Puisi perjalanan penyair. Gambaran kreativitas diri peyair dalam melakukan perjalanan kemana pergi. Perjalanan jauh dan memakan waktu tidak juga menghasilkan karya banyak, tetapi perjalanan pendek dan dekat dapat menghasilkan karya hebat. Demikian mata penyair memotret pengalaman.
Seakan tiada berhenti menulis, jika tak ada bom atom yang menghacurkan peradaban. Slalu ada daur ulang dan modifikasi dari yang terbaru. Sehingga tak ada tamat berkesudaha. Ide baru muncul seiring kebutuhan. Inspirasi tumbuh manakala mau menggali lubang baru. Sastra berkembang tanpa diperintah. Penyair tahu tugas dan apa yang harus dilakukan.
Apa yang dilakukan adalah menelusuri jejaknya sendiri. Seperti dilakukan ketika Bawang putih dibuang ibu tirinya. Ia menelusuri biji kacang hijau yang bibuangnya dalam perjalanan. Ternyata bijji itu sudah tumbuh menjadikan tanda tak dijumpainya. Ada slalu hal baru terus ditulis.
Tentang para pecundang, tentang orang-orang munafik, tetang kaum penjilat dan tentang orang-orang penjual harga diri. Ia buatkan puisi sebagai bukti catatan peralajan penyair yang tak bermanfaat sama sekali bagi pecundang, orang-orang munafik, kaum penjilat ,dah orang-orang yang menjual harga diri, apalagi membeli bukunya, membaca pun tak sudi.Dan hebatnya itu, penyair tetap menulis lagi
.Dia menemukan apa yang harus ditulisnya. Fenomena kehidupan yang ganjil namun nyata. Lalu ia telusuri keterkaitan kehidupan lain ternyata zaman bergeser, manusia baru muncul dan membawa petaka atau memberi mafaat penyelamat bumi ini.
Seakan tiada berhenti menulis, jika tak ada bom atom yang menghacurkan peradaban. Slalu ada daur ulang dan modifikasi dari yang terbaru. Sehingga tak ada tamat berkesudaha. Ide baru muncul seiring kebutuhan. Inspirasi tumbuh manakala mau menggali lubang baru. Sastra berkembang tanpa diperintah. Penyair tahu tugas dan apa yang harus dilakukan.
Apa yang dilakukan adalah menelusuri jejaknya sendiri. Seperti dilakukan ketika Bawang putih dibuang ibu tirinya. Ia menelusuri biji kacang hijau yang bibuangnya dalam perjalanan. Ternyata bijji itu sudah tumbuh menjadikan tanda tak dijumpainya. Ada slalu hal baru terus ditulis.
Tentang para pecundang, tentang orang-orang munafik, tetang kaum penjilat dan tentang orang-orang penjual harga diri. Ia buatkan puisi sebagai bukti catatan peralajan penyair yang tak bermanfaat sama sekali bagi pecundang, orang-orang munafik, kaum penjilat ,dah orang-orang yang menjual harga diri, apalagi membeli bukunya, membaca pun tak sudi.Dan hebatnya itu, penyair tetap menulis lagi
.Dia menemukan apa yang harus ditulisnya. Fenomena kehidupan yang ganjil namun nyata. Lalu ia telusuri keterkaitan kehidupan lain ternyata zaman bergeser, manusia baru muncul dan membawa petaka atau memberi mafaat penyelamat bumi ini.