun aku habiskan, menunggu seorang pembaca lagi. Ternyata yang terakhir itu membaca puisiku. Aku pun berdiri mengamati siapa anak pembaca puisi itu. Oalah ternyata muridku sendiri !
Seminggu kemudian aku agak siang datang ke sekolah, maklum karena sebagai pimpinan ada saja yang diurus. Tiba di pintu sekolah terdengar suara ribut-ribut di ruangan guru, ada apa gerangan. Ternyata ada kabar bahwa muridku menjadi juara pertama lomba baca puisi. Tak mungkin! ini tak masuk akal. Setelah aku membaca pengumumannya aku percaya. Dalam hati aku mengatakan : "Dia telah membaca puisiku berjudul 'Anak Seberang Sungai' anak itu bernama Tri Hadini Ok. Ketika aku menerima piala dari Bupati Indramayu yang disampaikan melalui Kepala Dinas, berlinanglah air mataku. Bukan karena piala itu, tetapi ternyata ada seorang yang mengapresiasi puisiku dengan baik. Kejadian ini terjadi tahu 2013.
Satu puisiku terselip dalam antologi lomba baca puisi tingkat sekolah dasar dimana peserta memilih puisi mana yang akan dibacakan. Bukan main bangganya aku karena diakui sebagai penyair dikota kecil. Jadilah aku penonton pertama yang duduk setia menanti peserta membaca puisi. Tak terasa rokok sebungkus tinggal sebatang. 30 peserta dari 31 kecamatan telah tampil, tinggal seorang lagi. Tak ada seorang pun yang membacakan puisiku. Rokok yang tinggal sebatang pun aku habiskan, menunggu seorang pembaca lagi. Ternyata yang terakhir itu membaca puisiku. Aku pun berdiri mengamati siapa anak pembaca puisi itu. Oalah ternyata muridku sendiri !
Seminggu kemudian aku agak siang datang ke sekolah, maklum karena sebagai pimpinan ada saja yang diurus. Tiba di pintu sekolah terdengar suara ribut-ribut di ruangan guru, ada apa gerangan. Ternyata ada kabar bahwa muridku menjadi juara pertama lomba baca puisi. Tak mungkin! ini tak masuk akal. Setelah aku membaca pengumumannya aku percaya. Dalam hati aku mengatakan : "Dia telah membaca puisiku berjudul 'Anak Seberang Sungai' anak itu bernama Tri Hadini Ok. Ketika aku menerima piala dari Bupati Indramayu yang disampaikan melalui Kepala Dinas, berlinanglah air mataku. Bukan karena piala itu, tetapi ternyata ada seorang yang mengapresiasi puisiku dengan baik. Kejadian ini terjadi tahu 2013.