Ini 25 tahun lalu
Dengan tersipu-sipu istriku menunggui aku makan. Aku baru pulang kerja. Tumben kali ini ada 4 macam menu di meja. Ada sayur asem, perkedel, goreng telur serta tumis tempe. Bingung juga memulai memilih lauk makan tapi tetap harus dicicipi semua maklumlah pengantin baru. Aku pun makan sambil memuji .
"Enak sayurnya , Mas? tambah lagi ya nasinya?
Aku mengangguk-angguk sambil menyunyah.
"Mamah pintar sekali , masakannya enak"
"Siapa dulu ! yang masak"
" Ini tumis tempe dapat beli mah?"
" Sembarangan , itu aku yang masak juga mas, coba-coba yang lain"
"Gara-gara tumis ini Mah jadi makannya semangat."
Istriku pun tersenyum bangga . " Tak percuma punya istri pinter masak, kelak suatu ketika bisa bisnis rumah makan." kataku lagi. Bukan main senangnya istri mendapat pujian seperti itu. Jagoan masak nomor satu. Tetapi tiba-tiba dari arah dapur terdengar ada suara kloneng seperti piring beradu.
Istriku terlihat kaget dan megatakan " Si Meong itu , Mas"
Aku pun tak begitu peduli dan melajutkan makan.
Tiba-tiba ada suara dari kamar belakang, aku langsung tanya "Siapa di belakang , Mah?"
"Ibu" jawab istriku.
Dalam hati aku tersenyum.
Kemudian tiba-tiba Ibu Mertuaku mucul dari belakang.
Tanpa pikir panjang langsug aku berkata :" Anak ibu pancen pinter masak:"
dan kemudian kami bertiga tertawa terbahak-bahak.
Dengan tersipu-sipu istriku menunggui aku makan. Aku baru pulang kerja. Tumben kali ini ada 4 macam menu di meja. Ada sayur asem, perkedel, goreng telur serta tumis tempe. Bingung juga memulai memilih lauk makan tapi tetap harus dicicipi semua maklumlah pengantin baru. Aku pun makan sambil memuji .
"Enak sayurnya , Mas? tambah lagi ya nasinya?
Aku mengangguk-angguk sambil menyunyah.
"Mamah pintar sekali , masakannya enak"
"Siapa dulu ! yang masak"
" Ini tumis tempe dapat beli mah?"
" Sembarangan , itu aku yang masak juga mas, coba-coba yang lain"
"Gara-gara tumis ini Mah jadi makannya semangat."
Istriku pun tersenyum bangga . " Tak percuma punya istri pinter masak, kelak suatu ketika bisa bisnis rumah makan." kataku lagi. Bukan main senangnya istri mendapat pujian seperti itu. Jagoan masak nomor satu. Tetapi tiba-tiba dari arah dapur terdengar ada suara kloneng seperti piring beradu.
Istriku terlihat kaget dan megatakan " Si Meong itu , Mas"
Aku pun tak begitu peduli dan melajutkan makan.
Tiba-tiba ada suara dari kamar belakang, aku langsung tanya "Siapa di belakang , Mah?"
"Ibu" jawab istriku.
Dalam hati aku tersenyum.
Kemudian tiba-tiba Ibu Mertuaku mucul dari belakang.
Tanpa pikir panjang langsug aku berkata :" Anak ibu pancen pinter masak:"
dan kemudian kami bertiga tertawa terbahak-bahak.